
“Ada yang selalu memberi, namun bertambah kaya, tetapi ada yang menghemat secara berlebihan, namun selalu berkekurangan.” — Amsal 11:24
SEORANG anak kecil sedang makan sekantong permen. Ayahnya tersenyum lalu berkata, “Boleh Ayah minta satu?”
Anak itu menggenggam kantong permennya lebih erat. Ia menggeleng pelan sebagai tanda tidak boleh..
Ia lupa bahwa semua permen itu sebenarnya dibelikan oleh ayahnya. Kalau sang ayah mau, ia bisa saja membeli satu kantong lagi, bahkan sepuluh kantong sekaligus.
Namun, yang sedang diuji bukanlah jumlah permennya, melainkan hati anaknya.
Bukankah kita sering bersikap seperti anak kecil itu?
Tuhan telah memberikan pekerjaan, kesehatan, waktu, kemampuan, bahkan napas kehidupan.
Tetapi ketika Tuhan mengajak kita berbagi, kita mulai menghitung. Kita takut uang kita akan berkurang.. Kita takut masa depan kita kurang jaminan..
Logika dunia berkata, “Kalau ingin kaya, simpan sebanyak mungkin.”
Tetapi Allah berkata, “Kalau ingin diberkati, belajarlah memberi.”
Di sinilah letak paradoks kekristenan. Dunia Mengajarkan Menimbun. Tuhan mengajarkan memberi.
Sejak kecil kita diajarkan untuk mengumpulkan. Kumpulkan uang, harta, aset. Kumpulkan sebanyak mungkin agar hidup aman.
Nasihat itu tidak salah. Alkitab sendiri memuji orang yang bijaksana dalam mengelola berkat Tuhan. betul kita memang harus menyimpan atau menabung..
Namun yang jadi masalah adalah ketika kita hanya fokus pada mengumpulkan. Berkat yang seharusnya mengalir berubah menjadi milik yang digenggam erat.
Semakin penuh tangan kita, semakin sulit kita membuka genggaman untuk melepaskannya.
Yesus Mengajarkan Agar Mengalirkan
Ketika Yesus berkata, “Berilah dan kamu akan diberi…” (Lukas 6:38), Ia sedang memperkenalkan prinsip Kerajaan Allah.
Berkat Tuhan tidak dirancang untuk berhenti ditangan kita. Berkat itu dimaksudkan untuk mengalir keluar.
Sungai yang terus mengalir membawa kehidupan. Sebaliknya, kolam, yang airnya hanya menampung tanpa mengalirkan, lambat laun menjadi keruh.
Demikian pula hati manusia. Orang yang hanya ingin menerima akan mudah dikuasai rasa takut kehilangan.
Tetapi orang yang belajar memberi akan mengalami sukacita yang tidak dapat dibeli dengan uang.
Memberi Adalah Menanam
Rasul Paulus menulis,
“Siapa yang menabur sedikit akan menuai sedikit, dan siapa yang menabur banyak akan menuai banyak.” (2 Korintus 9:6)
Tidak ada petani yang berharap panen jika semua benihnya disimpan di lumbung.
Benih harus dilepaskan. Benih harus “hilang” dari tangan, masuk ke dalam tanah. Barulah kehidupan baru muncul.
Begitu pula dengan pemberian. Memberi bukan berarti kehilangan. Memberi adalah menanam.
Setiap pemberian yang dilakukan dengan kasih dan ketulusan adalah benih yang Tuhan lihat.
Waktu panennya mungkin berbeda-beda, tetapi Tuhan tidak pernah mengabaikan benih yang ditaburkan dengan hati yang benar.
Kaya Menurut Ukuran Tuhan
Sering kali kita membaca ayat-ayat tentang memberi hanya dari sisi materi. Padahal Alkitab memiliki pengertian yang jauh lebih luas tentang kekayaan.
Ada orang yang rekeningnya penuh, tetapi keluarganya kosong.
Ada yang rumahnya besar, tetapi hatinya gelisah.
Ada yang hartanya bertambah, tetapi sukacitanya berkurang.
Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi rumahnya dipenuhi kasih, doanya penuh damai, dan hidupnya menjadi berkat bagi banyak orang.
Siapakah yang sebenarnya kaya?
Tuhan tidak mengukur kekayaan hanya dari apa yang kita miliki, tetapi juga dari apa yang dapat kita bagikan.
Kaya adalah ketika kita memiliki hati yang cukup, ketika kita sanggup menolong orang lain.
Kaya adalah ketika kita menjadi saluran berkat, bukan sekadar penimbun berkat.
Memberi Adalah Pernyataan Iman
Setiap kali kita memberi, sesungguhnya kita sedang berkata kepada Tuhan,
“Aku percaya sumber hidupku bukan uangku, melainkan Engkau.”
Karena itu, memberi bukan sekadar tindakan sosial. Memberi adalah ibadah. Memberi adalah bentuk penyembahan.
Memberi adalah bukti bahwa hati kita lebih melekat kepada Sang Pemberi daripada kepada pemberian-Nya.
Renungkan
Hari ini Tuhan tidak melihat berapa banyak yang ada di tangan kita. Ia sedang melihat seberapa terbuka hati kita.
Sebab tangan yang terus menggenggam akan sulit menerima sesuatu yang baru.
Sebaliknya, tangan yang rela membuka diri akan selalu siap menerima apa yang Tuhan percayakan.
Inilah paradoks yang sulit dipahami banyak orang.
Di dalam Kerajaan Allah, semakin kita belajar memberi dengan kasih, semakin kita menyadari bahwa kekayaan sejati bukan hanya tentang apa yang kita simpan, tetapi tentang apa yang Tuhan kerjakan melalui hidup kita.
Karena orang yang paling kaya bukanlah orang yang memiliki paling banyak, melainkan orang yang paling banyak dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi sesamanya.
“Harta yang disimpan hanya bertahan sementara, tetapi harta yang dibagikan akan menghasilkan buah bagi kekekalan.”








