Ketika Brankas Menjadi Berhala

“Kata-Nya lagi kepada mereka: ‘Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari pada kekayaan itu.'” Lukas 12:15

Suatu hari masyarakat Indonesia kembali dibuat terkejut. Berita tentang penyitaan uang dalam jumlah fantastis dan emas batangan dari sebuah perkara hukum memenuhi media.

Tumpukan uang, brankas besar, dan logam mulia menjadi tontonan publik. Banyak orang hanya mampu menggelengkan kepala.

Pertanyaan yang muncul bukan lagi, “Berapa jumlah uangnya?” Tetapi, “Mengapa seseorang yang sudah memiliki begitu banyak masih ingin memiliki lebih banyak lagi?”

Inilah misteri hati manusia.

Masalah terbesar bukanlah jumlah uang yang dimiliki, melainkan ketika uang mulai menguasai manusia.

Alkitab sejak lama telah mengingatkan, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.” (1 Timotius 6:10)

Perhatikan, Alkitab tidak mengatakan bahwa uang adalah akar kejahatan. Yang menjadi masalah adalah cinta kepada uang.

Artinya, ketika uang berubah dari alat menjadi tujuan hidup, manusia mulai kehilangan batas antara kebutuhan dan keserakahan.

Keserakahan Tidak Pernah Mengenal Kata Cukup

Mengapa orang yang sudah kaya masih ingin lebih kaya? Karena keserakahan bekerja seperti air laut. Semakin diminum, semakin haus.

Pengkhotbah berkata, “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang.” (Pengkhotbah 5:10)

Inilah ironi kehidupan.

Orang miskin berkata, “Kalau saya punya satu miliar, saya sudah cukup.”

Orang yang memiliki satu miliar berkata, “Kalau punya sepuluh miliar, saya akan tenang.”

Orang yang memiliki sepuluh miliar masih mengejar seratus miliar.

Tidak ada garis akhir bagi hati yang dikuasai keserakahan.

Brankas Bisa Penuh, Tetapi Hati Tetap Kosong

Ada orang yang memiliki rumah besar, kendaraan mewah, investasi melimpah, bahkan emas batangan bertumpuk. Namun setiap malam ia tetap tidur dengan rasa takut.

Takut kehilangan.

Takut ketahuan.

Takut ada yang mengambil.

Takut hartanya berkurang.

Semakin besar harta yang disimpan seseorang, semakin besar pula kecemasan yang harus dijaga.

Yesus pernah bertanya, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Markus 8:36)

Brankas mampu menyimpan emas. Tetapi brankas tidak mampu menyimpan damai sejahtera.

Kekayaan Adalah Titipan, Bukan Tujuan

Dalam pandangan Alkitab, kekayaan bukanlah dosa. Ada banyak tokoh Alkitab yang memiliki kekayaan fantastis..

Misalnya, Abraham, Ayub, Daud, Salomo dll. Mereka sangat kaya akan harta benda. Namun mereka dipanggil untuk menjadi pengelola, bukan pemilik mutlak dari kekayaan itu.

Segala sesuatu berasal dari Tuhan.

Ketika manusia lupa bahwa dirinya hanyalah penatalayan, harta berubah menjadi tuan yang memperbudak diri. Segala sesuatu akan diukur dengan uang..

Harta Tidak Akan Ikut Sampai Kubur

Berapa pun banyaknya uang yang berhasil dikumpulkan, semuanya akan tertinggal setelah kita meninggal..

Tidak ada peti mati yang dilengkapi brankas untuk menyimpan harta kekayaan..

Tidak ada orang yang membawa emas batangan ke dalam kubur.

Ayub berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali.” (Ayub 1:21)

Pada akhirnya, yang dinilai Tuhan bukanlah berapa banyak yang kita simpan, tetapi bagaimana kita menggunakannya.

Pelajaran untuk Kita Semua

Mungkin kita tidak pernah menyimpan miliaran rupiah di dalam brankas. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah hati kita juga sedang membangun “brankas” sendiri? Brankas keserakahan. Brankas ambisi. Brankas ego, dll..

Atau kah kita sedang membangun kerajaan Allah melalui setiap berkat yang Tuhan percayakan?

Yesus berkata, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21)

Pertanyaannya bukan berapa banyak harta yang kita miliki. Pertanyaannya adalah: di manakah hati kita berada?

Dalam 1 Timotius 6:8, yang berbunyi: “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.”

Ayat ini mengajarkan pentingnya hidup bersyukur dan memiliki rasa cukup dengan apa yang Tuhan sediakan, serta mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam cinta uang dan keserakahan

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *