
“Saya pernah melihat seorang lumpuh berjalan.”
“Ada orang yang sembuh setelah didoakan.”
“Banyak mujizat terjadi di tempat itu.”
Lalu seseorang berkata, “Kalau ada mukjizat, berarti pasti Tuhan yang bekerja.”
Dan yang terjadi kemudian adalah si pembuat mujizat menjadi pusat perhatian dan di elu-elukan.
Nah, benarkah setiap mujizat pasti dari Tuhan?
Pertanyaan ini penting, sebab di zaman ketika banyak orang mencari pengalaman rohani yang luar biasa, Alkitab justru mengingatkan agar kita tidak mudah terpesona oleh tanda-tanda yang ajaib.
Mukjizat memang dapat menjadi tanda kuasa Allah sedang bekerja..
Namun kita juga harus ingat, tidak semua mukjizat membuktikan bahwa sesuatu berasal dari Allah.
Setan pun dapat membuat mujizat..
Mukjizat Adalah Tanda, Bukan Tujuan
Dalam Alkitab, mukjizat tidak pernah menjadi pusat pemberitaan. Itu bukan tujuan. Mujizat dibuat agar membawa pikiran orang kepada Tuhan.
Agar kemuliaan Allah dinyatakan, meneguhkan kebenaran Firman-Nya, dan membawa manusia kepada pertobatan.
Ketika Yesus mengubah air menjadi anggur, Yohanes menulis,
“Hal itu dibuat Yesus di Kana… sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya.” (Yohanes 2:11)
Mujizat Yesus adalah untuk kemuliaan Allah..
Sekarang, perhatikan kata “tanda.” Istilah tanda adalah penunjuk. Bukti keberadaan. Maka mukjizat adalah penunjuk jalan. bukti keberadaan.
Seperti rambu lalu lintas yang menunjuk jalan dan arah sebuah kota. Rambu itu bukan tujuan akhirnya. Dia hanya penanda.
Demikian pula dengan mukjizat.
Mukjizat sebagai tanda, seharusnya membawa orang kepada Kristus, bukan membuat manusia berhenti pada kekaguman terhadap keajaiban.
Alkitab Mengingatkan Adanya Mukjizat Palsu
Banyak orang terkejut ketika mengetahui bahwa Alkitab mengajarkan adanya mujizat yang bukan berasal dari Allah.
Yesus sendiri berkata,
“Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mukjizat-mukjizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.” (Matius 24:24)
Perhatikan perkataan Yesus kemunculan orang-orang yang mengaku nabi, rasul. Mereka datang dengan tanda-tanda yang hebat. Mujizat yang luar biasa.
Namun mereka nabi dan rasul palsu. Mujizat mereka juga palsu..
Yesus mengatakan, tujuan mereka melakukan tanda-tanda dan mukjizat itu adalah untuk menyesatkan.
Rasul Paulus juga menulis,
“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, disertai dengan rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat palsu.” (2 Tesalonika 2:9)
Kitab Wahyu menambahkan bahwa kuasa yang menentang Allah akan melakukan tanda-tanda besar untuk menyesatkan dunia.
“Ia mengadakan tanda-tanda yang dahsyat… lalu menyesatkan mereka yang diam di bumi.” (Wahyu 13:13–14)
Poinnya, Alkitab mengajarkan ada tanda-tanda dan mujizat palsu. Dilakukan oleh orang-orang yang mengaku hamba Allah. Mereka bukan hamba sejati.
Maka, mukjizat saja tidak cukup menjadi ukuran kebenaran, sekali pun itu dibungkus dengan jubah kekristenan, bahkan menggunakan nama Yesus.
Firaun dan Ahli-ahli Sihir Mesir
Ketika Musa datang kepada Firaun, Tuhan melakukan berbagai mukjizat melalui dirinya dihadapan Firaun.
Tujuannya agar Firaun mengaku dan percaya kepada Tuhan dan melepaskan umat-Nya.
Namun sangat mengejutkan, teryata ahli-ahli sihir Mesir juga mampu meniru beberapa tanda tersebut.
Misalnya, tongkat menjadi ular. Air berubah menjadi darah. Katak bermunculan. (Baca Keluaran 7–8.)
Walau mereka dapat membuat mujizat yang sama, namun yang palsu itu tidak sejati. Mujizat mereka terbatas dan akhirnya dikalahkan oleh kuasa Allah..
Peristiwa ini menunjukkan bahwa fenomena yang luar biasa tidak selalu berasal dari Tuhan. Setan juga punya kuasa untuk membuat mujizat..
Ujian yang Sebenarnya: Apakah Sesuai dengan Firman?
Kalau begitu, bagaimana kita dapat membedakan antara mukjizat yang berasal dari Tuhan dengan mujizat yang menyesatkan?
Alkitab memberikan jawabannya.
“Carilah pengajaran dan kesaksian! Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar.” (Yesaya 8:20)
Artinya, Firman Tuhan adalah standar tertinggi dan ujian terhadap semua ajaran, termasuk mujizat.
Mukjizat tidak boleh menjadi hakim atas Alkitab. Maksudnya, bukan mujizat itu yang membenarkan Alkitab..
Justru Alkitablah yang menguji apakah setiap mukjizat itu sesuai dengan Alkitab atau tidak..
Jangan sampai kita berpikir, pokoknya semua mujizat yang dilakukan atas nama Yesus, pasti sudah sesuai dengan Alkitab..
Jika suatu tanda membawa manusia menjauh dari Firman, meninggikan manusia lebih daripada Kristus, atau mengajarkan ajaran yang bertentangan dengan Kitab Suci, maka kita harus berhati-hati, betapapun mengagumkannya pengalaman tersebut.
Yesus Tidak Pernah Mengejar Sensasi
Menariknya, kalau kita baca dalam Alkitab, Yesus sering kali menolak melakukan mukjizat hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu..
Misalnya, ketika Iblis meminta-Nya menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah, Yesus menolak (Matius 4:5–7).
Ketika Herodes ingin melihat mukjizat sebagai hiburan, Yesus tidak memenuhi keinginannya (Lukas 23:8–9).
Mukjizat dalam pelayanan Yesus lahir dari kasih dan untuk tujuan penyelamatan, bukan untuk mencari popularitas dan pengakuan..
Ilustrasi: Lampu dan Matahari
Bayangkan seseorang berada di malam hari. Di kejauhan ia melihat cahaya yang sangat terang. Ia segera mengira itu adalah matahari.
Padahal itu hanyalah lampu sorot yang sangat kuat. Terang memang menarik perhatian. Tetapi tidak semua terang adalah matahari.
Demikian pula dalam kehidupan rohani. Fenomena yang mengagumkan dapat menarik perhatian. Namun kita tidak boleh menilai hanya dari apa yang terlihat.
Kita harus bertanya:
Apakah semua ini membawa saya semakin dekat kepada Kristus dan semakin taat kepada Firman-Nya?
Mukjizat Terbesar
Banyak orang mencari mukjizat yang spektakuler. Bahkan tidak sedikit orang mencari gereja atau agama yang mujizatnya disana banyak.
Mereka berpikir, mujizat besar kalau orang sakit disebuhkan dalam sekejap..
Padahal mukjizat terbesar bukanlah orang lumpuh berjalan. Bukan orang buta melihat. Bukan badai yang berhenti. Bukan mengusir roh jahat..
Mukjizat terbesar adalah saat hati manusia yang diubahkan oleh kasih karunia Allah. Seorang pendosa yang bertobat dari kejahatannya..
Seorang pemarah berubah menjadi lemah lembut. Seorang yang egois belajar mengasihi. Seorang yang pelit menjadi murah hati..
Seorang yang putus asa menemukan pengharapan di dalam Kristus. Seorang yang telah tinggalkan Yesus, kembali kepada Yesus dan setia..
Itulah mukjizat yang terbesar karena dampaknya kekal..
Renungkan
Tuhan masih menggunakan mujizat sampai hari ini. Tapi, mengapa kita tidak melihat jenis mukjizat yang sama, seperti yang terjadi pada zaman Alkitab?
Kita tidak melihat mujizat seperti zaman Yesus dan murid-murid, mungkin karena bahaya Penyesatan Akhir Zaman:
Iblis akan menggunakan mukjizat dan tanda-tanda keheranan palsu (manifestasi menyesatkan) untuk menipu banyak orang.
Memang benar Yesus memberitakan Injil sambil melakukan mukjizat penyembuhan fisik.
Namun, saat ini kita tidak lagi bekerja dengan cara seperti itu karena berbagai tabib/pekerja palsu yang mengaku berasal dari Tuhan juga akan melakukan mukjizat penyembuhan.
Oleh karena itu, Tuhan telah menunjukkan cara penginjilan yang menggabungkan pengajaran Firman dengan pelayanan kesehatan.
Karena itu sebagai orang percaya, kita dipanggil bukan hanya untuk mencari dan mengagumi mukjizat, melainkan untuk menguji segala sesuatu dengan Firman Tuhan.
Jangan mudah percaya hanya karena sesuatu tampak luar biasa. Jangan terhipnotis atau terbius dengan acara-acara penyembuhan, termasuk yang mengatasnamakan Yesus..
Namun, jangan pula menolak karya Allah hanya karena melampaui pengertian kita.
Mintalah hikmat, pegang teguh Alkitab, dan arahkan pandangan kepada Kristus.
Sebab tujuan setiap mukjizat yang berasal dari Allah bukanlah meninggikan manusia, apalagi memperkaya seseorang, melainkan memuliakan Tuhan dan menuntun orang kepada Yesus.
Pada akhirnya, iman kita harus bertumpu pada Firman Tuhan, bukan pada pengalaman yang paling mengagumkan.
Sebab pengalaman dapat menipu, tetapi Firman Allah tetap benar untuk selama-lamanya.














