Kebenaran oleh Iman, Bukan Legalisme

“Kebenaran oleh iman” adalah inti Injil. Keselamatan adalah pemberian Allah melalui Yesus Kristus, bukan hasil usaha manusia (Roma 3:21-26; Efesus 2:8-9). Semua orang telah berdosa sehingga tidak ada perbuatan baik yang dapat menyelamatkan. Kita dibenarkan hanya oleh kasih karunia melalui iman.

Namun, anugerah bukan hanya mengampuni. Anugerah juga mengubah hidup. Roh Kudus memberi kuasa agar orang percaya menghasilkan buah-buah kebenaran dan hidup semakin serupa dengan Kristus (1 Korintus 1:4-8).

Hukum Allah tetap kudus, adil, dan baik. Fungsinya menunjukkan apa yang benar dan salah, tetapi hukum tidak dapat menyelamatkan orang yang sudah melanggarnya. Keselamatan hanya ada di dalam Kristus.

Legalisme adalah Penyalahgunaan Hukum

Hukum Allah bukanlah legalisme. Ketaatan yang benar lahir dari iman yang bekerja melalui kasih (Galatia 5:6).

Legalisme muncul ketika seseorang menggunakan hukum untuk tujuan yang salah, misalnya:

• berusaha memperoleh keselamatan dengan usaha sendiri;

• merasa cukup hanya dengan memenuhi aturan tertentu;

• memakai aturan dan tradisi untuk menguasai atau menghakimi orang lain.

Orang legalis sering meninggikan aturan tetapi mengabaikan kasih dan keadilan yang menjadi dasar hukum Allah. Mereka akhirnya melanggar tujuan hukum itu sendiri.

Bahkan Setan digambarkan sebagai legalis terbesar. Ia memutarbalikkan hukum Allah untuk menuduh, melemahkan, dan menjauhkan manusia dari keselamatan di dalam Kristus.

Pengaruh Legalisme dalam Kehidupan Kristen

Legalisme masih banyak ditemukan di gereja.

Sebagian orang berpikir mereka harus menyelamatkan diri dengan usaha sendiri karena Alkitab berbicara tentang penghakiman berdasarkan perbuatan. Padahal perbuatan baik adalah hasil dari iman, bukan syarat memperoleh keselamatan.

Bentuk lain adalah ketika orang memperdebatkan hal-hal kecil lalu memaksakannya kepada orang lain. Akibatnya muncul sikap merasa paling benar, suka menghakimi, dan perpecahan dalam gereja.

“Kebenaran oleh Iman” yang Berangkat dari Asumsi Keliru

Ada ajaran yang mengaku mengajarkan “kebenaran oleh iman”, tetapi masih dipengaruhi cara berpikir legalistik.

Beberapa pandangannya adalah:

  1. Manusia dianggap terus-menerus berbuat dosa sehingga tidak mungkin benar-benar hidup taat.
  2. Ketaatan penuh kepada hukum Allah dianggap mustahil.
  3. Perjanjian Lama dianggap sudah tidak berlaku karena hanya kasih yang menjadi standar.
  4. Penghakiman atas perbuatan orang percaya dianggap tidak lagi penting.

Pandangan seperti ini dapat membuat orang meremehkan hukum Allah dan menganggap anugerah sebagai alasan untuk tetap hidup dalam dosa.

  1. Kerusakan Manusia

Alkitab mengajarkan bahwa semua manusia telah berdosa dan memiliki kecenderungan berdosa. Namun dosa bukanlah sesuatu yang terjadi secara otomatis setiap saat.

Dosa adalah pelanggaran terhadap kehendak Allah, baik dalam tindakan maupun pikiran, baik disengaja maupun karena kelalaian. Tidak semua kelemahan atau ketidaksempurnaan manusia adalah dosa. Misalnya, keterbatasan kemampuan, pengetahuan, atau keterampilan bukan berarti seseorang sedang berdosa.

  1. Ketaatan kepada Allah

Setelah dibenarkan oleh iman, orang percaya dipanggil untuk terus bertumbuh dalam kekudusan melalui kuasa Roh Kudus.

Yesus datang bukan supaya kita tetap hidup dalam dosa, tetapi untuk menyelamatkan kita dari dosa (Matius 1:21). Karena itu, orang Kristen tidak boleh menganggap berbuat dosa sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Allah sanggup memberi kuasa agar kita hidup taat. Memang kita masih bertumbuh, tetapi kemenangan atas dosa adalah bagian dari kehidupan orang percaya. Jika jatuh, Kristus tetap menjadi Pengantara kita, tetapi tujuan-Nya adalah supaya kita semakin serupa dengan-Nya.

Ketaatan yang lahir dari kasih dan iman bukanlah legalisme, melainkan buah dari pekerjaan Roh Kudus dalam hati.

Kesimpulan

Keselamatan adalah anugerah Allah yang diterima melalui iman kepada Kristus. Namun anugerah tidak membuat orang tetap hidup dalam dosa. Sebaliknya, anugerah mengubah hati sehingga orang percaya mampu hidup taat oleh kuasa Roh Kudus.

Ketaatan bukanlah cara memperoleh keselamatan, tetapi hasil dari keselamatan. Kristus bukan hanya mengampuni umat-Nya, tetapi juga mempersiapkan mereka menjadi umat yang kudus dan hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *