
Pertanyaan yang mungkin tidak ingin kita jawab
SEJAK kecil saya sudah mendengar pengkotbah menantang jemaat dengan pertanyaan, “Jika Yesus datang hari ini apakah saudara sudah siap?”
Mendengar pertanyaan itu, Sebagian jemaat tertunduk. Mungkin sedang merenung. Sebagian wajahnya menatap pembicara, dengan tangan terkepal berseru, “saya sudah siap..”
Sekarang kita kembangkan pertanyaan pengkotbah tersebut, apakah kita siap jika Yesus datang hari ini?
Bayangkan pagi ini seperti biasa kita sedang bersiap-siap untuk menjalani aktivitas hari ini.
Kita bangun pagi, mandi, sarapan, memeriksa WhatsApp, melihat berita, lalu bersiap menjalani berbagai kegiatan.
Ada yang pergi bekerja, ada yang pergi sekolah, mengurus anak, membuka toko. Ada yang pergi ke gereja. Ada yang masih dirawat dirumah sakit. Ada yang sedang wisata. Ada yang berpesta..
Ada yang sedang berdukacita, ada yang sedang melayani, dll..
Semuanya kegiatan tampak normal. Tidak ada yang aneh dengan hari ini. Tidak ada tanda-tanda bakal terjadi sesuatu yang luar biasa.
Lalu tiba-tiba…Yesus datang seperti pencuri, tiba-tiba dengan berlaksa-laksa malaikat-Nya, diiringi terompet yang menggelegar. Datang dalam kemuliaan-Nya.
Apa yang akan terjadi pada kita? Pertanyaan ini tampak sederhana. Tetapi sebenarnya sangat serius:
Jika Yesus datang hari ini, apakah saya siap?
KIta pikir masih punya banyak waktu
Ini merupakan salah satu jebakan terbesar dalam kehidupan rohani adalah kata “nanti.”
Kita mungkin sering katakan, nanti saya akan lebih rajin berdoa. Nanti saya akan membaca Alkitab. Nanti saya akan berdamai dengan orang itu.
Nanti saya akan meninggalkan kebiasaan buruk. Nanti saya akan kembali kepada Tuhan. Nanti saya akan rajin beribadah. Nanti saya akan siap melayani.
Nah, yang menjadi persoalan adalah bahwa kita selalu menganggap kata “nanti” itu masih tersedia. Dan kita akan dapat mewujudkannya nanti.
Terhadap kata nanti, Yesus mengingatkan..
“Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” (Matius 24:42)
Di ayat tersebut, Yesus tidak mengatakan, “ Bersiaplah kalau semua tanda sudah digenapi..”
Ia justru berkata, berjaga-jagalah. Kata berjaga-jaga adalah perintah untuk waspada bila sesuatu yang tidak terduga terjadi. Kita sudah mengantisipasinya.
Misalnya, bila tiba-tiba hujan turun, kita sudah antisipasi agar rumah kita tidak kebanjiran dengan membangun tanggul. Saat hujan turun, rumah kita aman dari banjir..
Dalam hal kedatangan Yesus, mengaka kita berjaga-jaga? Karena kedatangan-Nya bukan sesuatu yang dapat kita jadwalkan berdasarkan kalender manusia.
Itu sebabnya kata nanti tidak dapat menjadi pegangan kita. Selain itu juga waktu kita sebagai manusia tidak pasti.
Apakah kita masih hidup besok atau lusa kita tidak punya jaminannya.
Terus bertumbuh sementara menantikan
Berbicara tentang kesiapan menyambut kedatangan Yesus, jangan sampai kita membayangkan bahwa orang yang siap adalah orang yang hidupnya sudah sempurna..
Karena kita semua masih hidup dalam pergumulan. Kita masih bisa jatuh. Masih bisa marah. Masih bisa salah. Masih bisa tergoda. Masih bisa kecewa.
Maka kesiapan bukan berarti kita tidak pernah jatuh. Kesiapan berarti ketika jatuh, kita tahu kepada siapa harus kembali.
Orang yang siap bukan orang yang berkata, “Saya sudah sempurna.” Tetapi orang yang berkata, “Tuhan, saya membutuhkan Engkau.”
Itulah sebabnya Yohanes menulis:
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9)
Keselamatan bukan hadiah bagi manusia yang sempurna. Keselamatan adalah anugerah bagi orang berdosa yang mau datang kepada Kristus.
Jangan Sampai Kita Sibuk Menunggu, tetapi Lupa Bertemu dengan Yesus
Selanjutnya sementara kita menantikan kedatangan Yesus, ada hal yang tidak bisa kita lupakan, yaitu membangun hubungan dengan Yesus.
Kita bisa membicarakan tanda-tanda zaman. Membaca nubuat. Mendiskusikan binatang dalam kitab Daniel dan Wahyu. Membicarakan krisis dunia. Membahas siapa antikristus.
Tetapi pertanyaan yang paling sederhana justru kita lupakan: Apakah saya mengenal Yesus?
Yesus pernah mengatakan sesuatu yang sangat serius:
“Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:23)
Perhatikan. Mereka yang disebutkan dalam ayat itu bukan orang yang tidak mengenal agama. Mereka bahkan berkata, “Tuhan, Tuhan.”
Mereka melakukan banyak hal dalam nama Tuhan. Tetapi persoalannya adalah: Mereka tidak memiliki hubungan yang benar dengan Kristus.
Perumpamaan sepuluh gadis
Agar lebih jelas bagaimana agar kita siap menantikan kedatangan Yesus, Ia memberikan sebuah perumpamaan dalam Matius 25.
Ada sepuluh gadis yang menunggu mempelai laki-laki. Lima bijaksana. Lima bodoh. Semua mereka sama-sama menunggu. Semuanya memiliki pelita. Semuanya tertidur.
Semuanya mendengar berita bahwa mempelai laki-laki datang. Perbedaannya hanya satu: yang lima memiliki minyak.
Ketika akhirnya terdengar seruan, “Mempelai datang! Songsonglah dia!”
Mereka yang tidak siap baru menyadari masalahnya. Mereka tidak memiliki persediaan minyak. Dalam arti mereka tidak siap secara rohani. Tidak dipenuhi Roh Kudus.
Perumpamaan itu ditutup dengan perkataan Yesus:
“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya.” (Matius 25:13)
Ini bukan cerita tentang orang jahat dan orang baik. Ini cerita tentang orang yang sama-sama menunggu Yesus, tetapi tidak semuanya benar-benar siap.
Itulah yang membuatnya menakutkan.
Bagaimana ketika Yesus datang kita belum berubah?
Pertanyaan ini kelihatan sederhana, tapi poin pertanyaanya serius..
Bagaimana ketika Yesus datang, kita sedang menyimpan kebencian? amarah? Kita sedang bertengkar dengan pasangan?
Atau kita sedang menipu? Kita sedang menikmati dosa yang selama ini kita sembunyikan? Atau hati kita sedang jauh dari Tuhan?
Tentu pertanyaan tersebut hanya untuk mengngatkan kita agar Kita tidak boleh menunda pertobatan.
Paulus berkata: “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.” (2 Korintus 6:2)
Jadi, keselamatan itu bukan besok. Bukan minggu depan. Tetapi Hari ini.
Bagaimana kalau saya belum siap?
Kita jangan lari dari Tuhan. Datanglah kepada-Nya. Jangan berpikir, “Saya harus memperbaiki hidup dulu baru datang kepada Yesus.”
Justru saat hidup kita sedang tidak baik, waktu yang tepat datang kepada-Nya untuk memperbaiki hidup kita.
Anak yang sakit tidak perlu sembuh dulu untuk datang kepada dokter.
Orang berdosa juga tidak perlu menjadi sempurna terlebih dahulu untuk datang kepada Juruselamat.
Yesus berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28)
Undangan itu masih terbuka. Hari ini.
Jangan takut kedatangan-Nya
Ada cara yang salah dalam menantikan kedatangan Yesus. Misalnya, kita menunggu dengan ketakutan ketika mendengar berita perang.
Setiap bencana membuat kita gelisah. Setiap krisis membuat kita bertanya, “Apakah ini tanda terakhir?”
Tetapi orang yang mengenal Yesus seharusnya tidak takut pada tanda kepada kedatangan-Nya. Mengapa?
Karena bagi kita, tanda-tanda kedatangan Yesus bukan berita kehancuran. Itu adalah berita baik, karena menunjukkan dekatnya hari kedatangan-Nya.
Yesus sendiri berkata: “Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.” (Lukas 21:28)
Perhatikan kata: Angkatlah mukamu. Bukan sembunyikan wajahmu. Bukan lari. Bukan panik.
Tapi Angkatlah mukamu. Karena Raja yang kita nantikan akan segera datang.
Jadi, apakah kita siap?
Kita tidak tahu kapan waktu kedatangan Yesus. Tapi dari tanda jaman menunjukkan harinya sudah dekat.
Dan kita sekarang mengetahui apa yang kita harus lakukan sementara menunggu: Berdoalah. Pelajari Firman Tuhan. Ampunilah orang yang menyakiti Anda.
Berhentilah menyimpan kebencian. Tinggalkan dosa yang Tuhan sudah tunjukkan. Layani orang lain. Berbuat baik.
Kasihi keluarga. Jadilah terang. Dan yang paling penting: Tetap tinggal di dalam Kristus.
Karena kesiapan bukan pekerjaan satu hari. Kesiapan adalah kehidupan setiap hari.
Penutup: Bagaimana kalau hari ini adalah hari itu?
Bayangkan jika hari ini adalah hari terakhir kita hidup. Kita tidak bangun lagi untuk menjalani rutinitas seperti biasanya.
Atau bayangkan hari ini benar-benar menjadi pagi ketika langit terbuka dan Yesus datang kedua kali. Kesempatan bertobat sudah tidak ada lagi.
Kesempatan mengampuni tidak adalagi. Kesempatan melayani tidak ada lagi. kesempatan memberi tidak ada lagi.
Yang ada hanya satu kenyataan: Yesus sudah datang. Karena itu pertanyaan terpenting hari ini bukan: “Kapan Yesus datang?”
Bukan juga: “Apakah tanda-tandanya sudah digenapi?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Jika Yesus datang hari ini, apakah hati saya sudah menjadi milik-Nya?”
Kaena itu biarlah kata-kata kita seperti perkataan Paulus:
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4:7
Itulah kesiapan yang sesungguhnya. Bukan sekadar mengetahui bahwa Yesus akan datang. Tetapi hidup setiap hari dalam hubungan dengan Dia.
Sehingga ketika akhirnya suara itu terdengar, “Lihatlah, ini Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan.” (Yesaya 25:9)
Kita tidak perlu bersembunyi. Kita tidak perlu takut.
Kita dapat mengangkat wajah kita dan berkata: “Akhirnya, Tuhan. Aku sudah lama menantikan-Mu.”














