Ayat Alkitab: Mazmur 119:1–18; Matius 4:1–11; 7:24–27; 28:19–20; 1 Korintus 8.

Ayat utama: “Hujan turun dan banjir datang, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”— Matius 7:25

Pokok utama:

Belajar Alkitab bukan sekadar untuk memperoleh pengetahuan. Tujuannya adalah menemukan kehendak Allah, bertumbuh dalam kasih karunia, memiliki dasar iman yang kuat, membedakan kebenaran dari kesalahan, dan menerapkan Firman Allah dalam kehidupan sehari-hari.

1. PEMBUKAAN — MENGAPA KITA BELAJAR ALKITAB?

Ada perbedaan besar antara memiliki Alkitab dan hidup berdasarkan Alkitab.

Seseorang dapat memiliki banyak Alkitab, mendengarkan khotbah setiap minggu, mengikuti kelas Alkitab, bahkan mengetahui banyak ayat—tetapi kehidupannya belum tentu berubah.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya: “Berapa banyak yang saya tahu tentang Alkitab?”

Tetapi: “Apa yang Firman Tuhan lakukan dalam hidup saya?”

Pelajaran ini dimulai dari satu kenyataan penting: ketika kita datang kepada Alkitab, kita datang dengan masalah, pergumulan rohani, kebutuhan emosional, dan pertanyaan pribadi.

Karena itu, kita perlu belajar bagaimana mendengar apa yang Tuhan sedang katakan melalui Firman-Nya. Sumber menekankan bahwa doa memohon penerangan ilahi merupakan langkah pertama dalam proses tersebut.

Jadi, belajar Alkitab memiliki dua gerakan besar:

Memahami → Menerapkan

Kita perlu mengetahui apa yang dikatakan teks. Tetapi kita belum selesai sampai kebenaran itu masuk ke dalam kehidupan.

2. MEMBANGUN DASAR YANG KUAT

Matius 7:24–27; Roma 2:13

Yesus memberikan gambaran yang sangat sederhana. Ada dua orang yang membangun rumah. Keduanya membangun.

Keduanya mungkin terlihat memiliki rumah yang baik. Tetapi ketika badai datang, perbedaannya terlihat.

Yang satu membangun di atas batu. Yang lain membangun di atas pasir. Perbedaannya bukan pada mendengar. Keduanya mendengar.

Perbedaannya adalah apa yang mereka lakukan setelah mendengar.

Yesus berkata bahwa orang yang mendengar perkataan-Nya dan melakukannya adalah orang bijaksana.

Ini sangat penting bagi pembelajaran Alkitab. Kita bisa:

• membaca tanpa melakukan;

• mengetahui tanpa berubah;

• mendengar tanpa menaati;

• menghafal ayat tanpa membiarkan ayat itu mengubah sikap.

Karena itu, pengetahuan Alkitab harus bergerak menuju kehidupan.

Firman harus masuk ke dalam keputusan.

Misalnya kita membaca: “Janganlah kuatir tentang hari besok.”

Pertanyaan pertama: Apa yang dikatakan teks? Tetapi jangan berhenti di sana.

Pertanyaan berikutnya: Apa yang harus berubah dalam cara saya menghadapi kekhawatiran?

Di sinilah belajar Alkitab menjadi kehidupan.

Perumpamaan tentang empat jenis tanah

Matius 13 memperlihatkan bahwa orang dapat mendengar Firman dengan cara yang berbeda. Ada benih yang jatuh:

• di pinggir jalan;

• di tanah berbatu;

• di tengah semak duri;

• di tanah yang baik.

Masalahnya bukan pada benih. Benihnya sama. Yang berbeda adalah tanah tempat benih itu jatuh.

Kita hubungkan hal ini dengan kenyataan bahwa masalah hidup, kemalasan rohani, kurangnya komitmen, dan pengaruh dunia dapat “mencekik” benih Firman sehingga tidak menghasilkan pertumbuhan.

Pertanyaan penting: Ketika saya membaca Alkitab, tanah seperti apa hati saya?

Apakah saya datang untuk: mencari pembenaran bagi pendapat saya? Atau: membiarkan Tuhan mengoreksi saya?

Ini menentukan hasil belajar Alkitab kita.

3. BELAJAR SECARA SISTEMATIS

Kisah Para Rasul 17:10–14

Di Berea terdapat sekelompok orang yang mendapat perhatian khusus. Ketika mendengar pengajaran Paulus dan Silas, mereka tidak sekadar menerima atau menolaknya secara spontan.

Mereka memeriksa Kitab Suci setiap hari untuk melihat apakah yang disampaikan itu benar.

Inilah salah satu prinsip penting:

Jangan hanya menerima apa yang dikatakan orang tentang Alkitab. Pelajarilah Alkitab itu sendiri.

Ini tidak berarti kita tidak membutuhkan guru, pendeta, buku, atau komentar Alkitab. Tetapi semuanya harus membawa kita kembali kepada teks.

Jangan belajar Alkitab secara acak

Ada lima langkah dasar:

  1. Observasi

Apa yang saya lihat dalam teks? Perhatikan:

• siapa yang berbicara;

• kepada siapa;

• apa yang terjadi;

• kata-kata yang diulang;

• perintah;

• janji;

• alasan;

• hubungan antarkalimat.

  1. Bertanya

Pertanyaan apa yang muncul dari teks?

Jangan takut bertanya. Pertanyaan yang baik sering membuka pintu kepada pemahaman yang lebih dalam.

  1. Interpretasi

Apa sebenarnya arti teks ini?

Jangan langsung memasukkan pengalaman pribadi ke dalam teks. Cari terlebih dahulu maksud teks.

  1. Cross-reference

Apa yang dikatakan bagian Alkitab lainnya?

Bandingkan Kitab Suci dengan Kitab Suci. Prinsipnya bahwa Alkitab dapat menjadi penafsir bagi Alkitab itu sendiri.

  1. Aplikasi

Apa yang harus saya lakukan dengan kebenaran ini? Di sinilah studi berubah menjadi kehidupan.

Jadi agar mudah diingat, polanya seperti ini:

LIHAT → TANYA → PAHAMI → BANDINGKAN → LAKUKAN

Ini jauh lebih kuat daripada hanya membaca satu pasal lalu segera pindah ke pasal berikutnya.

4. MENDENGAR UNTUK MEMAHAMI

Matius 22:23–33

Yesus berhadapan dengan pertanyaan yang sengaja dibuat untuk menjebak-Nya.

Dalam situasi tersebut Yesus menunjukkan pentingnya memahami Kitab Suci dengan benar. Sumber menggunakan kisah ini untuk menekankan bahwa penguasaan terhadap Kitab Suci membantu orang menghadapi kesalahan dan pengajaran yang keliru.

Ini memberikan satu prinsip:

Kita tidak dapat membedakan kesalahan dengan baik apabila kita tidak mengenal kebenaran dengan baik.

Seperti seorang profesional harus memahami bidangnya, seorang Kristen juga perlu mengenal sumber iman dan kehidupannya.

Sumber bahkan membandingkan hal ini dengan seseorang yang bekerja dalam bidang profesional tertentu: ia harus memahami istilah, proses, hukum, dan prinsip bidang tersebut. Demikian juga orang Kristen perlu serius mempelajari Firman.

Mengapa kita sering tidak punya waktu belajar Alkitab?

Ini pertanyaan yang sangat praktis. Sering kali masalahnya bukan: “Saya tidak punya waktu.”

Tetapi: “Saya belum memberikan prioritas yang cukup.”

Jadi kita perlu mengevaluasi jadwal dan menentukan kapan waktu terbaik untuk pribadi bersama Firman.

Jadi kita perlu bertanya: Kapan saya paling siap berpikir? Bukan sekadar: Kapan saya punya waktu kosong?

Belajar Alkitab membutuhkan perhatian.

5. BELAJAR UNTUK MENGUBAH KEHIDUPAN

Matius 28:18–20

Ini salah satu bagian terpenting dalam pelajaran ini. Kita belajar Alkitab bukan hanya supaya kita tahu lebih banyak.

Tujuan akhirnya adalah kehidupan yang berubah.

Tujuan akhir pembelajaran pribadi adalah penerapan prinsip-prinsip Alkitab dalam kehidupan sehari-hari. Firman membentuk karakter dan menolong kita mengikuti teladan kasih dan anugerah Kristus.

Bahaya belajar Alkitab dengan motivasi yang salah

Ada beberapa jebakan.

  1. Belajar untuk membuktikan bahwa saya benar

Kita mencari ayat untuk mendukung posisi kita. Bukan mencari apa yang sebenarnya dikatakan Tuhan.

  1. Belajar untuk mengoreksi orang lain

Alkitab berubah menjadi “senjata”. Kita menemukan kesalahan orang lain, tetapi tidak melihat kehidupan sendiri.

  1. Belajar untuk terlihat pintar

Kita mengumpulkan pengetahuan supaya dikagumi.

  1. Belajar hanya untuk membuat teori

Kita mampu menyusun doktrin, tetapi tidak mengalami perubahan karakter.

Alkitab tidak seharusnya digunakan sebagai alat untuk mengesankan orang lain atau sekadar sebagai alat menyusun proposisi teologis. Kita belajar untuk memperoleh arah dan tujuan dari Allah.

PENGETAHUAN HARUS MENJADI PERUBAHAN

Bayangkan seseorang membaca: “Kasihilah musuhmu.” Ia dapat menjelaskan arti kata “kasih”. Ia dapat menjelaskan konteks sejarahnya.

Ia dapat memberikan khotbah selama satu jam. Tetapi jika ia tetap membenci orang yang menyakitinya, maka ada jarak antara:

memahami Firman dan hidup berdasarkan Firman.

Karena itu setelah belajar, kita harus bertanya:

• Apa yang harus saya ubah?

• Apa yang harus saya mulai lakukan?

• Apa yang harus saya hentikan?

• Siapa yang perlu saya layani?

Sumber memberikan pertanyaan-pertanyaan reflektif semacam ini ketika membahas penerapan Firman dan Amanat Agung.

6. PERLINDUNGAN TERHADAP KEPALSUAN

Matius 25:1–13

Perumpamaan sepuluh gadis menekankan persiapan. Ada yang bijaksana dan ada yang bodoh. Semuanya memiliki pelita. Namun tidak semuanya memiliki persediaan minyak yang cukup.

Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar memiliki pelita, tetapi memiliki kesiapan.

Perumpamaan ini berhubungan dengan kesetiaan, kebijaksanaan, dan kebutuhan akan persiapan menjelang kedatangan Kristus.

Mengapa ini berhubungan dengan belajar Alkitab?

Karena kehidupan rohani tidak dapat dibangun hanya dari persiapan sesaat. Kita tidak dapat menunggu krisis baru kemudian mulai mengenal Firman.

Kita tidak dapat menunggu pencobaan datang baru kemudian belajar bagaimana membedakan kebenaran.

Kita tidak dapat menunggu kebingungan muncul baru kemudian mencari dasar iman.

Karakter dibentuk sebelum badai datang.

Bahkan ayat Alkitab dapat disalahgunakan

Setan dapat mengutip Kitab Suci dan memberikan penafsiran yang salah terhadapnya. Karena itu, orang percaya perlu mempelajari Alkitab dengan kerendahan hati dan ketergantungan kepada Allah.

Ini membawa kita kembali kepada prinsip yang sudah kita pelajari:

Tidak cukup hanya memiliki ayat. Kita harus memahami ayat dengan benar.

7. YESUS DAN FIRMAN TUHAN

Matius 4:1–11

Inilah salah satu contoh paling kuat dalam pelajaran ini. Ketika Yesus dicobai di padang gurun, Ia menggunakan Kitab Suci dalam menghadapi pencobaan.

Kristus bergantung pada Kitab Suci Perjanjian Lama dalam memperoleh kemenangan rohani.

Perhatikan prinsipnya. Yesus tidak menghadapi pencobaan hanya dengan:

• perasaan;

• kekuatan mental;

• pengalaman;

• argumentasi manusia.

Firman Tuhan menjadi dasar Ia menjawab setan.

JADI, APA TUJUAN SEBENARNYA MEMPELAJARI ALKITAB?

Setelah seluruh pelajaran ini, kita dapat melihat beberapa tujuan yang saling berhubungan.

  1. Mengenal kehendak Allah: Kita datang untuk mendengar apa yang Allah nyatakan.
  2. Mengenal kebenaran: Firman menjadi dasar untuk membedakan kebenaran dan kesalahan.
  3. Bertumbuh secara rohani: Firman membentuk kehidupan kita.
  4. Menghadapi pencobaan: Kita memiliki dasar ketika menghadapi tekanan dan godaan.
  5. Mengubah karakter: Pengetahuan harus menghasilkan kehidupan yang semakin menyerupai Kristus.
  6. Menjadi siap melayani: Pemahaman Firman membekali kita untuk melayani orang lain.
  7. Menjalankan Amanat Agung: Belajar bukan berhenti pada diri sendiri. Kebenaran yang kita terima menggerakkan kita untuk membawa orang lain kepada Kristus.

Tujuan belajar Alkitab sebagai dua proses yang tidak dapat dipisahkan:

penemuan yang sistematis terhadap kehendak Allah + penerapan prinsip Alkitab dalam pertumbuhan rohani.

SATU RUMUS UNTUK DIINGAT

Saya kira bagian ini bisa menjadi inti pelajaran kita:

BELAJAR → MEMAHAMI → MENERIMA → MENERAPKAN → BERUBAH → MELAYANI

Bukan: BELAJAR → TAHU → SELESAI

Tetapi: BELAJAR → HIDUP

LATIHAN PRAKTIS MINGGU INI

Ambil satu bagian Alkitab, misalnya Matius 4:1–11. Jangan langsung membaca komentar.

Lakukan lima langkah:

  1. OBSERVASI: Apa yang terjadi?
  2. BERTANYA: Mengapa Yesus menjawab seperti itu?
  3. MEMAHAMI: Apa arti perkataan dan tindakan dalam konteks tersebut?
  4. MEMBANDINGKAN: Di mana lagi Alkitab berbicara mengenai prinsip yang sama?
  5. MENERAPKAN: Apa yang harus saya lakukan ketika menghadapi pencobaan?

Kemudian tuliskan satu kalimat: “Firman ini menunjukkan kepada saya bahwa…”

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Apa perbedaan antara mengetahui Alkitab dan hidup berdasarkan Alkitab?
  2. Mengapa seseorang dapat membaca Alkitab tetapi tidak mengalami perubahan?
  3. Dari lima langkah—observasi, bertanya, interpretasi, cross-reference, aplikasi—mana yang paling sering kita abaikan?
  4. Mengapa belajar Alkitab harus dilakukan secara sistematis?
  5. Bagaimana kita dapat menghindari menggunakan Alkitab hanya untuk membuktikan bahwa pendapat kita benar?
  6. Apa yang dapat kita pelajari dari cara Yesus menggunakan Kitab Suci ketika dicobai?
  7. Apakah tujuan utama belajar Alkitab dalam kehidupan kita lebih terlihat pada apa yang kita ketahui atau bagaimana kita hidup? Jelaskan.

RENUNGAN PRIBADI

Mungkin pertanyaan terbesar pelajaran ini bukan: “Apakah saya sudah membaca Alkitab hari ini?”

Tetapi: “Apakah saya membiarkan Alkitab membaca kehidupan saya?”

Karena ketika kita membuka Firman, kita bukan hanya mencari informasi tentang Tuhan. Kita sedang memberi kesempatan kepada Tuhan untuk menunjukkan:

• siapa kita;

• apa yang perlu berubah;

• ke mana kita harus berjalan;

• bagaimana kita harus memperlakukan orang lain;

• dan bagaimana kita dapat hidup bagi-Nya.

Firman yang hanya masuk ke kepala belum menyelesaikan pekerjaannya.

Firman harus turun ke hati. Lalu terlihat dalam kehidupan.

DOA

Tuhan, ajarlah kami bukan hanya membaca Firman-Mu, tetapi memahaminya dengan benar. Berikan kami hati yang terbuka untuk menerima teguran, kerendahan hati untuk dikoreksi, dan keberanian untuk melakukan apa yang Engkau tunjukkan. Biarlah Firman-Mu membentuk karakter kami, menjaga kami dalam pencobaan, dan menjadikan kami alat untuk melayani orang lain. Amin.

Inti Pelajaran 2:

Kita tidak belajar Alkitab hanya untuk mengetahui lebih banyak tentang Tuhan. Kita belajar supaya mengenal kehendak-Nya, hidup dalam kebenaran-Nya, diubahkan oleh Firman-Nya, dan menjalankan panggilan-Nya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *