
Berani melawan arus orang banyak itu tidak mudah. Disaat semua orang setuju terhadap sesuatu yang kita tahu salah, rasanya kita juga ingin ikut.
Berdiri di pihak yang benar sendirian, dapat membuat kita dikucilkan, ditentang, bahkan dianggap sebagai musuh.
Alkitab mencatat banyak orang yang menghadapi situasi seperti itu. Namun, mereka berani mengambil sikap karena percaya bahwa kebenaran lebih penting daripada penerimaan manusia.
Berikut sepuluh tokoh dan kelompok dalam Alkitab yang berani melawan arus, beserta referensi ayat dan pelajaran yang dapat kita ambil.
1. Nuh: Hidup taat ketia semua orang melakukan kejahatan
Referensi: Kejadian 6:5–22; 7:1–5
Pada zaman Nuh, kejahatan manusia semakin besar. Alkitab menggambarkan bahwa kecenderungan hati manusia selalu membuahkan kejahatan. Kekerasan memenuhi bumi.
Di tengah keadaan itu, Nuh mendapat penilaian yang berbeda. Ia disebut sebagai seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.
Tuhan kemudian memerintahkan Nuh membangun bahtera karena Tuhan akan menenggelamkan dunia dengan air bah.
Nuh taat dan membuat bahtera sesuai petunjuk Tuhan, ditengah ejekan, cemoohan orang-orang. Ia tidak patah semangat..
Ia tetap melakukan tugasnya meskipun dunia di sekelilingnya tidak berjalan menurut kehendak Allah.
Alkitab tidak merinci seluruh reaksi masyarakat terhadap pembangunan bahtera. Namun, kisah Nuh jelas memperlihatkan perbedaan antara jalan hidupnya dan keadaan generasinya.
Pelajaran: ketika mayoritas salah, kita harus berani berdiri dan bertahan. Ketika lingkungan kita menganggap sesuatu yang salah sebagai hal biasa, kita tetap melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan.
2. Bidan Sifra dan Pua: Berani mengabaikan Perintah Firaun
Referensi: Keluaran 1:15–21
Ketika firaun merasa terancam oleh karena perkembangan yang pesat bangsa Israel, ia memerintahkan bidan-bidan Ibrani, Sifra dan Pua, untuk membunuh setiap bayi laki-laki Ibrani yang dilahirkan.
Mereka menolak perintah raja dengan konsekuensi akan dihukum bila melawan perintah.
Namun, Sifra dan Pua lebih taku kepada Allah. Mereka tidak melakukan apa yang diperintahkan Firaun, melainkan membiarkan bayi-bayi laki-laki itu hidup.
Ketika dipanggil dan dimintai penjelasan, mereka memberikan jawaban yang bijaksana kepada raja. Tuhan kemudian berbuat baik kepada mereka.
Keberanian kedua bidan ini tidak ditunjukkan melalui peperangan atau kekuatan fisik. Mereka melawan arus dengan menolak menjadi alat pembunuhan terhadap anak-anak yang tidak bersalah.
Pelajaran: Tidak semua perintah dari orang yang berkuasa harus ditaati tanpa pertimbangan moral. Ketika perintah manusia bertentangan dengan kehendak Tuhan dan menuntut kita melakukan kejahatan, kita harus berani mempertahankan kebenaran.
3. Yosua dan Kaleb: Berani Berbeda dari Sepuluh Pengintai
Referensi: Bilangan 13:25–33; 14:1–9, 24, 30
Musa mengutus dua belas orang untuk mengintai tanah Kanaan. Lalu mereka kembali dengan laporan bahwa negeri itu subur, tetapi juga memiliki kota-kota berkubu dan penduduk yang kuat.
Sepuluh pengintai penuh dengan pesimisme dan membawa ketakutan. Karena itu, orang banyak mulai mengeluh dan bahkan ingin kembali ke Mesir.
Namun, Yosua dan Kaleb mengambil sikap berbeda. Mereka tidak menyangkal adanya bahaya. Namun mereka tidak setuju bahwa bahaya itu menjadi alasan untuk meninggalkan janji Tuhan.
Mereka mengingatkan bangsa Israel agar tidak memberontak terhadap Tuhan dan tidak takut kepada penduduk negeri itu.
Sikap mereka sangat berisiko. Orang banyak bahkan ingin melempari mereka dengan batu. Namun, Yosua dan Kaleb tetap berdiri pada keyakinan mereka.
Pelajaran: Kadang-kadang, suara kebenaran bukanlah suara terbanyak. Keberanian berarti bersedia mempertahankan kebenaran meskipun mayoritas menolaknya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu belajar membedakan antara pendapat yang populer dan pendapat yang benar. Jangan mengikuti arus hanya karena takut berbeda.
4. Elia: Berani menentang penyembahan berhala
Referensi: 1 Raja-raja 18:17–40
Pada masa Raja Ahab, penyembahan Baal tumbuh subur di Israel. Izebel, istri Ahab, mendukung penyembahan tersebut dan menganiaya nabi-nabi Tuhan.
Elia tampil sebagai nabi yang menentang kejahatan Ahab. Ia menantang bangsa Israel untuk berhenti mendua hati.
Di Gunung Karmel, Elia berhadapan dengan 450 nabi Baal. Mereka masing-masing mempersiapkan korban dan meminta ilah mereka menjawab dengan api.
Para nabi Baal berseru dari pagi hingga siang, tetapi tidak ada jawaban. Setelah itu, Elia mempersiapkan mezbah Tuhan, menyusun korban, dan berdoa.
Tuhan menjawab doa Elia dengan api yang membakar korban, kayu, batu, dan bahkan air di parit sekeliling mezbah.
Peristiwa itu menunjukkan bahwa Elia menentang praktik keagamaan yang telah menyimpang dari penyembahan kepada Tuhan.
Namun, kisah Elia bukan ajakan untuk menyerang orang yang berbeda keyakinan. Pesan utamanya adalah kesetiaan Elia kepada Tuhan di tengah tekanan politik dan keagamaan.
Pelajaran: Jangan mengorbankan keyakinan agar diterima orang banyak. Kita harus mempertahankan iman, bertindak sesuai kehendak Tuhan dan jangan menggunakan keberanian sebagai alasan untuk bersikap kasar atau sewenang-wenang.
5. Mikha bin Yimla: Berani menyampaikan kebenaran kepada penguasa
Referensi: 1 Raja-raja 22:5–28
Raja Ahab ingin berperang untuk merebut kembali Ramot-Gilead. Ia mengumpulkan sekitar empat ratus nabi yang memberikan dukungan terhadap rencana tersebut.
Namun, Yosafat, raja Yehuda, meminta agar mereka mencari petunjuk Tuhan melalui nabi yang lain. Ahab kemudian memanggil Mikha bin Yimla.
Ahab mengakui bahwa ia tidak menyukai Mikha karena nabi itu tidak pernah menubuatkan hal yang baik tentang dirinya.
Ketika Mikha akhirnya berbicara, ia tidak sekadar menyampaikan apa yang ingin didengar raja. Ia menyampaikan pesan penghakiman yang memperingatkan Ahab tentang bahaya peperangan tersebut.
Ahab tidak menyukai pesan itu. Mikha kemudian diperintahkan untuk dipenjarakan dan diberi makanan serta minuman yang terbatas sampai raja kembali dengan selamat.
Mikha tetap berpegang pada pesannya. Ia tidak mengubah perkataannya hanya untuk memperoleh penerimaan atau keamanan.
Pelajaran: Pemimpin membutuhkan orang yang berani mengatakan kebenaran, bukan hanya orang yang selalu menyetujui keinginannya. Orang yang jujur mungkin tidak selalu menyenangkan, tetapi kejujurannya dapat mencegah keputusan yang merugikan banyak orang.
6. Yeremia: Tetap berkotbah walau pun pesanya di tolak
Referensi: Yeremia 20:1–9; 26:7–16; 38:1–13
Yeremia dipanggil menjadi nabi ketika Yehuda sedang mengalami kemerosotan rohani dan menghadapi ancaman politik.
Ia menyampaikan pesan Tuhan yang tidak menyenangkan telinga para pemimpin maupun rakyat.
Yeremia memperingatkan bahwa Yerusalem akan menghadapi kehancuran jika bangsa itu tidak bertobat.
Ia juga mengingatkan bahwa mengandalkan keberadaan Bait Suci tanpa hidup dalam ketaatan merupakan kesalahan besar.
Karena kotbah itu, ia ditolak. Ia dipukul, dipasung, dan kemudian dilemparkan ke dalam sebuah perigi berlumpur.
Namun, Yeremia tidak berhenti menyampaikan pesan Tuhan. Ia tetap menjalankan panggilannya meskipun harus menghadapi penderitaan.
Yeremia pernah mengungkapkan pergumulannya karena merasa tertekan oleh tugas yang harus dijalankannya.
Hal itu menunjukkan bahwa keberanian tidak berarti seseorang tidak pernah merasa lelah atau terluka.
Pelajaran: Melawan berarti menyampaikan peringatan yang tidak ingin didengar orang lain. Kebenaran harus disampaikan dengan setia, sekalipun mendapat penolakan.
7. Daniel: Tidak takut walau ada larangan untuk berdoa kepada Tuhan
Referensi: Daniel 6:5–24
Daniel adalah seorang pejabat yang memiliki integritas. Musuh-musuhnya berusaha mencari kesalahan dalam pekerjaannya, tetapi tidak menemukan alasan untuk menuduhnya.
Akhirnya, mereka membuat peraturan yang melarang siapa pun memohon kepada dewa atau manusia selain raja selama tiga puluh hari. Pelanggaran terhadap aturan itu akan berakibat dilemparkan ke gua singa.
Daniel mengetahui peraturan tersebut. Namun, ia tetap berdoa kepada Tuhan tiga kali sehari, seperti kebiasaannya.
Ia tetap menjalankan kehidupan rohaninya karena tidak bersedia meninggalkan kesetiaan kepada Tuhan.
Daniel akhirnya dilemparkan ke gua singa. Namun, Tuhan menyelamatkannya dengan mengutus malaikat-Nya untuk menutup mulut singa-singa itu.
Pelajaran: Integritas sejati terlihat ketika kita harus memilih antara mempertahankan prinsip dan menyelamatkan kepentingan pribadi.
8. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego: Berani menolak menyembah patung
Referensi: Daniel 3:13–28
Raja Nebukadnezar mendirikan patung emas dan memerintahkan semua orang untuk sujud menyembahnya. Siapa pun yang menolak akan dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menolak perintah itu, walau mereka tahu ada hukuman dibalik penolakan itu.
Ketika raja memberi mereka kesempatan untuk mengubah sikap, mereka tetap teguh. Mereka percaya bahwa Tuhan sanggup menyelamatkan mereka, tetapi mereka juga menyatakan bahwa sekalipun Tuhan tidak menyelamatkan mereka dengan cara yang mereka harapkan, mereka tetap tidak akan menyembah patung emas itu.
Mereka kemudian dilemparkan ke dalam perapian. Namun, Tuhan menyertai mereka dalam perapian dan tidak ada sedikit pun luka dalam tubuh mereka.
Keberanian mereka bukan didasarkan pada kepastian bahwa mereka tidak akan menderita. Mereka memilih untuk setia bahkan ketika hasil akhirnya belum diketahui.
Pelajaran: Jangan menjual prinsip demi keamanan, jabatan, atau keuntungan. Iman yang teguh tetap berpegang pada kebenaran meskipun hasilnya tidak selalu sesuai dengan harapan kita.
9. Ester: Berani berbicara ketika nyawa banyak orang dipertaruhkan
Referensi: Ester 4:10–16; 5:1–3; 7:1–6
Ester menjadi ratu di Persia ketika Haman merancang pemusnahan orang Yahudi. Sebagai ratu, Ester memiliki kesempatan untuk menghadap raja, tetapi melakukannya tanpa dipanggil dapat mengancam nyawanya.
Mordekhai mengingatkan Ester bahwa kedudukannya mungkin memiliki tujuan yang lebih besar. Ester kemudian meminta orang-orang Yahudi berpuasa dan memutuskan untuk menghadap raja.
Ia berkata, “Kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati” (Ester 4:16).
Ester tidak memilih diam demi mempertahankan kenyamanan hidupnya. Ia menggunakan kedudukan dan kesempatan yang dimilikinya untuk membela bangsanya.
Melalui langkah yang bijaksana, Ester berhasil mengungkapkan rencana Haman dan membantu menyelamatkan orang Yahudi dari ancaman pemusnahan.
Pelajaran: Kadang-kadang, Tuhan menempatkan kita di posisi tertentu agar kita dapat melakukan sesuatu bagi orang lain.
Jangan menggunakan kesempatan hanya untuk melindungi diri sendiri ketika kita memiliki kemampuan untuk menolong.
10. Petrus dan Yohanes: Berani bersaksi meski ada larangan
Referensi: Kisah Para Rasul 4:13–20; 5:27–32
Setelah menyembuhkan seorang lumpuh dan memberitakan kebangkitan Yesus, Petrus dan Yohanes dipanggil menghadap para pemimpin agama. Mereka diperintahkan untuk tidak lagi berbicara atau mengajar dalam nama Yesus.
Namun, kedua rasul itu tidak menghentikan kesaksian mereka. Mereka menyatakan bahwa mereka tidak dapat berhenti berbicara tentang apa yang telah mereka lihat dan dengar.
Ketika kembali dihadapkan kepada Mahkamah Agama, para rasul menegaskan bahwa mereka harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.
Mereka mengetahui bahwa kesaksian mereka dapat membawa masalah. Namun, mereka tetap menjalankan panggilan untuk memberitakan Injil.
Keberanian ini tidak berarti mereka sengaja mencari pertentangan. Mereka tetap bersaksi karena menganggap tugas tersebut sebagai tanggung jawab yang tidak boleh ditinggalkan.
Pelajaran: Ada saatnya kita harus berani mempertahankan kebenaran meskipun menghadapi tekanan. Namun, keberanian Kristen bukanlah sikap suka bertengkar. Tujuannya adalah kesetiaan kepada Tuhan, bukan kemenangan ego pribadi.
Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Mereka?
Pertama, Berani menolak perintah yang salah. Sifra dan Pua tidak mengikuti perintah Firaun untuk membunuh bayi laki-laki Ibrani.
Kedua, Berani berdiri dipihak yang benar. Yosua dan Kaleb tidak mengikuti ketakutan mayoritas, sedangkan Mikha tidak mengubah pesannya hanya untuk menyenangkan raja.
Ketiga, berani mempertahankan iman. Daniel serta Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tetap setia ketika kesetiaan mereka mengancam keselamatan.
Keempat, berani menggunakan kesempatan untuk menyelamatkan orang lain. Ester mempertaruhkan nyawanya demi bangsanya.
Kelima, keberanian membutuhkan ketekunan. Nuh, Yeremia, dan para rasul menunjukkan bahwa melakukan hal yang benar tidak selalu memberikan hasil yang cepat atau mudah.
Penutup
Dunia sering mengajarkan bahwa kita harus mengikuti kebanyakan orang agar diterima. Namun, Alkitab memperlihatkan bahwa jumlah orang yang mendukung suatu keputusan tidak otomatis menentukan apakah keputusan itu benar.
Keberanian sejati bukanlah keberanian untuk selalu berbeda. Keberanian sejati adalah kesediaan untuk tetap melakukan yang benar, sekalipun kita harus berbeda dari kebanyakan orang.
















