Dari penyalinan tangan hingga manuskrip Alkitab

Setelah mengetahui siapa yang menulis Alkitab, bagaimana Alkitab ditulis, dengan apa Alkitab ditulis, dan dalam bahasa apa Alkitab ditulis, muncul pertanyaan berikutnya:

Bagaimana tulisan-tulisan itu bisa sampai kepada kita?

Kita tidak memiliki naskah asli yang ditulis langsung oleh Musa, Yesaya, Paulus, Yohanes, atau penulis Alkitab lainnya.

Yang kita miliki adalah manuskrip-manuskrip yang disalin dan diwariskan dari generasi ke generasi. Lalu, bagaimana prosesnya?

Tidak ada Alkitab yang dicetak sejak awal

Sekarang ini, kita hidup dalam dunia percetakan dan digital. Satu tulisan dapat disalin ribuan atau bahkan jutaan kali hanya dalam beberapa detik.

Namun dalam dunia Alkitab, situasinya sangat berbeda. Misalnya, tulisan harus disalin dengan tangan.

Pada masa itu, seorang juru tulis akan lebih dahulu membaca sebuah teks, kemudian menuliskannya kembali pada bahan yang tersedia.

Karena itu, keberlangsungan teks sangat bergantung pada komunitas yang memelihara dan menyalinnya.

Maka perkembangan tulisan dan komunitas juru tulis merupakan bagian penting dalam proses tekstualisasi Israel kuno.

Peran penting juru tulis

Kita sudah membahas juru tulis dalam pelajaran sebelumnya. Sekarang kita melihat peran mereka dari sisi pemeliharaan teks.

Juru tulis bukan sekadar orang yang bisa membaca dan menulis.

Dalam masyarakat kuno, mereka merupakan bagian dari dunia pendidikan, pemerintahan, agama, dan administrasi.

Ketika sebuah teks dianggap penting, kemampuan untuk menyalin dan mempertahankannya menjadi sangat penting.

Mengapa teks harus disalin?

Bayangkan sebuah gulungan yang digunakan selama bertahun-tahun. karena itu bahan tulisan yang digunakan berangsur-angsur mulai rusak. Gulungan dapat aus.

Karena itu, teks perlu disalin kembali kepada media lainnya.

Maka bila sebuah teks ingin terus digunakan oleh komunitas, teks itu harus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Dengan demikian polanya adalah: teks → disalin → digunakan → disalin kembali → diwariskan

Proses ini berlangsung dalam waktu yang panjang.

Penyalinan tidak berarti selalu identik

Ini bagian yang perlu kita pahami dengan jujur. Ketika sebuah teks disalin oleh manusia, kemungkinan terjadinya perbedaan selalu ada.

Satu salinan dapat memiliki perbedaan kecil dari salinan lainnya. Hal ini tidak perlu langsung dianggap sebagai kegagalan.

Justru karena kita memiliki banyak manuskrip dan fragmen, para peneliti dapat membandingkannya untuk mempelajari sejarah teks.

Untuk memahami persoalan ini, kita perlu mengenal istilah: kritik tekstual

Kritik tekstual adalah kajian yang membandingkan berbagai manuskrip untuk menilai bentuk teks yang paling awal atau paling mungkin.

Gulungan laut mati memberi bukti penting

Salah satu penemuan paling penting dalam studi teks Alkitab adalah Gulungan Laut Mati.

Manuskrip-manuskrip tersebut memberikan bukti penting mengenai tradisi teks Yahudi pada periode Bait Suci Kedua.

Gulungan Laut Mati juga muncul dalam pembahasan mengenai penggunaan teks tertulis dan otoritas Kitab Suci dalam komunitas Qumran.

Penemuan tersebut membantu para peneliti melihat bahwa sejarah teks Alkitab jauh lebih kompleks daripada yang sering kita bayangkan.

Teks tertulis semakin memiliki otoritas

Ini sebenarnya merupakan kelanjutan langsung dari gagasan tekstualisasi Israel kuno. Pada awalnya, tradisi dapat diwariskan secara lisan.

Kemudian tulisan semakin memainkan peran penting. Teks bukan hanya menjadi catatan. Tapi teks itu mulai memiliki otoritas.

Hal ini terlihat dalam perkembangan tradisi Taurat dan penggunaan teks tertulis dalam kehidupan keagamaan Israel.

Jadi proses pemeliharaan Alkitab bukan hanya masalah, “Bagaimana tulisan itu tidak hilang?”

Tetapi juga, “Bagaimana komunitas terus mengenali tulisan tersebut sebagai sesuatu yang memiliki otoritas?”

Taurat dan tradisi tertulis

Istilah Torah memiliki sejarah yang menarik. Torah pada awalnya berkaitan dengan instruction atau pengajaran.

Namun dalam perkembangannya, Torah semakin dipahami sebagai teks tertulis yang memiliki otoritas.

Ini menunjukkan sebuah perubahan penting dari Pengajaran → Tradisi → Tulisan → Teks yang berotoritas

Sebelumnya kita sudah melihat bagaimana proses ini berkaitan dengan tekstualisasi Israel kuno.

Ketika tulisan menjadi dasar kehidupan beragama

Dalam perkembangan berikutnya, komunitas semakin menggunakan teks tertulis untuk menentukan kehidupan keagamaan.

Misalnya, komunitas Qumran yang sangat menekankan teks tertulis dalam kehidupan keagamaannya.

Praktik keagamaan mereka semakin didasarkan pada teks-teks tertulis, bukan hanya tradisi yang hidup.

Ini memperlihatkan sesuatu yang penting: Teks tidak hanya disimpan. Tapi dibaca, ditafsirkan, dan digunakan untuk membentuk kehidupan komunitas.

Bagaimana Teks Bertahan Selama Berabad-abad?

Kita dapat melihat prosesnya secara sederhana:

Generasi pertama: Teks ditulis > Generasi berikutnya > Teks dibaca dan digunakan > Ketika salinan diperlukan > Teks disalin oleh juru tulis > Salinan digunakan > Komunitas membaca dan mengajarkannya > Generasi berikutnya > Salinan baru dibuat > Proses berlanjut > Teks terus diwariskan.

Inilah salah satu alasan mengapa tradisi penyalinan sangat penting dalam sejarah Alkitab.

Mengapa kita memiliki banyak manuskrip?

Karena teks Alkitab digunakan oleh banyak komunitas dan diwariskan dalam waktu yang panjang, kita akhirnya memiliki berbagai manuskrip, fragmen, dan tradisi teks.

Bagi penelitian Alkitab, keberadaan banyak manuskrip justru sangat berharga. Para peneliti dapat:

• membandingkan manuskrip;

• melihat kesamaan;

• menemukan perbedaan;

• mempelajari perkembangan teks;

• memahami sejarah penyalinan.

Semakin banyak bukti yang tersedia, semakin banyak pula informasi yang dapat digunakan untuk memahami sejarah teks.

Dari gulungan menuju codex

Kita sudah menyentuh hal ini pada pelajaran sebelumnya. Pada awalnya, dunia Alkitab sangat berkaitan dengan gulungan. Kemudian muncul bentuk codex.

Codex menggunakan lembaran yang dapat ditulis pada kedua sisi dan kemudian disatukan seperti buku.

Codex muncul sekitar abad pertama Masehi dan menjadi umum pada abad keempat. Bentuk ini memungkinkan lebih banyak teks dikumpulkan dibandingkan satu gulungan.

Perkembangan ini sangat penting bagi sejarah Alkitab sebagai kumpulan kitab dalam bentuk buku.

Alkitab yang kita pegang memiliki sejarah

Ini mungkin kesimpulan paling penting dari pelajaran ini. Ketika kita membuka Alkitab, kita melihat sebuah buku.

Tetapi di belakang buku tersebut terdapat perjalanan yang panjang:

tradisi lisan > teks tertulis > juru tulis > penyalinan > manuskrip > koleksi teks > codex > terjemahan > Alkitab yang kita baca

Karena itu, Alkitab tidak muncul begitu saja sebagai buku modern.

Apakah ini berarti teks Alkitab tidak dapat dipercaya?

Pertanyaan seperti ini sering muncul dan awabannya perlu hati-hati.

Fakta bahwa teks disalin oleh manusia tidak dengan sendirinya berarti teks tersebut tidak dapat dipelajari atau dipercaya.

Justru keberadaan berbagai manuskrip memungkinkan kita melakukan penelitian terhadap sejarah teks.

Kita tidak perlu takut terhadap sejarah manuskrip. Sebaliknya, kita dapat mempelajarinya dengan jujur.

Iman tidak harus takut pada penelitian.

Mengapa kita perlu mengetahui sejarah manuskrip?

Alasannya, karena kita tidak sedang membaca sebuah buku yang turun dari langit dalam bentuk cetakan modern.

Kita sedang membaca hasil perjalanan teks yang panjang. karena itu, mengetahui sejarah tersebut membantu kita memahami:

• mengapa terdapat berbagai manuskrip;

• mengapa terdapat perbedaan kecil dalam beberapa teks;

• mengapa penelitian manuskrip penting;

• bagaimana komunitas menjaga tulisan yang mereka anggap suci;

• bagaimana teks berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dari teks menjadi kitab suci

Ada satu hal yang jangan sampai kita lewatkan. Pertanyaan kita bukan hanya: Bagaimana teks dipelihara?

Tetapi juga, Bagaimana teks tersebut menjadi Kitab Suci? Karena itu kita perlu membedakan dua proses:

bagaimana Alkitab pertama kali menjadi tulisan dan bagaimana tulisan tersebut kemudian menjadi Scripture atau Kitab Suci.

Dengan demikian, sejarah Alkitab bukan hanya sejarah penulisan, tetapi juga sejarah otoritas teks.

Ringkasan Pelajaran

  • Alkitab tidak dicetak sejak awal. Teks-teksnya disalin dengan tangan.
  • Juru tulis memiliki peran penting. Mereka membantu menulis, menyalin, dan meneruskan teks.
  • Teks diwariskan dari generasi ke generasi.
  • Manuskrip dapat memiliki perbedaan. Karena itu manuskrip perlu dibandingkan dan dipelajari.
  • Gulungan Laut Mati memberikan bukti penting.
  • Teks tertulis semakin memperoleh otoritas.
  • Kemudian muncul codex.
  • Alkitab yang kita miliki hari ini merupakan hasil perjalanan tekstual yang panjang.

Kesimpulan

Alkitab yang kita pegang hari ini memiliki sejarah yang panjang.

Firman yang dahulu disampaikan dan ditulis dalam dunia kuno harus terus diwariskan melalui komunitas, juru tulis, manuskrip, dan akhirnya bentuk buku.

Namun ada satu garis besar yang sangat penting:

Alkitab tidak hanya memiliki sejarah penulisan. Alkitab juga memiliki sejarah tekstualisasi, penyalinan, pemeliharaan, dan penerimaan sebagai Kitab Suci.

Dan setelah memahami bagaimana teks dipelihara, kita masuk kepada pertanyaan yang lebih besar: Bagaimana Alkitab Menjadi Satu Kesatuan?

Referensi utama:

William M. Schniedewind, How the Bible Became a Book: The Textualization of Ancient Israel. Cambridge: Cambridge University Press, 2004.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *