Apakah Boleh Membayar Pajak Kepada Kaisar? Matius 22:15-17

Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.

Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.

Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Matius 22:15-17.

Terpojok dengan perumpamaan yang mereka telah dengar. Hati makin sakit. Amarah memuncak. Kebencian menggila. Tidak puas.

Lalu mereka pergi sejenak untuk berunding. Mereka diskusi bagaimana cara untuk menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.

Selama ini mereka selalu gagal. Pertanyaan dan pernyataan jebakan mereka selalu berhasil ditangkis Yesus dengan pertanyaan balik.

Ada lagikah pertanyaan yang bisa kita buat untuk menjebak Yesus? Demikian perbicangan mereka. Rasanya sudah hampir semua topik, termasuk yang sensitif, telah tanyakan..

Sepertinya sudah kehabisan bahan. Tetapi masih ada satu lagi. Topiknya tentang pajak. Ini isu sensitif untuk pemerintah Romawi.

Semua orang harus bayar pajak kepada mereka. Para pemungut cukai adalah kaki tangan mereka. Bagi orang Yahudi, membayar pajak kepada Kaisar tidak dapat dibenarkan. Mereka penjajah.

Tetapi mau tidak mau, mereka harus melakukannya. Tidak membayar pajar berarti menentang Kaisar Romawi.

Nah topik ini lah yang ingin mereka tanyakan, tetapi tujuannya untuk membenturkan Yesus dengan kaisar, dimana Yesus akan tampak sebagai pemberontak.

Dengan demikian, kaisar akan menangkap Yesus dan mengeksekusi sebagai melawan pemerintah.

Setelah mereka sepakat menjerat Yesus dengan pertanyaan tentang pajak, lalu mereka suruh murid-murid mereka untuk mendekati orang Herodian musuh mereka untuk Kerjasama menjerat Yesus.

Maka untuk sementara permusuhan dihentikan dulu, demi menyingkirkan musuh bersama mereka yaitu Yesus.

Pertanyaannya, mengapa bukan orang Farisi sendiri yang menghadapi Yesus? kenapa menyuruh muridnya? Kemungkinan pertama, mereka takut dipermalukan lagi oleh Yesus.

Kedua, mereka ingin menyamarkan jebakan mereka. Karena mereka mudah dikenali dari jubah yang mereka kenakan.

Ketika, dengan menyuruh murid mereka, seolah-olah pertanyaan jebakan tersebut tidak bermaksud menjerat.

Berpikir, mereka tidak akan dikenali dan mereka bisa berpura-pura menjadi pengagum yang tulus, yang menginginkan nasihat Yesus tentang sebuah pertanyaan yang membara di benak sebagian besar orang Yahudi pada masa itu.

Mereka berharap Yesus akan lengah dan menjebak diri-Nya sendiri.

Maka Ketika mereka datang kepada Yesus, mereka membuka dengan puja-puji terjadap kejujuran dan keberanian Yesus yang tidak tidak takut siapapun.

“Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.”

Pujian mereka tentang Yesus, seorang yang jujur, tidak takut siapa pun, tidak cari muka, itu benar. Karakter Yesus memang seperti itu.

Tetapi pujian dan pengakuan mereka itu tidaklah tulus. Pujian pura-pura. Tetapi itu perlu dilakukan untuk membangun suasana supaya Yesus tersanjung..

Bahkan mereka menyebut Yesus sebagai Guru. Menyebut Yesus sebagai Guru adalah suatu bentuk kehormatan yang tinggi..

Gelar itu diperuntukkan bagi para rabi yang cerdik dan penafsir hukum dan tradisi Yahudi. Talmud mengatakan, “Orang yang mengajarkan hukum akan mendapat tempat di akademi yang tinggi.”

Namun sebutan mereka untuk Yesus sebagai Guru, cuma pura-pura. Semua hanya untuk membuat Yesus tersanjung dan akhirnya terjerat..

Meskipun sanjungan sering kali mengandung kebohongan, sanjungan akan sangat menipu dan tercela bila menggunakan kebenaran untuk mencapai tujuan jahatnya.

Hati-hati dengan pujian yang disampaikan orang-orang kepada kita, sekali pun itu dengan ketulusan. Karena itu dapat membawa kita kepada perasaan bangsa dan puas diri..

Banyak orang terlena karena pujian. Berapa banyak para gadis yang akhirnya tertipu oleh pria-pria nakal..!

Kita memang membutuhkan pujian, tetapi kita lebih membutuhkan kritikan, masukan dari pada puja-puji.

Karena itu, jangan langsung terbang kalau dipuji dan jangan jatuh kalau dikritik. Kita bukan mahkluk Ilahi yang sempurna. Semua kritik yang membangun, terimalah sebagai booster.

Jika kritik itu sifatnya menghancurkan, abaikan dan buang ke tong sampah. Tidak perlu main hati atau baper..

Nah, setelah puja-puji yang hebat itu, mereka masuk kepada tujuan asli mereka yaitu pertanyaan jebakan.

Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”

Salah satu bentuk pujian tertinggi adalah meminta nasihat seseorang mengenai suatu masalah penting.

Dalam hal ini mereka seolah menempatkan diri mereka sebagai seseorang yang sangat tidak berpengetahuan. Polos. Tulus. Dan tidak punya pengalaman..

Dalam hal ini, mereka menduga bahwa Yesus telah masuk kedalam permainan mereka. Dia tersanjung karena sudah dipuji.

Biasanya orang akan bersemangat untuk menunjukkan kebijaksanaan yang baru saja dipuji oleh orang lain. Dan itu yang mereka harapkan dari Yesus.

Dengan demikian, Yesus akan melontarkan jawaban yang tidak hati-hati dan akan menempatkan dirinya berlawanan dengan Romawi dan itu menjadi hukuman mati bagi-Nya..

Apakah Yesus berhasil mereka kelabui? Kita bisa baca ayat selanjutnya..

Poinnya adalah Yesus mengetahui hati dan motif setiap orang. Dia tidak dapat dikelabui. Sementara kita tidak mengetahui hati dan motif setiap orang..

Karena itu, berhati-hati dengan pujian dan sanjungan dari orang-orang. Mungkin orang tersebut tidak bermaksud menjebak kita, tetapi kita yang menjebak diri kita dengan pujian mereka..

Setiap orang suka mendengar dari orang, yang manis, indah tentang dirinya. Terimalah itu sebagai kebaikan, tetapi berikanlah pujian dan kemuliaan bagi Tuhan..

Jika kita harus memuji orang untuk mengapresiasi, sampaikan itu dengan tulus dan sesuai kenyataan yang ada. Jangan dilebih-lebihkan..

Diatas semua itu, berikanlah pujian yang tulus kepada Tuhan. Dia layak menerima-Nya dari kita..

Pertanyaan Jebakan

Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”

Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Matius 22:17-18

Ini debat yang sangat lucu. Membuat kita tertawa. Bagaimana tidak tertawa, siasat yang mereka susun dengan rapi, terbongkar..

Mereka ibarat anak kecil yang bermain petak umpet dimalam bulan purnama, menyembunyikan diri dalam sebuah sarung, dimana hanya mata yang terlihat. Seperti seorang ninja..

Ketahuan dah..

Yesus tidak perlu berbasa basi, “Terimakasih atas pertanyaan dan pujiannya…” seperti gaya kita kalau mendapat pertanyaan dan pujian..

Melesat seperti kereta cepat Jakarta-Bandung, Yesus segera menyambar pertanyaan mereka dengan mengungkap motif jahat mereka..

“Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?…

Seketika motif dan maksud jahat mereka terungkap, kepada mereka sendiri dan kepada orang banyak..

Nah, disinilah kelucuannya..

Sudah susah payah mengatur strategi, membangun citra pura-pura tulus dan polos, tetapi dihadapan Yesus cuma sekejap terungkap..kita bisa bayangkan mimik wajah mereka yang pucat..

Kita kembali kepada pertanyaan mereka. Disini mereka meminta pendapat Yesus tentang bayar pajak kepada Kaisar..

Secara de facto Romawi adalah penguasa di Israel. Memang ada raja-raja wilayah, tetapi mereka boneka Kaisar..

Karena itu Romawi menuntut pajak dibayarkan kepada mereka. Dan ini sangat ditentang orang-orang Yahudi..

Dari sekian banyak pajak yang dipungut Romawi dari wilayah yang mereka kuasai, ada pajak yang disebut dengan Poll-tax..

Dari segi kata, poll-tax diterjemahkan kensos, diambil dari bahasa latin yaitu Censere, yang merupakan asal muasal kata census (sensus) dalam bahasa Inggris.

Poll-tax adalah pajak per kepala yang dikenakan dengan jumlah tetap terhadap masing-masing orang yang telah dewasa.

Pajak ini sangat memberatkan. Karena semua orang harus membayar dengan jumlah yang sama, tanpa melihat kemampuan para wajib pajak. Ini harus dibayar setiap tahun.

Bisa dibayangkan, kalau disatu rumah ada lebih dari satu orang dewasa, suami-istri, anak-anak, berapa banyak pajak yang akan mereka bayarkan? Itu sangat memberatkan.

Demi pajak inilah, mengapa Romawi mengadakan sensus penduduk setiap tahun. Sensus inilah yang mengharuskan Yusuf dan Maria melakukan perjalanan ke Betlehem sebelum Yesus lahir (Lukas 2:1-4).

Romawi sebagai kerajan dunia keempat, memerlukan dana yang besar untuk membiayai pemerintahan mereka. Maka pasokan dana terbesar adalah dari pajak.

Akibatnya, muncul banyak jenis pajak. Ada pajak tanah sebesar sepersepuluh dari gandum, dan seperlima dari anggur dan minyak yang diproduksi dihitung setiap tahunnya..

Ada pajak penghasilan sebesar satu persen bagi para penerima upah. Pajak bea cukai atas barang dagangan dipungut di semua pelabuhan dan persimpangan jalan utama.

Bagi Sebagian orang Yahudi, mungkin bukan pajak per kepala yang paling mahal, tetapi inilah pajak yang paling mereka benci..

Mungkin karena mereka menganggap diri mereka secara pribadi adalah milik Tuhan dan bukan milik Kaisar.

Itu sebabnya pajak ini memicu pemberontakan Yudas dari Galilea pada tahun 6 M, yang kemudian menggulingkan kekuasaan Herodes Arkhelaus dan diganti oleh seorang gubernur Romawi.

Seruan Yudas adalah, karena Tuhan adalah satu-satunya Tuhan dan Tuhan mereka, pajak sensus/per kepala tidak akan dibayarkan ke Roma.

Dan pemberontakan ini disinggung oleh Gamaliel kepada Sanhedrin, waktu mengadili Petrus, yaitu Yudas, ia dibunuh dan pengikutnya kocar-kacir. (Kisah Para Rasul 5:37).

Yudas yang nasionalis dan anti Romawi, kemudian hari mendorong gerekan Zelot dan gerakan lainnya sekitar tahun 66 M.

Sekitar 4 tahun kemudian, tahun 70 M berakhir dengan kehancuran Yerusalem dan Bait Suci oleh Romawi.

Orang-orang Yahudi memang sejak lama terus mempertanyakan pajak-pajak yang dikenakan Romawi kepada mereka. Pertanyaan tersebut sangat beralasan.

Tetapi salah menjawab bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, bukan kebetulan kalau pertanyaan tentang pajak per kepala itu mereka tanyakan, supaya Yesus yang menerima akibat fatalnya..

Jika Yesus memberi jawaban yang memihak Romawi, maka Dia akan dibenci oleh banyak orang yang sangat mengagumi Dia.

Dalam hal ini, pemimpin Yahudi akan bebas untuk menangkap dan mengeksekusinya tanpa campur tangan masyarakat.

Sementara kalau Dia menjawab yang menguntungkan orang Yahudi, maka Dia akan menjadi sasaran kemarahan Romawi karena dianggap pemberontak..

Jadi, Yesus mereka posisikan ditengah untuk terjepit diantara Yahudi dan Romawi.

Pertanyaan yang sederhana, yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak, menjadi pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab, setidaknya bagi mereka dan orang banyak..

“Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” jawaban Yesus sangat bijaksana tanpa terbentur dirinya dengan Romawi.. Tidak sulit bagi Yesus menjawabnya.

Tetapi kebusukan hati mereka menjadi perhatian Yesus. Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?

Mereka datang dengan sanjungan, namun niat mereka jahat, itulah puncak kemunafikan agama.

Poinnya, jika anda ingin memukul orang yang Anda tidak sukai, jangan gunakan tangan orang lain. Jangan lempar batu sembunyi tangan.

Jangan mencobai orang lain supaya dia jatuh, baik dengan pertanyaan, pernyataan atau hal-hal lainnya yang akan membuat posisi orang lain sulit..

Kata-kata dan perbuatan kita, hendaklah didasari motif yang benar. Tulus dan iklas.

Selanjutnya, antara hati dan perbuatan biarlah seirama. Terkadang sikap kita di luar tidak sama dengan di dalam.

Diluar kita nampak ramah, penuh senyum dan tulus, cium pipi kanan dan pipi kiri, tetapi didalam hati, kita menggerutu dan menyimpah kebencian..

Mari renungkan ayat berikut ini..

“Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.” Kisah 24:16.

“Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka,” 1 Timotius 1:19.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *