Kita mungkin pernah melihat seseorang yang dikenal dengan perangai yang buruk, namun beberapa waktu kemudian telah berubah total menjadi orang yang baik.

Sebelumnya dikenal sebagai pemarah. Ada yang pernah hidup dalam kebiasaan yang merusak. Ada pula yang pernah melakukan tindakan yang jahat..

Namun, suatu hari kehidupannya berubah.

Alkitab mencatat banyak kisah perubahan seperti ini. Perubahan itu bukan sekadar perubahan penampilan atau kebiasaan.

tetapi perubahan arah hidup, cara berpikir, tujuan, bahkan hubungan dengan Tuhan.

Berikut adalah sepuluh tokoh Alkitab yang mengalami perubahan hidup secara drastis.

1. Saulus: Dari penganiaya pengikut Kristus menjadi rasul Kristus

Referensi: Kisah Para Rasul 7:58–8:3; 9:1–22; 22:3–16.

Sebelum dikenal sebagai Rasul Paulus, Saulus adalah seorang penganiaya pengikut Kristus

Ia menyetujui pembunuhan Stefanus. Ia juga berusaha menghancurkan gereja dengan menangkap laki-laki dan perempuan yang percaya kepada Yesus.

Saulus merasa bahwa tindakannya benar untuk membela keyakinan agamanya. Namun, dalam perjalanan menuju Damsyik, ada satu peristiwa yang mengubah hidupnya.

Sebuah cahaya datang dari langit. Ia jatuh tersungkur ketanah dan mendengar suara Yesus yang bertanya mengapa ia menganiaya-Nya.

Peristiwa itu mengubah seluruh kehidupannya.

Saulus yang dahulu mengejar pengikut Kristus kini menjadi pemberita Injil. Ia melakukan perjalanan misi, mendirikan jemaat, dan menulis surat-surat yang menjadi bagian penting dari Perjanjian Baru.

Perubahan Saulus bukan sekadar perubahan pekerjaan. Ia mengalami perubahan keyakinan, tujuan, dan arah hidup.

Pelajaran: Tidak ada kehidupan yang terlalu jauh dari jangkauan kasih karunia Tuhan. Orang yang dahulu menjadi penghalang pekerjaan Tuhan dapat diubah menjadi alat bagi pekerjaan-Nya.

2. Zakheus: Dari pemungut cukai yang memeras menjadi pemberi berkat

Referensi: Lukas 19:1–10.

Zakheus adalah seorang kepala pemungut cukai. Ia kaya, tetapi pekerjaannya membuatnya tidak disukai banyak orang.

Pada masa itu, pemungut cukai sering dipandang sebagai orang berdosa karena bekerja untuk pemerintah Romawi dan sering menggunakan jabatannya untuk memperoleh keuntungan.

Ketika Yesus melewati Yerikho, Zakheus berusaha melihat-Nya. Karena tubuhnya pendek dan orang banyak menghalangi pandangannya, ia memanjat pohon ara.

Yesus melihatnya dan berkata bahwa Ia ingin menumpang di rumah Zakheus.

Pertemuan itu menghasilkan perubahan yang nyata.

Zakheus berdiri dan menyatakan bahwa setengah dari miliknya akan diberikan kepada orang miskin. Jika ia pernah memeras seseorang, ia akan mengembalikannya empat kali lipat.

Perhatikan perubahan ini.

Selain percaya kepada Yesus, ia menunjukkan perubahan melalui tindakan nyata, terutama dalam hubungannya dengan uang dan orang-orang yang pernah dirugikannya.

Pelajaran: Pertobatan sejati tidak berhenti pada perkataan. Pertobatan terlihat dari kesediaan memperbaiki kesalahan dan mengubah cara hidup.

3. Manasye: Dari raja yang jahat kepada kerendahan hati

Referensi: 2 Raja-raja 21:1–18; 2 Tawarikh 33:1–20.

Manasye adalah salah satu raja Yehuda yang dikenal karena kejahatannya.

Ia mendirikan kembali bukit-bukit pengorbanan, membuat mezbah bagi Baal, menyembah benda-benda langit, bahkan menempatkan berhala di rumah Tuhan.

Alkitab juga mencatat bahwa Manasye melakukan banyak kejahatan dan menyesatkan bangsa itu.

Namun, kisahnya tidak berhenti pada masa pemerintahannya yang penuh kejahatan.

Ketika pasukan Asyur menangkapnya dan membawanya ke Babel, Manasye mengalami penderitaan. Dalam kesesakannya, ia mencari Tuhan dan merendahkan diri dengan sungguh-sungguh.

Tuhan mendengar doanya dan memulihkannya ke Yerusalem.

Setelah kembali, Manasye mulai memperbaiki kehidupan rohaninya. Ia membuang berhala-berhala dan memerintahkan Yehuda untuk beribadah kepada Tuhan.

Perubahan Manasye sangat mengejutkan jika kita membandingkan kehidupannya sebelum dan sesudah pertobatan.

Pelajaran: Masa lalu yang penuh kejahatan tidak membuat seseorang berada di luar jangkauan belas kasihan Tuhan. Namun, pertobatan sejati harus menghasilkan perubahan yang terlihat.

4. Nebukadnezar: Dari raja yang sombong menjadi raja yang mengakui kedaulatan Tuhan

Referensi: Daniel 3:28–29; 4:1–37.

Nebukadnezar adalah raja Babel yang memiliki kekuasaan sangat besar.

Ia menaklukkan banyak bangsa dan membangun kerajaan yang megah. Namun, kekuasaan itu membuatnya menjadi sombong.

Dalam Daniel 4, ia melihat sebuah penglihatan tentang pohon besar yang ditebang. Daniel menjelaskan bahwa pohon itu menggambarkan Nebukadnezar sendiri.

Ia diperingatkan agar meninggalkan dosa dan berlaku adil. Namun, kesombongannya tetap menjadi masalah.

Suatu hari, ketika berjalan di atas istana kerajaan Babel, ia berkata bahwa Babel yang besar itu dibangunnya dengan kekuatan dan kemuliaannya sendiri.

Saat itu juga, ia kehilangan akal sehat dan hidup seperti binatang di padang.

Setelah masa yang ditentukan berlalu, Nebukadnezar kembali memperoleh pengertiannya. Ia mengangkat matanya ke langit dan memuji Allah Yang Mahatinggi.

Di akhir pengalaman itu, ia mengakui bahwa kerajaan Allah adalah kerajaan yang kekal dan kekuasaan-Nya melampaui segala pemerintahan manusia.

Perubahan Nebukadnezar terutama terlihat dalam cara ia memandang kekuasaan. Ia tidak lagi menganggap dirinya sebagai pusat segala sesuatu.

Pelajaran: Kekuasaan, keberhasilan, dan kekayaan dapat membuat manusia lupa kepada Tuhan. Kerendahan hati dimulai ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki berada di bawah kedaulatan-Nya.

5. Perempuan Samaria: Dari keraguan menjadi saksi Yesus

Referensi: Yohanes 4:1–42.

Perempuan Samaria datang ke sumur Yakub untuk mengambil air. Di sana ia bertemu Yesus.

Percakapan mereka dimulai dengan permintaan sederhana: Yesus meminta minum.

Namun, percakapan itu berkembang menjadi pembicaraan tentang air hidup, kehidupan pribadi, dan penyembahan yang benar.

Yesus mengetahui kehidupan perempuan itu. Ia pernah memiliki lima suami, dan laki-laki yang sekarang hidup bersamanya bukanlah suaminya.

Perempuan itu terkejut karena Yesus mengetahui kehidupannya.

Setelah berbicara dengan Yesus, ia meninggalkan tempayannya dan pergi ke kota untuk menceritakan perjumpaannya.

Ia berkata kepada orang-orang agar datang melihat seseorang yang telah memberitahukan segala sesuatu yang telah dilakukannya.

Orang-orang Samaria kemudian datang kepada Yesus. Banyak yang percaya karena kesaksian perempuan itu.

Alkitab tidak memberikan nama perempuan tersebut. Namun, kisahnya memperlihatkan perubahan yang menarik: seseorang yang datang ke sumur untuk mengambil air kemudian menjadi orang yang mengajak orang lain datang kepada Yesus.

Pelajaran: Perjumpaan dengan Yesus dapat mengubah cara seseorang memandang dirinya dan orang lain. Pengalaman pribadi bersama Tuhan dapat menjadi kesaksian yang membawa orang lain kepada-Nya.

6. Matius: Dari pemungut cukai menjadi murid Yesus

Referensi: Matius 9:9–13; Markus 2:13–17.

Matius adalah seorang pemungut cukai. Ia bekerja di tempat pemungutan cukai ketika Yesus melihatnya dan berkata, “Ikutlah Aku.”

Matius segera berdiri dan mengikuti Yesus.Ia meninggalkan pekerjaannya untuk mengikuti seorang Guru yang saat itu tidak memiliki kedudukan politik maupun kekayaan seperti para penguasa.

Tidak lama kemudian, Matius mengadakan perjamuan di rumahnya. Banyak pemungut cukai dan orang berdosa datang makan bersama Yesus.

Tindakan Yesus itu mengundang kritik dari orang-orang Farisi.

Namun, Yesus menjelaskan bahwa orang sehat tidak memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Ia datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

Matius kemudian dikenal sebagai salah satu dari dua belas murid Yesus. Tradisi gereja menghubungkan dirinya dengan penulisan Injil Matius.

Perubahan Matius menunjukkan bahwa panggilan Yesus dapat mengubah prioritas hidup seseorang secara mendasar.

Pelajaran: Mengikuti Yesus berarti bersedia meninggalkan kehidupan lama dan menempatkan panggilan Tuhan sebagai prioritas baru.

7. Maria Magdalena: Dari masas lalu yang kelam menjadi pengikut Yesus yang setia

Referensi: Lukas 8:1–3; Markus 15:40–47; Yohanes 20:1–18.

Maria Magdalena adalah salah satu perempuan yang mengikuti pelayanan Yesus. Lukas mencatat Yesus pernah mengusir tujuh roh jahat dari dirinya.

Alkitab secara detail kehidupan Maria sebelum perjumpaannya dengan Yesus.

Yang jelas, setelah mengalami pertolongan Yesus, Maria menjadi salah satu pengikut-Nya yang setia.

Ia mendukung pelayanan Yesus bersama perempuan-perempuan lainnya. Ia juga tetap berada di dekat peristiwa penyaliban dan penguburan Yesus.

Ketika Yesus bangkit, Maria Magdalena menjadi orang pertama yang melihat-Nya.

Yesus kemudian mengutusnya untuk memberitahukan kepada murid-murid bahwa Ia telah bangkit.

Dari seseorang yang pernah mengalami penderitaan dan kuasa roh jahat, Maria menjadi saksi kebangkitan Kristus.

Pelajaran: Tuhan dapat mengubah kehidupan yang pernah dikuasai penderitaan menjadi kehidupan yang penuh pengharapan dan kesaksian.

8. Onesimus: Dari hamba yang tidak berguna menjadi saudara yang berguna

Referensi: Filemon 1:10–18; Kolose 4:7–9.

Onesimus adalah seorang hamba yang berkaitan dengan Filemon, seorang percaya yang dikenal oleh Paulus.

Onesimus kemudian bertemu Paulus ketika Paulus sedang dipenjara. Melalui pelayanan Paulus, Onesimus menjadi percaya kepada Kristus.

Paulus menyebutnya sebagai anak yang diperolehnya selama berada dalam penjara.

Menariknya, Paulus menggunakan permainan makna pada nama Onesimus, yang berkaitan dengan arti “berguna”.

Paulus mengatakan bahwa dahulu Onesimus tidak berguna bagi Filemon, tetapi sekarang berguna bagi Filemon dan bagi Paulus.

Paulus bahkan meminta Filemon menerima Onesimus bukan lagi sekadar sebagai hamba, melainkan sebagai saudara yang kekasih di dalam Tuhan.

Kita tidak mengetahui seluruh rincian kesalahan Onesimus. Surat Filemon tidak menjelaskan secara lengkap apakah ia melarikan diri, berutang, atau melakukan pelanggaran tertentu.

Namun, perubahan relasi yang ditekankan Paulus sangat jelas: Injil membawa Onesimus ke dalam persaudaraan Kristen.

Pelajaran: Injil tidak hanya mengubah hubungan manusia dengan Tuhan. Injil juga mengubah cara manusia memperlakukan sesamanya.

9. Perampok di Salib: Dari penjahat menjadi orang yang berharap pada Yesus

Referensi: Lukas 23:32–43.

Di Golgota, Yesus disalibkan bersama dua orang penjahat. Salah seorang dari mereka ikut menghujat Yesus. Namun, penjahat yang lain menegur temannya.

Ia mengakui bahwa hukuman yang mereka terima memang pantas, sedangkan Yesus tidak melakukan kesalahan.

Kemudian ia berkata kepada Yesus agar mengingat dirinya apabila Yesus datang sebagai Raja.

Yesus menjawab bahwa pada hari itu juga ia akan bersama-Nya di Firdaus.

Kita tidak mengetahui seluruh perjalanan hidup orang tersebut. Alkitab tidak menyebut namanya ataupun menjelaskan secara terperinci kejahatan yang dilakukannya.

Namun, pada saat-saat terakhir hidupnya, ia menunjukkan iman kepada Yesus.

Kisah ini memperlihatkan bahwa keselamatan bukanlah sesuatu yang dapat dibeli dengan prestasi atau jasa manusia.

Pelajaran: Selama seseorang masih hidup, ia dapat datang kepada Yesus dengan iman. Kasih karunia Tuhan bukanlah hadiah bagi orang yang merasa dirinya sempurna.

10. Petrus: Dari murid yang menyangkal menjadi gembala

Referensi: Matius 26:31–35, 69–75; Yohanes 21:15–19; Kisah Para Rasul 2:14–41.

Petrus pernah berikrar bahwa ia siap mati bersama Yesus. Namun, ketika Yesus ditangkap, Petrus menyangkal-Nya tiga kali.

Ia gagal mempertahankan keberaniannya ketika menghadapi krisis.

Setelah kebangkitan, Yesus memberikan kesempatan kepada Petrus untuk menyatakan kasihnya. Tiga kali Yesus bertanya apakah Petrus mengasihi-Nya.

Setiap kali Petrus menjawab, Yesus memberikan tugas untuk menggembalakan domba-domba-Nya.

Peristiwa itu menjadi titik penting dalam pemulihan Petrus.

Kemudian, pada hari Pentakosta, Petrus berdiri di hadapan orang banyak dan memberitakan Yesus dengan berani. Ribuan orang menerima pemberitaannya.

Petrus yang pernah menyangkal Yesus kini menjadi salah satu pemimpin penting gereja mula-mula.

Pelajaran: Tuhan dapat memulihkan orang yang pernah jatuh. Kegagalan masa lalu tidak harus menghalangi seseorang untuk melayani dengan setia pada masa depan.

Belajar dari kisah mereka

Ada bebera[a pelajaran yang dapat kita ambil dari kehidupan mereka:

Perjumpaan dengan Tuhan dapat mengubah arah hidup.

Saulus, Zakheus, dan Matius menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Yesus dapat mengubah prioritas dan tujuan hidup seseorang.

Perubahan sejati terlihat dalam tindakan.

Zakheus tidak hanya mengaku percaya. Ia bersedia memperbaiki kerugian yang pernah ditimbulkannya. Manasye juga menunjukkan perubahan melalui tindakan nyata setelah kembali kepada Tuhan.

Tuhan dapat memulihkan orang yang pernah jatuh.

Petrus adalah contoh yang jelas. Ia pernah menyangkal Yesus, tetapi kemudian dipercayakan pelayanan yang penting.

Perubahan karakter adalah proses.

Nebukadnezar belajar merendahkan diri. Kisahnya mengingatkan bahwa manusia perlu terus mengakui kedaulatan Tuhan, bukan hanya ketika sedang mengalami kesulitan.

Masa lalu tidak harus menjadi identitas selamanya.

Paulus dahulu dikenal sebagai penganiaya jemaat. Namun, setelah bertemu Kristus, ia memiliki arah hidup yang baru.

Penutup

Kita tidak boleh menilai seseorang dari masa lalunya. Dari kisah mereka kita dapat melihat bahwa Tuhan sanggup mengubah hidup seseorang.

Saulus menjadi Paulus. Zakheus berubah dalam cara memperlakukan hartanya. Manasye merendahkan diri setelah hidup dalam pemberontakan. Petrus dipulihkan setelah menyangkal Yesus.

Jadi, Tuhan sanggup mengubah arah hidup seseorang. Karena itu, jangan pernah menganggap masa lalu sebagai penentu mutlak masa depan.

Ketika seseorang membuka hati kepada Tuhan, perjalanan hidup yang baru dapat dimulai.

Tuhan bukan hanya Allah yang mengampuni manusia yang berdosa. Dia juga Allah yang sanggup mengubah kehidupan manusia.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *