Pastordepan Media Ministry
Beranda Seri Kitab Ayub Antara putus asa dan iman: Pergulatan batin Ayub ( Ayub 7:11-16)

Antara putus asa dan iman: Pergulatan batin Ayub ( Ayub 7:11-16)

Di ayat sebelumnya Ayub meminta agar Tuhan memberi kesempatan baginya untuk hidup lebih lama agar dapat bermanfaat lebih banyak bagi orang lain.

Itu sebabnya dia terus berbicara kepada Tuhan. Selanjutnya dia berkata,

“Oleh sebab itu aku pun tidak akan menahan mulutku, aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku, mengeluh dalam kepedihan hatiku..”

Disini dia menyatakan tekadnya untuk meratapi penderitaannya. Mulutnya tidak akan berhenti untuk berbicara.

Dia merasa Allah telah mencela dia dan dia berhak untuk mengeluh dengan keras. Bagi seseorang yang menderita kesakitan yang begitu hebat, diam bukanlah pilihan yang baik.

Bagi Ayub, lidah adalah satu-satunya jalan untuk melepaskan kesengsaraan itu.

Dengan bebas meratap, dia memiliki harapan bahwa kata-katanya akan menyentuh belas kasihan Allah dan Allah akan bergerak untuk menyelamatkannya.

Ayub percaya, Allah tidak akan diam selamanya. Permohonan dan tangisan orang yang setia akan membuat Tuhan bertindak.

Yesus pernah menyampaikan hal ini kepada para murid-Nya dalam Lukas 11:5-13. Jika seseorang terus menerus tanpa lelah dan malu, mengetuk, mencari dan meminta kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberikan.

Maka yang dibutuhkan disini adalah ketekunan dan kesetiaan iman kepada Tuhan. Allah bisa saja dengan mudah dan cepat melepaskan kita dari masalah kita..

Namun Dia sengaja mengijinkan kita lebih lama berada dalam masalah agar kita memiliki daya tahan yang lebih baik dan daya juang yang lebih kuat.

Seseorang yang menjalani Latihan fisik dibawah tekanan yang lebih keras dalam waktu yang panjang, akan memiliki kekuatan yang jauh lebih prima, dibanding mereka yang latihannya sedikit dan ringan,

Tuhan ingin kita memiliki kekuatan yang prima, baik fisik dan rohani untuk menghadapi pencobaan hidup yang terus menerus datang kepada kita.

Itu sebabnya Tuhan menginjinkan kita dicobai, dibawah tekanan yang keras. Namun saat yang sama, Tuhan mengendalikan situasi.

Bahkan itu tidak akan melampaui kekuatan kita. Kita dapat menanggungnya. Dan pada akhirnya Dia akan memberikan jalan keluar (1 Korintus 10:13).

Selanjutnya Ayub bertanya, “Apakah aku ini laut atau naga, sehingga Engkau menempatkan penjaga terhadap aku?”

Nah disini Ayub menggunakan mitologi dari Baal Ras Shamra. Itu adalah dewa Baal, yang digambarkan dalam teks-teks Kanaan kuno yang ditemukan di Ras Shamra (Ugarit kuno) di Suriah.

Disini Baal digambarkan sebagai “penunggang awan,” dewa badai kesuburan, hujan, dan guntur yang memperebutkan kekuasaan di antara para dewa melawan Mot (kematian) dan Yamm (laut).

Dia digambarkan sebagai kekuatan Kekacauan yang melawan Tatanan Tuhan di alam.

Bagi Ayub, sepertinya Tuhan menganggapnya sebagai lawan yang tangguh, sebanding dengan laut (yam) atau Naga laut (tannfn).

Melalui cerita mitologi yang kaya tentang konflik primordial, Ayub bertanya-tanya apakah Tuhan memperlakukannya begitu keras karena Dia takut bahwa dia adalah musuh kosmik?

Kemudian Ayub membela diri. Dia dengan sedih menceritakan, bagaimana dia secara fisik dan emosi begitu menderita di ayat 13-16 dan mengatakan kerinduannya untuk mati.

Dia hanya berharap bahwa tempat tidurnya dapat memberinya sedikit kenyamanan dari penjaga yang telah ditempatkan Tuhan atas setiap tindakannya.

“Apabila aku berpikir: Tempat tidurku akan memberi aku penghiburan, dan tempat pembaringanku akan meringankan keluh kesahku..” (7:13)

Ketika dia berbaring, bebannya akan berkurang dan dia akan mendapatkan istirahat. Tetapi di tengah malam Ayub terbangun, berkeringat dan mengigau, ketakutan oleh mimpi yang dikirim dari Tuhan.

Itu sebabnya dia katakan, “..maka Engkau mengagetkan aku dengan impian dan mengejutkan aku dengan khayal, sehingga aku lebih suka dicekik dan mati dari pada menanggung kesusahanku..” (7:14-15)

Ia percaya bahwa khayal ini adalah pasukan Tuhan yang diperintahkan untuk membuatnya tak berdaya di hadapan lawan ilahinya.

Di waktu lain di malam hari, ia kesulitan bernapas, batuk begitu hebat sehingga ia merasa seolah-olah akan mati lemas.

Dan tulang-tulangnya sangat sakit sehingga ia membayangkan akan mati. Dalam gambaran yang indah.

Itu sebabnya dia berkata, “Aku jemu, aku tidak mau hidup untuk selama-lamanya. Biarkanlah aku, karena hari-hariku hanya seperti hembusan nafas saja..” (7:16).

Jadi, penderitaanya membuat dia ingin mati saja. Ia memohon kepada Tuhan untuk tidak menolong: Biarkan aku sendiri, karena hari-hariku seperti uap [neraka].

Ayub sering menggunakan kata “uap” untuk menggambarkan kesia-siaan yang disebabkan oleh kesedihannya.

Jika Tuhan membiarkannya sendiri, rasa sakitnya mungkin akan berkurang dan ia dapat menikmati kebaikan selama sisa hidupnya yang sedikit.

Mungkin kita saat ini memiliki perasaan seperti Ayub. Karena beratnya kesusahan, sampai kita merasa seperti Tuhan melawan kita sehingga kita ingin sendirian saja..

Dalam penderitaan yang berat, wajar saja muncul banyak pertanyaan dalam pikiran kita, bahkan sampai berpikir Tuhan menjadi lawan kita atau bahkan merasa Tuhan tidak peduli..

Maka dalam penderitaan, mari gunakan waktu merenung tentang kebaikan Tuhan.

Bahwa walau pun Tuhan tidak muncul, bahkan bagi kita menjadi seperti musuh, mari kita ingat, dalam setiap penderitaan Tuhan punya rencana yang indah dan akan muncul pada waktunya.

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” Mazmur 37:24

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan