“Salah satu kenangan terbaik dalam hidup saya bukanlah kebaktian kebangunan rohani, melainkan doa sederhana bersama keluarga.”

Saya masih mengingat suasana itu. Puluhan tahun yang silam. Saya masih kecil. Ayah membangunkan kami.

Pagi hari sebelum semua memulai aktivitas, kami berkumpul sejenak. Alkitab dibuka. Sebuah lagu dinyanyikan. Ada doa yang sederhana, tetapi tulus.

Begitu pula ketika matahari mulai terbenam dan hari berakhir. Kami kembali berkumpul. Bersyukur atas penyertaan Tuhan sepanjang hari dan menyerahkan malam peristirahatan ke dalam tangan-Nya.

Saat itu saya belum memahami mengapa kami melakukannya. Mengapa setiap pagi dibangunkan disaat mata masih ingin tidur..

Sekarang, setelah bertahun-tahun, saya baru menyadari bahwa kebiasaan sederhana itu telah membentuk iman saya jauh lebih dalam daripada yang saya bayangkan.

Mungkin itulah sebabnya mengapa kita perlu menekankan mezbah keluarga pagi dan petang.

Bukan karena itu sekadar tradisi. Melainkan karena itu adalah cara hidup yang berakar pada Alkitab.

Mezbah Keluarga Perintah Tuhan

Alkitab sudah menunjukkan bahwa keluarga adalah tempat pertama di mana iman itu diajarkan.

Tuhan berkata kepada bangsa Israel,

“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:6–7)

Perhatikan ada dua waktu yang disebutkan. Ketika bangun dan Ketika berbaring.

Artinya, siklus kehidupan itu harus diawali dengan Tuhan dipagi hari dan diakhir juga dengan Tuhan di sore hari

Rumah Adalah Gereja Pertama

Kita harus ingat, sebelum anak mengenal guru-guru sekolah, yang ia kenal adalah kedua orang tuanya.

Sebelum seorang anak mendengar khotbah pendeta digereja, ia mendengar doa ayah dan ibunya dirumah.

Sebelum mengenal guru Alkitab di gereja, ia melihat lebih dahulu keluarganya membuka firman Tuhan.

Karena itu, gereja pertama seorang anak bukanlah gedung gereja, melainkan rumahnya.

Kalau rumah dipenuhi doa, pujian, firman Tuhan, dan kasih, anak sedang belajar tentang Allah bahkan sebelum ia mampu memahami doktrin gereja.

Pagi Menentukan Arah Hari

Tentang mezbah pagi dan petang, Daud pernah berkata,

“Ya TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruku; pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu.” (Mazmur 5:4)

Ayat ini sangat indah. Kita melihat Daud tidak memulai harinya dengan kekhawatiran. Melainkan dengan pujian kepada Tuhan.

Terkadang, kita sering memulai hari dengan kekuatiran tentang banyak hal. Atau begitu bangun, tangan kita lebih dulu meraih telepon genggam.

Membaca berita. Membuka media sosial. Melihat pesan yang masuk dan membalas pesan.

Maka tanpa kita sadari, dunia lebih dahulu mengisi pikiran kita sebelum firman Tuhan melakukannya.

Mezbah keluarga pagi hari mengingatkan kita bahwa suara pertama yang layak kita dengarkan adalah suara Tuhan.

Petang Mengajarkan Rasa Syukur

Setelah hari usai, ketika malam tiba, kita sering merasa kelelahan. Dan mezbah petang, nyaris terabaikan..

Namun sebelum kita mengabaikannya, kita ingat kembali, mezbah keluarga petang adalah untuk mengajarkan kita sesuatu yang indah.

Yaitu berhenti sejenak. Kita kembali mengingat bagaimana Tuhan memimpin kita sepanjang hari.

Karena itu di mezbah petang ini, kita mengucapkan syukur kepada Tuhan.

Kita datang mengakui kesalahan sekiranya kita dan anak-anak kita telah berbuat dosa hari itu.

Kita juga berdoa bagi hari esok dimaka kita akan kembali masuk rutinitas yang sama..

Mazmur 55:18 berkata, “Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis; dan Ia mendengar suaraku.”

Jadi. doa pagi memberi kita arah hidup. sementara doa petang memberi kita ketenangan dari kebisingan kegiatan sepanjang hari.

Bukan Tentang Lamanya, Tetapi Kesetiaannya

Ada keluarga yang merasa tidak mampu mengadakan mezbah keluarga karena kesibukan.

Padahal yang Tuhan cari bukanlah ibadah yang panjang, namun hati yang setia walau singkat.

10-15 menit yang dilakukan setiap hari jauh lebih berharga daripada satu jam yang hanya dilakukan sesekali.

Kadang kita hanya membaca beberapa ayat. Menyanyikan satu lagu. Lalu berdoa bersama. Atau kita dapat menggunakan buku sekolah sabat, yang tersedia disegala usia..

Dan itu sangat sederhana.

Namun kebiasaan sederhana itulah yang nantinya secara perlahan-lahan membangun fondasi iman sebuah keluarga.

Anak-anak Belajar dari Apa yang Mereka Lihat

Sebagai pendeta, saya sering bertemu orang tua yang berkata, “pak Pendeta, bagaimana supaya anak saya mengasihi Tuhan dan rajin beribadah?”

Jawaban untuk pertanyaan itu tidak sesederhana satu kalimat. Tetapi saya percaya ada satu prinsip yang selalu benar. Tidak mungkin salah..

Yaitu, anak-anak lebih banyak belajar dari teladan kita daripada dari nasihat orang tua.

Boleh jadi mereka mungkin sudah lupa apa isi renungan pagi hari ini. Tetapi mereka akan mengingat ayah yang setia memimpin doa pagi dan petang…

Mereka mungkin lupa lagu yang dinyanyikan minggu lalu, tetapi mereka akan mengingat bahwa setiap pagi keluarganya menyerahkan hidup kepada Tuhan.

Warisan terbesar yang dapat diberikan orang tua bukan hanya pendidikan formal atau harta.

Warisan terbesar adalah iman yang hidup didalam hati anak-anak..

Mezbah Keluarga Tidak Membuat Keluarga Menjadi Sempurna

Kita juga jangan sampai salah paham. Mezbah keluarga memang tidak menjamin sepenuhnya keluarga tidak mengalami konflik. Anak-anak tidak membuat masalah..

Masalah akan tetap ada. Itu bisa perbedaan pendapat. Konflik, Ada pergumulan, dll..

Namun ada satu perbedaan besar. Mereka belajar membawa semua itu kepada Tuhan.

Doa bersama tidak menghilangkan semua masalah.

Tetapi doa bersama mengingatkan kita bahwa keluarga tidak menghadapi masalah itu sendirian. Ada Tuhan bersama kita..

Mengapa Saya Masih Percaya pada Mezbah Keluarga

Di zaman yang serba cepat ini, banyak hal berubah. Cara hidup banyak orang berubah. Teknologi berubah. Cara belajar berubah. Cara bekerja berubah.

Tetapi saya masih percaya bahwa keluarga yang menyediakan waktu setiap pagi dan petang untuk mencari Tuhan sedang membangun sesuatu yang tidak lekang oleh waktu..

Yaitu, mereka sedang membangun iman. Dan iman tidak pernah menjadi usang sekali pun dunia berubah..

Penutup

Mengapa kita perlu memiliki mezbah keluarga pagi dan petang?

Karena kita percaya bahwa rumah adalah tempat pertama di mana Tuhan ingin dikenal.

Karena kita percaya bahwa anak-anak tidak hanya membutuhkan makanan untuk tubuh, tetapi juga makanan bagi jiwa.

Karena kita percaya bahwa hari yang dimulai bersama Tuhan akan dijalani dengan lebih bijaksana, dan hari yang diakhiri bersama Tuhan akan ditutup dengan damai.

Saya menyadari bahwa tidak semua keluarga memiliki jadwal yang sama. Ada yang harus bekerja sejak dini hari.

Ada keluarga yang memiliki tantangan tersendiri, sehingga belum dapat dilakukan..

Namun saya percaya, di tengah segala kesibukan kita, Tuhan tetap menghargai setiap usaha keluarga yang dengan tulus menyediakan waktu untuk mencari hadirat-Nya.

Walau pun mezbah keluarga tidak akan membuat rumah kita menjadi sempurna.

Tetapi saya percaya, mezbah keluarga akan membuat rumah kita menjadi tempat di mana kasih, firman, dan kehadiran Tuhan terus bertumbuh dari hari ke hari.

Dan mungkin, setelah bertahun-tahun kemudian, ketika mereka telah dewasa dan meninggalkan rumah..

Mereka akan mengingat bahwa setiap pagi dan petang, ada sebuah keluarga kecil yang berlutut bersama, membuka Alkitab, dan percaya bahwa Tuhan memimpin perjalanan hidup mereka.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *