
Bukan Membayar Tuhan, tetapi Mengakui Siapa Pemiliknya
Intro:
Saya tau topik ini sejak lama kurang popular untuk dibicarakan. Kenapa tidak popular? Karena cara melihatnya yang tidak tepat. Penatalayanan dipandang tentang uang. Padahal penatalayanan tentang Tuhan.
Poin utama penatalayanan adalah siapa yang menguasai hati ini? Tuhan atau uang?
Jadi, kalau pun penatalayanan bicara tentang persepuluhan dan persembahan, kita sedang bicara tentang Tuhan, yang menciptakan kita dan menebus kita..
Bayangkan seseorang memberikan Anda sebuah rumah.
Ia berkata: “Tinggallah di sini. Gunakan rumah ini. Rawat rumah ini. Semua kebutuhanmu selama tinggal di sini akan Aku tanggung. Tetapi satu ruangan ini jangan engkau kuasai. Ruangan ini tetap milik-Ku.”
Anda tinggal di rumah itu. Anda menggunakan dapurnya. Tidur di kamarnya. Menikmati halamannya.
Setelah beberapa lama kemudian,kita berkata: “Karena saya sudah tinggal di sini. Saya yang merawat rumah ini. Saya yang membayar listrik. Saya rasa sekarang semuanya milik saya.”
itu sama seperti orang-orang yang menempati lahan negara, setelah bertahun tahun mereka merasa memilikinya, dan ketika negara perlu tanah itu, mereka digusur, mereka tidak mau, merasa memiliki.
Masalahnya adalah kepemilikan. Saudara, bukankah itu yang terjadi dalam kehidupan rohani kita? Allah memberikan kepada kita kehidupan.
Kesehatan. Kemampuan bekerja. Kesempatan/waktu/ketrampilan. Penghasilan. Lalu ketika Tuhan berkata, “Ada bagian yang secara khusus adalah milik-Ku,”
kita bertanya: “Mengapa Tuhan meminta uang saya?”
Mungkin pertanyaannya perlu dibalik. Bukan: “Mengapa Tuhan meminta milik saya?” Tetapi: “Mengapa saya menganggap milik Tuhan sebagai milik saya?”
Sebelum ada persepuluhan sudah ada pemilik
Mari kita kembali jauh sebelum Musa. Sebelum Israel. Sebelum hukum Sinai. Bahkan sebelum Bait Suci. Kita bertemu Abraham.
- Abraham dan Melkisedek: Kejadian 14:18–20
Abraham baru saja mengalahkan Kedarleomer. Dia kembali membawa pulang Lot dan semua harta Sodom yang dirampas.
Kemudian Melkisedek datang. Dia disebut sebagai Imam Allah. Dia memberkati Abraham. Dan Abraham memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya.
Perhatikan sesuatu. Tidak ada Musa. Belum ada hukum Sinai. Belum ada bangsa Israel sebagai sebuah bangsa. Tetapi sudah ada prinsip:
Allah adalah sumber berkat, dan manusia mengakui-Nya melalui persepuluhan.
Abraham tidak memberikan persepuluhan supaya menjadi kaya. Ia memberikan karena ia sudah mengalami pemeliharaan Allah ketika menyelamatkan Lot dari tangan musuh..
Yakub: Persepuluhan sebagai janji
Kemudian kita bertemu Yakub. Kejadian 28:20–22. Yakub sedang dalam pelarian. Dia takut kepada saudara kembarnya Esau. Sebab dia telah menipunya. Mengambil hak kesulungan.
Ia sedang melarikan diri. Tidak punya kepastian masa depan. Tidak tahu apa yang akan terjadi. Di Betel, Allah memberikan janji kepadanya.
“Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.” Kej 28:15.
Dan Yakub berkata: “Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.” (22)
Perhatikan lagi. Persepuluhan muncul dalam konteks hubungan dengan Allah. Bukan transaksi.
Bukan: “Tuhan, saya beri sepuluh persen, maka Tuhan wajib memberi saya lebih banyak.” Itu bukan iman. Itu transaksi.
Persepuluhan adalah pengakuan: “Tuhan, apa yang ada di tanganku berasal dari tangan-Mu.”
Israel: Persepuluhan sebagai milik Allah
Sekarang kita masuk ke hukum Israel.: Imamat 27:30 Ayat ini sangat penting:
“.Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan..adalah milik TUHAN.”
Ayatnya tidak mengatakan: “sebaiknya diberikan kepada Tuhan.” Bukan pula: “kalau mau, berikan kepada Tuhan.”
Tetapi: “Milik TUHAN.” Ini mengubah seluruh cara kita melihat persepuluhan. Ketika seorang Israel membawa persepuluhan…
ia bukan sedang memberikan sebagian miliknya kepada Allah. Ia sedang mengembalikan sesuatu yang memang sudah dinyatakan sebagai milik Allah.
Maleaki: ketika Penatalayan menahan milik raja
Sekarang kita sampai kepada teks yang paling sering digunakan dalam khotbah persepuluhan.. Maleakhi 3:8–10
“Bolehkah manusia menipu Allah?” Kemudian: “Dalam hal apakah kami menipu Engkau?” Jawabannya: “Dalam hal persembahan persepuluhan dan persembahan khusus.”
Mengapa bahasa yang digunakan begitu keras? Karena masalah Israel bukan masalah uang. Masalahnya adalah hubungan dengan Allah tidak baik.
Mereka menjauhkan diri dari Tuhan, sehingga mereka mengabaikan pelayanan Bait Suci. Sehingga para imam dan orang lewi, meninggalkan pelayanan mereka untuk bekerja mencari nafkah..
Sehingga Tuhan memanggil mereka, agar kembali kepada Tuhan. Tuhan menyebut mereka menipu, karena cara mereka menggunakan harta seperti pemilik bukan penatalayanan..
Hati-hati dengan logika yang salah
“Kalau saya setia mengembalikan persepuluhan, Tuhan pasti membuat saya kaya.” Itu bukan janji Tuhan. Persepuluhan bukan mesin investasi rohani.
“Saya memberi Rp1 juta supaya Tuhan mengembalikan Rp10 juta.” Itu bukan penyembahan. Itu perjudian yang dibungkus bahasa agama.
Maleakhi 3 tidak boleh dipakai untuk menjual janji: “Beri kepada Tuhan dan Anda pasti kaya.” Alkitab justru mengajarkan: Tuhan adalah Pemilik. Kita adalah penatalayan.
Yesus dan persepuluhan
Selanjutnya, apakah Yesus menghapus prinsip persepuluhan? Mari kita lihat. Matius 23:23 Yesus berkata kepada orang Farisi:
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”
Yesus sedang menegur mereka karena sangat teliti dalam persepuluhan… tetapi mengabaikan: keadilan, belas kasihan, kesetiaan.
Yesus tidak berkata: “Persepuluhan tidak penting.” Ia justru menunjukkan bahwa persepuluhan tanpa hati yang benar juga tidak cukup.
Seseorang bisa sangat teliti memberikan sepersepuluh…tetapi tetap: sombong, tidak adil, tidak mengasihi, tidak peduli kepada orang miskin.
Itulah sebabnya penatalayanan bukan sekadar berapa persen yang kita berikan. Penatalayanan berbicara tentang siapa yang menguasai hati kita.
Salib: Yesus pemberian terbesar
Sekarang kita kembali kepada pusat penatalayanan. Kristus. Apa yang Yesus berikan? Berapa banyak yang Dia berikan kepada kita? Bukan sepuluh persen. Bukan lima puluh persen. Seratus persen.
Roma 8:32 “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua…”
Di Golgota…Yesus tidak menghitung-hitung. Ia tidak berkata: “Aku hanya akan memberikan Sebagian hidupku bagi manusia.” Ia memberikan seluruh diri-Nya.
Maka sekarang pertanyaanya berubah. Bukan lagi: “Berapa banyak yang harus saya berikan kepada Tuhan?”
Tetapi: “Bagaimana mungkin saya tidak bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan seluruh diri-Nya bagi saya?”
Persepuluhan bukan tentang uang
Ini mungkin bagian yang paling penting. Persepuluhan bukan tentang uang, tetapi tentang kepercayaan.
Ketika kita menerima penghasilan Rp100 ribu dan mengembalikan Rp10 ribu sebagai persepuluhan, kita sedang berkata: “Tuhan, saya percaya Engkau adalah sumber hidup saya.”
Ketika penghasilan kita kecil…kita berkata: “Tuhan, saya tetap percaya.” Ketika ekonomi sulit…penghasilan kita tidak menentu, tidak pasti..
kita berkata: “Tuhan, keamanan saya bukan pada angka di rekening.”
Ketika penghasilan besar… kita berkata: “Tuhan, kelimpahan ini tidak mengubah siapa Pemiliknya.”
Kenapa ini penting? Supaya baik, pada masa sulit dan masa kelimpahan, hati kita terus ada pada Tuhan, bukan pada uang..
Siapa yang menguji siapa?
Kita sering berpikir: “Kalau saya mengembalikan persepuluhan, saya sedang menguji apakah Tuhan akan memberkati saya.”
Sebenarnya tidak seperti itu. Persepuluhan sedang menguji kita. Ketika Tuhan memberikan lebih banyak…apakah hati kita tetap menjadi milik-Nya?
Ketika Tuhan memberikan sedikit…apakah kita tetap mempercayai-Nya? Ketika Tuhan meminta bagian-Nya…apakah kita masih berkata: “Semuanya milikku”?
Untuk apa persepuluhan
Dalam konteks Israel, persepuluhan menopang pelayanan suku Lewi. Bilangan 18:21 Dalam Perjanjian Baru, Paulus menjelaskan prinsip yang sama untuk pelayanan Injil.
1 Korintus 9:13–14 “Demikian pula Tuhan telah menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.”
Jadi persepuluhan adalah bagian dari misi penginjilan. Sama seperti pada jaman Israel. Ketika seorang pendeta mengabarkan Injil…
ketika seorang guru Alkitab dapat mengajar…ketika seorang misionaris dapat pergi…ketika pelayanan gereja dapat berjalan…ketika guru mengajar disekolah, ada penatalayanan yang bekerja di belakang layar..
Nasehat bagi sidang, 67
“Sistem khusus persepuluhan didirikan atas suatu prinsip yang tahan lama sebagaimana halnya dengan hukum Allah. Sistem persepuluhan ini menjadi suatu berkat bagi orang Yahudi, … Demikian juga hal itu akan menjadi suatu berkat bagi orang-orang yang melaksanakannya sampai kesudahan.”
Jadi persepuluhan bertahan hingga kedatangan Yesus yang kedua kali.
“Sistem .. persepuluhan …yang diperintahkan kepada orang Ibrani tidak dibatalkan atau dikurangi oleh Dia yang memulainya. .. sistem itu malah harus dilaksanakan lebih banyak dan lebih luas lagi, karena keselamatan melalui Kristus saja harus dimasyhurkan lebih luas pada zaman Kristen”
Ilustrasi penutup
Bayangkan seorang Raja memberikan sebuah kerajaan kecil kepada seorang pengelola.
Raja berkata: “Semua yang ada di wilayah ini boleh engkau gunakan untuk menjalankan tugasmu. Tetapi setiap bulan, sebagian harus dikembalikan ke istana sebagai tanda bahwa engkau masih mengakui siapa rajanya.”
Bulan pertama…pengelola itu mengembalikannya. Bulan kedua…ia mulai berpikir:
“Mengapa saya harus terus mengembalikan ini? Saya yang bekerja. Saya yang mengelola. Saya yang mengeluarkan tenaga.”
Bulan ketiga…ia berhenti. Tetapi menariknya, tanah itu masih milik Raja. Istana masih milik Raja. Sumber air masih milik Raja.
Bahkan napas pengelola itu masih berasal dari Raja. Masalahnya bukan jumlah yang ia tahan. Masalahnya adalah: hatinya sudah tidak mengakui Raja.
Panggilan
Saudara/I, hari ini jangan pulang dengan pikiran: “Pendeta meminta saya memberikan sepuluh persen.” Pulanglah dengan pikiran:
“Allah mengingatkan saya bahwa semuanya berasal dari-Nya.”
Persepuluhan bukan cara kita membeli berkat. Bukan cara kita menyuap Tuhan. Bukan pajak gereja. Bukan tiket menuju sorga.
Persepuluhan adalah pengakuan iman: “Tuhan, Engkaulah Pemilik. Aku hanya penatalayan.”
Dan ketika kita mengembalikan milik Raja…kita sebenarnya sedang melatih hati kita untuk berkata:
“Bukan uang yang menjadi tuanku. Bukan kekayaan yang menjadi keamananku. Kristuslah Rajaku.” Dialah kemanan dan kekayaanku..
Di Eden, manusia menerima segala sesuatu dari tangan Allah. Dalam dosa, manusia mulai menggenggam dan berkata, “Ini milikku.”
Di Golgota, Kristus membuka tangan-Nya dan memberikan seluruh diri-Nya. Dalam persepuluhan, kita belajar membuka tangan kita kembali.
Bukan karena Tuhan membutuhkan uang kita. Tetapi karena hati kita perlu belajar kembali: untuk mengakuii “Semua milik Raja.”
Dan mungkin pertanyaan paling jujur yang perlu kita bawa pulang siang ini bukan: “Apakah saya sudah mengembalikan Persepuluhan?”
Tetapi: “Apakah saya masih memegang sesuatu yang sebenarnya sudah saya tahu adalah milik Raja?”
















