Bacaan Alkitab: 2 Timotius 2:14–15; Lukas 18:18–27; 1 Samuel 8:1–9.

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang dengan tepat menyampaikan perkataan kebenaran itu.” — 2 Timotius 2:15

Pokok utama:

Kita tidak cukup hanya membaca Alkitab. Kita perlu belajar memahami dan menafsirkan teks dengan benar—memahami apa yang dikatakan kepada orang pada zamannya, lalu melihat bagaimana kebenaran itu berbicara kepada kita sekarang.

PEMBUKAAN — MASALAHNYA BUKAN HANYA MEMBACA

Alkitab adalah satu kitab, tetapi terdiri dari banyak bentuk tulisan. Di dalamnya terdapat:

• sejarah;

• hukum;

• puisi;

• mazmur;

• Injil;

• surat;

• perumpamaan;

• nubuat;

• pengajaran langsung;

• berbagai ilustrasi.

Karena itu, kita tidak dapat membaca setiap bagian Alkitab dengan cara yang persis sama. Sumber menekankan bahwa bentuk atau genre tulisan memengaruhi cara kita memahami pesan yang disampaikan. Kita juga perlu memperhatikan kebudayaan dan keadaan ketika teks tersebut ditulis.

Di sinilah muncul tantangan besar:

Bagaimana memahami teks yang ditulis ribuan tahun lalu, dalam budaya yang berbeda, tetapi tetap menemukan relevansinya bagi kehidupan kita hari ini?

Pelajaran ini akan membawa kita masuk ke proses tersebut.

DUA DUNIA: “THEN AND THERE” DAN “HERE AND NOW”

Ketika membaca Alkitab, ada dua kesalahan yang mungkin terjadi.

Kesalahan pertama: Kita hanya melihat “dulu.”

Kita mengetahui sejarahnya, budaya, bahasa, dan keadaan zaman itu, tetapi tidak pernah bertanya: “Apa artinya bagi kehidupan saya?”

Kesalahan kedua:

Kita langsung membawa teks ke “sekarang.” Kita membaca ayat lalu langsung berkata: “Ini pasti berbicara tentang saya.”

Padahal kita belum mengetahui apa arti teks tersebut bagi orang yang pertama kali mendengarnya. Karena itu diperlukan dua langkah:

THEN AND THERE

Apa arti teks bagi mereka pada waktu itu?

↓

HERE AND NOW

Apa prinsip kebenarannya bagi kita sekarang? Ini adalah salah satu gagasan utama pelajaran ini.

MENGETAHUI APA YANG DIKATAKAN TEKS

Lukas 18:18–27

Hari ini kita diperkenalkan dengan istilah eksegesis.

Secara sederhana, eksegesis adalah usaha mempelajari teks dengan teliti untuk mengetahui apa yang dimaksudkan teks dalam konteks aslinya.

Kita pertama-tama perlu mencari tahu apa arti teks bagi orang yang mula-mula mendengarnya.

Mari kita lihat kisah seorang pemimpin kaya yang datang kepada Yesus.

Ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jangan langsung membuat kesimpulan. Mulailah dengan pertanyaan sederhana.

Pertanyaan tentang isi

  1. Siapa yang datang kepada Yesus?
  2. Apa pertanyaannya?
  3. Apa jawaban Yesus?
  4. Apa yang kemudian Yesus perintahkan?
  5. Bagaimana orang itu merespons?
  6. Apa yang dikatakan Yesus tentang kekayaan?
  7. Bagaimana para pendengar merespons?

Baru setelah itu kita bertanya: Mengapa Yesus mengatakan hal tersebut?

Jangan buru-buru menjelaskan teks

Sumber memberikan contoh menarik mengenai perkataan Yesus tentang:

“lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Ada penjelasan populer yang mengatakan bahwa “Lubang Jarum” adalah nama sebuah pintu kecil di Yerusalem.

Tetapi sumber menunjukkan bahwa bukti paling awal untuk penjelasan tersebut baru muncul jauh kemudian, dalam sebuah komentar abad kesebelas.

Karena itu, teks tidak perlu “diperlunak” dengan membuat lubang jarum menjadi nama sebuah pintu. Yesus memang sedang menggunakan gambaran sesuatu yang mustahil.

Dan justru di situlah kekuatan perkataan-Nya. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Tetapi Yesus kemudian berkata: “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.”

Jadi kita harus berhati-hati terhadap penjelasan yang terdengar menarik tetapi tidak didukung oleh konteks dan bukti teks.

BELAJAR BERTANYA KEPADA TEKS

Setelah membaca, jangan hanya bertanya: “Apa artinya bagi saya?” Tanyakan terlebih dahulu:

Pertanyaan konteks

• Apa yang terjadi sebelum bagian ini?

• Apa yang terjadi sesudahnya?

• Siapa yang berbicara?

• Kepada siapa?

• Apa situasinya?

• Mengapa perkataan ini disampaikan?

Pertanyaan isi

• Apa yang sebenarnya dikatakan?

• Kata apa yang penting?

• Apa yang diulang?

• Apa hubungan antara satu pernyataan dengan pernyataan lainnya?

Pertanyaan tujuan

• Mengapa kisah ini ditulis?

• Masalah apa yang sedang dijawab?

• Apa yang ingin ditunjukkan penulis?

Pertanyaan dibagi menjadi pertanyaan tentang konteks dan isi, sekaligus mendorong kita mencari “occasion”—keadaan atau tujuan yang melatarbelakangi teks.

MEMAHAMI LATAR SEJARAH

1 Samuel 8:1–9

Israel meminta seorang raja.

Jika kita membaca bagian ini tanpa mengetahui keadaan sejarahnya, kita mungkin kehilangan banyak hal.

Mengapa Israel ingin raja?

Sumber menjelaskan bahwa bangsa-bangsa di sekitar Israel mempunyai raja. Israel ingin memiliki seorang pemimpin seperti bangsa-bangsa lain, termasuk untuk memperoleh kedudukan di antara bangsa-bangsa dan untuk memimpin peperangan.

Jadi latar belakang sejarah membantu kita memahami: Mengapa orang-orang dalam cerita itu berpikir dan bertindak seperti yang mereka lakukan?

Konteks bukan tambahan kecil

Kadang kita membaca satu ayat dan merasa sudah mengerti. Padahal satu ayat merupakan bagian dari:

kalimat → paragraf → bagian → pasal → kitab → situasi sejarah.

Semakin kita memahami hubungan tersebut, semakin jelas maksud teks.

Misalnya seseorang mengambil satu kalimat dari sebuah surat. Kalimat tersebut bisa mempunyai arti berbeda jika kita membaca:

• siapa yang menulis;

• kepada siapa;

• mengapa surat itu ditulis;

• masalah apa yang sedang terjadi;

• apa yang dikatakan sebelum dan sesudahnya.

Hal yang sama berlaku pada Alkitab.

ALAT UNTUK MEMPELAJARI LATAR SEJARAH

Beberapa alat yang dapat membantu mempajari latar sejarah:

• komentar Alkitab;

• kamus Alkitab;

• ensiklopedia;

• konkordansi;

• pengantar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru;

• catatan pendahuluan dalam Alkitab studi.

Tetapi alat tersebut seharusnya membantu kita memahami teks, bukan menggantikan teks.

Prinsipnya: Baca teks terlebih dahulu. Gunakan alat untuk menolong kita memahami teks dengan lebih baik.

BELAJAR MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG TEPAT

1 Korintus 2:14–3:4

Salah satu keterampilan terbesar dalam studi Alkitab adalah: kemampuan mengajukan pertanyaan yang baik.

Pertanyaan yang baik memaksa kita melihat teks lebih dalam.

Sumber bahkan menggunakan ilustrasi tentang seorang profesor yang ketika masih kecil sering ditanya orang tuanya:

“Apa yang kamu pelajari hari ini?” Tetapi setelah dewasa ia memilih bertanya kepada anak-anaknya:

“Pertanyaan bagus apa yang kamu tanyakan hari ini?” Tujuannya adalah mengembangkan kemampuan berpikir analitis.

Jangan takut bertanya kepada Alkitab

Pertanyaan bukan tanda kurang iman. Pertanyaan yang jujur dapat menjadi bagian dari proses memahami iman.

Misalnya ketika membaca 1 Korintus 2:14–3:4, kita dapat bertanya:

  1. Siapa saja kelompok manusia yang disebut Paulus?
  2. Apa yang dimaksud dengan “rohani”?
  3. Mengapa Paulus berbicara tentang “bayi” dalam Kristus?
  4. Apa hubungan antara pertumbuhan rohani dan kemampuan memahami kebenaran?
  5. Apa tanda seseorang belum mengalami kedewasaan rohani?

Pertanyaan seperti ini membuat kita tidak sekadar membaca ayat. Kita berdialog dengan teks.

Tetapi tidak semua pertanyaan sama

Ada pertanyaan yang membantu. Ada juga pertanyaan yang sebenarnya hanya mencari pembenaran.

Misalnya: “Ayat mana yang membuktikan bahwa pendapat saya benar?”

Pertanyaan yang lebih baik: “Apa yang sebenarnya dikatakan teks ini, sekalipun jawabannya berbeda dari pendapat saya?”

Ini membutuhkan kerendahan hati. Karena tujuan studi Alkitab bukan membuat Alkitab setuju dengan kita.

Tetapi membuat kita tunduk kepada kebenaran yang ditemukan dalam Firman.

MEMAHAMI KONTEKS LANGSUNG

Yohanes 3:1–21

Sumber mengajarkan pentingnya memeriksa ayat-ayat yang berada sebelum dan sesudah bagian yang sedang kita pelajari. Ini disebut memahami immediate context, atau konteks langsung.

Contoh yang dipakai adalah Yohanes 3. Kita mengenal Yohanes 3:16. Tetapi ayat itu tidak berdiri sendiri.

Untuk memahami pesan Yohanes 3:16 dengan lebih baik, kita perlu membaca keseluruhan percakapan Yesus dengan Nikodemus.

Lima pertanyaan ketika membaca konteks

Menurut pola yang diberikan sumber, kita dapat bertanya:

  1. Apa yang sedang terjadi? Apa occasion dari cerita tersebut?
  2. Siapa orang yang terlibat? Apa latar belakangnya?
  3. Apa yang ia pikirkan? Apa pertanyaannya? Apa yang belum ia pahami?
  4. Bagaimana Yesus merespons? Apakah Yesus langsung menjawab? Apakah Dia menggunakan pertanyaan balik? Apakah Dia menggunakan ilustrasi?
  5. Apa inti bagian tersebut? Apa sebenarnya yang sedang diajarkan?

Sumber menggunakan Yohanes 3 untuk menunjukkan bahwa memahami konteks dapat menolong kita melihat mengapa perkataan tertentu muncul pada titik tertentu dalam cerita.

EMPAT PRINSIP MEMAHAMI KONTEKS

Sumber merumuskan beberapa prinsip penting:

  1. Cari latar sejarah dan budaya. Jangan membaca teks seolah-olah penulis hidup dalam budaya kita.
  2. Belajar berpikir dalam paragraph. Paragraf merupakan unit pemikiran. Jangan memotong satu kalimat dari aliran pemikiran penulis.
  3. Periksa apakah konteks mendukung pemahaman kita

Jika tafsiran kita bertentangan dengan konteks sekitarnya, kita perlu berhenti dan memeriksanya kembali.

  1. Perhatikan gaya sastra

Apakah ini:

• puisi?

• sejarah?

• mazmur?

• perumpamaan?

• nubuat?

• surat?

Bentuk tulisan ikut membantu menentukan bagaimana teks tersebut dipahami.

ALAT-ALAT UNTUK BELAJAR ALKITAB

1 Samuel 8:16; 1 Korintus 11:29

Alkitab pada awalnya ditulis dalam:

• Ibrani

• Aram

• Yunani

Sebagian besar Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, sebagian kecil dalam bahasa Aram, sedangkan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.

Karena sebagian besar pembaca sekarang tidak menguasai bahasa-bahasa tersebut, kita membaca Alkitab melalui terjemahan.

Dan di sinilah pentingnya menggunakan alat dengan bijaksana.

Mengapa menggunakan beberapa terjemahan?

Satu terjemahan mungkin menjelaskan sebuah ayat dengan sangat baik.

Tetapi pada ayat lain, terjemahan berbeda dapat memberikan nuansa yang membantu kita memahami kemungkinan makna teks.

Karena itu, membandingkan beberapa terjemahan dapat memperluas pemahaman kita.

Namun sumber memberikan beberapa prinsip dalam memilih terjemahan:

  1. Utamakan terjemahan, bukan sekadar parafrasa, ketika melakukan studi serius.
  2. Waspadai terjemahan yang terlalu dipengaruhi sudut pandang tertentu.
  3. Terjemahan yang dikerjakan oleh sebuah komite dapat membantu mengurangi ketergantungan pada satu individu.
  4. Perhatikan perkembangan penelitian dan manuskrip.
  5. Untuk renungan pribadi, gunakan terjemahan yang mudah dipahami dan menolong kehidupan rohani.

ALAT YANG DAPAT KITA GUNAKAN

Dalam studi yang lebih serius, kita dapat menggunakan: Alkitab beberapa terjemahan

Untuk membandingkan bagaimana sebuah teks diterjemahkan.

Konkordansi: Untuk menemukan kemunculan kata atau ayat tertentu.

Kamus Alkitab: Untuk memahami istilah, tempat, tokoh, budaya, dan latar belakang.

Ensiklopedia Alkitab: Untuk penelitian yang lebih luas.

Komentar Alkitab; Untuk melihat hasil penelitian dan penafsiran dari para penafsir. Tetapi ada satu prinsip yang perlu dijaga:

Jangan membaca komentar lebih banyak daripada Alkitabnya.

Kita sedang belajar Alkitab. Bukan sekadar belajar apa yang dikatakan orang tentang Alkitab.

DARI KONTEKS MENUJU PEMAHAMAN

Sumber memberikan contoh Zakheus dalam Lukas 19:1–9.

Untuk memahami kisah tersebut secara lebih utuh, kita dapat mempelajari:

• profesi pemungut cukai;

• kota Yerikho;

• arti keselamatan;

• cerita yang muncul sebelum dan sesudah kisah Zakheus;

• posisi cerita tersebut dalam pelayanan Yesus.

Ini menunjukkan satu hal penting:

Konteks memperluas cerita.

Kita tidak lagi melihat Zakheus hanya sebagai “orang pendek yang memanjat pohon.” Kita mulai melihat kisah tersebut dalam dunia sosial, geografis, dan pelayanan Yesus.

EMPAT LAPIS KONTEKS

Pada akhir pelajaran, sumber merangkum pendekatan kontekstual dalam empat bagian:

  1. KONTEKS BUDAYA

Apa kebudayaan ketika teks itu ditulis?

  1. KONTEKS KITAB

Bagaimana bagian ini berhubungan dengan keseluruhan kitab?

  1. KONTEKS LANGSUNG

Apa hubungan ayat ini dengan ayat sebelum dan sesudahnya?

  1. SUASANA TEKS

Apa suasana, perasaan, dan motivasi yang muncul dari bagian tersebut?

Pendekatan ini membantu kita memahami bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi juga mengapa penulis dan tokoh-tokoh dalam cerita berbicara atau bertindak demikian.

METODE PRAKTIS: JANGAN LANGSUNG LOMPAT KE APLIKASI

Mari kita buat satu alur yang mudah diingat.

LANGKAH 1 — BACA

Baca keseluruhan bagian. Jangan hanya satu ayat.

LANGKAH 2 — AMATI

Catat:

• tokoh;

• tempat;

• waktu;

• tindakan;

• kata-kata penting;

• pengulangan;

• pertanyaan;

• jawaban.

LANGKAH 3 — BERTANYA

Ajukan pertanyaan tentang: isi + konteks + tujuan.

LANGKAH 4 — TELITI KONTEKS

Cari:

• latar sejarah;

• budaya;

• konteks kitab;

• konteks langsung;

• bentuk sastra.

LANGKAH 5 — BANDINGKAN

Gunakan:

• terjemahan lain;

• ayat paralel;

• konkordansi;

• kamus;

• sumber penelitian yang relevan.

LANGKAH 6 — TENTUKAN MAKNA

Barulah kita merumuskan: “Apa yang sebenarnya dimaksudkan teks?”

LANGKAH 7 — TERAPKAN

Setelah memahami makna asli: “Apa prinsip yang harus saya hidupi?”

SATU CONTOH SEDERHANA

Misalnya kita membaca: “Aku sanggup menanggung segala sesuatu di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Jangan langsung menjadikan ayat itu slogan: “Saya pasti bisa melakukan apa saja!”

Kita perlu bertanya: Apa konteksnya?

Apa yang sedang dibicarakan Paulus? Apa arti “segala sesuatu” dalam bagian tersebut? Apa hubungan ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya?

Baru kemudian kita membuat aplikasi.

Dengan demikian, aplikasi kita lahir dari makna teks, bukan dari apa yang ingin kita katakan kepada teks.

BAHAYA TERBESAR DALAM MENAFSIRKAN ALKITAB

Ada satu kebiasaan yang sangat berbahaya: Membaca pendapat kita ke dalam Alkitab.

Kita datang kepada teks dengan kesimpulan yang sudah jadi. Lalu mencari ayat untuk mendukungnya.

Pendekatan yang benar bergerak sebaliknya:

Datang kepada teks → dengarkan teks → pahami teks → baru tarik kesimpulan.

Ini membutuhkan kerendahan hati.

Kadang setelah mempelajari sebuah ayat dengan lebih teliti, kita justru menemukan bahwa pemahaman kita sebelumnya perlu diperbaiki.

Dan itu bukan kegagalan. Itulah salah satu tujuan belajar Alkitab.

LATIHAN MINGGU INI

Mari kita praktikkan metode pelajaran ini. Ambil Lukas 19:1–10 — Zakheus.

Jangan langsung membaca komentar. Gunakan lembar berikut:

A. OBSERVASI

Siapa saja tokohnya?

Di mana mereka berada?

Apa yang terjadi?

Apa yang dilakukan Zakheus?

Apa yang dilakukan Yesus?

B. KONTEKS

Apa yang terjadi sebelum kisah ini?

Apa yang terjadi sesudahnya?

Apa yang sedang terjadi dalam perjalanan pelayanan Yesus?

C. LATAR BELAKANG

Apa arti menjadi pemungut cukai pada zaman itu?

Apa arti Yerikho?

Bagaimana masyarakat memandang orang seperti Zakheus?

D. PERTANYAAN

Tuliskan minimal lima pertanyaan kepada teks.

E. MAKNA

Apa sebenarnya yang ingin disampaikan Lukas melalui kisah ini?

F. APLIKASI

Lengkapi kalimat: “Kisah Zakheus menunjukkan kepada saya bahwa…”

Kemudian: “Karena itu minggu ini saya akan…”

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Mengapa konteks sangat penting dalam memahami Alkitab?
  2. Apa bahayanya mengambil satu ayat tanpa membaca konteksnya?
  3. Mengapa kita perlu membedakan antara apa yang dikatakan teks dan apa yang ingin kita katakan tentang teks?
  4. Apa manfaat mempelajari latar sejarah dan budaya Alkitab?
  5. Mengapa pertanyaan yang baik dapat memperdalam studi Alkitab?
  6. Apa manfaat menggunakan beberapa terjemahan?
  7. Kapan sebuah komentar Alkitab dapat membantu kita?
  8. Bagaimana kita dapat memastikan bahwa alat bantu tidak menggantikan Alkitab?
  9. Apa perbedaan antara eksegesis dan sekadar membaca ayat lalu membuat aplikasi?
  10. Pernahkah kita menemukan bahwa pemahaman kita terhadap sebuah ayat berubah setelah membaca konteksnya?

RENUNGAN PRIBADI

Ada sebuah kebiasaan yang perlu kita bangun: Jangan terburu-buru berkata, “Alkitab mengatakan…”

Sebelum mengatakan itu, berhentilah sejenak. Tanyakan: “Apakah Alkitab benar-benar mengatakan demikian?”

Lalu baca.

Baca konteksnya.

Baca paragrafnya.

Baca kitabnya.

Perhatikan siapa yang berbicara.

Perhatikan kepada siapa.

Perhatikan mengapa.

Perhatikan bentuk tulisannya.

Baru kemudian kita berkata:

“Sekarang saya mulai memahami apa yang dimaksudkan Firman Tuhan.”

Pelajaran ini sedang mempersiapkan kita untuk pelajaran-pelajaran berikutnya. Kita tidak hanya akan belajar apa isi Alkitab, tetapi juga berbagai metode untuk menggali Alkitab dengan lebih mendalam.

Struktur pelajaran berikutnya akan masuk lebih jauh ke dalam hubungan antara studi, doa, dan meditasi.

RINGKASAN PELAJARAN 3

BACA: Jangan langsung mengambil kesimpulan.

PAHAMI: Cari tahu apa yang sebenarnya dikatakan teks.

TELITI KONTEKS: Perhatikan sejarah, budaya, kitab, paragraf, dan situasi.

BERTANYA: Ajukan pertanyaan yang membantu teks berbicara.

BANDINGKAN: Gunakan Alkitab dan alat bantu secara bijaksana.

TAFSIRKAN: Temukan makna teks dalam konteksnya.

TERAPKAN: Baru bawa prinsip tersebut ke dalam kehidupan.

Tujuan kita bukan membuat Alkitab mengatakan apa yang kita inginkan. Tujuan kita adalah mendengar dengan benar apa yang dikatakan Alkitab, kemudian membiarkan kebenaran itu berbicara kepada kehidupan kita.

Itulah inti “rightly dividing the word of truth”—menyampaikan dan memahami Firman kebenaran dengan tepat.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *