
“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah…” Mazmur 46:2–3
Pada tanggal 26 Agustus 2026, sebuah bencana dahsyat terjadi di wilayah Himalaya, di perbatasan Nepal dan Tibet.
Tidak ada hujan. Siang hari. Cuaca sedang baik. Cerah. Tiba-tiba dari ketinggian pegunungan, meluncur air bah dengan kecepatan tinggi dan tekanan yang besar..
Itu terjadi dipicu oleh gagalnya lereng gunung menahan material, yang melibatkan gletser memicu longsoran es dan batu yang kemudian berubah menjadi aliran material dan banjir besar.
Air, lumpur, batu, dan puing-puing bergerak dengan kekuatan yang luar biasa, menghantam permukiman dan infrastruktur di sepanjang aliran sungai.
Jalan-jalan terputus. Jembatan hanyut. Rumah-rumah hancur. Banyak orang anggota keluarga mereka.
Dan sampai hari ini, pencarian dan penyelamatan masih berlangsung. Ribuan orang dilaporkan belum ditemukan.
Melihat berita seperti ini, kita mungkin hanya bisa tertunduk dan terdiam. Karena peristiwa tersebut datangdengan tiba-tiba dan orang-orang tidak siap mengantisipasinya.
Karena itu bencana Nepal kembali mengingatkan kita pada satu kenyataan yang sering kita lupakan:
Kita tidak dapat mengendalikan hidup kita sepenuhnya. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi beberapa menit kedepan.
Kita mungkin sering melihat, pagi hari seseorang masih menjalani kehidupan seperti biasa.
Mereka bekerja. Mereka masih berkumpul dengan keluarga. Mereka membuat rencana. Mereka sedang memikirkan apa yang akan dilakukan besok.
Lalu sesuatu terjadi. Tiba-tiba. Dalam hitungan menit, semuanya berubah.
Hal seperti ini yang sering mengguncang hidup kita. Ini bukan sekedar soal bencananya. Tetapi kesiapan kita dalam mengantisipasinya.
Kita sering hidup seolah-olah hari esok sudah pasti aman. Padahal tidak.
Kita boleh saja merencanakan masa depan dengan baik, tetapi kita tidak bisa mengendalikan masa depan itu.
Boleh saja kita membangun rumah yang kuat, tetapi kita tidak dapat menjamin itu akan berdiri kokoh.
Boleh saja kita menyimpan uang untuk masa depan, tetapi kita tidak dapat membeli kepastian hidup hari esok.
Boleh saja kita menjaga kesehatan, tetapi kita tidak dapat mengetahui semua yang akan terjadi.
Karena itu, bencana bukan hanya berita tentang orang lain. Itu juga pengingat bagi kita bahwa hidup kita sangat rapuh.
Ketika alam memberikan peringatan
Peristiwa Nepal juga membuat kita berpikir kembali tentang hubungan alam dengan manusia.
Pegunungan Himalaya selama ribuan tahun telah menjadi simbol kekuatan dan keagungan alam. Banyak orang mengagumi dan mendakinya.
Namun dunia terus mengalami perubahan dari tahun ke tahun.
Para ilmuwan telah lama memperingatkan tentang perubahan lingkungan dan pemanasan global yang memengaruhi gletser serta kondisi pegunungan tinggi.
Dalam kasus Nepal, perubahan iklim boleh jadi salah satu penyebab terjadinya bencana ini.
Memang faktanya, pemanasan dan perubahan es memang telah berlangsung dan itu menjadi bagian penting dari risiko yang sedang diteliti.
Ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak.
Kita sering berpikir bahwa kita dapat melakukan apa saja terhadap alam tanpa resiko apa pun.
Laku Kita mengambil, menebang, mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Kita lupa, bumi punya batas. Alam mempunyai sistem hukum sendiri..
Akibatnya keseimbangan terganggu, maka manusia juga ikut merasakan akibatnya.
Alkitab berkata: “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya.” Mazmur 24:1
Bumi bukan milik manusia. Bumi ini milikm Tuhan. Kita hanya pengelola. Tetapi manusia yang serakah diperlakukan sesuka hati. Akibatnya bumi ini rusak..
Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar isu politik atau isu ilmiah. Itu juga persoalan penatalayanan.
Kita harus memperlakukan bumi ini dengan baik, karena kita hanya penayalayanan milik Allah.
Ada hal yang lebih besar dari sekedar bencana, yaitu “Apa yang Tuhan sedang ajarkan kepada kita melalui benacana ini?
Yesus pernah berbicara tentang dunia yang akan semakin penuh dengan pergumulan. Dalam Matius 24, Dia menyebut peperangan, kelaparan, gempa bumi dan berbagai kesusahan.
Namun tanda-tanda itu bukan untuk membuat kita takut. Justru semakin sadar dan bersedia menjeang akhir dunia ini.
Yesus berkata: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu.”
Ini menarik. Ketika dunia berguncang, Yesus tidak berkata: “Paniklah.” Dia berkata: “Waspadalah.”
Artinya, semakin tidak pasti keadaan dunia ini, semakin kita perlu memastikan kepada siapa kita menaruh kepercayaan.
Akhir zaman bukan alasan untuk panik
Kita hidup di zaman ketika berita tentang bencana dapat sampai kepada kita dalam hitungan detik.
Kita melihat dunia seperti sedang mengalami begitu banyak krisis sekaligus. Lalu muncul pertanyaan: “Apakah ini tanda bahwa akhir zaman sudah dekat?”
Alkitab memang mengajarkan bahwa dunia ini memiliki sebuah akhir, dan kedatangan Yesuslah yang mengakhirinya.
Sementara kita menantikan hari yang hikmat itu, kita tidak boleh lengah dan bermain-main.
Kita harus bersedia, bukan spekulasi dan membuat rumor akhir zaman atau teori konspirasi.
Kita harus hidup dalam kesetiaan, bukan mencari tanggal kedatangan Yesus. Kita perlu mencari Tuan, bukan kesenangan duniawi.
Bencana tidak memberi kita hak untuk menghakimi
Ketika tragedi terjadi, manusia sering mencari kambing hitam untuk dipersalahkan. Kadang kita tergoda mengatakan: “Mungkin mereka mengalami ini karena dosa mereka.”
Tetapi harus hati-hati agar tidak cepat menghakimi.
Yesus sendiri menolak cara berpikir bahwa orang yang mengalami tragedi pasti lebih berdosa daripada orang lain.
Dalam Lukas 13, Yesus menggunakan tragedi yang terjadi pada manusia untuk mengarahkan pendengar-Nya kepada pertobatan, bukan untuk menghakimi korban.
Jadi ketika kita melihat Nepal, respons kita bukan: “Mengapa mereka?”
Tetapi: “Tuhan, bagaimana dengan saya?”
Apakah saya sudah hidup dekat dengan-Mu? Apakah saya masih menunda pertobatan?
Apakah saya masih menganggap hidup ini seolah-olah tidak akan pernah berakhir?
Apakah saya sudah menggunakan waktu yang Tuhan berikan dengan baik?
Karena kita semua sebenarnya sedang hidup di dunia yang rapuh.
Hanya saja kita belum tahu kapan guncangan berikutnya datang kepada kita.
Ketika dunia berguncang, apa yang tetap?
Mazmur 46 memberikan jawaban yang sangat indah. “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan.”
Perhatikan bahwa pemazmur tidak berkata: “Bumi tidak akan berubah.” Ia berkata: “Sekalipun bumi berubah…”
Artinya ada kemungkinan bumi berubah, gunung bergeser, air mengamuk menenggelamkan dan menghancurkan. Api mengamuk dan melalap segala sesuatu..
Walau bumi berubah, tetapi ada yang tidak berubah: Yesus. Dialah pengharapan kita.
Hidup memang tidak selalu mudah dijalani. Orang percaya bisa saja mengalami bencana. Penderitaan.
Tetapi kita punya penolong yang setia. Dia tempat perlindungan pada waktu susah.
Apakah hidup Anda sedang berguncang saat ini?
Mungkin tidak ada gempa di rumah Anda. Tidak ada banjir di halaman Anda. Tetapi hati Anda sedang berguncang.
Pernikahan Anda sedang bermasalah. Anak Anda sedang membuat ulah. Pekerjaan Anda tidak pasti. Keuangan Anda sedang sulit. Usaha sedang morat-marit..
Kesehatan seorang keluarga membuat Anda takut. Masa depan terasa kabur. Anda mungkin sedang bertanya: “Tuhan, apa yang akan terjadi selanjutnya?”
Dan kita tidak tahu jawabannya. Tetapi ada satu hal yang dapat kita pegang.
Kita tidak harus mengetahui seluruh masa depan untuk mempercayai Tuhan yang mengetahui seluruh masa depan.
Itulah iman.
Intinya, dunia dapat berubah. Namun Tuhan tidak berubah.
Karena itu jangan taruh seluruh rasa aman kita pada sesuatu yang dapat berubah. Jangan menggantungkan hidup hanya pada uang.
Jangan menggantungkan masa depan hanya pada pekerjaan. Jangan menggantungkan keamanan hanya pada rumah.
Jangan menggantungkan pengharapan hanya pada keadaan dunia. Semua itu dapat berubah. Tetapi Kristus tetap.
Pengharapan kita adalah Yesus.
Dia yang berkata bahwa Dia akan datang kembali. Dia yang menjanjikan dunia baru. Dia yang akan menghapus air mata.
Dia yang akan mengakhiri kematian. Dia yang akan membuat segala sesuatu baru. Karena itu, ketika kita melihat tanah berguncang, jangan hanya bertanya:
“Kapan dunia ini akan berakhir?” Tanyakan juga: “Apakah saya sudah siap bertemu dengan Kristus?”
Dan ketika melihat orang lain menderita, jangan hanya melihat bencana itu. Doakan mereka. Pedulilah kepada mereka.
Tolonglah jika kita mampu. Dan jagalah bumi yang Tuhan percayakan kepada kita.
Sebab selama kita masih berada di dunia ini, kita dipanggil untuk hidup dengan iman, kasih, tanggung jawab, dan pengharapan.
Dan ketika segala sesuatu di sekitar kita berguncang, peganglah satu kebenaran ini:
“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan.”
Tanah boleh berguncang. Dunia boleh berubah. Tetapi Tuhan tetap memegang kendali..















