Apakah Hukum Taurat yang Kedua di Matius 22:39-40?

Yesus mengutip Imamat 19:18, “.. kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri..”

“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Matius 22:39-40

Rabi Akiba, seorang rabi yang hidup sekitar 50 – 135 M, adalah seorang rabi Yahudi termasyhur dari abad ke-2. Ia sangat berwibawa dalam masalah tradisi Yahudi.

Dia mengatakan imamat 19:18 sebagai prinsip besar dalam Taurat. Apa yang dia sampaikan, kemungkinan besar juga diucapkan pada zaman Yesus..

Berarti sebenarnya orang-orang pada jaman itu sudah mengetahui hukum mana yang terbesar.

Seperti halnya hukum pertama dan terutama prinsipnya adalah kasih. Dan ini tidak hanya sekedar keterikatan emosional..

Kasihi sesamamu, artinya menjadi berguna bagi sesama, baik Yahudi maupun non-Yahudi. Mengasihi berarti memberi kepada seseorang apa yang dibutuhkannya.

Memperlakukan orang lain seperti memperlakukan diri sendiri.

Dasar dari kedua hukum itu adalah kasih. Perintah untuk mengasihi Allah dengan tulus, selanjutnya diikuti dengan perintah untuk mengasihi sesama..

Para pemimpin agama tahu keutamaan hukum ini, tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka tidak mengasihi Tuhan dalam dunia nyata. Kasih mereka kepada Tuhan hanya dibibir saja.

Mereka pun tidak mengasihi sesamanya. Bahkan sesama Yahudi, apalagi orang bukan Yahudi.

Itu sebabnya Yesus mengatakan, “Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.” Matius 23:4.

Contohnya, bagaimana orang-orang Saduki dipasar keagamaan Bait Suci, membebankan harga hewan korban 10 kali lipat lebih mahal, sehingga orang-orang miskin tidak dapat membelinya..

Belum lagi untuk penukaran uang, yang biayanya mereka bebankan 25 persen. Mereka telah mengeksploitasi orang-orang untuk keuntungan pribadi dan kelompok mereka..

Semua aturan dan kebijakan umum yang mereka buat tidak mengandung prinsip kasih kepada sesama..

Kasih yang tulus kepada sesama sama seperti kasih yang tulus kepada Tuhan.

Apakah ukuran dalam mengasihi sesama? Sebagaimana kita mengasihi diri sendiri, begitulah kita mengasihi sesama. Itulah ukurannya.

Kecenderungan alamiah manusia adalah mengutamakan diri sendiri.

Untuk benar-benar tidak mementingkan diri sendiri dalam berurusan dengan sesamanya, manusia pertama-tama harus mengasihi Tuhan.

Ini adalah hal yang paling penting dasar dari semua perilaku yang benar.

Artinya, bukti bahwa kita mengasihi Tuhan, ditunjukkan melalui cara kita memperlakukan sesama. Apakah sesama kita perlakukan seperti diri kita sendiri..

Mengasihi diri adalah merawat diri. Tidak menyakiti diri. Ketika seseoran lapar, dia makan. Ketika harus dia minum untuk dirinya sendiri. Ketika sakit dia minum obat atau pergi ke dokter.

Mereka yang mengasihi diri sendiri, akan melakukan apa pun untuk kebaikan dirinya, karena dia mengasihi dirinya.

Maka mengasihi sesama manusia seperti itu. Merawat kehidupan. Tidak menyakiti orang lain. Tidak merugikan. Tidak merusak orang lain, dll..

Seperti kita menyayangi diri kita, demikianlah kita lakukan kepada orang lain. Dan itu bukti kita mengasihi Tuhan..

Dalam hal mengasihi sesama, Yesus memperluas definisi “sesama” dengan mencakup semua orang yang membutuhkan bantuan.

“Sesama manusia tidak berarti hanya orang yang satu agama dengan kita. Ia tidak memandang kebangsaan, warna atau perbedaan tingkat. Sesama manusia adalah setiap orang yang memerlukan pertolongan kita. Sesama manusia adalah setiap jiwa yang dilukai dan cedera oleh musuh. Sesama manusia adalah setiap orang yang menjadi milik Allah.” Membina kehidupan Abadi, 292.1

Kasih adalah komitmen tanpa syarat kepada seseorang yang tidak sempurna di mana seseorang memberikan dirinya kepada orang lain untuk membawa hubungan tersebut sesuai dengan tujuan yang dimaksudkan Tuhan.

Lebih jauh lagi, mencintai sesamanya seperti dirinya sendiri berarti ia memberikan dirinya kepada manusia lain untuk membantu mereka hidup sebagaimana rencana Tuhan..

Tuhan menyerahkan diri-Nya bagi manusia, makan hal yang sama kita teruskan, yaitu memberikan diri kita kepada sesama kita..

Baca Juga: Hukum Manakah yang Pertama dan Terutama?

Ini adalah perintah yang terbesar karena mengacu kepada cara Tuhan memperlakukan manusia.

Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri, dijabarkan dalam 10 hukum, yaitu hukum ke 5-10. Mencakup: menghormati orang tua. Merawat mereka dimasa tua.

Menjaga hidup orang lain dengan tidak mengambil nyawa mereka. Tidak memfitnah, mengejek, melecehkan atau marah tanpa alasan, dll

Mengasihi juga menjaga kekudusan hidup. Tidak mengkhianati pasangan hidup. Tidak mengambil kepunyaan orang lain atau merugikan orang.

Mengasihi juga tidak menipu sesama, mengelabui, untuk keuntungan pribadi. Tidak membohongi dan bersaksi dusta tentang sesama.

Mengasihi juga menghormati kepemilikan setiap orang. Tidak mengingini.

Yesus menutup penjelasan tentang mengasihi Allah dan sesama,

“Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Dengan kata lain, Yesus menegaskan bahwa Perjanjian Lama prinsipnya terletak pada kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia.

Mari kita mengembangkan hubungan kasih kita kepada Allah dan kepada sesama.

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Yohanes 13:34-35

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *