Akankah Orang-Orang Kembali ke Gereja setelah COVID-19?

Sebuah survei baru-baru ini melaporkan bahwa mayoritas gereja di Amerika mencatat angka “kehadiran” yang lebih tinggi dalam pelayanan ibadah secara daring selama masa COVID-19 dibanding kehadiran mereka pada pertemuan rutin seperti biasa.

Meluasnya penggunaan teknologi berbasis internet, melalui platform seperti Facebook Live dan Zoom, telah memungkinkan banyak gereja untuk menyiarkan khotbah.

Pelayanan Firman maupun pelayanan musik, bisa menjangkau lebih luas dan lebih banyak dibanding ketika bertemu di gereja.

Mudahnya mengadakan live streaming dan merekam video telah memberikan kesempatan kepada gereja-gereja untuk menjangkau dengan efektif komunitas mereka sendiri, dan denga pemirsa yang jauh lebih luas.

Penggunaan media sosial, seperti Facebook dan Instagram, telah memberi kesempatan kepada banyak orang dari segala usia untuk tinggal di rumah tetapi mereka masih bisa “menghadiri” pelayanan gereja.

Bahkan, beberapa peneliti melaporkan bahwa banyak orang Kristen menonton lebih dari satu layanan gereja online setiap Minggu pagi.

Salah satu hasil dari situasi pandemi saat ini telah menjangkau pemirsa yang jauh lebih besar, tetapi partisipasi kurang aktif.

Orang-orang menonton layanan gereja di internet tetapi jauh lebih sedikit terlibat, dukungan finansial cenderung turun secara signifikan, dan banyak pelayanan yang akhirnya dibatalkan.

Sebagai contoh, meskipun beberapa gereja menyediakan pelayanan anak-anak dan pemuda secara online, tapi tidak banyak sukarelawan dewasa yang melayani, karena tidak ada program akhir pekan yang dijadwalkan.

Di sebagian besar gereja, pelayanan virtual ini memungkinkan pekerja tinggal di rumah saja.

Pelayanan selama Social distancing

Para pendeta dan pemimpin gereja lainnya telah hadir dan menggunakan inisiatif dan kreativitas untuk menjangkau komunitas mereka dan untuk melayani anggota mereka selama masa karantina karena tidak bisa berkumpul secara langsung.

Faktanya bahwa Gereja telah meluncurkan cara-cara baru untuk berhubungan dengan banyak orang-orang, dan anggota gereja menikmati jadwal baru mereka.

Kenyamanan beribadah di rumah di depan komputer, tablet, atau televisi telah menjadi sebuah tren baru, oleh banyak orang di sebut “normal baru” dalam kehidupan gereja.

Fakta itu menyebabkan banyak pemimpin gereja memikirkan apakah jawaba untuk pertanyaan spesifik, “Akankah orang akan kembali hadir di gereja dan aktif secara langsung setelah krisis COVID-19?”

Pelayanan setelah Social distancing

Jawaban spesifik untuk pertanyaan itu mungkin sangat tidak pasti sekarang, karena para pendeta masih melayani selama pandemi saat ini.

Namun, satu organisasi berita nasional AS melaporkan bahwa “Departemen Keamanan Dalam Negeri meminta gereja-gereja … untuk memulai perencanaan (sekarang) dan seterusnya setelah virus corona..”

Sulit untuk mengatakan seperti apa pelayanan gereja setelah praktik social distancing saat ini. Ada beberapa yang mengatakan kebiasaan baru menonton kebaktian di rumah akan berlanjut.

Yang lain percaya bahwa orang Kristen yang telah kehilangan persekutuan dengan orang percaya lain akan mendambakan pertemuan bersama secara langsung.

Mengapa Orang mungkin Tidak akan Kembali ke Gereja?

Berikut adalah beberapa alasan mengapa banyak orang mungkin tidak kembali ke rutinitas mereka menghadiri gereja secara teratur.

1. Orang menikmati beribadah di rumah.

Suasana santai berada di rumah bersama keluarga mereka mungkin memiliki daya tarik jangka panjang bagi banyak pengunjung gereja.

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa filosofi tinggal di rumah saat ini mungkin telah memungkinkan beberapa orang untuk menonton layanan ibadah dengan piyama mereka.

Beberapa percaya bahwa sejumlah besar anggota gereja, mungkin ingin melanjutkan praktik kasual ini bahkan setelah pandemi COVID-19 berakhir.

2. Orang tidak lagi merasa aman di tempat umum.

Media telah melakukan pekerjaan besar meyakinkan orang untuk takut ke tempat-tempat umum dengan kerumunan orang.

Penduduk telah diperintahkan untuk mengenakan masker wajah di depan umum, untuk menjaga jarak setidaknya 1-2 dengan orang lain, selalu menggunakan pembersih tangan atau tisu desinfektan secara teratur, dan untuk sering mencuci tangan.

Generasi muda sudah berjuang dengan kecemasan dan krisis kesehatan saat ini mungkin membuat orang curiga dan enggan untuk menghadiri pertemuan publik dalam waktu dekat.

3. Orang-orang menyukai kebebasan untuk menonton layanan sesuai jadwal mereka sendiri.

Praktik yang sudah umum di Amerika Serikat, bahkan sebelum pandemi ini, adalah banyak orang lebih suka berpartisipasi pada kegiatan lain pada akhir pekan alih-alih membuat komitmen untuk secara teratur menghadiri kebaktian gereja.

Meskipun kegiatan lain juga terbatas sekarang, nampaknya orang lebih lebih memilih menggunakan banyak waktu tersedia di akhir pekan untuk kegiatan rekreasi lainnya.

Karena pelayanan gereja sudah diposting di situs web dan aplikasi media sosial memungkinkan orang untuk menonton layanan gereja dalam jadwal pribadi dan keluarga mereka.

Mengapa Orang Ingin Ingin Kembali ke Gereja?

Ada juga beberapa alasan utama mengapa orang percaya ingin kembali ke gereja setelah pembatasan coronavirus dilonggarkan.

1. Orang tidak mau kehilangan hubungan dengan orang percaya lainya .

Keterasingan saat ini dari orang lain menyebabkan mereka merindukan pertemuan secara langsung dengan orang lain.

Social distancing yang panjang telah menyebabkan mereka tidak bisa bertemu, itu sebabnya mereka sangat berhasrat hadir di gedung gereja untuk memperbarui persekutuan dan interaksi dengan orang percaya lainnya.

Terutama ini berlaku bagi generasi muda yang memiliki koneksi kuat dengan teman sebaya dalam gereja.

2. Orang akan merespons secara positif terhadap hubungan yang dibuat selama situasi coronavirus.

Banyak pendeta dan pemimpin gereja lainnya telah bekerja keras selama ketakutan COVID-19 untuk mengkomunikasikan Injil dan kasih Kristus kepada sebanyak mungkin orang.

Gereja-gereja dari semua ukuran telah menggunakan teknologi secara efektif, terutama platform media sosial, untuk melayani anggota gereja dan untuk menjangkau orang-orang yang belum bergereja di komunitas mereka sendiri.

Beberapa gereja juga mengembangkan cara-cara kreatif (seperti pendistribusian makanan kepada yang membutuhkan dan membuat toko bahan makanan atau obat-obatan untuk orang-orang yang tertutup) untuk menunjukkan kesediaan mereka untuk melayani di lingkungan mereka sendiri.

Metode-metode ini, akan menghasilkan beberapa hasil penginjilan bagi gereja. Penerima mungkin memang memilih untuk mengunjungi gereja-gereja itu begitu ijin berkumpul kembali diberikan.

3. Orang akan memiliki komitmen yang lebih besar karena telah merasakan hidup dalam krisis.

Beberapa pemimpin gereja percaya bahwa wabah virus corona mungkin memiliki sisi baik untuk gereja.

Gereja harus memikirkan cara untuk memenuhi misi mereka tanpa harus berkumpul dalam pertemuan besar.

Pertumbuhan gereja terjadi dalam kelompok-kelompok kecil, sebagai pengganti pertemuan besar, dapat terus menjadi prioritas yang signifikan di masa depan gereja.

Plus, penggunaan teknologi yang luas saat ini untuk mengkomunikasikan Firman Tuhan kemungkinan akan berlangsung ketika pandemi berakhir.

Mungkin semangat dan dedikasi yang diperbarui juga telah muncul yang akan membawa pada realitas baru bagi gereja.

Umat Allah harus inovatif dan banyak akal selama pandemi ini, dan bisa dibayangkan bahwa tingkat komitmen dapat berlanjut setelah gereja kembali ke gedung mereka.

Gereja Adalah karya Tuhan

Tidak ada yang tahu persis seperti apa gereja akan terlihat setelah praktek social distancing saat ini selesai.

Beberapa orang meramalkan masa-masa sulit di depan gereja. Yang lain mengatakan gereja akan kembali lebih kuat dari sebelumnya.

Yang penting untuk diingat adalah bahwa gereja adalah ide Tuhan dan itu adalah pekerjaan-Nya di dunia saat ini (Matius 16:18).

Dia tentu saja dapat menjaga gereja-Nya dan membantu gereja mengatasi segala rintangan yang dihadapinya.

Mel Walker adalah presiden Vision For Youth, Inc., sebuah jaringan pelayanan pemuda internasional, dan dia juga adalah pendeta pemuda di Gereja Wyoming Valley di Wilkes-Barre, PA.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *