
Apakah Anda pernah bertanya, Siapa sebenarnya yang menulis Alkitab? Apakah Allah yang menulisnya? Atau manusia yang menulisnya? Atau keduanya?
Alkitab ditulis oleh manusia yang dipakai Allah untuk menyampaikan Firman-Nya melalui tuntunan Roh Kudus.
Karena itu, Alkitab memiliki dua sisi yang tidak perlu dipertentangkan: ilahi dan manusiawi.
Alkitab sebagai pesan Allah yang diinspirasikan tetapi disampaikan melalui kata-kata manusia, sehingga karakteristik, sejarah, dan budaya para penulis tetap tampak dalam teks.
Alkitab Tidak Ditulis oleh Satu Orang
Alkitab bukan sebuah buku yang ditulis oleh satu orang dari awal sampai akhir. Alkitab lebiih tepat sebagai sebuah perpustakaan, yang terdiri dari banyak buku.
Di dalamnya terdapat berbagai tulisan yang lahir dalam periode sejarah yang panjang dan dalam berbagai bentuk sastra: sejarah, hukum, puisi, hikmat, nubuat, Injil, dan surat.
Para penulisnya juga berasal dari berbagai latar belakang. Kita menemukan nama-nama seperti:
Musa, Daud, Yesaya, Yeremia, Matius, Yohanes, Paulus, Petrus, dan lainnya.
Namun kita perlu berhati-hati dengan ungkapan populer bahwa Alkitab ditulis oleh “tepat 40 orang.”
Angka sekitar 40 sering digunakan sebagai gambaran umum tradisional. Tetapi kita tidak mengetahui identitas setiap penulis dengan pasti.
Beberapa kitab tidak menyebutkan penulisnya, dan kepengarangan sejumlah kitab masih dibicarakan dalam penelitian Alkitab.
Contoh yang paling mudah adalah kitab Ibrani. Kitab itu sendiri tidak menyebutkan siapa penulisnya.
Karena itu, sebutan yang paling tepat adalah Alkitab ditulis oleh banyak penulis manusia selama berabad-abad.
Kalau Manusia yang Menulis, Mengapa Disebut Firman Allah?
Di sinilah kita perlu memahami istilah inspirasi. Paulus menulis: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat…”— 2 Timotius 3:16
Kata Yunani yang digunakan dalam ayat ini adalah: theopneustos
Secara harfiah berhubungan dengan gagasan “God-breathed” — dinafaskan Allah.
Karena itu orang Kristen percaya bahwa Kitab Suci bukan sekadar kumpulan pemikiran manusia mengenai Allah.
Disana, ada tindakan Allah di balik lahirnya Kitab Suci.
Roh Kudus Bekerja Melalui Manusia
Petrus memberikan penjelasan lain: “…oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” — 2 Petrus 1:21
Perhatikan dua unsur dalam ayat tersebut: Roh Kudus bekerja. Tetapi: manusia berbicara. Ini penting.
Allah tidak menghilangkan peran manusia dari proses penyampaian Firman-Nya. Sebaliknya, Allah bekerja dengan menggunakan manusia.
Karena itu kita dapat merangkumnya:
ALLAH → ROH KUDUS → PENULIS MANUSIA → KITAB SUCI
Tetapi ini bukan berarti manusia hanyalah mesin tulis.
Apakah Allah Mendiktekan Setiap Kata?
Tidak tepat jika seluruh proses penulisan Alkitab dibayangkan seperti seorang atasan mendiktekan surat kepada sekretaris.
Memang terdapat bagian-bagian Alkitab di mana Allah memberikan perkataan tertentu untuk dituliskan. Tetapi keseluruhan Kitab Suci menunjukkan proses yang lebih beragam.
Salah satu contoh terbaik terdapat pada awal Injil Lukas 1;1-4
Lukas menjelaskan bahwa sebelum menulis, ia memperhatikan kesaksian yang telah disampaikan dan melakukan penyelidikan dengan saksama sebelum menyusun kisahnya secara teratur.
Maka dalam hal ini, Lukas: mencari informasi → menyelidiki → menyusun → menulis.
Manusia benar-benar terlibat.
Jadi, asal-usul Kitab Suci sebagai sesuatu yang sekaligus human and divine. Inspirasi tidak mengharuskan kita membayangkan para penulis kehilangan pikiran atau kepribadian mereka sementara Allah menggunakan mereka seperti mesin.
Inspirasi Tidak Menghapus Kepribadian Penulis
Ini sangat penting untuk memahami Alkitab. Para penulis tetap menggunakan: bahasa mereka, kosakata mereka, gaya mereka, pengalaman mereka, latar belakang mereka, dan kemampuan mereka.
Karena itu tulisan Paulus tidak terdengar persis seperti tulisan Yohanes. Mazmur berbeda dari Roma. Amsal berbeda dari Wahyu. Lukas berbeda dari Markus.
Perbedaan itu bukan sesuatu yang harus kita takutkan. Justru melalui keunikan manusia itulah pesan Allah disampaikan.
Dalam penjelasan mengenai inspirasi yang diterbitkan Adventist Dialogue, inspirasi dipahami bekerja pada pribadi penulis; pikiran ilahi dan manusia bertemu sehingga pesan Allah disampaikan melalui ekspresi manusia.
Allah Menggunakan Manusia, Bukan Menghapus Manusia
Ini memberi kita gambaran yang indah mengenai cara Allah bekerja untuk manusia.
Allah dapat menggunakan seorang raja seperti Daud, nabi seperti Yesaya, nelayan seperti Petrus, seorang terpelajar seperti Paulus.
Allah dapat menggunakan seseorang yang melakukan penyelidikan seperti Lukas. Mereka tidak harus menjadi orang yang sama.
Mereka tidak harus mempunyai pendidikan yang sama. Mereka bahkan tidak harus mempunyai gaya menulis yang sama.
Allah bekerja melalui manusia yang berbeda untuk menyampaikan pesan-Nya.
Mengapa Kita Perlu Mengetahui Siapa Penulisnya?
Kalau Alkitab adalah Firman Allah, mungkin kita bertanya: Mengapa kita perlu repot mengetahui siapa penulis manusianya?
Karena Allah memilih menyampaikan Firman-Nya melalui manusia dalam sejarah, maka untuk memahami sebuah teks, kita perlu bertanya:
Siapa yang menulis? Kepada siapa ia menulis? Kapan ia menulis? Apa yang sedang terjadi? Mengapa tulisan itu diberikan? Apa jenis tulisan tersebut?
Mengetahui konteks manusia dari suatu kitab justru dapat membantu kita memahami pesan yang disampaikan melalui kitab tersebut.
BibleProject menekankan bahwa memahami sejarah dan budaya para penulis membantu pembaca memahami komunikasi Kitab Suci dengan lebih baik.
Apakah Kita Mengetahui Semua Penulis Alkitab?
Tentu saja tidak. Ini perlu disampaikan secara terbuka.
Ada kitab yang dengan jelas menghubungkan dirinya dengan seorang tokoh tertentu. Ada kitab yang secara tradisional dikaitkan dengan seseorang.
Tetapi ada juga kitab yang anonim, sehingga penulisnya tidak disebutkan dalam teks.
Dan untuk beberapa kitab terdapat perbedaan antara tradisi kepengarangan dan kesimpulan atau teori dalam penelitian Alkitab modern.
Karena itu kita tidak perlu memaksakan nama penulis ketika Alkitab sendiri tidak memberitahukannya.
Ketidaktahuan kita mengenai nama seorang penulis tidak otomatis menghilangkan nilai pesan kitab tersebut.
Banyak penulis, namun terdiri dari satu kisah besar
Inilah salah satu hal yang menarik dari Alkitab. Kita mempunyai banyak kitab. Penulisnya banyak, dizaman yang berbeda-beda. Di tempat yang berbeda-beda dan bahasa yang berbeda.
Namun kitab-kitab tersebut bersama-sama membawa pembaca mengikuti kisah hubungan Allah dengan manusia—dari penciptaan, perjalanan Israel, kehidupan dan karya Yesus Kristus, gereja mula-mula, sampai pengharapan pemulihan ciptaan.
Karena itu keberagaman penulis tidak perlu dipandang sebagai kelemahan. Justru kita menemukan pesan Allah disampaikan melalui banyak suara manusia.
Jadi, Siapa yang Menulis Alkitab?
Sekarang kita dapat memberikan jawaban yang lebih lengkap.
Manusia menulis Alkitab. Mereka menulis menggunakan bahasa, gaya, pengalaman, penelitian, dan kemampuan mereka.
Tetapi Allah adalah sumber wahyu kita tersebut. Roh Kudus bekerja melalui manusia untuk menyampaikan pesan Allah.
Karena itu: Alkitab adalah Firman Allah yang disampaikan melalui kata-kata manusia. Atau kita dapat mengingatnya dengan rumus sederhana:
ALLAH MENYATAKAN
↓
ROH KUDUS MENGILHAMI
↓
MANUSIA MENYAMPAIKAN
↓
FIRMAN DITULISKAN
Mengapa Ini Penting?
Memahami hal ini akan mengubah cara kita membaca Alkitab.
Kita tidak membaca Alkitab seperti membaca buku biasa, karena kita percaya Allah berbicara melalui Kitab Suci.
Tetapi kita juga tidak mengabaikan sejarah, bahasa, budaya, penulis, dan konteksnya, karena Allah memilih menyampaikan Firman-Nya melalui manusia.
Karena itu pembaca Alkitab perlu mempunyai dua sikap:
Hormat, karena kita sedang berhadapan dengan Firman Allah.
Dan Teliti, karena Firman itu disampaikan melalui bahasa manusia dalam konteks sejarah tertentu.
Renungkan
Ketika Anda membuka Alkitab, apa yang Anda lihat? Hanya tulisan Musa, Mazmur atau paulus? Atau melalui perkataan manusia tersebut kita sedang berusaha mendengar pesan Allah?
Itulah sebabnya mempelajari Alkitab bukan hanya usaha untuk mengetahui isi sebuah buku.
Kita mempelajarinya untuk mengenal Allah yang menyatakan diri melalui Firman-Nya.
Kesimpulan
Siapa yang menulis Alkitab?
Gambaran yang lebih tepat adalah:
Allah menyatakan.
Roh Kudus mengilhami.
Manusia menulis dan menyampaikan.
Kita menerima Kitab Suci.
Alkitab mempunyai dimensi ilahi sekaligus manusiawi. Prinsip inilah yang akan sangat penting ketika nanti kita belajar bagaimana membaca dan menafsirkan Alkitab dengan benar.
Pelajaran Berikutnya
Sekarang muncul pertanyaan yang lebih menarik. Jika banyak orang terlibat dalam penulisannya:
Bagaimana Alkitab sebenarnya ditulis? Apakah para penulis langsung menuliskannya? Apakah ada tradisi lisan sebelumnya?
Bahan apa yang mereka gunakan? Bahasa apa yang digunakan? Dan bagaimana tulisan-tulisan tersebut sampai kepada kita?
Kita akan membahasnya dalam: Pelajaran 3 — Bagaimana Alkitab Ditulis?
Referensi
- Gerhard Pfandl, “Inspired and Inspiring: Understanding the Inspiration of the Bible,” Dialogue, 27, no. 3 (2015), 31–32.
- Seventh-day Adventist Church, “Holy Scriptures,” Adventist.org.
- Seventh-day Adventist Church, “The Bible and Where It Came From,” Adventist.org.
- Shara Drimalla & BibleProject Team, “Did God or People Write the Bible? How the Bible’s Origin Is Both Human and Divine,” BibleProject, February 14, 2022.
- Jacob Edson, “Who Wrote the Bible? Traditional Views and Modern Scholarship,” Bible Gateway, July 22, 2024


