Apakah menyanyi bersama di Gereja bisa menyebarkan virus?

Menyanyi adalah bagian ibadah orang Kristen. Tidak ada peribadatan yang dilakukan tanpa menyanyi pujian kepada Tuhan.

Apapun situasinya orang-orang Kristen akan selalu menyanyi.

Tetapi bagaimana jika menyanyi dibatasi atau bahkan dilarang karena dianggap dapat menyebabkan penyebaran virus corona?

Menyanyi yang dimaksud adalah menyanyi bersama-sama dalam perkumpulan dimana orang-orang banyak atau dalam jumlah tertentu hadir.

Itulah yang dilakukan oleh pemerintah Inggris. Mereka mengeluarkan penuntun yang baru. Salah satunya melarang nyanyian atau menyanyi diacara pernikahan.1

Karena pada bulan maret dalam sebuah latihan paduan suara, terkonfirmasi 32 orang positif covid-19 dari 61 orang yang ikut latihan menyanyi yang berlangsung 2, 5 jam.

Tiga orang dirawat dirumah sakit dan dua orang meninggal.

Para peneliti mengatakan, penularan bisa karena kedekatan jarak selama latihan ditambah dengan menyanyi.

Di Amsterdam belanda lebih parah lagi. Dari 130 anggota paduan suara, 102 diantaranya positif Covid-19. Mereka tampil menyanyi sebelum Negara itu dikarantina.2

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropat mengaitkan penularan Covid-19 ke aktivitas spesifik, seperti menyanyi dalam paduan suara atau acara keagamaan, yang mungkin ditandai “dengan peningkatan produksi tetesan pernapasan melalui suara keras dan nyanyian”.

Di Amerika peraturan serupa juga dikeluarkan oleh Gubernur California Gavin Newson. Sementara menyanyi dilarang ditempat-tempat peribadatan.

Awal tahun ini, CDC (Centrel of desease control) meningkatkan kewaspadaan tentang bernyanyi setelah 87 persen anggota paduan suara negara bagian Washington dinyatakan positif Covid-19 dan dua orang meninggal. 3

“Menyanyi, mungkin telah berkontribusi pada penularan melalui suara menyanyi dengan vocal yang nyaring, dimana mengerluarkan percikan droplet ,” kata sebuah laporan CDC, yang juga memperingatkan tentang dampak “penyebar super.”

Mengapa menjadi masalah?

Diperkirakan bahwa menyanyikan beberapa lagu dapat menyebarkan virus karena ketika Anda bernyanyi, Anda mengeluarkan tetesan dan cairan dari hidung dan mulut Anda.

Virus ini dapat menumpang pada tetesan-tetesan ini, mendarat di permukaan yang berdekatan atau menginfeksi orang-orang yang berdekatan dengan kitan dan menghirup tetesan yang lebih kecil dan terinfeksi.

Kita juga mengeluarkan tetesan-tetesan ini saat bersin, batuk, berbicara, dan bernafas.

Tetapi dengan bernyanyi, volume suara kita cenderung lebih keras dan bisa akan lebih banyak mengeluarkan percikan.

Sebelunya sebuah studi menyelidiki peran bernyanyi dalam penyebaran tuberculosis. Ditemukan bahwa partikel yang dihasilkan oleh bernyanyi enam kali lebih banyak persentasenya daripada yang dipancarkan melalui berbicara normal.

Tetesan yang dihasilkan juga dapat melakukan perjalanan lebih jauh selama bernyanyi.

Tetapi apakah partikel-partikel ini kemudian akan berhasil menginfeksi orang lain masih bisa diperdebatkan, karena mereka dapat menyebar di udara atau jatuh dengan cepat ke tanah.

Diperkirakan ada risiko rendah infeksi melalui aerosol untuk rata-rata orang.

Menyanyi aman

Beberapa percaya bahwa yang masalah bukan menyani – melainkan kontak dekat.

Pakar mekanika fluida, Profesor Christian Kähler, dari American Military University, melakukan penelitian tentang penyebaran tetesan di konser dan menemukan bahwa bernyanyi “cukup aman”.

Dia mengatakan kepada The Guardian: “Udara hanya didorong sekitar setengah meter di depan seorang penyanyi, dan itu tidak cukup jauh untuk menyebabkan tingkat infeksi wabah ini.”

Orang-orang di paduan suara mungkin telah terinfeksi virus melalui perilaku sosial mereka. Ia menduga mereka melakukan kontak fisik, berbagi makanan ringan, dan berdiri berdekatan.4

Penelitian Kähler menunjukkan bahwa seseorang yang menyanyi musti menggunakan pelindung untuk membatasi tetesan agar tidak mendarat di audiens di masa mendatang.

Paduan suara yang ingin menyanyi kembali harus duduk 1,5 m terpisah.

Profesor Adam Finn dari Universitas Bristol mengatakan, Bukti hubungan bernyanyi dan penyebarkan virus masih bersifat anekdot.

Belum ada data dan sulit untuk memastikan bahwa bernyanyi bertanggung jawab terhadap penyebaran virus.

Walaupun demikian kita harus tetap waspada. Apalagi sekarang era new normal, dimana semua aktifitas sudah dibuka termasuk pertemuan ibadah di gereja.

Jika kita memiliki rasa kuatir akan hal itu, nyanyian bisa diatur dengan baik. Durasi dan banyaknya lagu bisa dikurangi tanpa mengurapi makna pujian.

Jika sebelum virus biasa menyanyikan 10 lagu, mungkin bisa dikurangi setengahnya. Lagi pula durasi ibadah tidak boleh lama seperti anjuran pemerintah.

Supaya jam ibadah yang singkat mendatangkan berkat. Maka pastikan protokol kesehatan diikuti secara ketat oleh semua pengunjung.

Termasuk ketika menyanyi masker harus digunakan.

Referensi:

  1. https://www.huffingtonpost.co.uk/entry/why-is-singing-such-a-problem-for-spreading-coronavirus_uk_5efb0e1cc5b6ca970914a047
  2. Ibid
  3. https://churchleaders.com/news/378358-singing-chanting-banned-ca-churches.html
  4. https://www.theguardian.com/world/2020/may/17/did-singing-together-spread-coronavirus-to-four-choirs
Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *