
Pendahuluan
Kita akan menyebutkan sedang melayani Tuhan jika kita terlibat dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan gereja.
Seperti berkhotbah, memimpin pujian, mengajar Alkitab, melawat, menginjil, menjadi pendeta, penatua dan daikon, dll..
Semua itu memang termasuk dalam pelayanan kepada Tuhan.
Sebaliknya, kita tidak merasa sedang melayanni Tuhan bila yang kita lakukan diluar lingkup gereja, seperti bekerja dan memlakukan sesuatu untuk orang lain..
Namun pertanyaanya, apakah hanya pelayanan gereja yang dimaksud Alkitab dengan melayani Tuhan?
Apakah hal lain yang tidak berhubungan dengan gereja tidak termasuk melayani pekerjaan Tuhan?
Misalnya, bila seseorang yang aktif di gereja, tetapi di rumah ia tidak mengasihi keluarganya, apakah ia benar-benar sedang melayani Tuhan?
Atau seseorang yang tekun dalam pelayanan, namun dipekerjaan dia memperlakukan anak buahnya dengan tidak baik, apakah dia sedang melayani Tuhan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membawa kita kepada pemahaman yang lebih dalam tentang makna pelayanan.
Melayani Tuhan Bukan Sekadar Bekerja untuk Tuhan
Dalam Alkitab, melayani Tuhan pertama-tama bukanlah soal aktivitas pelayanan itu, melainkan soal hubungan.
Seseorang dikatakan melayani Tuhan ketika ia hidup dalam ketaatan, kasih, dan penyembahan kepada-Nya.
Dimana semua tindakan pelayanan itu lahir dari hati yang telah lebih dahulu menyerahkan diri kepada Allah.
Itulah sebabnya Yesus berkata,
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Matius 22:37)
Perintah ini bagian dari Shema Israel di Ulangan 6:4-9 dan Ulangan 11:13-21.
Kata kasih yang digunakan di ulangan 6:5 ini adalah Aheb. Sama dengan kata Agape dalam bahasa Yunani di PB.
Kata ini merujuk terutama pada tindakan pikiran dan kemauan, tekad untuk memperhatikan kesejahteraan sesuatu atau seseorang.
Disini mencakup emosi yang kuat, ada dedikasi dan komitmen terhadap pilihan.
Dengan demikian, Kasih kepada Tuhan bukan hanya segi emosional, tetapi juga memberikan diri kepadanya dengan seluruh pribadinya.
Kasih ini sebagai komitmen sukarela kepada Tuhan yang bersifat pribadi, komprehensif, dan sepenuh hati…
Kasih kepada Tuhan menjadi dasar utama dari setiap pelayanan. Tanpa kasih kepada Tuhan, aktivitas pelayanan hanya menjadi sebuah rutinitas keagamaan atau formalitas saja..
Melayani Sesama Adalah Buah dari Melayani Tuhan
Setelah berbicara tentang mengasihi Allah, Yesus segera menambahkan,
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:39)
Urutannya penting. Kasih kepada Allah melahirkan kasih kepada sesama.
Dengan kata lain, melayani sesama bukanlah pengganti melayani Tuhan, melainkan salah satu wujud nyata dari melayani Tuhan.
Misalnya, ketika seseorang memberi makan orang lapar, menghibur yang berduka, mengajar anak-anak, mengunjungi orang sakit, atau menguatkan mereka yang putus asa, ia sedang melayani sesama.
Jika semua pelayanan itu dilakukan karena kasih kepada Kristus dan untuk kemuliaan-Nya, maka pelayanan kepada sesama menjadi pelayanan kepada Tuhan.
Singkatnya, pelayanan yang dilakukan kepada sesama manusia apa pun bentuiknya, itu sama dengan pelayanan kepada Tuhan, bila dilakukan atas nama Tuhan untuk kemuliaan nama-Nya..
Apa Bedanya?
Perbedaan utama terletak pada arah pelayanan.
Melayani Tuhan berbicara tentang kepada siapa hidup kita dipersembahkan. Pusatnya adalah Allah. Motivasinya adalah kasih, penyembahan, dan ketaatan kepada-Nya.
Melayani sesama berbicara tentang kepada siapa kasih itu diwujudkan. Pusat tindakannya adalah manusia yang membutuhkan pertolongan, tetapi sumber dan tujuannya tetap kepada Allah.
Sederhananya, kita tidak berhenti pada membantu sesama manusia. Dasar kita melayani manusia karena kita terlebih dahulu mengasihi Tuhan.
Ilustrasi: Akar dan Buah
Sebuah pohon tidak menghasilkan buah karena buah itu dipasang pada ranting. Buah muncul karena akar menyerap air dan nutrisi yang disalukan kepada semua ranting..
Demikian pula dengan pelayanan. Hubungan dengan Tuhan adalah akar. Pelayanan kepada sesama adalah buah.
Jika akar sehat, buah akan muncul dengan sendirinya. Tetapi jika akar kering, buah tidak akan bertahan lama.
Intinya, bila hubungan kita dengan Tuhan baik. Maka itu akan menghasilkan buah kebajikan kepada sesama manusia..
Yesus Memberikan Teladan
Ketika Yesus datang ke dunia, Dia mengajar, menyembuhkan orang sakit, memberi makan orang banyak, menghibur yang berduka, dan mengampuni orang berdosa.
Semua tindakan itu adalah pelayanan kepada manusia.
Namun Yesus selalu kembali kepada Bapa dalam doa. Ia tidak pernah memisahkan pelayanan kepada manusia dari hubungan dengan Allah.
Karena itu pelayanan-Nya tidak lahir dari ambisi, melainkan dari kasih dan ketaatan kepada Bapa.
Praktik Melayani Tuhan dalam Kehidupan Sehari-hari
Seperti yang sudah disebutkan diatas, bahwa melayani Tuhan tidak terbatas pada mimbar atau gedung gereja.
Setiap bidang kehidupan dapat menjadi tempat pelayanan apabila dilakukan dengan iman dan untuk memuliakan Allah.
• Seorang ayah melayani Tuhan ketika mendidik anak-anaknya dengan kasih dan kebenaran.
• Seorang ibu melayani Tuhan ketika merawat keluarganya dengan setia dan penuh pengorbanan.
• Seorang guru melayani Tuhan ketika mengajar dengan jujur dan membentuk karakter murid-muridnya.
• Seorang petani, pengusaha, pedagang melayani Tuhan ketika bekerja dengan tekun dan jujur.
• Seorang pegawai melayani Tuhan ketika bekerja dengan integritas meskipun tidak diawasi.
• Seorang pelajar, mahsiswa melayani Tuhan ketika belajar dengan sungguh-sungguh dan menjaga kesaksian hidupnya.
• Dan masih banyak kegiatan lainnya, yang bisa Anda tambahkan..
Semua hal diatas kejalan dengan Alkitab. Paulus menegaskan,
“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)
Ayat ini menunjukkan bahwa pekerjaan sehari-hari dapat menjadi ibadah apabila dilakukan bagi kemuliaan Tuhan.
Salah satu cara penting dan sering kali terabaikan dalam melayani Tuhan adalah melalui tugas-tugas sehari-hari kita.
Martin Luther memahami hal ini ketika ia menulis, “Pembantu rumah tangga yang menyapu dapurnya melakukan kehendak Tuhan sama seperti biarawan yang berdoa – bukan karena ia boleh menyanyikan himne Kristen sambil menyapu, tetapi karena Tuhan menyukai lantai yang bersih.
Tukang sepatu Kristen melakukan tugas Kristennya bukan dengan memasang salib kecil di sepatu, tetapi dengan membuat sepatu yang baik, karena Tuhan tertarik pada keterampilan yang baik.”
Ketika kita menghormati Tuhan dan membantu sesama, maka pekerjaan dan pelayanan kita menyatu dalam pelayanan yang menyenangkan bagi Tuhan.
Pekerjaan sehari-hari yang dilakukan untuk Tuhan memiliki nilai kekal.
Kesimpulan
Melayani Tuhan bukan hanya bekerja di gereja. Melayani Tuhan adalah mempersembahkan seluruh hidup kepada Allah dalam kasih dan ketaatan.
Melayani sesama adalah salah satu cara paling nyata untuk mewujudkan kasih itu.
Pelayanan kepada Tuhan selalu dimulai dari hati yang menyembah. Pelayanan kepada sesama menjadi bukti bahwa hati itu benar-benar telah diubahkan.
Ketika keduanya berjalan seimbang, dunia akan melihat bukan hanya orang yang rajin beragama, tetapi murid-murid Kristus yang hidup memuliakan Allah melalui kasih kepada sesama.
Pelayanan bukan sekadar aktivitas gerejawi, melainkan seluruh kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah dan diwujudkan dalam kasih kepada sesama serta tanggung jawab atas dunia yang Tuhan percayakan.
Ini juga sejalan dengan pemahaman Alkitab tentang panggilan hidup orang percaya.
Apa pun yang sedang Anda kerjakan, lakukanlah dengan penuh semangat, karena pekerjaan Anda adalah untuk Tuhan, dan Dia mengharapkan yang terbaik dari Anda.
Bukan jumlah jam yang Anda curahkan yang penting, tetapi apa yang Anda curahkan dalam jam-jam tersebut.
Jadi, melayani Tuhan diwujudkan dengan pelayanan kepada sesama dan pekerjaan kita sehari-hari, yang kita lakukan dengan segenap hati untuk kemuliaan Tuhan..
Efesus 6:7, “Dan layanilah mereka dengan rela seperti melayani Tuhan dan bukan manusia.”












