Iman yang Sehat Dimulai dari Cara Berpikir yang Benar

“Suatu hari di grup WhatsApp beredar sebuah gambar bertuliskan: ‘Tuhan berkata, siapa yang mengirim pesan ini kepada 20 orang akan menerima mujizat dalam 24 jam.’

Banyak juga orang yang menjapri saya dengan pesan tersebut. Anehnya, mereka meneruskan pesan itu kepada 20 orang tanpa berpikir, apaka ini benar?

Bukan karena mereka kurang mengasihi Tuhan, tetapi karena mereka tidak membiasakan diri menguji sebuah pernyataan.

Mereka mengira setiap kalimat yang dibungkus ayat Alkitab atau ada kata Tuhan disana, pasti berasal dari Tuhan. Padahal Alkitab sendiri memerintahkan kita untuk menguji segala sesuatu.”


Ada anggapan yang cukup populer di kalangan orang Kristen bahwa semakin seseorang menggunakan logika, semakin lemah imannya.

Sebaliknya, orang yang beriman dianggap tidak perlu banyak berpikir. Cukup percaya, cukup taat, dan jangan terlalu banyak bertanya.

Benarkah demikian?

Justru sebagai orang beriman, kita harus banyak bertanya dengan menggunakan logika yang benar. beriman tanpa logika akan menyesatkan..

Allah menciptakan kita sebagai mahkluk yang berpikir. Dan pikiran itu harus dimaksimalkan potensinya.

Sebab dengan pikiran yang sehat, kita dapat mengasihi Tuhan dan mengenalnya dengan baik.

Iman yang sejati bukanlah iman yang mematikan akal sehat, melainkan iman yang memakai akal budi sebagai alat untuk memahami kehendak Tuhan.

Sayangnya, banyak persoalan dalam kehidupan bergereja bukan muncul karena kurangnya iman, melainkan karena kesalahan dalam berpikir.

Orang mudah percaya berita palsu hanya karena mengutip ayat Alkitab. Orang menerima suatu ajaran hanya karena disampaikan oleh tokoh terkenal.

Atau karena banyak orang yang mengikutinya..

Bahkan tidak sedikit yang menafsirkan Firman Tuhan tanpa memperhatikan konteksnya.

Semua itu menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya soal pengetahuan Alkitab, tetapi juga cara berpikir..

Di sinilah logika memiliki peran penting agar tidak menyimpang.

Logika bukanlah musuh iman. Logika adalah alat yang membantu kita berpikir dengan benar sehingga kita tidak mudah disesatkan atau diombang-ambingkan.

Apa Itu Logika?

Logika berasal dari kata Yunani kuno (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.

Ini mencakup kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.

Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.

Secara sederhana, logika adalah ilmu tentang cara berpikir yang benar.

Logika tidak menentukan apakah suatu ajaran berasal dari Tuhan atau bukan. Tugas logika adalah membantu kita melihat apakah suatu kesimpulan benar-benar mengikuti alasan yang diberikan.

Misalnya, seseorang berkata,

“Semua orang yang sakit pasti kurang iman.”

Pernyataan ini terdengar rohani. Namun kesimpulannya bermasalah? Sebab penyakit tidak ada hubunganya dengan iman atau tidak beriman..

Dalam Alkitab banyak orang beriman seperti Ayub, Timotius, Paulus mereka menderita sakit yang berat. Mereka orang beriman. Bahkan Paulus dapat membuat mujizat..

Poinnya, kesimpulan tersebut tidak dapat dipertahankan. Kesalahannya bukan pada Alkitab, tetapi pada cara orang menarik kesimpulan.

Inilah pentingnya logika.

Tuhan Menghendaki Kita Menggunakan Akal Budi

Dalam Alkitab, kita dapat menemukan bahwa Tuhan berulang kali mengajak manusia untuk berpikir.

Misalnya ketika Tuhan berkata kepada Yesaya, “Marilah, baiklah kita beperkara!” (Yesaya 1:18)

Ungkapan ini menunjukkan bahwa Allah mengundang kita untuk berdialog, mempertimbangkan, dan memahami alasan-Nya.

Berdialog tentu menggunakan pikiran. Akal sehat.

Ketika Yesus ditanya oleh ahli Taurat, Ia menjawab bahwa hukum yang pertama dan terutama adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi. (Markus 12:30)

Kata akal budi disana adalah pikiran. Artinya, mengasihi Tuhan tidak hanya dengan perasaan, tetapi juga dengan pikiran.

Rasul Paulus juga menasihati jemaat: “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (1 Tesalonika 5:21)

Perintah untuk menguji berarti kita tidak boleh menerima begitu saja setiap ajaran secara mentah-mentah.

Pengujian membutuhkan pengetahuan, hikmat, dan kemampuan berpikir yang sehat. Tanpa logika maka kita akan keracunan..

Yesus Mengajar dengan Logika

Mari kita perhatikan, ketika Yesus mengajar. Berkotbah. Dia menggunakan ilustrasi dan berbagai perumpamaan yang mengajak orang berpikir.

Ia menggunakan pertanyaan-pertanyaan, perbandingan, dan penalaran. Sehingga orang dapat mengerti.

Misalnya, ketika orang Farisi ingin menjebak-Nya mengenai hari Sabat, Yesus tidak sekadar menjawab “karena Aku berkata demikian.”

Sebaliknya, Ia mengajak mereka berpikir melalui pertanyaan dan contoh-contoh yang mereka pahami.

Bahkan dalam banyak kesempatan, Yesus menjawab sebuah pertanyaan dengan pertanyaan lain.

Tujuannya bukan menghindari jawaban, melainkan membawa pendengar menemukan kebenaran melalui proses berpikir.

Guru Agung itu tidak mematikan akal manusia, tetapi mengembangkan proses berpikir dan mengarahkannya kepada kebenaran.

Paulus Memberikan Alasan atas Imannya

Dalam Kisah Para Rasul, Paulus berkali-kali berdiskusi dengan orang Yahudi maupun orang Yunani.

Ia “menerangkan”, “membuktikan”, dan “meyakinkan” pendengarnya berdasarkan Kitab Suci.

Di Atena, Paulus bahkan memulai pemberitaannya dari budaya dan filsafat yang dikenal masyarakat setempat sebelum mengarahkan mereka kepada Kristus.

Hal ini menunjukkan bahwa Injil tidak takut diuji atau dipertentangkan. Sebaliknya, Injil sanggup dipertanggungjawabkan.

Karena itu Petrus menulis:

“Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban tentang pengharapan yang ada padamu.” (1 Petrus 3:15)

Memberi pertanggungjawaban berarti mampu menjelaskan dengan logis mengapa kita percaya.

Mengapa Banyak Orang Mudah Tertipu?

Di zaman media sosial, informasi rohani menyebar sangat cepat. Banyak konten yang mudah ditemukan..

Sayangnya, tidak semua konten rohani tersebut, berasal dari penafsiran Alkitab yang benar. Ada kutipan ayat yang dipotong.

Ada kesaksian yang dilebih-lebihkan. Ada nubuat yang ternyata tidak pernah terjadi.

Ada pula pengajaran yang terdengar indah, tetapi bertentangan dengan keseluruhan isi Alkitab. Apalagi bila itu disampaikan orang terkenal, tanpa berpikir langsung diterima..

Mengapa banyak orang tetap mempercayainya?

Salah satu penyebabnya adalah karena mereka belum terbiasa berpikir secara kritis dan alkitabiah.

Mereka lebih mudah menerima sesuatu karena pembicaranya terkenal, videonya viral, atau karena banyak orang mempercayainya.

Padahal, ukuran kebenaran bukanlah popularitas, melainkan kesesuaiannya dengan Firman Tuhan.

Logika Tidak Lebih Tinggi daripada Firman Tuhan

Belajar logika bukan berarti menjadikan akal sebagai hakim atas Allah. Sebaliknya, logika membantu kita memahami Firman Tuhan dengan lebih bertanggung jawab.

Logika itu ibarat kacamata yang jernih. Kacamata tidak menciptakan pemandangan, tetapi membantu kita melihat dengan lebih jelas.

Demikian pula logika tidak menggantikan Alkitab, tetapi membantu kita menghindari kesalahan dalam memahami Alkitab.

Yang menjadi otoritas tertinggi tetaplah Firman Tuhan. Logika diperlukan agar cara kita memahami lebih baik. Tepat.

Penutup

Di zaman ketika informasi begitu mudah menyebar, kita memerlukan hikmat untuk membedakan yang benar dari yang salah.

Belajar logika bukan membuat kita menjadi orang yang suka berdebat, melainkan orang yang lebih berhati-hati dalam berpikir, lebih rendah hati dalam belajar, dan lebih bertanggung jawab dalam memahami Firman Tuhan.

Iman yang dewasa bukanlah iman yang takut terhadap pertanyaan, tetapi iman yang berani mencari jawaban berdasarkan Firman Allah.

Kiranya kita terus bertumbuh menjadi orang percaya yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan, dan juga segenap akal budi.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *