“ANJAY”

Oleh: Pdt. Yusak Subagyanto

Mat 15:21-28 ; Markus 7:24-30

Kita semua telah mengetahui berita di media sosial yang viral sehubungan dengan istilah “Anjay”.

Kata ” anjay” sempat menjadi trending topic di media sosial, karena Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mengeluarkan larangan resmi penggunaan kata “anjay” karena berpotensi dipidana.

Menanggapi fenomena itu, Doktor Ilmu Hukum Universitas Airlangga ( Unair) Bambang Suheryadi mengatakan bahwa sikap Komnas PA terlalu berlebihan, mengingat kata ‘anjay’ sendiri bermakna multitafsir bergantung pada konteks penggunanya.

Namun tahukah anda bahwa ada seorang yang dikenal baik, disebut sebagai Guru, Rabi, Tuhan dan Juru Selamat telah megucapkan kata-kata penghinaan kepada seorang perempuan Kanaan, dengan menyebutnya sebagai “Anjing”.

Tentunya kita pernah mendengar atau mengetahui seseorang yang sedang marah, kemudian memaki dengan kalimat yang kasar dan keluar sebutan “kebun Binatang”… Babi….. Anjing….Wereng….dan sebagainya.

Itu adalah kata-kata penghinaan untuk merendahkan orang lain, dan orang tersebut direndahkan seperti binatang.

Jika hal itu terjadi pada diri kita, tentu kita tidak akan menerima ketika kita direndahkan seperti binatang; “Babi” atau “Anjing”.

Mungkin saja kita akan merespon dengan kata-kata yang sama atau kita akan melaporkan ke polisi atas penghinaan tersebut.

Pada kesempatan saat ini kita akan mempelajari kisah ini, yaitu ketika Yesus menyebut perempuan Kanaan seperti “Anjing”. Kisah ini dapat kita baca dalam Injil Matius 15:21-28 dan Markus 7:24-30.

Tirus dan Sidon

Disebutkan pada awal bahwa Yesus menghindari perselisihan Dia dengan orang Farisi dan Ahli Taurat (Matius 15:1-20).

Agar tidak terlibat perdebatan lebih lanjut dengan kaum Farisi dan ahli Taurat yang datang ke Galilea dari Yerusalem untuk memeriksa keagamaan Yesus dan para murid-Nya, maka Yesus dan Murid-murid pergi menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon (Mat 15:21).

Tirus (bhsArab صور Ṣūr, Fenisia Ṣur, Ibrani צור Tzor, Ibrani, Tiberias צר Ṣōr,

Akkadia Ṣurru, Yunani Τύρος Týros, Inggris Tyre) adalah sebuah kota yang terletak disebelah selatan Lebanon.

Dengan jumlah penduduk 117.100 orang, Tirus mencuat keluar dari pantai Laut Tengah dan terletak sekitar 80 km di selatan Beirut.

Nama kota ini berarti “batu karang”. Tirus adalah kota Fenisia kuno dan sebagai kota keempat terbesar di Lebanon.

Daerah ini letaknya di pesisir utara (sekarang Lebanon selatan), sekitar 60 kilometer sebelah barat laut danau Genesaret di Galilea (lihat Mat 14:34) tempat Yesus dan murid-murid-Nya mengadakan pelayanan dan beristirahat untuk makan.

Wilayah Tirus dan Sidon bukanlah wilayah umat Israel. Sehingga orang-orang Faris dan Ahli Taurat yang datang dari Yerusalem tidak dapat bertindak “memeriksa” keagamaan orang.

Perempuan Kanaan

Namanya tidak pernah disebutkan baik dalam Injil Matius dan Markus.

Perempuan Kanaan tersebut adalah seorang Yunani berkebangsaan Siro-Fenisia (Mrk 7:26) atau Kanaan (Matius 15:22).

Kata Yunani di sini lebih merujuk pada keagamaannya, yang bukan agama umat Israel.

Jadi pada dasarnya bagi orang Yahudi, perempuan Kanaan adalah orang yang tidak menyembah Tuhan, Allah-nya Abraham, Ishak dan Yakub.

Bagi orang Yahudi orang Kanaan tidak termasuk umat. Bahkan boleh dikatakan jika orang Kanaan adalah musuh bebuyutan orang Israel.

Agama dan tradisi mereka dianggap berseberangan, sehingga mereka Perempuan Kanaan itu dianggap sebagai “orang luar” yang tidak berhak mendapatkan perhatian sedikitpun dari orang-orang Yahudi sebagai Umat Allah.

Penghinaan Yesus terhadap Perempuan Kanaan

Sikap orang Yahudi terhadap orang Kanaan tersebut dinyatakan oleh Yesus ketika Perempuan Kanaan itu memohon kepada Yesus.

Bahkan sambil berteriak (Matius 15:22; Markus 7:26) memohon kesembuhan anak perempuannya yang sedang sakit atau kerasukan setan.

Perempuan ini meninggalkan semua perbedaan bahkan pertentangan yang ada saat itu; dia mempedulikan tantangan budaya, agama dan orang-orang sekitar yang mungkin sudah mencibir dia dan bahkan kemungkinan Yesus akan menolak dia.

Dorongan apakah yang membuat ibu ini senekad itu menjumpai Tuhan Yesus?

Hanya satu kerinduaan yang memaksa dirinya untuk menemui Yesus, yaitu Kesembuhan anak perempuannya yang sedang kerasukan setan dan sangat menderita.

Inilah yang mendorong dia untuk mendobrak segala rintangan yaitu demi kesembuhan anak perempuannya.

Kita dapat membayangkan bagaimana kesusahan, kekhawatiran serta ketakutan yang dialami oleh ibu ini.

Penderitaan yang dialami oleh anak perempuannya pastilah membuat ibu ini merasa terpuruk, sedih, dan takut akan kematian anaknya.

Seperti pada umumnya jika seorang ibu dapat berbuat apa saja demi anak-anak dan keluarganya termasuk perempuan Kanaan ini.

Ketakutan dan kesedihannya telah mendobrak segala rintangan yang di depannya demi satu pengharapan yaitu kesembuhan putrinya.

Tindakkan perempuan Kanaan ini merupakan hal yang melanggar ketentuan yang ada dalam budaya mereka..

Namun juga merupakan Pernyataan Iman yang luar biasa untuk datang kepada orang yang tepat yaitu kepada Yesus untuk memohon belas kasih-Nya.

Namun apa yang terjadi… dalam Injil Matius 15:23, Yesus sama sekali tidak menjawabnya, tidak menanggapi permohonan perempuan tadi.

Sedangkan Markus tidak mengatakan sejelas ini, tapi pembicaraan selanjutnya dalam Markus (Markus 7:27) sama-sama menunjukkan bahwa permohonan tadi tidak bisa dilayani karena memang bukan dari kalangan umat sendiri.

Mengapa Yesus tidak menanggapi dia? Meskipun Tuhan tidak membuang dia, Tuhan menolak untuk langsung menerima dia.

Tuhan Yesus sedang menyatakan bahwa semua penolakan Tuhan atas bangsa-bangsa yang tidak mau percaya adalah hal yang serius.

Dia tidak akan menanggapi bangsa-bangsa yang telah ditutup jalannya oleh Bapa di surga.

Siapa yang Tuhan tolak harus tetap ditolak, kecuali orang-orang dari bangsa itu datang dengan kerendahan hati di hadapan Tuhan.

Siapa pun yang datang dengan kerendahan hati tidak akan Tuhan tolak (Mikha 6:8).

Tuhan tidak akan pernah membuang Bangsa kafir yang datang dengan kerendahan hati. Tuhan menerima mereka.

Tetapi orang Israel, bangsa pilihan Tuhan sendiri, jika mereka menjadi sombong dan angkuh, Tuhan akan tolak.

Siapa yang angkuh, Tuhan akan membuangnya. Siapa yang datang dengan rendah hati, Tuhan akan mengampuni dan mendengarkan permohonannya.

Itulah sebabnya Tuhan Yesus tidak langsung menerima perempuan ini.

Hak Perempuan Kanaan memperoleh Belas Kasihan Tuhan Yesus

Kemudian Tuhan Yesus menjawab perempuan itu :“tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing”.

Pernyataan keras ini kembali dilontarkan oleh Yesus. “Anjing” disini menggambarkan bangsa di luar Yahudi.

Di dalam satu interpretasi disebutkan dalam konteks budaya bangsa Yahudi, “Anjing” dipandang sebagai bintang najis karena biasa memakan sampah dan bangkai.

Mereka tidak dijadikan binatang peliharaan dan orang Yahudi bahkan menjuluki orang yang tidak disukai sebagai “anjing”.

Bukankah perkataan itu sangat keras?

Dengan bahasa sederhana, Yesus hendak menegaskan bahwa tidak layak bagi seorang yang bukan orang Israel (Yahudi) meminta berkat kepada Tuhan yang memberikan berkat khusus kepada bangsa Israel (roti khusus).

Untuk kedua kali, perempuan ini mendapat perkataan yang “menyakitkan”.

Menyakitkan sekali seakan mendapat penolakan dari orang yang sangat diharapkan dan mungkin satu-satunya yang dapat kita harapkan.

Tetapi perempuan Kanaan menjawab perkataan Yesus yang adalah salah satu cerminan kerendahan diri dari perempuan ini di hadapan Yesus;

“Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”.

Walaupun dianggap sebagai “Anjing”, oleh karena bangasannya, perempuan kanaan ini mengatakan dengan kerendahan hati, bahwa dia memang layak dianggap sebagai anjing.

Tetapi dia adalah “Anjing” yang memohon belas kasihan dan meminta remah roti yang jatuh ke lantai, hanya remah-remah roti saja.

Ini kalimat yang sangat penuh dengan permohonan dan kerendahan hati.

Inilah yang Tuhan perkenan. “Anjing” yang memohon belas kasihan Tuhan akan diangkat menjadi anak.

Anak yang sombong yang mengabaikan firman Tuhan, akan diturunkan menjadi “Anjing”.

Ini kalimat keras, tetapi fakta. Perempuan itu terus mengemis berkat Tuhan.

Memohon Tuhan mengabulkan permintaannya sebagai seekor “Anjing” yang memohon roti dari meja tuannya.

Inilah kerendahan hati. Inilah permohonan belas kasihan. Tuhan Yesus penuh dengan belas kasihan.

Dia tidak akan membuang orang-orang yang datang memohon belas kasihan kepada Dia.

Marilah kita datang kepada Yesus, hai yang letih lesu dan berbeban berat, sebagaimana perempuan Kanaan yang datang kepada Yesus dengan segala kerendahan hati.

Datang seperti seekor “Anjing” kecil yang memohon makanan dari meja tuannya. Kita semua seharusnya dibuang oleh Tuhan.

Kita tidak berhak datang meminta. Tetapi kita juga tahu bahwa Allah kita adalah Allah yang murah hati, dan penuh belas kasih.

Perkataan perempuan Kanaan yang menunjukan kerendahan hati dan mengharukan, sekaligus menyatakan iman percayanya, kepada sang Penyembuh yaitu Yesus, sehingga ia dilayakkan untuk menerima rahmat dan berkat-Nya.

Setelah Yesus dan murid-murid-Nya melihat keteguhan iman perempuan kanaan ini, maka Yesus menyambutnya dengan berkata;

“Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh. (Matius 15:28)

Dihadapan murid-murid-Nya Yesus menunjukkan bahwa penyelamatan-Nya, tidak hanya tertuju kepada mereka yang disebut sebagai umat Israel, melainkan bagi siapa saja yang mau menyerahkan diri sepenuhnya dalam iman dan pengharapan akan kasih-Nya.

Kasih Allah Menutupi semua Perbedaan

Kisah ini menunjukkan kasih Allah, membuka batas-batas agama dan etnisitas. Kejadian ini tidaklah berakhir dengan masuknya perempuan tadi menjadi bagian umat Israel.

Ia tetap perempuan Kanaan. Ia tetap ada di luar Israel, tetapi ia diikutsertakan dalam pelayanan Yesus.

Bagian yang sejajar dalam Injil Markus menceritakan bahwa perempuan itu “pulang” mendapati anaknya berbaring di tempat tidur dan yang merasukinya sudah keluar (Markus 7:30).

Yang dimintanya sudah terpenuhi.

Awalnya para murid yang menganggap bahwa orang-orang non Yahudi tidak layak menerima Keselamatan.

Namun melalui persitiwa itu, merekapun telah mengerti bahwa Keselamatan, Kasih karunia dan Belas Kasihan Tuhan berlaku bagi siapa saja yang datang dengan segala kerendahan hati.

Kisah ini menunjukkan bahwa agama dan etnisitas tidak menjadi halangan bagi kebaikan ilahi.

Selain itu ditegaskan pula bahwa permohonan orang beriman bagi orang lain – dalam hal ini permintaan sang ibu bagi kesembuhan anak perempuannya – memiliki kekuatan besar (Yakobus 5:16).

Marilah kita datang dengan penuh keyakinan dengan mata yang tertuju hanya kepada Yesus yang akan menolong dan menyelamatkan kita dari kebinasaan dosa, sebagaimana Rasul Paulus menuliskan dalam kitab Ibrani 12:2;

“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”

Datanglah kepada Yesus, sebagaimana perempuan Kanaan datang kepada Yesus, dengan Iman dan segala kerendahan hati. Tuhan Memberkati. Amin.

Pdt. Yusak Subagyanto, M. Fil, Seorang pendeta yang sudah melayani diberbagai Gereja di JawaTengah.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.