Apakah Masih Akan Ada Pernikahan di Sorga?

Yesus menjawab mereka: “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!

Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Matius 22:28-30

Pertanyaan mereka segera dijawab oleh Yesus. Tanpa basa-basi. Bahasa yang tajam. Kamu sesat. tIdak mengerti Alkitab dan kuasa Allah.

Yesus mempersoalkan cara berpikir mereka yang tidak logis. Pemahaman teologis mereka mengenai konsep kebangkitan salah.

Semuanya karena kegagalan mereka memahami Alkitab atau kuasa Tuhan.

Mereka tidak menyadari bahwa seluruh Perjanjian Lama juga merupakan Kitab Suci, dimana doktrin kebangkitan sudah jelas.

Ia juga menegur mereka karena menyangkal realitas kebangkitan, karena untuk melakukan kebangkitan itu adalah kuasa Allah.

Yesus kemudian membahas isu spesifik yang mereka angkat mengenai wanita yang menikah dengan tujuh bersaudara:

”Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.”

Teks ini kemudian disimpulkan bahwa di Sorga atau dunia baru tidak akan ada lagi pernikahan. Tetapi benarkah tidak akan ada lagi pernikahan di dunia yang akan datang?

Mari kita simak dua pandangan yang berbeda. Pandangan pertama menafsirkan bahwa didunia yang akan datang tidak ada perkawinan..

Walau hubungan pernikahan indah, ditetapkan secara ilahi, namun itu sepenuhnya bersifat duniawi dan bersifat sementara..

Hubungan seksual, reproduksi, dan persalinan tidak mendapat tempat di surga, karena di sana tidak ada kematian dan tidak ada kehidupan baru seperti di bumi.

Juga tidak akan ada hubungan eksklusif di surga, karena setiap orang akan mempunyai hubungan yang sempurna dan intim dengan orang lain, termasuk dengan Allah.

Di surga, manusia akan menjadi seperti malaikat, sama-sama rohani, sama-sama abadi, sama-sama dimuliakan, dan sama-sama kekal.

Poinnya, pandangan mereka adalah percaya bahwa pada saat kebangkitan, orang-orang yang ditebus akan menerima sejenis tubuh roh “unisex” artinya tubuh tanpa gender atau jenis kelamin, yang akan menggantikan tubuh fisik dan heteroseksual kita saat ini.

Keyakinan ini didasarkan pada Matius 22:30, yaitu jawaban Yesus untuk orang Saduki..

Selanjutnya pandangan kedua menafsirkan bahwa di dunia yang akan datang, hubungan suami istri yang telah berlangsung saat ini akan berlanjut di dunia yang akan datang..

Nah, Apakah teks Matius 22:30, ini menyiratkan bahwa pada saat kebangkitan semua perbedaan seksual akan dihapuskan dan tubuh kita tidak lagi fisik?

Jika penafsiran ini benar, itu berarti, bertentangan dengan apa yang dikatakan Alkitab, asal-usul manusia sebagai makhluk fisik, heteroseksual..

Dan Ketika Tuhan menciptakan, dia katakan, “Sungguh amat baik..” nah apakah setelah di dunia baru, penciptaan Tuhan di taman eden pertama tentang laki-laki dan perempuan akan berubah?

Jika pada saat kebangkitan Allah mengubah tubuh fisik dan heteroseksual kita yang sekarang menjadi tubuh “non-fisik, unisex”, maka seperti yang dikatakan Anthony A. Hoekema

“Iblis akan memenangkan kemenangan besar karena Allah kemudian akan dipaksa untuk mengubah manusia dengan tubuh fisik seperti yang dia ciptakan, menjadi makhluk yang berbeda jenis, tanpa tubuh fisik (seperti malaikat).

Konteks pernyataan Yesus tidak memberikan dukungan kepada pandangan bahwa pada saat kebangkitan orang-orang yang ditebus akan menerima tubuh non-fisik, unisex, tubuh malaikat.

Konteksnya adalah situasi yang dibuat oleh orang-orang Saduki di mana enam saudara menikahi secara berturut-turut, janda saudara laki-laki mereka.

Tujuan dari pernikahan yang beruntun itu adalah untuk tujuan prokreasi atau kelahiran, yaitu “membangkitkan keturunan bagi saudara mereka”(Mat 22:24).

Pertanyaan yang sifatnya menguji yang diajukan oleh orang-orang Saduki adalah, “Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia.”?” (Mat 22:28).

Dalam menjawab, Yesus menegaskan, “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah! Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.”(Mat 22:30).

Referensi Yesus untuk tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat, kemungkinan besar mengacu pada pernikahan sebagai sarana prokreasi kelahiran tidak akan ada lagi di dunia yang akan datang..

Jelaslah bahwa jika tidak ada anak yang dilahirkan, maka tidak akan ada kemungkinan untuk menikahkan anak laki-laki dan perempuan dalam pernikahan..

Penghentian kapasitas reproduksi manusia di dunia yang akan datang, sebagaimana diisyaratkan oleh pernyataan Yesus dalam Matius 22:30, dapat dilihat sebagai perubahan dalam rancangan asli Allah tentang fungsi seksualitas manusia.

Rencana awal Allah adalah ketika Dia berkata: “Bertambah banyaklah dan berkembang biak, dan penuhi bumi” (Kejadian 1:28).

Perintah untuk “mengisi bumi” mensyaratkan bahwa Allah akan mengakhiri siklus reproduksi setelah bumi dipenuhi dengan jumlah manusia yang ideal.

Di dunia yang sempurna, tidak ada kematian, keseimbangan lingkungan dan manusia akan tercapai dalam waktu yang relatif singkat.

Pada waktu itu Tuhan akan menginterupsi siklus reproduksi makhluk manusia untuk melindungi ekosistem planet ini.

Baca Juga: Apakah Ada Kebangkitan Orang Mati? Menjawab Pertanyaan Orang Saduki

Intinya, dalam dunia yang akan datang, orang-orang yang dibangkitkan akan mencapai jumlah ideal untuk menghuni dunia baru. Maka pernikahan baru tidak diperlukan untuk prokreasi.

Tetapi hubungan relasional akan terus berlanjut dari mereka yang telah memiliki hubungan di dunia sekarang ini..

Referensi Yesus kepada keberadaan kita “seperti malaikat” (Mat 22:30) pada saat kebangkitan tidak selalu berarti penghentian fungsi relasional pernikahan.

Tidak ada tempat di mana Kitab Suci menyatakan bahwa para malaikat adalah makhluk “unisex”, tidak dapat terlibat dalam hubungan intim yang mirip dengan pernikahan manusia.

Fakta bahwa malaikat sering disebutkan dalam Alkitab secara berpasangan (Kej 19: 1; Kel 25:18; 1 Raja 6:23) menunjukkan bahwa mereka dapat menikmati hubungan intim sebagai pasangan.

Jika laki-laki dan perempuan mencerminkan Gambar Allah pada penciptaan, kita memiliki alasan untuk percaya bahwa mereka akan terus mencerminkan gambar Allah pada pemulihan akhir.

Karena tujuan penebusan bukanlah menghancurkan ciptaan asli Allah tetapi memulihkan kepada kesempurnaan aslinya.

Inilah sebabnya mengapa Alkitab berbicara tentang kebangkitan tubuh dan bukan penciptaan makhluk-makhluk baru.

Mengenai pernikahan dan kelahiran di bumi yang baru, Ellen White dengan jelas menyatakan:

“Ada pria hari ini yang mengungkapkan keyakinan mereka bahwa akan ada perkawinan dan kelahiran di bumi baru; tetapi mereka yang percaya Kitab Suci tidak dapat menerima doktrin semacam itu. Doktrin bahwa anak-anak akan lahir bumi yang baru bukanlah bagian dari “kata nubuat yang pasti” (2 Petrus 1:19)… 1 SM 172-173).

Jika institusi perkawinan berakhir di dunia yang akan datang, maka anggota keluarga yang sama tidak akan bersatu kembali, tetapi akan dipisahkan dan menjalani gaya hidup sendiri.

Sulit untuk menerima pandangan ini, karena Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan dan itu sungguh amat baik (Kej 1:31) pada mulanya.

Sulit untuk percaya bahwa pada akhirnya Tuhan akan menemukan bahwa ciptaan laki-laki / perempuan-Nya menjadi tidak begitu baik. sehingga didunia baru diubah..

Sekiranya manusia tidak jatuh dalam dosa, manusia hidup kekal, laki-laki dan perempuan hidup dalam keintiman selama-lamanya..

Bumi kita sekarang, dikembalikan ke kesempurnaan aslinya dan dihuni oleh orang-orang yang mempunyai fisik nyata.

Di dunia baru, fungsi prokeasi pernikahan untuk kelahiran tidak ada lagi. Tetapi fungsi relasional pernikahan akan terus berlanjut..

Tuhan menciptakan manusia pada awalnya sebagai laki-laki dan perempuan, dengan kapasitas untuk mengalami kesatuan persekutuan intim.

Dengan demikian, tidak ada alasan untuk menganggap, Dia akan menciptakan mereka pada akhirnya sebagai makhluk unisex, yang akan hidup sebagai lajang dan orang-orang tanpa kapasitas untuk mengalami kesatuan persekutuan dalam hubungan pria / wanita.

Poinnya, hubungan pernikahan saat ini akan berlanjut di Sorga, tetapi fungsi prokreasinya tidak lagi berfungsi.

Nah dari dua pandangan ini, manakah yang lebih berterima bagi Anda?

Intinya, Tuhan akan menyediakan sesuatu yang jauh lebih indah dari sekedar pernikahan. Kita sepenuhnya tidak paham saat ini, akan seperti apa di dunia baru nanti..

Terserah Anda saja yang mana mau diyakini. Atau kalau Anda punya jawaban lebih baik, boleh dibagikan untuk kita semua..

Karena itu lebih baik berpegang pada perkataan Firman ini saja..

Tetapi seperti ada tertulis: ”Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” 1 Korintus 2:9.

Mari kita tunggu saja, seperti apa nanti kenyataan dari topik ini..tetaplah setia sampai Tuhan datang..

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *