Orang yang berani, bukanlah orang yang tidak pernah takut. Keberanian adalah kesediaan untuk melakukan hal yang benar meskipun ada ancaman, risiko, atau kesulitan yang harus dihadapi.

Alkitab mencatat banyak tokoh yang menunjukkan keberanian luar biasa. Ada yang berani menghadapi manusa raksasa..

Ada yang berani mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan bangsanya, dan ada pula yang berani setia kepada Tuhan walau nyawa mereka terancam..

Menariknya, mereka bukan orang-orang yang selalu merasa kuat. Sebagian pernah ragu. Sebagian menghadapi tekanan besar.

Namun, mereka memilih untuk tidak membiarkan ketakutan menguasai keputusan mereka.

Berikut sepuluh tokoh pemberani dalam Alkitab dan pelajaran yang dapat kita ambil dari kehidupan mereka.

1. Daud: Berani berduel dengan manusia raksasa

Referensi: 1 Samuel 17:32–50

Ketika bangsa Israel berhadapan dengan orang Filistin, seorang prajurit bernama Goliat tampil menantang mereka. Tubuhnya besar. Perlengkapan perangnya mengesankan. Pengalamannya sebagai prajurit membuat tentara Israel gentar.

Selama empat puluh hari, Goliat maju dan menantang tentara Israel. Tidak ada yang berani menerima tantangannya.

Kemudian datanglah Daud, seorang pemuda yang bertugas membawa makanan kepada saudara-saudaranya di medan perang. Ia mendengar tantangan Goliat dan merasa heran karena tidak ada yang berani menghadapinya.

Daud akhirnya menyatakan kesediaannya untuk maju.

Saul meragukannya. Menurut Saul, Daud masih terlalu muda dan tidak memiliki pengalaman perang yang memadai. Namun, Daud mengingat pengalaman sebelumnya ketika Tuhan menolongnya menghadapi singa dan beruang saat menggembalakan domba.

Daud tidak mengandalkan pedang atau tombak. Ia maju dengan umban, beberapa batu, dan keyakinan kepada Tuhan.

Ia berkata kepada Goliat:

“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam.” (1 Samuel 17:45)

Daud mengalahkan Goliat dengan sebuah batu yang mengenai dahinya. Kemenangan itu mengubah keadaan pertempuran dan membangkitkan keberanian tentara Israel.

Pelajaran: Keberanian Daud tidak muncul secara tiba-tiba. Kepercayaannya kepada Tuhan telah dibentuk melalui pengalaman sehari-hari. Kesetiaan dalam perkara kecil mempersiapkan seseorang menghadapi tantangan yang lebih besar.

Kita mungkin tidak menghadapi raksasa seperti Goliat. Namun, kita bisa menghadapi masalah keluarga, pekerjaan, pelayanan, atau keputusan sulit yang terasa jauh lebih besar daripada kemampuan kita. Kisah Daud mengingatkan kita untuk tidak hanya memandang besarnya masalah, tetapi juga mengingat siapa yang kita percayai.

2. Ester: Berani bertaruh nyawa demi bangsanya

Referensi: Ester 4:10–16; 5:1–3; 7:1–6

Ester hidup di Persia dan menjadi ratu. Kedudukannya tampak istimewa, tetapi ia menghadapi bahaya besar ketika Haman merancang pemusnahan orang Yahudi.

Ester memiliki kesempatan untuk berbicara kepada raja, tetapi ada masalah serius. Siapa pun yang menghadap raja tanpa dipanggil dapat dihukum mati, kecuali raja mengulurkan tongkat emas kepadanya.

Mordekhai mengingatkan Ester bahwa ia mungkin ditempatkan di kerajaan justru untuk menghadapi keadaan seperti itu.

Ester kemudian meminta orang-orang Yahudi berpuasa baginya. Setelah itu, ia memutuskan untuk menghadap raja meskipun nyawanya terancam.

Ia berkata: “Kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.” (Ester 4:16)

Ester tidak bertindak tanpa pertimbangan. Ia berpuasa, meminta dukungan, dan menyusun langkah dengan bijaksana. Keberaniannya disertai persiapan.

Pada akhirnya, Ester berhasil mengungkapkan rencana Haman. Bangsanya mendapat kesempatan untuk mempertahankan diri dari ancaman pemusnahan.

Pelajaran: Keberanian bukan sekadar melakukan sesuatu yang berbahaya. Keberanian adalah kesediaan mengambil risiko demi sesuatu yang benar dan lebih besar daripada kepentingan pribadi.

Kita mungkin tidak memiliki kedudukan seperti Ester. Namun, kita bisa menggunakan posisi, kemampuan, dan kesempatan yang kita miliki untuk membela orang yang diperlakukan tidak adil.

3. Musa: Berani menghadapi Firaun

Referensi: Keluaran 5:1–3; 10:24–29; 12:31–33

Musa menerima panggilan Tuhan untuk membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir. Tugas itu tidak mudah. Ia harus menghadapi Firaun, penguasa yang memiliki kekuatan politik dan militer besar.

Awalnya, Musa merasa tidak cakap berbicara. Ia bahkan mencoba menghindari tugas tersebut. Namun, Tuhan meneguhkan dan memperlengkapinya untuk menjalankan panggilan itu.

Musa kemudian menghadap Firaun dan menyampaikan tuntutan Tuhan agar bangsa Israel dibebaskan.

Firaun menolak. Bahkan, ia memperberat pekerjaan orang Israel. Situasi menjadi lebih sulit sebelum akhirnya bangsa itu dibebaskan setelah serangkaian tulah menimpa Mesir.

Musa tidak berhasil dalam satu pertemuan. Ia harus menghadapi penolakan berulang kali. Namun, ia terus menjalankan tugas yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

Pelajaran: Orang berani tidak selalu merasa siap. Kadang-kadang, keberanian dimulai ketika kita bersedia melangkah meskipun menyadari kelemahan diri sendiri.

Jangan menunggu sampai semua ketakutan hilang sebelum melakukan hal yang benar. Persiapkan diri, mintalah pertolongan Tuhan, lalu lakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita.

4. Daniel: Berani tetap berdoa ketika ada larangan berdoa

Referensi: Daniel 6:5–24

Daniel dikenal sebagai pejabat yang dapat dipercaya. Musuh-musuhnya tidak menemukan kesalahan dalam pekerjaannya. Karena itu, mereka mencari cara untuk menjatuhkannya melalui kesetiaannya kepada Tuhan.

Mereka membujuk Raja Darius menetapkan peraturan bahwa selama tiga puluh hari, siapa pun yang memohon kepada dewa atau manusia selain raja akan dilemparkan ke gua singa.

Daniel mengetahui peraturan tersebut. Namun, ia tetap berdoa kepada Tuhan tiga kali sehari seperti kebiasaannya.

Daniel tidak sengaja mencari masalah. Ia hanya tidak bersedia meninggalkan hubungannya dengan Tuhan demi menyelamatkan diri.

Akibatnya, ia dilemparkan ke gua singa. Namun, Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk menutup mulut singa-singa itu.

Daniel diselamatkan, dan Raja Darius menyaksikan kuasa Tuhan yang disembah Daniel.

Pelajaran: Kesetiaan paling nyata terlihat ketika kita harus memilih antara melakukan hal yang benar dan menghindari risiko.

Jangan hanya membangun kehidupan rohani ketika keadaan aman. Kebiasaan berdoa, membaca firman, dan hidup dekat dengan Tuhan perlu dibangun setiap hari agar iman kita memiliki dasar yang kuat ketika ujian datang.

5. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego: Berani menolak menyembah patung

Referensi: Daniel 3:13–28

Nebukadnezar mendirikan patung emas dan memerintahkan semua orang untuk sujud menyembahnya. Siapa pun yang menolak akan dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menolak perintah tersebut. Mereka tahu bahwa keputusan itu dapat mengakibatkan kematian.

Ketika berhadapan dengan raja, mereka menyatakan bahwa Tuhan sanggup menyelamatkan mereka. Namun, mereka juga menegaskan bahwa sekalipun Tuhan tidak menyelamatkan mereka dengan cara yang mereka harapkan, mereka tetap tidak akan menyembah patung emas itu.

Pernyataan ini menunjukkan kedalaman iman mereka. Mereka tidak menjadikan keselamatan pribadi sebagai syarat untuk tetap setia kepada Tuhan.

Ketiganya kemudian dilemparkan ke dalam perapian. Namun, Nebukadnezar melihat mereka tetap hidup dan menyaksikan kehadiran sosok keempat di tengah api. Mereka akhirnya keluar tanpa mengalami kebakaran pada tubuh mereka.

Pelajaran: Iman sejati tidak hanya berkata, “Tuhan akan menolong saya.” Iman juga berkata, “Saya akan tetap setia kepada Tuhan, apa pun yang terjadi.”

Keberanian seperti ini dibutuhkan ketika seseorang menghadapi tekanan untuk mengorbankan prinsip demi penerimaan, jabatan, keuntungan, atau keamanan.

6. Yosua dan Kaleb: Berani berbeda dari mayoritas

Referensi: Bilangan 13:25–33; 14:1–9, 24, 30

Musa mengutus dua belas orang untuk mengintai tanah Kanaan. Mereka kembali membawa hasil bumi yang menunjukkan bahwa negeri itu subur. Namun, sepuluh pengintai menekankan besarnya tantangan yang mereka hadapi, termasuk kota-kota berkubu dan penduduk yang kuat.

Laporan itu membuat bangsa Israel ketakutan. Mereka mulai mengeluh dan bahkan ingin kembali ke Mesir.

Yosua dan Kaleb mengambil sikap berbeda. Mereka tidak menyangkal bahwa ada bahaya. Namun, mereka percaya bahwa Tuhan sanggup membawa Israel masuk ke negeri yang telah dijanjikan-Nya.

Mereka meminta bangsa itu agar tidak memberontak terhadap Tuhan dan tidak takut kepada penduduk negeri tersebut.

Sayangnya, orang banyak tidak menerima nasihat mereka. Yosua dan Kaleb bahkan menghadapi ancaman dari bangsa yang hendak mereka kuatkan.

Karena ketidakpercayaan bangsa Israel, generasi tersebut tidak diizinkan memasuki Kanaan, sedangkan Yosua dan Kaleb termasuk dalam pengecualian yang disebutkan Tuhan.

Pelajaran: Keberanian tidak selalu berarti berdiri di depan musuh. Kadang-kadang, keberanian berarti berani menyampaikan pandangan yang benar ketika semua orang memilih untuk takut.

Jangan menganggap pendapat mayoritas selalu benar. Pelajari fakta, pertimbangkan firman Tuhan, lalu beranilah mengambil sikap yang bertanggung jawab.

7. Debora: Berani memimpin ditengah krisis

Referensi: Hakim-hakim 4:4–16; 5:1–9

Debora adalah nabiah dan hakim yang memimpin Israel ketika bangsa itu mengalami penindasan oleh Yabin, raja Kanaan. Panglima tentaranya, Sisera, memiliki sembilan ratus kereta besi.

Dalam situasi tersebut, Debora menyampaikan perintah Tuhan kepada Barak untuk mengumpulkan pasukan dan menghadapi Sisera.

Barak bersedia maju, tetapi meminta Debora ikut bersamanya. Debora menyetujui permintaan itu, sambil menyatakan bahwa kehormatan atas kemenangan tersebut akan diberikan Tuhan kepada seorang perempuan.

Debora tidak hanya memberikan nasihat dari kejauhan. Ia terlibat dalam kepemimpinan di tengah krisis dan mendorong umat untuk bergerak.

Dalam pertempuran itu, Tuhan mengalahkan Sisera dan pasukannya.

Pelajaran: Keberanian tidak ditentukan oleh jenis kelamin, usia, atau jabatan. Keberanian terlihat ketika seseorang bersedia memikul tanggung jawab dan menolong orang lain bergerak menuju tujuan yang benar.

Kita membutuhkan orang-orang yang tidak hanya pandai mengkritik keadaan, tetapi juga bersedia mengambil bagian dalam menyelesaikan masalah.

8. Yohanes Pembaptis: Berani menegur penguasa

Referensi: Markus 6:17–29; Matius 14:3–12

Yohanes Pembaptis dikenal sebagai pemberita pertobatan. Ia tidak hanya berbicara kepada orang biasa, tetapi juga menegur Herodes Antipas karena mengambil Herodias, istri Filipus, saudaranya.

Teguran tersebut membuat Herodias menyimpan dendam terhadap Yohanes. Herodes kemudian memenjarakannya.

Pada sebuah perjamuan, putri Herodias menari dan membuat Herodes berjanji akan memberikan apa pun yang dimintanya. Atas dorongan ibunya, ia meminta kepala Yohanes Pembaptis.

Herodes akhirnya memerintahkan agar Yohanes dipenggal.

Yohanes tidak kehilangan nyawanya karena ia melakukan kejahatan, tetapi karena ia tetap menyampaikan teguran terhadap perbuatan yang salah.

Pelajaran: Kebenaran tidak selalu membuat kita disukai. Namun, keberanian menegur harus disertai ketulusan, kebijaksanaan, dan kasih. Tujuannya bukan mempermalukan orang lain, melainkan menunjukkan jalan yang benar.

9. Petrus dan Yohanes: Berani bersaksi walau diancam

Referensi: Kisah Para Rasul 4:13–20; 5:27–32

Setelah menyembuhkan seorang lumpuh dan memberitakan kebangkitan Yesus, Petrus dan Yohanes diperhadapkan dengan para pemimpin agama.

Mereka dilarang berbicara atau mengajar dalam nama Yesus. Namun, kedua rasul itu tidak berhenti bersaksi. Mereka menyatakan bahwa mereka tidak dapat berhenti berbicara tentang apa yang telah mereka lihat dan dengar.

Ketika kembali dihadapkan kepada Mahkamah Agama, para rasul menegaskan bahwa mereka harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.

Mereka bukan orang yang tidak pernah takut. Petrus sendiri pernah menyangkal Yesus sebelum kebangkitan-Nya. Namun, setelah dipulihkan dan diperlengkapi oleh Roh Kudus, ia menjadi saksi yang berani.

Pelajaran: Kegagalan masa lalu tidak harus menentukan keberanian kita pada masa depan. Tuhan dapat memulihkan seseorang dan memakainya untuk melakukan pekerjaan yang bermakna.

10. Paulus: Berani menyelesaikan panggilan walau menderita

Referensi: Kisah Para Rasul 20:22–24; 21:10–14; 2 Korintus 11:23–28

Paulus menghadapi banyak bahaya dalam pelayanannya. Ia mengalami penjara, pukulan, ancaman, karam kapal, dan berbagai kesulitan lainnya.

Ketika menuju Yerusalem, Paulus mengetahui bahwa penderitaan dan penjara menantinya. Orang-orang percaya bahkan memintanya agar tidak pergi.

Namun, Paulus tetap bersedia melanjutkan perjalanan karena ia ingin menyelesaikan tugas yang diterimanya dari Tuhan Yesus.

Ia menulis tentang tekadnya untuk menyelesaikan perlombaan dan pelayanan yang dipercayakan kepadanya, yaitu memberitakan Injil kasih karunia Allah.

Paulus tidak menganggap keselamatan dirinya sebagai tujuan tertinggi. Baginya, kesetiaan menjalankan panggilan Tuhan lebih penting daripada hidup tanpa kesulitan.

Pelajaran: Keberanian bukan hanya kemampuan memulai sesuatu yang sulit. Keberanian juga berarti bertahan dan menyelesaikan tanggung jawab ketika perjalanan menjadi berat.

Ada pelayanan yang membutuhkan waktu panjang. Ada keputusan yang menuntut pengorbanan. Ada pekerjaan baik yang tidak segera menghasilkan buah. Dalam keadaan seperti itu, ketekunan merupakan salah satu bentuk keberanian.

Empat pelajaran tentang keberanian

Dari sepuluh tokoh tersebut, kita dapat melihat empat prinsip utama.

Keberanian bertumbuh dari kepercayaan kepada Tuhan.

Daud, Daniel, dan ketiga sahabatnya menunjukkan bahwa iman memberi dasar untuk menghadapi ancaman. Keberanian bukan sekadar mengandalkan kekuatan diri sendiri.

Keberanian bersedia mengambil risiko demi orang lain.

Ester mempertaruhkan keselamatannya demi bangsanya. Keberanian yang matang tidak hanya memikirkan keuntungan pribadi.

Keberanian terkadang berarti berdiri sendirian.

Yosua dan Kaleb tetap percaya ketika mayoritas bangsa Israel dikuasai ketakutan. Kita perlu berani mempertahankan kebenaran sekalipun tidak populer.

Keberanian tidak menjamin hidup bebas dari penderitaan.

Yohanes Pembaptis dan Paulus tetap mengalami penderitaan. Kesetiaan kepada Tuhan tidak selalu berarti kita akan terhindar dari bahaya. Namun, kesetiaan memberi arah dan makna bagi hidup kita.

Keberanian bermulai dari keputusan kecil

Kita mungkin tidak menghadapi raksasa seperti Daud. Kita mungkin tidak diancam dengan perapian seperti Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Kita juga mungkin tidak berdiri di hadapan raja seperti Ester.

Namun, kehidupan sehari-hari tetap menuntut keberanian.

Kita membutuhkan keberanian untuk berkata jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan. Kita membutuhkan keberanian untuk membela orang yang diperlakukan tidak adil. Kita membutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan, meminta maaf, dan mengambil keputusan yang benar sekalipun keputusan itu tidak populer.

Keberanian seperti itu tidak muncul dalam satu malam. Ia dibentuk melalui hubungan yang dekat dengan Tuhan, kebiasaan melakukan hal yang benar, dan kesediaan untuk tetap setia dalam perkara kecil.

Pertanyaan untuk direnungkan: Dalam situasi apa Anda paling membutuhkan keberanian saat ini—ketika menghadapi masalah, mempertahankan kebenaran, membela seseorang, atau mengambil keputusan yang sulit?

Keberanian sejati bukan berarti kita tidak pernah takut. Keberanian sejati berarti kita tidak membiarkan ketakutan menghalangi kita melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *