Pendahuluan

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa di dunia baru akan ada tiga kejutan bagi orang-orang yang ditebus. Pertama, beberapa orang yang selama ini kita anggap sangat saleh ternyata tidak ada di sana. Orang mungkin bertanya, “Bagaimana mungkin orang saleh seperti Tuan Smith tidak diselamatkan?”

Kedua, beberapa orang yang kita anggap tidak mungkin masuk Kerajaan Surga justru berada di sana. “Bagaimana mungkin Ny. Morris ada di sini, padahal ia sudah lama tidak beribadah?”

Ketiga, kejutan yang paling membahagiakan adalah ketika kita sendiri ternyata berada di antara orang-orang yang diselamatkan.

Perbedaan hasil penghakiman ini dapat menimbulkan pertanyaan tentang keadilan Allah. Mengapa ada yang menerima hidup kekal, sementara yang lain mengalami kebinasaan? Jika pertanyaan ini tidak terjawab, keraguan terhadap keadilan Allah dapat muncul kembali dan bahkan membuka peluang terjadinya pemberontakan baru di alam semesta.

Keamanan kekal dunia baru bergantung pada kepercayaan, kasih, dan ketaatan yang sepenuhnya kepada Allah. Sikap seperti ini tidak dapat dipaksakan, tetapi lahir dari keyakinan bahwa Allah selalu adil. Karena itu Allah membuka proses penghakiman-Nya agar seluruh alam semesta memahami dan menerima keputusan-Nya. Alkitab menunjukkan bahwa Allah mengundang makhluk-makhluk surgawi untuk menyaksikan proses penghakiman yang menentukan nasib kekal manusia dan malaikat (Dan. 7:10, 22, 26; Mat. 19:28; 12:41-42; 1 Kor. 6:2-3).

Selama ini perhatian banyak orang lebih tertuju pada pelaksanaan hukuman terakhir daripada proses penghakimannya. Akibatnya, penghakiman sering dipahami hanya sebagai hari pembalasan, padahal Alkitab juga menyingkapkan proses yang mendahului keputusan tersebut.

Tujuan dari Pelajaran Alkitab ini

Pelajaran ini bertujuan menjelaskan ajaran Alkitab mengenai proses penghakiman yang terjadi sebelum dan sesudah Kedatangan Kristus. Kita akan mempelajari bagian-bagian Alkitab yang menunjukkan adanya proses peradilan ilahi sebelum keputusan akhir dilaksanakan, kemudian melihat makna teologis dan praktisnya.

Studi ini dibagi menjadi empat bagian:

  1. Tahap Pra-Advent dari Penghakiman Terakhir
  2. Fase Pasca-Advent dari Penghakiman Terakhir
  3. Hasil Penghakiman Terakhir
  4. Makna Teologis Penghakiman Terakhir

Karena pembahasannya cukup panjang, bagian ini hanya membahas Tahap Pra-Advent dari Penghakiman Terakhir, sedangkan tiga bagian berikutnya akan dibahas kemudian.

I. FASE PRA-ADVENT DAN PENGHAKIMAN TERAKHIR

Penekanan Alkitab tentang Realitas Penghakiman

Alkitab lebih menekankan kepastian penghakiman daripada rincian waktu atau prosesnya. Bagi para penulis Kitab Suci, yang terpenting adalah bahwa penghakiman pasti terjadi. Prinsip ini juga berlaku pada ajaran tentang Kedatangan Kedua dan kebangkitan.

Yesus berkata:

“Saatnya akan tiba bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya dan keluar; mereka yang telah berbuat baik akan bangkit untuk hidup, dan mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” (Yoh. 5:28-29)

Dalam perkataan ini kedua kebangkitan tampak terjadi bersamaan (bdk. Mat. 25:32; Luk. 11:32). Namun Yohanes kemudian menjelaskan bahwa kebangkitan orang benar terjadi pada awal milenium, sedangkan kebangkitan orang fasik terjadi setelah seribu tahun berakhir (Why. 20:4-5).

Fakta Lebih Penting dari Fase

Bagi cara berpikir modern, kedua penjelasan tersebut tampak bertentangan. Namun bagi penulis Alkitab, yang lebih penting adalah kepastian kebangkitan, bukan urutan waktunya. Karena itu sebagian besar ayat Alkitab hanya menegaskan bahwa kebangkitan pasti terjadi.

Prinsip yang sama berlaku pada penghakiman terakhir. Alkitab lebih sering menegaskan bahwa penghakiman pasti akan berlangsung daripada menjelaskan setiap tahapnya. Namun beberapa bagian Kitab Suci memberikan petunjuk bahwa penghakiman memiliki fase Pra-Advent dan fase Pasca-Advent. Memahami bagian-bagian ini menolong kita melihat proses penghakiman Allah secara lebih utuh.

Penghakiman Pra-Advent dalam Pengajaran Yesus

Gagasan tentang Upah

Banyak ajaran Yesus secara tidak langsung menunjukkan adanya penghakiman sebelum Kedatangan-Nya. Salah satunya adalah ajaran tentang upah. Berkali-kali Yesus berbicara mengenai menerima atau kehilangan upah dari Allah, yang mengandaikan adanya penilaian sebelumnya.

Dalam Matius 5 setiap Ucapan Bahagia berisi janji upah (Mat. 5:1-12). Yesus juga berkata,

“Jika kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu?” (Mat. 5:46).

Gagasan yang sama muncul dalam Mat. 6:1, 2, 4, 5, 16, 18; Mat. 10:41-42; Mrk. 9:41; dan Luk. 6:23, 35.

Waktu Upah

Yesus menjelaskan bahwa upah diberikan pada Kedatangan-Nya yang kedua:

“Anak Manusia akan datang… dan pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” (Mat. 16:27; bdk. Mat. 25:31-32).

Ayat ini menunjukkan bahwa Kedatangan Kristus adalah saat memberikan upah atau hukuman, bukan saat memulai penyelidikan. Karena itu, penilaian yang menentukan siapa menerima hidup kekal tentu telah berlangsung sebelumnya.

Memang Allah mengetahui segala sesuatu dan tidak memerlukan penyelidikan untuk memperoleh informasi. Namun Alkitab tetap menggambarkan adanya pemeriksaan, bahkan terhadap perkataan manusia.

“Pada hari penghakiman setiap orang harus mempertanggungjawabkan setiap kata yang sia-sia yang diucapkannya.” (Mat. 12:36).

Tujuan penyelidikan itu bukan agar Allah mengetahui fakta yang belum diketahui-Nya, melainkan agar seluruh alam semesta melihat bahwa keputusan-Nya benar dan adil. Dengan demikian, Kristus datang bukan untuk memulai proses penghakiman, melainkan untuk melaksanakan keputusan yang telah ditetapkan.


Pertanggungjawaban Manusia

Gagasan tentang penghakiman Pra-Advent juga tersirat dalam ajaran Kristus mengenai pertanggungjawaban manusia. Yesus menegaskan bahwa yang dihakimi bukan hanya perbuatan, tetapi juga “setiap kata yang sia-sia” (Mat. 12:36). Paulus menambahkan bahwa Allah akan menghakimi “segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia” (Rm. 2:16). Karena miliaran manusia akan dimintai pertanggungjawaban, hal ini mengisyaratkan adanya proses penyelidikan sebelum Kedatangan Kristus. Sebagaimana telah dijelaskan, Kedatangan Kristus merupakan saat pelaksanaan keputusan, bukan dimulainya proses penyelidikan.

Melalui beberapa perumpamaan, Yesus menjelaskan bidang-bidang pertanggungjawaban manusia. Dalam perumpamaan Sepuluh Gadis (Mat. 25:1-13), penekanannya adalah kesiapan rohani. Dalam Perumpamaan Talenta (Mat. 25:14-30), manusia diminta mempertanggungjawabkan penggunaan waktu, harta, dan kemampuan yang dipercayakan Allah. Sedangkan Perumpamaan Domba dan Kambing (Mat. 25:31-46) menekankan tanggung jawab terhadap sesama, khususnya mereka yang membutuhkan.

Orang Mati yang Dibangkitkan Sudah Dihakimi

Pertanggungjawaban setiap orang telah diputuskan sebelum Kristus datang memanggil “mereka yang telah berbuat baik kepada kebangkitan hidup, dan mereka yang telah berbuat jahat kepada kebangkitan penghukuman” (Yoh. 5:28-29).

Kebangkitan untuk hidup maupun penghukuman merupakan pelaksanaan keputusan penghakiman. Dengan kata lain, orang dibangkitkan bukan untuk dihakimi, tetapi karena mereka telah dihakimi. Jika penghakiman masih berlangsung setelah kebangkitan, berarti hukuman atau upah diberikan sebelum keputusan diambil, sesuatu yang tentu tidak sesuai dengan prinsip keadilan.

Ungkapan “kebangkitan penghakiman” dalam Yohanes 5:29 berarti “kebangkitan penghukuman.” Terjemahan NIV menjelaskan: “mereka yang telah melakukan yang baik akan bangkit untuk hidup, dan mereka yang telah melakukan yang jahat akan bangkit untuk dihukum.” Ini menunjukkan bahwa keputusan siapa yang menerima hidup kekal dan siapa yang menerima hukuman telah dibuat sebelum kebangkitan.

Pemikiran yang sama muncul ketika Yesus berkata kepada orang-orang Saduki bahwa hanya “mereka yang dianggap layak” akan memperoleh bagian dalam kebangkitan itu (Luk. 20:35). Kata dianggap layak menunjukkan bahwa penilaian telah dilakukan sebelumnya.

Gagasan Pemisahan

Pemisahan antara orang benar dan orang fasik pada Kedatangan Kristus juga mengisyaratkan adanya penghakiman Pra-Advent.

Yesus membandingkannya dengan panen gandum dan lalang. Para penuai hanya diperintahkan, “Kumpulkanlah dahulu lalang… kemudian kumpulkanlah gandum” (Mat. 13:30). Mereka tidak diminta menentukan mana gandum dan mana lalang, karena perbedaannya sudah jelas sebelum panen.

Demikian pula dalam perumpamaan jala. Tugas para malaikat bukan menentukan siapa yang benar dan siapa yang jahat, tetapi memisahkan keduanya (Mat. 13:49). Hal ini menunjukkan bahwa keputusan mengenai status setiap orang telah dibuat sebelumnya.

Yesus juga menggambarkan pemisahan itu dengan berkata:

“Dua orang akan berada di ladang; yang seorang akan dibawa dan yang lain ditinggalkan. Dua perempuan akan memutar batu kilangan; yang seorang akan dibawa dan yang lain ditinggalkan.” (Mat. 24:40-41)

Pemisahan yang terjadi seketika itu menunjukkan bahwa nasib setiap orang telah ditentukan sebelum Kedatangan Kristus.

Domba dan Kambing

Yesus kembali menggunakan gambaran seorang gembala yang memisahkan domba dari kambing (Mat. 25:32-33). Kepada domba Ia berkata,

“Marilah… terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu.” (Mat. 25:34)

Sedangkan kepada kambing Ia berkata,

“Enyahlah dari hadapan-Ku… ke dalam api yang kekal.” (Mat. 25:41)

Sebagian orang menganggap peristiwa ini sebagai penghakiman investigatif yang berlangsung pada saat Kedatangan Kristus. Namun, perikop tersebut hanya memuat pengumuman keputusan beserta alasannya, misalnya, “Aku lapar dan kamu memberi Aku makan” atau “Aku lapar dan kamu tidak memberi Aku makan.” Tidak ada proses penyelidikan yang digambarkan. Dengan demikian, keputusan itu telah ditetapkan sebelumnya.

Pakaian Pesta

Penghakiman Pra-Advent juga tersirat dalam perumpamaan tentang pesta pernikahan (Mat. 22:2-14). Setelah banyak tamu memenuhi ruang perjamuan (ay. 3-10), raja datang memeriksa mereka dan menemukan seorang tamu yang tidak mengenakan pakaian pesta (ay. 11).

Pemeriksaan ini dilakukan sebelum pesta dimulai. Dalam Wahyu 19, Kedatangan Kristus digambarkan sebagai pernikahan Anak Domba (Why. 19:7, 9). Gereja menantikan kedatangan Kristus sebagai mempelai pria (Ef. 5:32). Karena itu, pemeriksaan tamu sebelum pesta menjadi gambaran proses penilaian yang berlangsung sebelum Kedatangan Kristus.

Ellen G. White menjelaskan:

“Dalam perumpamaan Matius 22… pengadilan pemeriksaan dinyatakan terjadi sebelum pernikahan. Sebelum pernikahan, raja datang melihat para tamu untuk memastikan bahwa mereka mengenakan pakaian pesta, yaitu jubah karakter yang telah dicuci dan diputihkan dalam darah Anak Domba…. Pemeriksaan tabiat ini, untuk menentukan siapa yang dipersiapkan bagi Kerajaan Allah, merupakan pekerjaan pengadilan pemeriksaan yang mengakhiri pelayanan Kristus di tempat kudus surgawi.”The Great Controversy, hlm. 428.

Survei singkat ini menunjukkan bahwa gagasan tentang penghakiman evaluatif Pra-Advent menjadi dasar berbagai pengajaran Yesus mengenai penghakiman.

Baik melalui ajaran tentang upah, pertanggungjawaban, maupun pemisahan, Yesus mengajarkan bahwa sebelum kebangkitan terjadi telah ada penyelidikan yang menentukan siapa yang “dianggap layak” menerima hidup kekal dan siapa yang menerima penghukuman (Luk. 20:35; Yoh. 5:28-29). Konsep ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh para penulis Perjanjian Baru lainnya.


Penghakiman Pra-Advent dalam Tulisan Paulus

Penekanan pada Kepastian

Seperti Yesus, Paulus lebih menekankan kepastian dan tidak terelakkannya penghakiman terakhir daripada menjelaskan prosesnya. Ia menulis,

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah… Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” (Rm. 14:10-12; bdk. 2 Kor. 5:10; Kis. 17:31).

Paulus tidak menjelaskan secara rinci kapan pertanggungjawaban itu terjadi. Dalam tulisannya tentang Kedatangan Kedua, ia lebih menggambarkan peristiwa itu sebagai pertemuan penuh sukacita antara Kristus dan umat-Nya daripada sebagai dimulainya suatu proses penghakiman.

Penyingkapan Hasil Penghakiman

Bagi Paulus, Kedatangan Kristus merupakan saat penyingkapan hasil penghakiman Allah, bukan awal proses penyelidikan. Ia menyebutnya sebagai saat “penghakiman Allah yang adil akan dinyatakan” (Rm. 2:5; bdk. 1 Kor. 4:5).

Pada saat itu Kristus akan memberikan hidup yang kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik dan mencari kemuliaan, hormat, serta kehidupan yang kekal, sedangkan kepada mereka yang menolak kebenaran akan diberikan murka dan hukuman (Rm. 2:7-8).

Karena keputusan itu dinyatakan pada Kedatangan Kristus, maka proses yang menentukan siapa menerima hidup kekal dan siapa menerima “hukuman dan kebinasaan kekal” (2 Tes. 1:8-9) harus telah berlangsung sebelumnya.

Orang Mati Dihakimi Saat Masih Mati

Paulus juga menyatakan bahwa Kristus adalah Dia “yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati” (2 Tim. 4:1; bdk. 1 Ptr. 4:5).

Kehadiran pribadi orang yang telah meninggal tidak diperlukan dalam pengadilan surgawi, sebab Allah memiliki catatan sempurna mengenai setiap kehidupan (Dan. 7:10; Mzm. 69:28; Mal. 3:16; Why. 20:12).

Jika orang mati dihakimi ketika mereka masih berada dalam kematian, maka penghakiman itu jelas mendahului kebangkitan. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, manusia dibangkitkan setelah keputusan penghakiman ditetapkan. Dengan demikian, pada Kedatangan Kristus “penghakiman Allah yang adil akan dinyatakan” (Rm. 2:5), bukan dimulai.

Penghakiman Mendahului Kemunculan Kristus

Menjelang akhir hidupnya, Paulus menasihati Timotius:

“Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, dan demi penyataan-Nya serta Kerajaan-Nya, aku berpesan kepadamu: Beritakanlah firman…” (2 Tim. 4:1-2).

William Barclay memperhatikan urutan yang menarik dalam ayat ini:

  1. Penghakiman.
  2. Penyataan atau kemunculan Kristus.
  3. Kerajaan-Nya.

Urutan tersebut menunjukkan bahwa penghakiman mendahului kedatangan Kristus, dan kedatangan-Nya membuka jalan bagi berdirinya Kerajaan Allah.

Terjemahan King James Version menghubungkan penghakiman dengan saat Kristus datang. Namun, banyak penerjemah modern menolak terjemahan itu karena alasan tekstual maupun konseptual. Teks Yunani memuat dua kata penghubung (kai…kai), sehingga lebih tepat diterjemahkan seperti RSV dan NIV:

“Di hadapan Allah dan Kristus Yesus, yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, dan demi penyataan-Nya serta Kerajaan-Nya…”

Dengan demikian, penghakiman, penyataan Kristus, dan Kerajaan-Nya dipahami sebagai tiga tahap yang saling berhubungan, bukan satu peristiwa yang terjadi bersamaan.

Komposisi Tiga Bagian

Martin Dibelius dan Hans Conzelmann menunjukkan bahwa ungkapan Paulus dalam 2 Timotius 4:1-2 merupakan rumusan liturgis yang mirip dengan 1 Timotius 5:21:

“Di hadapan Allah, Kristus Yesus, dan para malaikat pilihan aku berpesan kepadamu….”

Kesamaan struktur ini menunjukkan bahwa gereja mula-mula memahami urutan peristiwa akhir sebagai: penghakiman Kristus, penyataan-Nya, lalu Kerajaan-Nya. Urutan tersebut mencerminkan perkembangan sejarah keselamatan menuju penyempurnaannya.

Kedatangan Kedua Tidak Mencakup Penghakiman Investigatif

Paulus memberikan penjelasan paling lengkap mengenai Kedatangan Kedua (1 Tes. 4:13-18; 2 Tes. 1:7-10; 1 Kor. 15:51-58). Menariknya, tidak satu pun uraian tersebut menggambarkan adanya proses penghakiman investigatif pada saat Kristus datang.

Dalam 1 Tesalonika 4 urutannya jelas:

  1. Kristus turun dari surga (ayat 16).
  2. Orang mati dalam Kristus dibangkitkan (ayat 16).
  3. Orang percaya yang masih hidup diubahkan (ayat 17).
  4. Semua orang percaya bertemu Tuhan di angkasa (ayat 17).
  5. Mereka bersama Tuhan selama-lamanya (ayat 17).

Demikian pula dalam 2 Tesalonika 1:7-10, Paulus hanya menjelaskan hasil Kedatangan Kristus, yaitu kebinasaan bagi orang fasik dan kemuliaan bagi orang-orang kudus. Tidak ada gambaran mengenai sidang pengadilan yang baru dimulai saat itu.

Karena itu, tindakan Kristus pada Kedatangan Kedua merupakan pelaksanaan keputusan, bukan proses penyelidikan. Penilaian terhadap setiap manusia telah selesai sebelum Parousia.

Kesalahpahaman yang Terjadi

Banyak orang Kristen menganggap kebangkitan sebagai awal penghakiman terakhir sehingga penghakiman dipandang terjadi setelah kebangkitan. Namun pandangan ini tidak sesuai dengan ajaran Yesus maupun Paulus.

Alkitab justru menggambarkan kebangkitan untuk hidup atau penghukuman sebagai pernyataan dan pelaksanaan keputusan penghakiman Allah (bdk. Yud. 15). Dengan kata lain, keputusan telah diambil sebelum kebangkitan berlangsung.

J. A. Seiss menjelaskan hal ini dengan tepat:

“Kebangkitan dan perubahan yang terjadi ‘dalam sekejap mata’ bukanlah awal penghakiman, melainkan buah dan pelaksanaan dari penghakiman yang telah lebih dahulu berlangsung. Kebangkitan adalah akibat dari keputusan yang telah ditetapkan.”

Dengan demikian, tulisan Paulus mendukung pemahaman bahwa penghakiman evaluatif berlangsung sebelum Kedatangan Kristus, sedangkan Kedatangan-Nya merupakan saat keputusan itu dinyatakan dan dilaksanakan.

Berikut adalah versi yang diringkas sekitar 15%, dengan subjudul tetap dipertahankan, ayat-ayat Alkitab tetap ada, dan bahasa disederhanakan tanpa mengubah makna teologisnya.


PENGHAKIMAN PRA-ADVENT DALAM KITAB WAHYU

Sentralitas Penghakiman

Tema penghakiman merupakan salah satu tema utama dalam kitab Wahyu. Kitab ini dibuka dengan penglihatan tentang Kristus yang datang untuk menghakimi dunia.

“Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia…” (Wahyu 1:7).

Kitab Wahyu ditutup dengan penghakiman di hadapan Takhta Putih Besar (Wahyu 20:11-15) dan janji Kristus:

“Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.” (Wahyu 22:12).

Di antara pembukaan dan penutup kitab ini terdapat rangkaian penghakiman Allah: terhadap gereja yang tidak bertobat (Why. 2–3), melalui tujuh meterai, tujuh sangkakala, tujuh tulah, penghukuman Babel, binatang, nabi palsu, Setan, hingga semua orang fasik (Why. 6–20). Penghakiman-penghakiman itu menunjukkan bahwa Allah secara bertahap mengakhiri kuasa dosa dan menegakkan keadilan-Nya.

Para martir yang berseru meminta keadilan (Why. 6:10) akhirnya melihat kemenangan Allah dan menyanyikan:

“Adil dan benar segala jalan-Mu.” (Wahyu 15:3-4).

Tahapan Akhir Penghakiman

Kitab Wahyu lebih menekankan kepastian penghakiman daripada menjelaskan setiap tahapnya. Namun kitab ini tetap memberi petunjuk adanya beberapa fase penghakiman.

Orang-orang yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama dikatakan telah menerima penghakiman (Wahyu 20:4, 6). Setelah itu muncul penghakiman di depan Takhta Putih Besar (Wahyu 20:11-15). Hal ini menunjukkan adanya tahap Pra-Advent, tahap saat Kedatangan Kristus, dan tahap setelah Kedatangan.

Visi Anak Domba

Salah satu petunjuk tentang penghakiman Pra-Advent terdapat dalam penglihatan Anak Domba yang memegang gulungan kitab dengan tujuh meterai (Wahyu 5).

Gulungan itu tampaknya melambangkan keputusan Allah mengenai nasib umat manusia. Ada beberapa alasan:

  • hanya Anak Domba yang layak membukanya (Why. 5:9);
  • Wahyu berbicara tentang Kitab Kehidupan Anak Domba yang berisi nama orang-orang yang diselamatkan (Why. 13:8; 17:8; 21:27);
  • pada penghakiman terakhir kitab kehidupan dibuka untuk menentukan siapa yang diselamatkan (Why. 20:12-15).

Pembukaan meterai secara bertahap mengungkapkan pelaksanaan keputusan Allah terhadap dunia.

Unsur-Unsur Peradilan dari Visi

Walaupun Wahyu 5 tidak menggambarkan ruang sidang secara langsung, penglihatan ini memiliki unsur-unsur pengadilan.

Anak Domba adalah lambang Kristus sebagai Hakim. Ia juga disebut Singa dari suku Yehuda (Why. 5:5), yang menunjukkan bahwa kemenangan-Nya melalui salib memberi-Nya hak untuk menghakimi.

Di sekeliling takhta hadir tua-tua, makhluk hidup, dan berjuta-juta malaikat (Why. 5:11), mengingatkan pada sidang pengadilan dalam Daniel 7:10.

Persetujuan Penghakiman

Makhluk-makhluk surgawi memuji Anak Domba dan menyatakan bahwa hanya Dialah yang layak membuka gulungan itu (Why. 5:9).

Mereka mengakui bahwa Kristus telah menebus manusia dengan darah-Nya dari segala bangsa dan bahasa. Dengan demikian mereka menyetujui keputusan Allah dan mengakui bahwa penghakiman-Nya benar serta penuh kasih.

Inilah salah satu tujuan penting penghakiman Pra-Advent, yaitu menyatakan keadilan Allah di hadapan seluruh alam semesta.

Pengumuman Penghakiman

Gambaran paling jelas mengenai penghakiman Pra-Advent terdapat dalam Wahyu 14.

Pasal ini berisi tiga penglihatan:

  1. 144.000 berdiri bersama Anak Domba (Why. 14:1-5).
  2. Tiga malaikat mengumumkan berita penghakiman (Why. 14:6-13).
  3. Kristus datang menuai bumi (Why. 14:14-20).

Malaikat pertama berseru:

“Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya.” (Wahyu 14:7).

Malaikat kedua mengumumkan jatuhnya Babel (Why. 14:8), sedangkan malaikat ketiga memperingatkan mereka yang menyembah binatang (Why. 14:9-11).

Panggilan Terakhir untuk Bertobat

Pengumuman bahwa “saat penghakiman-Nya telah tiba” disampaikan sebelum Kristus datang menuai bumi (Why. 14:14-20).

Ini menunjukkan bahwa penghakiman Pra-Advent masih merupakan masa anugerah. Allah masih memberikan kesempatan terakhir bagi manusia untuk bertobat melalui pemberitaan Injil yang kekal (Why. 14:6).

Karena itu, penghakiman Pra-Advent bukan hanya bertujuan menghukum, tetapi juga memanggil dunia kembali kepada Allah.

Waktu Penghakiman

Pesan malaikat pertama muncul setelah rangkaian tujuh meterai dan tujuh sangkakala, tetapi sebelum tujuh tulah terakhir dicurahkan.

Hal ini menunjukkan bahwa penghakiman Pra-Advent dimulai sebelum Kedatangan Kristus dan sebelum pelaksanaan hukuman terakhir.

Sesudah pengumuman itu, Kristus datang menuai bumi: gandum melambangkan orang benar yang dikumpulkan ke dalam Kerajaan Allah (Why. 14:14-16), sedangkan buah anggur melambangkan penghukuman atas orang fasik (Why. 14:17-20).

Seperti pada sistem ibadah Israel, sangkakala ditiup sebelum Hari Pendamaian untuk mengajak umat bertobat, demikian pula pekabaran tiga malaikat memberitakan bahwa “saat penghakiman-Nya telah tiba” dan memanggil semua orang untuk bertobat serta menyembah Pencipta sebelum Kristus datang kembali.


