Mungkin kita pernah mengecewakan seseorang yang kita sayangi, lalu merasa tidak pantas lagi berada di dekatnya?

Kemudian kita berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tetapi kita melakukannya lagi.

Lalu kita berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi akhirnya kembali jatuh pada kebiasaan lama.

Lalu muncul suara dalam hati: Bagaimana mungkin saya bisa berubah kalau terus seperti ini?

Perasaan seperti itu bisa menjadi lebih berat ketika kita memikirkan hubungan dengan Tuhan.

Kita mulai bertanya apakah Tuhan masih mau menerima kita. Apakah kasih-Nya masih berlaku ketika kita kembali melakukan kesalahan yang sama?

Tentang hal ini ada satu kisah dalam injil, tentang seorang bernama Petrus yang gagal beberapa kali dalam tekadnya..

Petrus pernah berkata kepada Yesus dengan penuh keyakinan bahwa ia tidak akan meninggalkan Yesus apa pun yang terjadi.

Namun ketika Yesus ditangkap, Petrus justru menyangkal bahwa ia mengenal-Nya. Bukan hanya sekali, tetapi tiga kali.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Petrus setelah menyadari bahwa dia telah gagal menjaga komitmennya.

Ia bukan sekadar gagal memenuhi janji. Ia menyangkal Pribadi yang sangat dikasihinya, tepat ketika Yesus menghadapi penderitaan.

Namun, Apakah kisah Petrus berakhir di sana? Tidak.

Setelah kebangkitan-Nya, Yesus kembali menemui Petrus. Dalam Yohanes 21, Yesus berbicara dengannya dan tiga kali bertanya apakah Petrus mengasihi-Nya.

Kemudian Yesus kembali memberikan tanggung jawab kepadanya untuk menggembalakan domba-domba-Nya.

Perhatikan hal ini: Yesus tidak berpura-pura seolah-olah Petrus tidak pernah berbuat salah. Yesus juga tidak membiarkan kegagalan Petrus menjadi akhir dari kehidupannya.

Yesus berkata kepadanya dengan lemah lembut, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” — Yohanes 21:17

Perkataan itu penting. Yesus bukan hanya memberikan kesempatan kepada Petrus untuk berbicara tentang kasihnya.

Ia juga mempercayakan kembali sebuah tanggung jawab kepadanya: Menggembahakan domba-domba-Nya.

Petrus pernah gagal. Tetapi ia masih bisa dipakai untuk melakukan sesuatu yang berarti. Inilah yang perlu kita pahami tentang kasih Yesus.

Kasih-Nya berjalan beriringan dengan disiplin. Karena kasih-Nya, kegagalan Petrus tidak menjadi akhir cerita..

Pengampunan-Nya tidak membuat kita bebas melakukan apa saja. Justru ketika kita menyadari bahwa kita masih dikasihi, kita memiliki alasan untuk bangkit, bertobat, dan belajar hidup dengan cara yang berbeda.

Mungkin hari ini Anda sedang kecewa kepada diri sendiri. Anda sudah berusaha, tetapi kembali gagal. Anda ingin berubah, tetapi belum melihat kemajuan yang berarti.

Jangan menutupi kesalahan Anda. Akuilah dengan jujur. Perbaikilah apa yang bisa diperbaiki. Mintalah pertolongan ketika Anda membutuhkannya.

Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Tuhan sudah selesai dengan lehidupan Anda.

Petrus pernah menyangkal Yesus. Namun Yesus masih memberinya kesempatan untuk melanjutkan hidup dan pelayanannya.

Dan mungkin, seperti Petrus, Anda juga perlu mendengar bahwa kegagalan bukanlah identitas terakhir Anda.

Anda memang pernah jatuh. Tetapi Anda masih bisa bangkit.

Anda memang pernah mengecewakan. Tetapi Anda masih bisa belajar mengasihi dengan lebih baik.

Anda memang memiliki masa lalu. Tetapi masa lalu tidak harus menentukan seluruh masa depan Anda.

Yesus tidak memanggil kita karena kita tidak pernah gagal. Ia mengundang kita untuk datang kepada-Nya, menerima pengampunan, dan belajar berjalan kembali.

Masih Ada Harapan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *