
“Dia orang baik, kita sangat kehilangannya.” Kalimat seperti itu sering terdengar ketika seseorang meninggal dunia.
Orang-orang akan menyebutkan kebaikan-kebaikan yang mereka pernah lakukan..
“Dia tidak pernah menyakiti orang lain.”
“Dia suka membantu tetangga.”
“Dia orang yang dermawan.”
“Dia pasti masuk surga.”
Tetapi, benarkah demikian bahwa orang yang baik akan selamat?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya menentukan nasib kekal setiap orang..
Orang Baik Ada di Mana-Mana
Di sekitar kita banyak orang yang pantas disebut baik. Tidak terhitung jumlahnya. Mereka telah menunjukkan secara nyata kebaikan mereka..
Ada yang rajin menolong orang miskin. Bukan saja memberi sembako, namun memperbaiki rumah dan menyekolahkan anak-anak mereka..
Ada yang jujur dalam bekerja. Tidak pernah korupsi uang dan waktu.
Ada yang setia kepada keluarganya. Tidak pernah selingkuh dan memelihara istri dan anak-anaknya..
Ada yang murah hati meskipun hidup sederhana. Dalam kekurangannya dia rela membantu setiap orang.
Bahkan banyak orang-orang yang belum mengenal Kristus atau bukan Kristen, tetapi merek memiliki karakter yang jauh lebih baik daripada sebagian orang yang mengaku Kristen.
Jadi, kalau ukuran masuk surga adalah menjadi orang baik, tampaknya banyak orang yang memenuhi syarat masuk sorga..
Namun, Alkitab justru mengajukan pertanyaan yang berbeda.
Seberapa baik seseorang agar layak masuk surga?
Standar Tuhan Tidak Sama dengan Standar Manusia
Nah, masalah yang perlu kita lihat, bukan apakah kita lebih baik daripada orang lain. Jika perbandingannya antar sesama manusia, maka kita tidak menemukan ada kebaikan yang sempurna..
Maka masalahnya adalah apakah kita sudah sempurna di hadapan Allah. Jadi perbandinganya bukan dengan sesama tetapi dengan Allah..
Sebab, sering kali kita merasa cukup baik karena membandingkan diri dengan orang yang lebih buruk.
Kita berkata, “Saya tidak mencuri.” “Saya tidak membunuh.” “Saya bukan penjahat.” Nah, karena kita bandingkan dengan sesama, maka kita merasa sudah baik..
Padahal Allah tidak membandingkan kita dengan sesama manusia. Allah membandingkan kita dengan kekudusan-Nya sendiri.
Dan di situlah masalahnya.
Alkitab berkata, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Roma 3:23)
Perhatikan, Alkitab katakan, semua orang berbuat dosa. Bukan sebagian..
Bukan hanya penjahat. Bukan hanya koruptor. Bukan hanya pezinah..
Tetapi semua orang. Artinya tanpa terkecuali. Termasuk orang baik.
Orang Baik Belum Tentu Benar di Hadapan Allah
Bayangkan sebuah gelas berisi air putih yang sangat jernih. Lalu seseorang meneteskan satu tetes tinta hitam. Air itu tidak lagi murni.
Demikian pula dosa.
Tidak peduli berapa banyak kebaikan yang kita lakukan, satu dosa saja kita lakukan sudah membuat kita tidak sempurna.
Kita sering salah berpikir. Hanya karena kita tidak melakukan dosa yang dipandang besar, seperti mencuri, berzinah, korupsi, dll, kita merasa sudah baik.
Padahal ada banyak dosa yang sering kita lakukan. Merasa diri baik saja, kita sudah berdosa. Karena dengan itu kita menghakimi orang lain..
Ingat, surga adalah tempat yang kudus.
Karena itu, tidak ada manusia berdosa yang dapat masuk ke sana dengan mengandalkan kebaikannya sendiri.
Jadi poinnya, orang baik yang berdosa tidak masuk dalam kerajaan sorga.
Mengapa Perbuatan Baik Tidak Bisa Menyelamatkan?
Perbuatan baik sangat penting. Tuhan menghendaki agar kita hidup dalam kasih, kejujuran, dan kepedulian yang nyata kepada semua orang..
Banyak orang berupaya untuk menjadi orang baik dan mereka melakukannya.
Namun kita perlu ingat, bahwa perbuatan baik bukanlah harga yang dapat dibayarkan untuk menghapus dosa.
Saya pernah mengingat, seorang penipu yang baik hati. Hasil tipuannya digunakan untuk membantu orang miskin. Dan dimata mereka, dia adalah orang baik..
Kemudian dia ditangkap dan dihadapkan kepada pengadilan. Dihadapan hakim ia membela dirinya..
“Memang saya mencuri, tetapi saya sudah membantu banyak orang miskin.”
Hakim tidak membebaskannya hanya karena berbuat baik. Pelanggaran hukum adalah dosa. Dan akan mendapat ganjaran. Kebaikannya tidak menyelesaikan masalah dosanya..
Demikian pula Allah. Kebaikan tidak menghapus kesalahan. Dosa tetap membutuhkan penyelesaian. Kalau kebaikan kita dapat menyelesaikan masalah dosa, maka Yesus tidak perlu mati..
Nikodemus: Orang Baik yang Masih Harus Lahir Baru
Ketika Nikodemus menemui Yesus, menariknya, Yesus tidak mengatakan kepadanya, “Teruslah menjadi orang baik.”
Sebagai seorang pemimpin agama, Ia mengenal Kitab Suci. Ia dihormati masyarakat. Dia seorang pemimpin yang baik..
Tetapi Yesus berkata, “Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” (Yohanes 3:3)
Artinya, menjadi baik saja belum cukup. Manusia membutuhkan hati yang baru.
Penjahat di Salib
Di sisi lain, ada seorang penjahat yang disalibkan bersama Yesus. Ia tidak memiliki kesempatan memperbaiki hidupnya.
Tidak sempat melakukan banyak perbuatan baik. Namun ia percaya kepada Yesus.
Lalu Yesus berkata, “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di Firdaus.” (Lukas 23:43).
Bukan karena penjahat itu baik. Tetapi karena ia menerima anugerah Kristus di menit terakhir hidupnya..
Kabar Baik Injil
Inilah inti Injil.
Kita tidak diselamatkan karena kita cukup baik. Tetapi kita diselamatkan karena Kristus cukup sempurna.
Keselamatan bukan upah bagi orang baik. Keselamatan adalah anugerah bagi orang berdosa yang bertobat dan percaya kepada Yesus.
Perbuatan baik bukan akar keselamatan. Perbuatan baik adalah buah keselamatan.
Orang yang telah diselamatkan akan terdorong untuk hidup dalam kasih, ketaatan, dan pelayanan.
Bukan supaya diselamatkan. Tetapi karena mereka telah diselamatkan.
Efesus 2:8-9: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
Renungkan
Mungkin selama ini kita merasa cukup baik. hanya karena kita rajin ke gereja. Tidak pernah membuat masalah.
Disukai banyak orang. Rajin pelayanan, dll
Tetapi pertanyaan terpenting bukanlah, “Apakah saya orang baik?”
Melainkan,
“Apakah saya sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat dan membiarkan-Nya mengubah hidup saya?”
Sebab pada akhirnya, pintu surga tidak dibuka oleh daftar kebaikan kita. Kebaikan kita memang dicatat dalam kitab peringatan Tuhan, namun itu tidak menyelamatkan..
Pintu surga dibuka oleh kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus.
Dan itu adalah kabar terbaik bagi setiap orang berdosa yang mau datang kepada-Nya.
Surga bukan dihuni oleh orang yang tidak pernah berdosa, melainkan oleh orang-orang berdosa yang telah diampuni.
Titus 3:5: “Pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,”
Kebaikan manusia tidak pernah cukup untuk membuka pintu surga. Hanya kasih karunia Kristus yang sanggup menyelamatkan, dan kasih karunia itu akan mengubah orang berdosa menjadi hidup dalam kebaikan.













