
Renungan Alkitab menyambut perayaan kemerdekaan Indonesia
Kemerdekaan sejati menurut Alkitab bukan hanya kebebasan dari penjajahan atau tekanan manusia, tetapi kebebasan dari perbudakan dosa. Yesus berkata dalam Yohanes 8:36, “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” Karena itu, kemerdekaan sejati terlihat ketika seseorang dibebaskan dari keserakahan, ketidakjujuran, kebencian, dan dosa untuk hidup dalam kasih dan kebenaran.
“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” — Yohanes 8:36
HARI ini tangal 17 Agustus, kita kembali merayakan hari kemerdekaan kita yang ke 81 tahun.
Kita akan mendengar lagu kebangsaan di nyanyikan dimana-mana. Kita akan melihat berbagai perlombaan dilakukan dengan gembira..
Kita mengenang para pahlawan yang telah berjuang agar bangsa ini terbebas dari penjajahan bangsa asing.
Sudah 81 tahun Indonesia merdeka. Usia kemerdekaan yang tidak lagi muda. Dan ada sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu pikiran kita, yaitu..
Benarkah kita telah merdeka atau bebas?
Dari penjajahan asing kita memang sudah bebas. Tetapi ternyata masih ada banyak bentuk penjajahan lainnya yang kita alami dinegeri ini..
Kita belum sepenuhnya bebas dari korupsi. Lihat saja, bagaimana berita-berita korupsi memenuhi media kita.
Kita belum bebas dari keserakahan sebagian pejabat yang menggunakan jabatan bukan untuk melayani, tetapi untuk memperkaya dirinya dan kroni-kroninya.
Kita belum bebas dari ketidakjujuran. Kebohongan terus dipertontonkan kepada rakyat.
Kita belum bebas dari ketidakadilan. Hukum sering tumpul keatas dan tajam kebawah.
Kita juga belum bebas dari praktik yang membuat orang kecil semakin sulit, sementara mereka yang berkuasa semakin mudah mendapatkan keuntungan.
Tetapi jangan terlalu cepat menunjuk orang lain dan fokus kepada kelakuan sebagaian pejabat..
Karena persoalan kita bukan hanya tentang pejabat. Sebab kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri: dari apa saya belum merdeka?
Sebab walau pun mungkin kita tidak pernah mengambil uang negara. Tetapi apakah kita sudah bebas dari keserakahan?
Mungkin kita tidak pernah menerima suap. Tetapi apakah kita selalu jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat kita?
Mungkin kita tidak memiliki jabatan besar. Tetapi apakah kita tidak pernah menggunakan posisi kita untuk kepentingan diri sendiri?
Mungkin kita tidak melakukan korupsi dalam jumlah besar. Tetapi apakah kita pernah mengambil sesuatu yang bukan hak kita, memanipulasi laporan, berbohong dalam pekerjaan, atau mencari keuntungan dengan mengorbankan hak orang lain?
Penjajahan bukan dengan senjata
Penjajahan sering datang dalam bentuk keinginan daging, dimana kita tidak pernah merasa cukup.
Keserakahan berkata, “Saya masih kurang.”
Kesombongan berkata, “Saya harus lebih tinggi daripada orang lain.”
Kebencian berkata, “Saya tidak akan pernah memaafkan.”
Dosa berkata, “Tidak apa-apa. Semua orang juga melakukannya.”
Dan tanpa kita sadari, kita hidup di negara yang merdeka tetapi hati kita masih diperbudak oleh semua hal diatas.
Yesus mengatakan: “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” (Yohanes 8:36)
Perhatikan kata “benar-benar.”
Disini Yesus datang untuk membebaskan kita dari belenggu yang paling dalam, yaitu dosa. Sebab karena dosa kitalah yang membuat kita terjajah..
Dosa yang memperbudak pikiran manusia menyebabkan kita terjajah oleh banyak perbuatan yang jahat.
Kita bisa mengganti pemerintahan, tetapi tidak bisa mengganti hati manusia yang serakah.
Kita bisa membangun gedung-gedung megah, tetapi belum tentu membangun karakter yang kuat.
Kita bisa memiliki kebebasan berbicara, tetapi belum tentu bebas dari kebencian.
Kita bisa memiliki kebebasan memilih, tetapi belum tentu bebas dari keinginan yang menguasai kita.
Kita bisa tinggal di negara yang merdeka, tetapi masih menjadi budak uang.
Budak gengsi. Budak kekuasaan. Budak nafsu. Budak amarah. Budak masa lalu.
Dan yang paling berbahaya, kita bisa menjadi budak dosa sambil merasa diri kita bebas.
Karena itu, kemerdekaan sejati tidak dimulai dari perubahan yang ada di luar diri kita.
Kemerdekaan sejati dimulai ketika Kristus mengubah hati kita.
Karena itu, Indonesia membutuhkan pejabat yang bebas dari keserakahan. Kemunafikan.
Kita membutuhkan orang-orang yang bebas dari korupsi. Tamak akan uang.
Gereja membutuhkan umat yang bebas dari kepahitan, iri hati, kesombongan, dan fanatisme.
Keluarga membutuhkan orang-orang yang bebas dari egoisme.
Dan dunia membutuhkan manusia yang telah dibebaskan oleh Kristus agar hidup dalam kasih. Hidup seperti Yesus. Berkarakter.
Maka pada hari kemerdekaan ini, jangan hanya bertanya: “Apakah Indonesia sudah merdeka?”
Tanyakan juga: “Apakah saya sudah merdeka?”
Apa saya sudah merdeka dari keserakahan? dari ketidakjujuran? dari kebencian? dari kecanduan? dari keinginan menguasai orang lain?
Merdeka dari dosa yang selama ini kita sembunyikan? Sebab boleh jadi masalah terbesar kita bukan masalah kemerdekaan Indonesia..
Karena terlalu banyak orang saat ini, yang merasa sudah merdeka secara politik, tetapi belum merdeka secara rohani.
Hari ini seemntara kita menghormati para pahlawan yang gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa kita..
Marilah kita datang kepada Kristus yang telah memberikan kemerdekaan yang jauh lebih dalam dan lebih penting yaitu merdeka dari budak dosa..
Indonesia telah merdeka dari penjajahan.
Tetapi Kristus telah membebaskan kita dari perbudakan dosa.
Dan ketika Kristus membebaskan seseorang, ia tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia menjadi manusia yang jujur walapun terus digoda untuk berbohong. Tapi memilih jujur.
Tetap melakukan yang benar, sekali pun orang lain berbuat curang. Ia tetap memberi ketika bisa mengambil.
Tetap melayani ketika bisa memanfaatkan. Tetap mengasihi ketika bisa membenci.Itulah manusia merdeka.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Kiranya Indonesia diberkati Tuhan. Keluar dari penjajahan oleh bangsa sendiri.
Dan kiranya kita juga semakin mengalami kemerdekaan yang sejati di dalam Kristus. Kemerdekaan hidup yang sempurna hanya kita dapatkan melalui Dia..
“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.”
Dan mungkin pertanyaan terpenting hari ini bukan: “Sudah berapa tahun Indonesia merdeka?”
Melainkan: “Sudah berapa lama saya hidup dalam kemerdekaan yang diberikan Kristus?”
Apakah saat ini saya masih terjajah oleh dosa yang menguasai hati saya?