PENGHAKIMAN PRA-ADVENT DALAM KITAB DANIEL

Visi Pengadilan

Daniel 7 memuat penglihatan penghakiman yang paling jelas mengenai sifat dan waktu penghakiman Pra-Advent. Pasal ini terbagi menjadi tiga bagian, dan masing-masing mencapai puncaknya pada sidang pengadilan di surga di hadapan Yang Lanjut Usianya.

Pada bagian pertama (Daniel 7:1-14), Daniel melihat empat binatang yang melambangkan kerajaan-kerajaan dunia. Binatang keempat sangat mengerikan dan memiliki tanduk kecil yang menghujat Allah serta menganiaya umat-Nya (Dan. 7:8).

Kemudian perhatian Daniel beralih ke surga. Ia melihat Yang Lanjut Usianya duduk di takhta-Nya:

“Seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah kitab-kitab.” (Daniel 7:9-10)

Sesudah itu Daniel melihat binatang itu dihukum (Dan. 7:11-12), lalu Anak Manusia datang kepada Yang Lanjut Usianya untuk menerima kerajaan yang kekal (Dan. 7:13-14).

Urutan ini menunjukkan bahwa penghakiman di surga terjadi setelah munculnya tanduk kecil dan sebelum Kristus menerima kerajaan-Nya, sehingga penghakiman itu berlangsung sebelum Kedatangan Kedua.

Penjelasan Visi

Pada bagian kedua (Daniel 7:15-22), malaikat menjelaskan bahwa empat binatang melambangkan empat kerajaan. Kerajaan terakhir akan menganiaya orang-orang kudus (Dan. 7:21).

Namun penganiayaan itu berlangsung hanya sampai:

“…Yang Lanjut Usianya datang dan memberikan keadilan kepada orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi…” (Daniel 7:22)

Melalui penghakiman ini, orang-orang kudus akhirnya menerima kerajaan Allah. Sekali lagi terlihat bahwa penghakiman terjadi sebelum kerajaan kekal diberikan.

Penjelasan Tambahan

Pada bagian ketiga (Daniel 7:23-28), malaikat kembali menjelaskan tentang binatang keempat dan tanduk kecil yang akan menganiaya orang-orang kudus serta berusaha mengubah waktu dan hukum (Dan. 7:25).

Puncaknya kembali sama:

“Lalu Majelis Pengadilan akan duduk…” (Daniel 7:26)

Kuasa tanduk kecil dihancurkan, sedangkan kerajaan diberikan kepada umat Allah (Dan. 7:27).

Waktu Penghakiman

Ketiga bagian Daniel 7 selalu berakhir dengan sidang pengadilan surgawi.

Urutan sejarahnya adalah:

Babel → Media-Persia → Yunani → Roma → Sepuluh Tanduk → Tanduk Kecil → Penghakiman → Kedatangan Anak Manusia → Kerajaan Kekal.

Urutan ini menunjukkan bahwa penghakiman bukan dilakukan pada saat Kedatangan Kristus, tetapi lebih dahulu berlangsung di surga di hadapan para malaikat sebelum Kristus datang kembali.

Perbandingan dengan Wahyu 5

Penglihatan Daniel 7 memiliki kesamaan dengan Wahyu 5.

Dalam Wahyu 5, makhluk-makhluk surgawi mengelilingi takhta Allah dan menyatakan bahwa Anak Domba layak membuka gulungan yang berisi keputusan Allah mengenai nasib manusia.

Dalam Daniel 7 para malaikat hadir dalam sidang pengadilan, sedangkan dalam Wahyu 5 mereka menyatakan persetujuan terhadap hak Kristus membuka gulungan itu. Kedua penglihatan ini saling melengkapi dan menunjukkan bahwa seluruh surga mengakui keadilan penghakiman Allah.

Visi Daniel 8 Mengenai Bait Suci

Daniel 8 mengulang tema Daniel 7, tetapi lebih menjelaskan kapan penghakiman Pra-Advent dimulai.

Malaikat beberapa kali mengatakan bahwa penglihatan itu berlaku untuk akhir zaman (Dan. 8:17, 19, 26).

Nubuat pentingnya terdapat dalam Daniel 8:14:

“Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus akan dipulihkan.”

Pemulihan atau penyucian tempat kudus mengacu pada Hari Pendamaian (Imamat 16:29-30), yang melambangkan penghakiman terakhir dan penghapusan dosa.

Berdasarkan hubungan Daniel 8 dan Daniel 9, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh memahami bahwa nubuat 2300 petang dan pagi dimulai pada tahun 457 SM (Daniel 9:25) ketika Artahsasta mengeluarkan keputusan membangun kembali Yerusalem.

Perhitungan itu berakhir pada tahun 1844 M, yang dipahami sebagai awal pelayanan Kristus dalam fase penghakiman Pra-Advent di tempat kudus surgawi.

Ruang Lingkup Pengadilan

Penghakiman Pra-Advent mencakup dua hal:

  • menghakimi kuasa-kuasa yang melawan Allah dan menganiaya umat-Nya (Dan. 7:25-27; 8:11-14, 23-25);
  • membela dan membenarkan orang-orang kudus (Dan. 7:22).

Penghakiman ini dilakukan berdasarkan kitab-kitab yang dibuka:

“Majelis pengadilan duduk dan kitab-kitab dibuka.” (Daniel 7:10)

Kitab-kitab ini berisi catatan kehidupan manusia, termasuk tindakan dan motivasi hati (bdk. Mal. 3:16; Maz. 69:28; Why. 20:12). Berdasarkan catatan itulah Allah menyatakan keadilan keputusan-Nya.

Hasil dari Penghakiman

Hasil penghakiman dalam Daniel 7 adalah kehancuran kuasa-kuasa jahat dan pemberian kerajaan kekal kepada umat Allah (Dan. 7:26-27).

Daniel 12 menggambarkan pelaksanaan keputusan itu. Pada akhir zaman Mikhael berdiri, dan:

“…setiap orang yang didapati namanya tertulis dalam kitab itu akan terluput.” (Daniel 12:1)

Kemudian terjadi kebangkitan:

“…sebagian untuk mendapat hidup yang kekal dan sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.” (Daniel 12:2)

Daniel 12 tidak lagi menggambarkan proses sidang, tetapi pelaksanaan keputusan yang sudah dibuat. Dengan demikian, Daniel 7 menunjukkan fase evaluasi penghakiman, sedangkan Daniel 12 menunjukkan pelaksanaan keputusan itu.

Kitab yang dibuka dalam Daniel 7 menjadi dasar bagi nama-nama yang ditemukan dalam kitab kehidupan (Daniel 12:1; Wahyu 20:15). Hal ini menegaskan bahwa penghakiman Pra-Advent adalah tahap penentuan sebelum Kristus datang memberikan upah kepada setiap orang menurut perbuatannya.


PENGHAKIMAN PRA-ADVENT DALAM TIPOLOGI HARI PENDAMAIAN

Waktu Penghakiman

Konsep penghakiman akhir, baik tahap penyelidikan maupun pelaksanaannya, telah dilambangkan dalam Perjanjian Lama melalui Hari Pendamaian.

Hari Pendamaian adalah hari penghakiman dan penyucian tahunan yang menangani seluruh dosa Israel yang selama setahun telah dipindahkan secara simbolis ke tempat kudus melalui korban harian (Imamat 4:5-6, 16-18; 6:24-30; 10:18).

Pada hari itu semua dosa umat dihapuskan melalui rangkaian upacara yang meliputi korban untuk imam, korban bagi umat, dan pelepasan kambing Azazel (Imamat 16:16, 22, 30, 34). Allah menyatakan bahwa umat-Nya telah menjadi tahir (Imamat 16:30).

Proses Penghakiman

Proses ini sebenarnya dimulai sejak hari pertama bulan ketujuh, ketika sangkakala ditiup (Imamat 23:23) sebagai tanda dimulainya masa pertobatan.

Selama sepuluh hari berikutnya hingga Hari Pendamaian (Imamat 23:27), umat diajak memeriksa diri dan bertobat. Masa ini melambangkan suatu penghakiman penyelidikan, ketika Allah memeriksa kehidupan umat-Nya.

Tradisi Yahudi menyatakan:

“Penghakiman dimulai pada Tahun Baru dan keputusan dimeteraikan pada Hari Pendamaian.”

Karena itu umat diperintahkan untuk merendahkan diri, bertobat, dan mengakui dosa-dosa mereka (Bilangan 29:7). Siapa yang menolak bertobat akan dilenyapkan dari umat Allah (Imamat 23:29).

Ritual Penghakiman

Sifat penghakiman Hari Pendamaian juga terlihat dalam pelayanannya.

Hanya pada hari itu Imam Besar masuk ke Ruang Mahakudus untuk menghadap hadirat Allah di atas tutup pendamaian (Mazmur 99:1; 80:1), tempat yang melambangkan takhta penghakiman Allah.

Di dalam tabut terdapat loh hukum Allah (Keluaran 40:20), yang menjadi standar penghakiman-Nya (Mazmur 89:13-14).

Umat tidak masuk sendiri ke hadapan Allah, tetapi Imam Besar mewakili mereka. Hal ini melambangkan pelayanan Kristus yang kini:

“…menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita.” (Ibrani 9:24)

Saat Pembenaran

Hari Pendamaian bukan terutama hari penghukuman, melainkan hari pendamaian dan pembenaran.

Imam Besar memercikkan darah pada tutup pendamaian sebanyak tujuh kali (Imamat 16:14-15), sebagai lambang bahwa Allah telah mengampuni dan menutupi dosa umat-Nya.

Pembenaran ini juga tampak melalui ritual kambing Azazel. Imam Besar mengaku dosa-dosa Israel di atas kepala kambing itu (Imamat 16:21), lalu kambing tersebut dilepaskan ke padang gurun (Imamat 16:21-22).

Dalam pemahaman Advent, Azazel melambangkan Setan yang pada akhirnya akan memikul tanggung jawab atas dosa dan kejahatan yang telah ditimbulkannya.

Perayaan Yobel

Setelah Hari Pendamaian selesai, sangkakala Yobel ditiup (Imamat 25:9), menandai dimulainya Tahun Yobel, yaitu masa pembebasan dan pemulihan.

Karena itu, pembersihan dosa selalu diikuti dengan awal kehidupan yang baru.

Gambaran sangkakala Yobel kemudian dipakai Alkitab untuk melukiskan pengumpulan umat Allah (Yesaya 27:13; Zakharia 9:9-14) dan Kedatangan Kristus yang kedua (Matius 24:31; 1 Tesalonika 4:16; 1 Korintus 15:52).

Semua ini menunjukkan bahwa Hari Pendamaian melambangkan berakhirnya proses penghakiman atas dosa dan dimulainya tatanan yang baru, ketika Allah menghapus dosa umat-Nya dan memulihkan hubungan perjanjian dengan mereka.


Hari Pendamaian Antitipikal Surgawi

1. Bait Suci di Bumi Menunjuk kepada Bait Suci di Surga

Hari Pendamaian dalam Perjanjian Lama bukan sekadar upacara tahunan bangsa Israel. Seluruh pelayanan itu merupakan bayangan dari pelayanan Kristus yang sesungguhnya di Bait Suci surgawi.

Penulis kitab Ibrani menjelaskan bahwa kemah suci di bumi hanyalah “salinan dan bayangan” dari tempat kudus yang sebenarnya di surga (Ibr. 8:5). Kristus sekarang melayani sebagai Imam Besar di “Kemah yang benar” yang didirikan Allah sendiri (Ibr. 8:1-2), sehingga seluruh sistem korban dan pelayanan imam di Perjanjian Lama menemukan penggenapannya di dalam diri-Nya.

2. Dua Tahap Pelayanan Kristus di Surga

Sebagaimana pelayanan di bait suci duniawi memiliki dua tahap, demikian pula pelayanan Kristus di surga.

a. Pelayanan Syafaat

Sejak kenaikan-Nya, Kristus melayani sebagai Imam Besar yang menjadi Pengantara bagi umat-Nya. Ia duduk di sebelah kanan Allah (Ibr. 8:1-2) untuk:

  • mengampuni orang yang bertobat (1 Yoh. 1:9),
  • menjadi Pembela umat-Nya (1 Yoh. 2:1),
  • membawa doa-doa orang percaya ke hadapan Allah (Why. 8:3),
  • serta memelihara gereja-Nya.

Pelayanan ini menunjukkan bahwa keselamatan bukan hanya bergantung pada salib, tetapi juga pada pelayanan Kristus yang terus berlangsung di surga.

b. Pelayanan Penghakiman

Selain pelayanan syafaat, Alkitab juga menunjukkan adanya tahap terakhir pelayanan Kristus yang dilambangkan oleh Hari Pendamaian.

Sebagaimana imam besar masuk ke Ruang Maha Kudus setahun sekali untuk membersihkan bait suci dan menyelesaikan persoalan dosa, demikian pula Kristus melaksanakan pekerjaan penghakiman sebelum Kedatangan-Nya yang kedua.

Penghakiman ini bukan menggantikan pelayanan syafaat, tetapi merupakan penyempurnaan dari karya penebusan-Nya.

3. Salib: “Sudah” dan “Belum”

Kitab Ibrani memperlihatkan dua sisi karya Kristus.

Di satu sisi, melalui salib Kristus dosa telah ditebus “sekali untuk selama-lamanya” (Ibr. 9:26). Penebusan itu sempurna dan tidak perlu diulang.

Namun di sisi lain, masih ada tahap akhir pelayanan Kristus yang berlangsung di surga. Saat ini Ia hadir di hadapan Allah sebagai Pengantara bagi umat-Nya (Ibr. 9:24), dan kelak Ia akan datang kembali untuk menyelamatkan mereka yang setia menantikan-Nya (Ibr. 9:28).

Dengan demikian, karya keselamatan memiliki tiga dimensi:

  • Masa lalu: Kristus mati di salib untuk menghapus dosa.
  • Masa kini: Kristus melayani sebagai Imam Besar dan Pengantara.
  • Masa depan: Kristus datang kembali untuk memberikan keselamatan yang telah dipastikan melalui penghakiman.

4. Pembersihan Bait Suci Surgawi

Ibrani 9:23 menyatakan bahwa sebagaimana bait suci duniawi perlu disucikan, demikian pula “hal-hal surgawi” memerlukan penyucian melalui korban Kristus.

Pembersihan ini bukan berarti surga pernah menjadi najis, melainkan menunjuk kepada penyelesaian akhir persoalan dosa. Sebagaimana Hari Pendamaian menghapus catatan dosa Israel secara simbolis, pelayanan Kristus di surga menyatakan penyelesaian akhir dosa melalui penghakiman-Nya.

5. Penghakiman Terjadi Sebelum Kedatangan Kristus

Ibrani 9:27-28 memberikan urutan yang penting:

“Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi… demikian pula Kristus… akan datang untuk kedua kalinya… untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia.”

Urutan ini menunjukkan bahwa ketika Kristus datang kembali, Ia bukan datang untuk mengadakan sidang pengadilan, melainkan untuk melaksanakan keputusan yang telah ditetapkan. Mereka yang diselamatkan menerima hidup kekal, sedangkan mereka yang menolak keselamatan menerima hukuman.

Karena itu, pekerjaan penghakiman yang menentukan siapa yang akan menerima hidup kekal harus telah selesai sebelum Kedatangan Kedua.

Kesimpulan

Tipologi Hari Pendamaian memberikan gambaran yang jelas tentang pelayanan Kristus di Bait Suci surgawi. Sebagaimana imam besar menyelesaikan pelayanan tahunan dengan membersihkan tempat kudus dan membenarkan umat Allah, demikian pula Kristus sedang menyelesaikan pelayanan-Nya melalui penghakiman pra-Advent sebelum Ia datang kembali.

Salib menjadi dasar keselamatan, pelayanan syafaat Kristus menerapkan keselamatan itu kepada orang percaya, dan penghakiman pra-Advent menegaskan kepada seluruh alam semesta bahwa keputusan Allah adil dan benar. Setelah pekerjaan itu selesai, Kristus akan datang bukan untuk menghakimi lagi, tetapi untuk membawa pulang umat-Nya dan menggenapi keselamatan secara sempurna.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *