Apakah maksud Yesus, Kamu adalah garam dunia? (Matius 5:13)

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” Matius 5:13

Hampir semua masakan menggunakan garam. Tanpa garam akan hambar. Tidak enak. Maka garam adalah bahan yang selalu tersedia disetiap rumah.

Garam adalah senyawa kristalin NaCI yang merupakan klorida dan sodium, dapat larut dalam air dan asin rasanya.

Garam ditaburkan kedalam masakan dan bercampur dengan bahan makanan yang dimasak. Supaya merata percampurannya, maka diaduk-aduk, maka seluruh masakan menjadi enak dan berasa.

Jadi, garam penting, bahkan salah satu bahan penentu rasa enak sebuah masakan.

Makna garam dan penggunaannya

Yesus menggunakan garam sebagai metafora kepada umat-Nya, bahwa mereka harus memiliki rasa dan membuat rasa kepada orang-orang dimana mereka berada.

Maka Dia menyebut mereka sebagai garam dunia.

Di Palestina garam dikumpulkan dari rawa-rawa di sepanjang pantai atau dari dalam danau. Ketika garam-garam itu dikumpulkan dia mengandung banyak kotoran.

Jika terkena kelembaban, atau terkena hujan, garam itu akan larut dan kalau dicuci maka hanya menyisakan kotoran hambar dan tidak berguna lagi.

Garam juga digunakan sebagai pengawet (lih. MB 35). Sebelum ditemukan lemari pendingin untuk mengawetkan makanan, garam dan rempah-rempah sebagian besar digunakan untuk pengawetan.

Di Palestina kuno penggunaan garam hampir seluruhnya untuk tujuan ini dan untuk bumbu (lihat Ayub 6: 6).

Sebagaimana halnya garam, maka Yesus mendorong orang Kristen untuk memberikan pengaruh yang baik, memelihara dan memurnikan dunia ini.

Kita tidak menarik diri dari masyarakat, sekalipun ada penganiayaan (lihat Mat. 5: 10–12) atau karena alasan lainya, tetapi kita harus tetap berhubungan dekat dengan sesama kita.

Garam bumbu” ditemukan dalam Matius 5:13; Markus 9:50; Lukas 14:34). Secara kiasan (lihat metafora dan istilah perbandingan metafora perumpamaan)) garam muncul dalam hubungannya dengan karakter orang percaya dan tentang perkataan mereka (Markus 9:50; Kolose 4: 6).

Garam (Yun, halas) adalah garam alami yang memurnikan, membersihkan, menjaga dari kerusakan. Secara harfiahnya “Garam bumbu” ditemukan dalam Matius 5:13; Markus 9:50; Lukas 14:34).

Secara kiasan (lihat metafora dan istilah perbandingan metafora perumpamaan)) garam muncul dalam hubungannya dengan karakter orang percaya dan tentang ucapan mereka (Markus 9:50; Kolose 4: 6).

Garam adalah salah satu pengawet paling awal dan merupakan komoditas berharga di dunia kuno.

Tanpa alat pendingin, garam menjadi alat untuk mengawetkan daging dari pembusukan. Pelaut seabad yang lalu mengasinkan ikan dan daging, serta mengawetkannya dengan garam.

Mencegah kerusakan

Garam sangat penting sebagai pencegah kerusakan di dunia kuno. Dan seluruh kehidupan ekonomi sangat bergantung pada garam.

Singkatnya, garam benar-benar dapat membuat perbedaan antara hidup dan mati pada saat makanan segar tidak tersedia.

Penulis Yunani Plutarch berkata bahwa daging jika dibiarkan begitu saja, menjadi busuk, tetapi garam mengawetkannya dan menjaganya tetap segar. Daging yang diasinkan dalam garam, kesegarannya akan tetap bertahan.

Garam itu sepertinya memberi semacam kehidupan di dalamnya. Intinya adalah garam melindungi dari kerusakan.

Dalam Kolose 4: 6, garam menunjukkan perkataan yang memberi rasa pada percakapan, sehingga jawaban kita baik dan berguna.

Orang Yunani menyebut garam “charitas” (rahmat) karena memberi rasa pada sesuatu. Perkataan kita tidak boleh merusak (Ep 4; 29), karena garam (kasih karunia Tuhan) menahan kerusakan itu.

Garam telah dihargai sejak jaman dahulu kala. Tentara Romawi dibayar dengan garam dan, jika ada yang lalai dalam tugasnya, dia dikatakan “tidak sepadan dengan garamnya”.

Garam digunakan di seluruh masyarakat kuno sebagai tanda persahabatan, (Catatan Ed: lihat The Oneness of Covenant: Friend) sebuah konsep yang berlanjut hingga hari ini.

Di dunia Arab, jika seseorang memakan garam orang lain, yaitu makan bersamanya, dia berada di bawah perlindungan dan pemeliharaanya.

Jika musuh terbesar seseorang datang ke tendanya dan memakan garamnya, dia berkewajiban untuk melindungi dan menafkahinya seolah-olah dia adalah sahabat tersayang.

Barclay menjelaskan bahwa “Di dunia kuno garam sangat dihargai. Orang Yunani menyebut garam ilahi (theion).

Nilai domestik dan obat garam baik sebagai bumbu dan pengawet sama universal di dunia kuno seperti sekarang ini.

Pliny menyatakan bahwa “garam memiliki sifat api”, dan dia mengutip pepatah saat ini, “Untuk seluruh tubuh tidak ada yang lebih baik dari matahari dan garam”

Garam dalam persembahan

Tuhan menetapkan garam sebagai bagian penting dari persembahan korban.

“Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam.” (Im 2:13, bandingkan Ezekiel 43:23, 24, Ezra 9: 9, 10).

Tuhan berkata bahwa jika mereka melalaikan garam dari persembahan mereka kepada Tuhan, itu adalah persembahan yang tidak dapat diterima.

Persembahan menuntut keseluruhan, dan persembahan tidak lengkap tanpa garam.

Ayub menyebut garam sebagai bahan makanan yang diperlukan saat dia mengajukan pertanyaan,

“Dapatkah makanan tawar dimakan tanpa garam atau apakah putih telur ada rasanya?” (Ayub 6: 6).

Jadi, sejarah membuktikan bahwa dunia kita terus-menerus menuju pembusukan, bukan keilahian.

Karena itulah kita harus menjadi penghambat pembusukan dan pengawet dunia yang hancur ini.

Manusia garam

Bagaimana caranya, lewat pengaruh karakter Kristen kita. Tabiat kita dapat menghentikan spiral dunia yang menurun dan membantu membendung kemerosotan alami yang terjadi dalam pemberontakan dunia melawan Tuhan.

Orang Kristen memiliki pengaruh moral pada dunia di sekitar mereka, mempengaruhi setiap bagian masyarakat.

Jika kita tidak memiliki pengaruh moral terhadap orang-orang di sekitar kita, maka ada sesuatu yang sangat keliru sehubungan dengan moralitas kita.

Umat Kristen yang hidupnya menunjukkan kualitas moral yang baik akan memiliki dampak menjaga masyarakat dari kebusukan moral.

Tanpa pengaruh Injil, masyarakat akan menderita kerusakan moral dan menjadi busuk.

Seorang Kristen harus ada di dunia, namun bukan dari dunia. Bagaimana ini bisa terjadi? Perhatikan ikan yang tinggal di laut yang asin, tetapi ikan tersebut, tidak terasa asin.

John Stott mengatakan, “Dan ketika keadaan masyarakat menjadi buruk, kita orang Kristen cenderung angkat tangan dalam ketakutan dan mencela dunia non-Kristen;

Tetapi haruskah kita tidak menyalahkan diri kita sendiri? Kita tidak bisa menyalahkan daging tawar karena menjadi busuk.

Ketika itu terjadi, maka pertanyaan sebenarnya adalah: “Di mana garamnya?

Dampak dari orang Kristen yang asin telah mempengaruhi seluruh negara. Pertimbangkan dampak Kebangkitan Besar Pertama (kebangkitan) di Inggris pada saat seluruh Eropa terlibat dalam pergolakan politik.

Bahkan penulis sekuler mengakui bahwa karena pengaruh orang-orang Kristen yang asin seperti John Wesley dan George Whitefield, Inggris terhindar dari pengaruh revolusi berdarah mengerikan yang melanda Prancis (lihat Revolusi Prancis) di akhir 1700-an.

Garam dunia

Orang-orang percaya yang asin benar-benar mencegah kerusakan dan pembusukan!

Barclay mengatakan “Makanan, tanpa garam, dapat menjadi hambar dan menjijikkan. Maka, orang Kristen harus menjadi pembawa cita rasa ke dalam hidup.

Orang Kristen itu, yang dengan keberaniannya, harapannya, keceriaannya dan kebaikannya membawa rasa baru ke dalam hidup yang hambar dan busuk ini.

Sungguh menakjubkan denga sejumput garam dapat meningkatkan cita rasa makanan. Semangkuk besar popcorn benar-benar hambar tanpa garam.

Kekristenan adalah hidup seperti garam untuk popcorn tawar !. Kekristenan memberi rasa dan bumbu pada kehidupan. Tapi terlalu banyak garam bisa jadi tidak enak.

Di zaman Yesus, garam dalam pikiran banyak orang berhubungan dengan tiga kwalitas khusus.

Pertama, Berhubungan dengan kemurnian. Warnanya yang putih sebagai tanda kesucian. Orang Romawi berkata bahwa garam adalah yang paling murni dari segalanya.

Teladan kemurnian

Jadi, jika orang Kristen ingin menjadi garam dunia, dia harus menjadi teladan kemurnian atau kesucian.

Dunia dimana kita tinggal cenderung mengalami penurunan standar disegala bidang. Standar kejujuran, standar ketekunan dalam bekerja, standar ketelitian, standar moral, semuanya cenderung menurun.

Maka, Orang Kristen haruslah orang yang menjunjung tinggi standar kemurnian dalam perkataan, tingkah laku, dan bahkan dalam pikiran.

Kedua, Di dunia kuno garam adalah yang paling umum digunakan untuk mengawetkan. Itu digunakan untuk mencegah hal-hal menjadi buruk, dan untuk menahan pembusukan.

Jadi garam melindungi dari kerusakan. Jika orang Kristen ingin menjadi garam dunia, dia harus memiliki pengaruh antiseptik tertentu terhadap kehidupan.

Orang Kristen harus menjadi antiseptik pembersih dalam masyarakat mana pun kita berada; kehadiran kita akan mengalahkan kerusakan dan denga mudah membantu orang lain untuk menjadi baik.

Ketiga, Kualitas garam yang terbesar dan paling jelas adalah garam memberi rasa pada sesuatu.

Makanan tanpa garam adalah hal yang sangat hambar dan bahkan memuakkan. Maka, Kekristenan adalah hidup seperti garam untuk makanan. Kekristenan memberi rasa pada kehidupan dunia.

Ketika garam menjadi tawar

Yesus melanjutkan dengan mengatakan bahwa, jika garam menjadi hambar, maka itu tidak berguna, lalu akan dibuang dan diinjak oleh orang.

Sulit untuk menerangkan ini, karena garam tidak pernah kehilangan rasa asinnya. E. F. F. Bishop dalam bukunya Jesus of Palestine mengutip penjelasan yang sangat mungkin diberikan oleh Miss F. E. Newton.

Di Palestina kompor biasa berada di luar pintu dan dibangun dari batu di atas dasar ubin. kemudian “untuk menahan panas, lapisan garam yang tebal diletakkan di bawah lantai keramik.

Setelah jangka waktu tertentu garam itu musnah. Ubin diangkat, garam dikeluarkan dan dibuang ke jalan di luar pintu kompor…

Ia kehilangan kekuatannya untuk memanaskan ubin dan dibuang. ” Itu mungkin gambarannya di sini.

Jadi, ketika garam itu tidak lagi berguna, efeknya tidak lagi bermanfaat, maka dia dibuang. Menjadi sampah bisa jadi.

Artinya, jika seorang Kristen tidak memenuhi tujuannya sebagai seorang Kristen, maka dia sedang menuju bencana.

Kita dimaksudkan untuk menjadi garam dunia, dan jika kita tidak menghidupkan kesucian hidup, menjadi antiseptik, maka kita menjadi masalah dan tidak berguna.

Enam manfaat sebagai garam

Orang Kristen adalah garam dunia dan kita harus membuat perbedaan, dengan 6 manfaat garam sebagai berikut:

1. Garam sebagai bumbu penyedap.

Harus ada rasa, wangi, kenikmatan, dan kelezatan tentang kita orang Kristen.

Seseorang mengatakan bahwa masalah utama kita hari ini bukanlah karena doktrin kita salah, tetapi pengalaman rohani kita datar.

Sehingga hidup kita menjadi hambar, dan tidak memberi rasa bagi orang lain.

2. Garam untuk mengawetkan.

Garam mencegah pembusukan dan menahan kerusakan. Satu orang saleh dalam suatu kelompok akan menahan percakapan jahat.

3. Garam memurnikan dan membersihkan.

Obat kumur terbaik untuk sakit tenggorokan adalah air garam biasa. Kita harus memiliki pengaruh yang memurnikan ke mana pun kita pergi.

Jika gereja kita telah memburuk bahkan mulai busuk, lingkungan kita mulai buruk, sering kita berpikir untuk keluar dan meninggalkan tempat itu.

Seharusnya tidak demikian. Kita harus berfungsi disana sebagai pembersih dan pemurni disana, melalui kehadiran dan pengaruh kita.

4. Garam untuk menyembuhkan.

Kehidupan diubahkan, jiwa-jiwa diselamatkan, rumah-rumah diselamatkan dari bencana, yang patah hati diperbaiki.

Kesedihan mereda, beban terangkat, tubuh dan pikiran yang sakit disembuhkan karena kekuatan antiseptik dan terapi Roh Kudus yang bekerja melalui umat Allah, sebagai garam dunia.

5. Garam menciptakan rasa haus.

Kita harus mengembangkan dalam hati manusia keinginan untuk mengenal Tuhan. Kita harus hidup sedemikian rupa sehingga orang lain menginginkan kedamaian dan kegembiraan yang mereka lihat dalam diri kita.

Apakah ada orang yang ingin menjadi orang Kristen seperti kita? Argumen terbaik untuk Kekristenan adalah orang Kristen itu sendiri.

6. Garam mengiritasi.

Ketika garam kebenaran Tuhan dioleskan ke dunia yang sakit ini, jiwa-jiwa yang sakit bisa menjadi bijaksana.

Saat lampu dinyalakan, beberapa orang akan meringis. Iblis membenci Injil dan melawan…

Kita bukan gula dunia ‑ juga bukan cuka dunia‑ tapi kita adalah garam dan kehadiran kita tidak akan selalu disambut oleh generasi yang penuh luka, memar dan luka yang membusuk ini.

Bisnis garam

Karena itu, Kita perlu terjun ke bisnis garam dan kita harus mulai dengan beberapa. Karena inilah program kerja Tuhan untuk kita.

Kedengarannya memang kuno, tapi garam itu kuno, dosa itu juga kuno, begitu juga Injil, semua ini barang kuno, sudah ribuan tahun lalu.

Selama ini, kita telah membawa selera dengan rasa mewah, kenikmatan pedas, dan resep pintar yang kita pinjam dari dunia.

Terlalu banyak pencicip makanan mimbar dan penggemar makanan dan minuman teologis dengan menu-menu dari Hollywood yang mencoba untuk menyenangkan nafsu makan manusia yang memuakkan.

Maka sekarang, Kita membutuhkan garam kuno ini, dan jika kita tidak mulai memproduksinya lebih banyak di gereja kita saat ini, kita tidak akan berguna selain dibuang dan diinjak-injak di bawah kaki manusia.

Albert George Butzer berkata “Beberapa orang Kristen tidak hanya seperti garam yang telah kehilangan rasanya, tetapi seperti lada yang telah kehilangan semangatnya.”

Tanpa iman yang hidup dalam Kristus sebagai Juruselamat pribadi tidak mungkin membuat pengaruh kita dirasakan dalam dunia yang skeptis.

Kita tidak dapat memberikan kepada orang lain apa yang kita sendiri tidak miliki. Itu selaras dengan kesetiaan dan pengabdian kita kepada Kristus sehingga kita menggunakan pengaruh untuk memberkati dan mengangkat umat manusia.

Jika tidak ada pelayanan yang sungguh-sungguh, tidak ada kasih sejati, tidak ada kenyataan pengalaman, tidak ada kuasa untuk menolong, tidak ada hubungan dengan surga, tidak ada khasiat Kristus dalam kehidupan.

Kecuali Roh Kudus dapat menggunakan kita sebagai wakil-wakil yang menyampaikan kebenaran seperti yang terdapat dalam Yesus, kita bagaikan garam yang telah tawar dan sama sekali tidak berguna. (Kotbah diatas bukit, 47)

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *