Abraham: Menutup perjalanan dengan kepuasan surgawi (Kejadian 25:8)
“Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun, lalu ia meninggal. Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.” Kejadian 25:8
KITA tiba pada episode terakhir kehidupan Abraham. Dia mati pada usia maksimal. 175 tahun.
Usia yang panjang Ini adalah penggenapan janji Allah kepadanya (15:15) bahwa ia akan dikuburkan pada usia yang cukup tua.
Saat Abraham mati, ishak berumur 75 tahun. Dan dia telah menikah dan punya anak kembar Esau dan Yakub. Usianya 15 tahun.
Karena itu Abraham masih sempat melihat cucu-cucunya dari Ishak.
Masa hidupnya yang mencapai 175 tahun menempatkannya sebagai orang yang hidup 5 tahun lebih pendek dari putranya, Ishak (35:28)..
Tetapi 22 tahun lebih lama dari cucunya, Yakub (47:28) dan 65 tahun lebih lama dari cicitnya, Yusuf (50:26).
Jadi, waktu Ishak menikah dengan Ribkah, dia berumur 40 tahun. Abraham berusia 140 tahun, dan pada saat kelahiran cucu-cucunya, ia berusia 160 tahun..
Artinya Abraham masih sempat melihat cucunya dari Ishak. Namun Kitab Kejadian tidak mencatat adanya pertemuan antara Abraham dan Yakub..
Di ayat 8 dituliskan kematian Abraham dengan sangat baik.
lalu ia meninggal. Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.
Kematiannya dijelaskan dalam dua frasa: pertama, ia adalah seorang yang sudah tua; dan kedua, ia telah mencapai usia yang sangat lanjut.
Berumur panjang adalah satu hal. Itu adalah berkat jika umur panjang juga berarti hidup bahagia.
Pemberitaan obituari tentang Abraham ini menarik perhatian pada fakta bahwa Abraham meninggal bukan hanya pada usia lanjut..
Tetapi penuh dengan sukacita dan kepuasan batin. Itulah yang menjadi inti dari kata tua dan suntuk umur. Kata itu juga mengindikasikan bahwa hidup ini terbatas..
Saat Abraham mati, Ishak dan Ismael datang. Merapati Ayah mereka. Kematian Abraham mempertemukan mereka kembali.
Kita tahu ceritanya, Ismael dan Ishak satu bapa beda ibu. Waktu Ismeal masih remaja, dia diusir oleh ayahnya dari rumah. Pergi mengembara ketempat yang jauh.
Penyebabnya, Waktu Ishak masih kecil. Sekitar 3-5 tahun, dia sering dibulli oleh Ismael. Dianiaya. Diejek dan diolok-olok.
Kemungkinan sejak saat itu, mereka tidak pernah bertemu lagi sampai kematian Ayah mereka. Namun sekarang, kedukaan mempertemukan mereka kembali..
Mereka sudah sama-sama dewasa dan sudah berkeluarga. Mereka juga telah melupakan kepahitan-kepahitan masal lalu..
Seperti Ishak dan Ismael, ada banyak hal yang dapat menjadi sarana mempersatukan mereka yang terpisah, bukan saja karena jarak, tetapi karena perselisihan masa lalu..
Kita harus mau melepas ego demi perjumpaan yang baik dengan setiap orang yang terpisah karena perselisihan..
Ishak dan Ismael, mereka mengurus upacara pemakaman ayah mereka. Mereka memakamkan ayah mereka di pemakaman yang dulu dibeli Abraham dari orang Het..
Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre,
Yang telah dibeli Abraham dari bani Het; di sanalah terkubur Abraham dan Sara isterinya.
Jadi Abraham dimakamkan bersama dengan Sara istrinya, yang telah lebih dahulu meninggal.
Bagaimana keadaan Abraham ditahun-tahun terakhir hidupnya? Sebuah perenungan dari Alexander Solzhenitsyn tentang penuaannya sendiri dapat memberi kita gambaran.
Penuaan bukan hukuman dari tempat yang tinggi, tetapi membawa berkah tersendiri dan kehangatan warna-warnanya.
Ada kehangatan yang bisa diambil dari memudarnya kekuatan Anda sendiri. . . . Anda tidak dapat lagi menjalani pekerjaan seharian penuh . . . tetapi betapa menyenangkannya menyelinap ke dalam tidur yang terlupakan, dan betapa besar karunia untuk bangun sekali lagi dengan kejernihan pagi kedua atau ketiga Anda di hari itu..
Menjadi tua dengan tenang bukanlah jalan menurun, melainkan sebuah pendakian..
Sangat mungkin, tahun-tahun terakhir Abraham juga memberikan pengalaman yang sama, karena akhir hidupnya diberikan ruang yang tidak biasa dalam pemberitahuan kematian dalam Alkitab, serta menghadirkan gambaran tentang kesempurnaan dan kepuasan..
Tentang Abraham, kitab Ibrani merangkumkan seluruh kehidupannya dalam beberapa ayat, di Ibrani 11:8-10..
Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.
Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.
Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.
Dari ayat diatas, kita dapat melihat, Abraham hidup oleh iman. Karena iman dia pergi. Karena iman dia tinggal. Karena iman dia setia menanti kedatangan Tuhan.
Kemana pun kita pergi dan dimanapun kita tinggal, kita harus beriman kepada Tuhan. Dalam keadaan miskin atau kaya, iman kita tetap pada Tuhan..
Jadi Abraham, dimasa lalu dia beriman kepada Tuhan. Dimasa sekarang dia terus beriman. Dan dimasa depan dia tetap beriman kepada Tuhan..
Walau dalam perjalanan imannya dia mengalami pasang surut iman, tetapi dia tetap beriman kepada Tuhan..
Paulus katakan, “…Orang benar akan hidup oleh iman'”
Mari kita hidup beriman kepada Tuhan. Melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Setia kepada-Nya hingga akhir hayat kita seperti Abraham.





