Abigail: Wanita dengan Kecantikan dan Kecerdasan

Teks: 1 Samuel 25

Selamat sabat saudara-saudari yang kekasih dalam Tuhan. Karena bertepatan dengan hari kartini, maka Kotbah sabat ini diambil dari 1 Samuel 25. Kiita akan menelaah kehidupan seorang wanita yang bijaksana, namanya Abigail.

Untuk mengetahui cerita ini dengan baik, kita harus membaca pasal 22, 23, dan 24. Dimana itu adalah cerita Daud dalam pelarian, karena raja saul yang cemburu terhadapnya, karena telah diurapi Samuel menjadi raja.

Dan ia ingin membunuh Daud. Daud sendiri menahan diri untuk tidak membunuh Saul, walau dia punya kesempatan untuk melakukannya. Daud memilih memercayai Tuhan untuk melindunginya dan menyediakan masa depannya.

Tetapi di 1 Samuel 25, kita melihat sisi lain dari Daud, dia yang dapa menahan diri untuk tidak membunuh Saul, tetapi kali ini untuk seorang bernama Nabal dia tidak dapat menahan dirinya.

Penghinaan Nabal terhadapnya membuat dia marah dan ingin membalas dendam. Tetapi rencana Daud membunuh Nabal tidak jadi, karena peran istri Nabal yaitu Abigail yang mampu meredam amarah Daud.

Latar belakang cerita

1 Samuel 25:2-3

“Ketika itu ada seorang laki-laki di Maon, yang mempunyai perusahaan di Karmel. Orang itu sangat kaya: ia mempunyai tiga ribu ekor domba dan seribu ekor kambing. Ia ada di Karmel pada pengguntingan bulu domba-dombanya.

Nama orang itu Nabal dan nama isterinya Abigail. Perempuan itu bijak dan cantik, tetapi laki-laki itu kasar dan jahat kelakuannya. Ia seorang keturunan Kaleb.”

Nabal digambarkan sebagai pengusaha kaya. Tetapi tabiatnya jahat. Sifatnya sangat bertolak belakang dengan istrinya Abigail, seorang perempuan yang bijaksana.

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana seorang perempuan bijak, menjadi istri seorang pria yang kasar dan jahat?

Wanita pada masa itu seringkali tidak punya banyak pilihan termasuk dalam memilih pasangan hidup. Kemungkinan Abigail dijodohkan atau dipaksa kawin dengan Nabal karena berbagai situasi.

Di aya 4-9 diceritakan bahwa Daud mendengar Nabal sedang menggunting bulu dombanya, karena itu dia mengutus anak buahnya kepada Nabal untuk meminta sedekah karena mereka telah turut andil menjaga dan mengamankan ternak dan para pekerja Nabal.

Di ayat 10-13, Nabal merespon anak buah Daud dengan nada kasar dan menghina.

“Siapakah Daud? Siapakah anak Isai itu? Pada waktu sekarang ini ada banyak hamba-hamba yang lari dari tuannya.”

Nabal bicara tanpa berpikir. Dia meremehkan Daud di depan prajurit mudanya, dia samakan sebagai budak pelarian yang tidak tahu berterima kasih.

Kemudian, anak buah Dauh pulang dan melaporkan sikap kasar Nabal kepadanya. Dauh marah dan bersiap untuk pergi membalas perlakuan Nabal.

“Kemudian berkatalah Daud kepada orang-orangnya: “Kamu masing-masing, sandanglah pedang!” Lalu mereka masing-masing menyandang pedangnya; Daud sendiri pun menyandang pedangnya. Sesudah itu kira-kira empat ratus orang maju mengikuti Daud, sedang dua ratus orang tinggal menjaga barang-barang.” (Ayat 14)

Tindakan Abigail

Apa yang terjadi antara Nabal dan Daud, Abigail tidak mengetahuinya. Dia tidak tahu bahwa anak buah Daud datang menghadap Nabal meminta belas kasihan.

Dan rencanana Daud untuk membalas perbuatan Nabal dia juga tidak tahu. Tetapi salah satu anak buah Nabal memberitahukan kepada Abigail apa yang sedang terjadi.

“Ketahuilah, Daud menyuruh orang dari padang gurun untuk memberi salam kepada tuan kita, tetapi ia memaki-maki mereka.

Padahal orang-orang itu sangat baik kepada kami; mereka tidak mengganggu kami dan kami tidak kehilangan apa-apa selama kami lalu-lalang di dekat mereka, ketika kami ada di ladang.

Mereka seperti pagar tembok sekeliling kami siang malam, selama kami menggembalakan domba-domba di dekat mereka.

Oleh sebab itu, pikirkanlah dan pertimbangkanlah apa yang harus kauperbuat, sebab telah diputuskan bahwa celaka akan didatangkan kepada tuan kita dan kepada seisi rumahnya, dan ia seorang yang dursila, sehingga orang tidak dapat berbicara dengan dia.” (Ayat 14-17)

Mengapa anak buah Nabal justru memberitahukan kepada Abigail, bukan kepada Nabal sebagai majikan? Karena dia tau sifat majikannya itu, yang keras kepada dan sulit dikasih tahu apapun.

Maka tidak ada gunannya bicara dengan orang keras kepala, itulah sebabnya dia memilih pergi memberitahukan kepada Abigali.

Anak buah Nabal mengatakan, “Pikirkan apa yang harus kau perbuat..?” Nabal yang salah, tetapi Abigail yang jadi pusing mencari jalan keluarnya.

Sekarang Abigail mengambil tindakan dengan cepat dan dia lakukan rencana penyelamatan tanpa diketahui suaminya. Karena suaminya Nabal bisa jadi penghalang bagi rencanannya.

“Lalu segeralah Abigail mengambil dua ratus roti, dua buyung anggur, lima domba yang telah diolah, lima sukat bertih gandum, seratus buah kue kismis dan dua ratus kue ara, dimuatnyalah semuanya ke atas keledai,

lalu berkata kepada bujang-bujangnya: “Berjalanlah mendahului aku; aku segera menyusul kamu.” Tetapi Nabal, suaminya, tidaklah diberitahunya.

Ketika perempuan itu dengan menunggang keledainya, turun dengan terlindung oleh gunung, tampaklah Daud dan orang-orangnya turun ke arahnya, dan perempuan itu bertemu dengan mereka.

Daud tadinya telah berkata: “Sia-sialah aku melindungi segala kepunyaan orang ini di padang gurun, sehingga tidak ada sesuatu pun yang hilang dari segala kepunyaannya; ia membalas kebaikanku dengan kejahatan.” Ayat 18-21.

Penanggung kesalahan Nabal

Sekarang Abigail menjadi penanggung jawab atas nyawa suaminya. Keselamatan mereka sekarang dipertaruhkan ditangannya. Apakah Abigail dapat menenangkan Daud atau tidak, tergantung sikap Abigail.

Dia adalah wanita yang bijaksana, rendah hati dan bertanggung jawab. Ketika dia bertemu dengan Daud, lalu sujud menyembah di depan Daud dengan mukanya sampai ke tanah.

Abigail berkata, “Aku sajalah, ya tuanku, yang menanggung kesalahan itu. Izinkanlah hambamu ini berbicara kepadamu, dan dengarkanlah perkataan hambamu ini.”

“Janganlah kiranya tuanku mengindahkan Nabal, orang yang dursila itu, sebab seperti namanya demikianlah ia: Nabal namanya dan bebal orangnya. Tetapi aku, hambamu ini, tidak melihat orang-orang yang tuanku suruh.”

Pertama, Abigail dengan rendah hati mengakui bersalah atas nama suaminya. Dan dia siap menanggung kesalahan Nabal.

Kedua, Abigail memohon Daud untuk tidak main hakim sendiri dalam mencari keadilan. Dan dia memohon ampun kepada Daud.

Ketiga, Abigail menubuatkan keturunan Daud karena dia orang yang setia sepanjan hidupnya. Abigail menyakinkan Daud bahwa Tuhan akan melindunginya dari musuh-musuhnya.

Dan inilah kata-kata Abigal yang membuat Amarah Daud seketika menjadi reda:

“Apabila TUHAN melakukan kepada tuanku sesuai dengan segala kebaikan yang difirmankan-Nya kepadamu dan menunjuk engkau menjadi raja atas Israel, maka tak usahlah tuanku bersusah hati dan menyesal karena menumpahkan darah tanpa alasan, dan karena tuanku bertindak sendiri dalam mencari keadilan. Dan apabila TUHAN berbuat baik kepada tuanku, ingatlah kepada hambamu ini.” Ayat 30-31.

Abigail menenangkan amarah Daud. Dia berterima kasih padanya karena mencegahnya membalas dendam pada Nabal. Daud berkata bahwa pemikiran jernih dan keberanian Abigail merupakan berkat baginya dan seluruh Israel

“Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan.” Ayat 32-33.

Lalu Daud menerima dari perempuan itu apa yang dibawanya untuk dia, dan berkata kepadanya: “Pulanglah dengan selamat ke rumahmu; lihatlah, aku mendengarkan perkataanmu dan menerima permintaanmu dengan baik.” Ayat 35.

Dan secara mengejutkan, Nabal meninggal karena serangan jantung 10 hari kemudian, dan Daud menjadikan Abigail sebagai istrinya.

Tuhan memberi berkat kepada Abigail dengan melepaskannya dari Nabal dan memberkatinya dengan masa depan yang lebih Bahagia, yaitu lepas dari suami yang kasar dan sombong.

Abigail telah membuat keputusan yang baik untuk suaminya, untuk Daud, untuk para pelayan dan akhirnya untuk dirinya sendiri.

Baca Juga:

Melayani Tuhan Selagi Masih Kuat

Menjadi Seorang Ayah di Masa Sulit

Pelayanan yang Baik, Tapi Cacat

Mengapa Kita Memanggil Tuhan Sebagai Jehovah Shammah?

6 Alasan Mengapa Tuhan Mengijinkan Kita Menunggu?

Kesimpulan

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Abigail, Nabal dan Daud. Satu pelajaran penting menyangkut cara Abigail menghadapi orang-orang sulit dan dalam situasi yang sulit.

Dia tidak menjadi marah dan kehilangan kesabaran. Dia tidak bertengkar dengan suaminya. Dia mencoba memperbaiki keadaan.

Abigail mempelajari Firman Tuhan, karena itu dia membuat keputusan yang baik untuk suaminya, untuk Daud, untuk para pelayan dan akhirnya untuk dirinya sendiri.

Tuhan memberkati Abigail karena bekerja dengan hormat dengan orang lain.

Karena itu ada 5 pelajaran dari Abigail:

1. Jangan biarkan rasa takut menahan kitamaju terus dengan keberanian dan hikmat Tuhan.

Tidak peduli seberapa sulit situasi kita, kuasa Tuhan jauh lebih besar. Dia mampu menggunakan siapa pun dari kita, bahkan mereka yang merasa tidak berarti atau tidak berdaya, untuk kebaikan-Nya yang lebih besar.

Abigail menunjukkan hikmat yang luar biasa dengan bertindak cepat, sigap, dan berbicara dengan hormat kepada Daud.

Dia mengendalikan situasi yang berpotensi berbahaya bagi mereka semua. Dia tidak hanya duduk-duduk dan menyalahkan suaminya atau terjebak dalam ketakutan.

2. Bersikaplah rendah hati dan baik hati, carilah perdamaian dengan orang-orang di sekitar kita.

Abigail memiliki keberanian dan kekuatan untuk menanggung kesalahan atas sesuatu yang tidak dia lakukan.

Dia memohon pengampunan atas nama seluruh keluarganya, dan Tuhan menggunakan momen itu untuk menunjukkan kepada Daud bahwa rencananya balas dendam adalah salah.

3. Kata-kata dan tindakan kita sangat berpengaruh. Berbicaralah dengan bijaksana, jaga kata-kata kita.

4. Prajurit yang sejati itu lebih memikirkan orang lain ketimbang dirinya sendiri.

Abigail berjuang untuk melindungi suaminya dan rumahnya. Dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi semua orang yang dia cintai.

Dia memilih untuk menunjukkan rasa hormat yang besar kepada Daud, mengingatkannya bahwa Tuhan akan membawa berkat dalam hidupnya.

5. Ingat, bahwa Tuhan yang akan berperang untuk kita.

Abigail, seorang wanita bijak, di dunia yang didominasi laki-laki yang bodoh. Dan dia dapat hidup dengan hikmat Tuhan.

Sebagai perempuan dan laki-laki, mari kita menghadapi dunia yang bodoh ini dengan hikmat Tuhan.

“Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” Amsal 25:11

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *