Belajar Menjadi Penatalayan Kerajaan Allah

Teks: Mazmur 90:12

Tema:

Waktu adalah pemberian Allah yang tidak dapat diulang. Orang bijaksana bukanlah yang memiliki waktu lebih banyak, tetapi yang menggunakan waktu untuk melakukan kehendak Allah, sebagaimana Yesus melakukannya.


Pendahuluan

Ketika Ipar saya meninggal awal bulan juni yang lalu, adik saya, menangis dalam penyesalan yang dalam. Dia selalu mengulang kata-kata yang sama setiap hari..”Kalau waktu bisa diulang, saya akan memaksa dia berobat..dan dia tidak akan mati..”

Sehingga kerinduan terbesarnya adalah “Mengulang kembali waktu…”

Beberapa tahun yang lalu, dalam sebuah acara pertemuan dengan sekelompok lansia, mereka diberikan satu pertanyaan..

“Kalau Bapak dan Ibu bisa kembali menjadi muda selama satu hari, apa yang ingin dilakukan?” Jawabannya bermacam-macam.

Ada yang berkata, “Saya ingin lebih banyak waktu bersama keluarga.” Ada yang berkata, “Saya ingin belajar lebih sungguh-sungguh untuk TUhan.”

Ada yang berkata, “Saya ingin lebih cepat bertobat.”

Menariknya, tidak ada yang berkata, “Saya ingin bekerja lebih banyak sampai tidak punya waktu untuk keluarga.” “Saya ingin lebih sering marah.” “Saya ingin lebih banyak menunda.”

Mengapa?

Karena ketika usia bertambah, kita menyadari bahwa yang paling mahal bukan emas, bukan tanah, bukan uang—melainkan waktu.

Namun ada satu fakta yang tidak bisa dibantah.. Tuhan tidak pernah memberi kita kesempatan untuk mengulang hari kemarin.

Karena waktu tidak dapat diputar kembali, maka Musa berdoa, ” Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana…”


Latar Belakang Mazmur 90

Mazmur 90 adalah doa Musa. Dilatar belakangi oleh peristiwa di Bilangan 20. Miryam, kakak perempuan Musa meninggal dunia, Dosa Musa yang memukul batu karang di padang gurun sehingga ia tidak dapat memasuki Tanah Perjanjian; (11) Kematian Harun saudara Laki-laki Musa (28-29)

    Gagasan Mazm 90 adalah hidup ini singkat seperti bayangan. Tetapi kita akan aman didalam Tuhan dengan memanfaatkan dan mengisi waktu dengan baik.

    Saat itu, Musa menyaksikan satu generasi keluar dari Mesir, tetapi sebagian besar mati di padang gurun karena ketidaktaatan.

    Hari demi hari, ia melihat kuburan demi kuburan. Di tengah pengalaman itu Musa menyadari bahwa hidup manusia sangat singkat dibandingkan kekekalan Allah.

    Karena itu ia tidak meminta umur panjang. beda dengan kita, lagu ultah kita adalah panjang umurnya..

    Musa, meminta hikmat. Kebijaksanaan tentang waktu..”Agar kami beroleh hati yang bijaksana..”


    I. Waktu Mengingatkan Kita Bahwa Hidup Ini Singkat

    Mazmur 90:10,12 mengatakan, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun…” Disini, Musa tidak sedang menghitung umur manusia secara angka..

    Ia sedang mengingatkan bahwa hidup ini cepat berlalu. Setiap tahun, ketika merayakan ulang tahun, kita tidak hanya bertambah usia. Tetapi juga berkurang jatah hidup kita.

    Coba perhatikan gambar ilustrasi siklus hidup manusia..

    Manusia lahir, bertumbuh, anak-anak, dewasa, punya anak, tua dan meninggal..

    Diumur sekarang ini saya merasa 30-40 tahun ternyata sangat pendek..terkadang heran, ko sudah tiba di umur seperti ini..mungkin kita punya perasaan yang sama..

    Karena pendeknya waktu hidup ini.. Musa berkata, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami.”

    Menghitung hari bukan berarti hidup dalam ketakutan. Tetapi hidup dengan kesadaran bahwa waktu hidup kita terbatas..

    Apa arti waktu hidup kita singkat? Waktu kita singkat, karena ketidakpastian.

    Waktu terasa singkat dibandingkan dengan keabadian. Didunia ini semua ada limitnya. Batre ada limitnya, mobil ada jarak tempuhnya. Tenaga kita ada batasnya. Usia ada batasnya..

    Namun keabadian itu tidak terbatas. Tak ada teleskop yang dapat melihat hingga ujung keabadian. Keabadian adalah hari yang tak pernah terbenam. Ia adalah lingkaran—tanpa awal atau akhir.

    Keabadian adalah jumlah yang tak pernah dapat dihitung, garis yang tak pernah dapat diukur.

    Aplikasi

    Orang yang sadar hidup ini singkat tidak akan mudah membuang waktunya untuk hal-hal yang sia-sia. Seorang bernama Charles Swindoll, dia menulis 5 cara membuang waktu sia-sia..

    Pertama, banyaklah kuatir. Kuatirlah sejak pagi hingga malam dan tingkatkan terus kecemasan anda dari hari kehari..

    Kedua, buatlah banyak ramalan-ramalan tentang masa depan anda..ketiga, sibuk berangan-angan untuk menjadi kaya. Keempat, bandingkanlah diri anda dengan orang lain. Kelima, perpanjang daftar musuh Anda.

    Terapkan lima saran ini maka Anda akan mencetak rekor baru dalam membuang waktu yang berharga.

    Yakobus menulis, “Kamu tidak tahu bagaimana hidupmu esok hari. Kamu hanyalah uap yang muncul sebentar lalu lenyap.” ( Yakobus 4:15 )

    Ketika seniman besar Raphael meninggal pada usia muda 37 tahun, teman dan kerabat membawa lukisannya yang luar biasa namun belum selesai. Judul lukisan itu adalah Transfigurasi..

    Lukisan yang setengah jadi itu memiliki makna lain – Hidup itu singkat dan kematian dapat datang secara tiba-tiba. Kita harus menghargai setiap jam sebagai anugerah yang sangat berharga dan menggunakannya sebaik-baiknya.

    Ilustrasi jam hidup: kalau kita lihat ilustrasi jam ini. bayi baru lahir pukul 12 malam, sekarang lihat berapa umur kita, kita hidup dijam berapa sekarang? Ada yang masih dijam 3, 6, ada yang sudah jam 9, 10..waktu sangat singkat..


    II. Waktu Adalah Titipan, Bukan Milik Kita

    Sering kita berkata, “Ini waktuku.” Tetapi Alkitab berkata, Mazmur 31:16 “Masa hidupku ada dalam tangan-Mu.”

    Setiap pagi kita menerima 24 jam. Kita tidak membelinya. Kita tidak menciptakannya. Semuanya adalah pemberian Allah.

    Karena itu, kita bukan pemilik waktu. Kita hanyalah penatalayan waktu yang Tuhan karuniakan kepada kita..

    Ilustrasi

    Seorang pegawai kantor diberi mobil dinas. Ia boleh memakainya. Tetapi ia tidak boleh berkata, “Mobil ini milikku.”

    Demikian juga waktu. Kita menggunakannya. Tetapi bukan untuk memilikinya.


    III. Yesus Adalah Teladan Penatalayan Waktu

    Yesus hidup sekitar tiga puluh tiga tahun. Secara manusia, itu bukan umur yang panjang. Namun tidak ada satu hari pun yang sia-sia.

    Masa kecil,

    Pada usia dua belas tahun, Lukas 2:49 Yesus berkata,”Aku harus berada di rumah Bapa-Ku.” Sejak kecil hidup-Nya memiliki arah.

    Masa pelayanan

    Yohanes 4:34, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia…” Setiap hari dipakai untuk melakukan kehendak Bapa.

    Menjelang salib

    Yohanes 17:4, “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku.”

    Luar biasa. Menjelang kematian Yesus tidak berkata, “Aku berharap punya waktu lebih banyak.”

    Ia berkata, “Aku telah menyelesaikan pekerjaan-Ku.” Inilah kehidupan yang berhasil menurut Allah.


    IV. Jangan Menunda Kesempatan yang Tuhan Berikan

    Banyak orang berkata, “Nanti.” “Nanti saya bertobat.” “Nanti saya melayani.” “Nanti saya mengampuni.”

    Tetapi Alkitab berkata, Efesus 5:15-16, “Pergunakanlah waktu yang ada…” Mengapa? Karena waktu terus berjalan. Kesempatan mungkin tinggal sedikit..

    Kata waktu dalam ayat ini dari kata Kairos. Artinya kesempatan. Kairos ada tokoh mitologi Yunani yang memiliki sehelai rambut di dahinya yang dapat digunakan untuk menangkapnya ketika bertemu, tetapi botak di bagian belakang, sehingga setelah ia berlalu, ia tidak dapat ditangkap lagi..

    Kairos merujuk pada periode waktu yang tetap dan pasti. Kalau waktu itu berlalu dia tidak dapat lagi digapai..

    Kairos adalah waktu yang Tuhan alokasikan kepada setiap orang percaya untuk menghasilkan “buah spiritual.”

    Karena itu, kita, harus “Merebut Hari Ini” ( Carpe diem ) karena Tempus fugit (Waktu berlalu)! Membuang waktu berarti membunuh kesempatan.

    Mari kita lihat penjahat di sebelah Yesus. Hidupnya hampir berakhir. Tetapi ia memakai detik-detik terakhir untuk percaya kepada Kristus.

    Dan Yesus berkata,, Lukas 23:43 “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di Firdaus.” Selama masih ada hari ini, masih ada kesempatan.

    Saya ingat, beberapa puluh tahun lalu, seorang petugas pintu rel kereta api, yang telah mendengar injil, mendapat panggilan untuk menerima Yesus..

    Dia berkata, nanti saja setelah saya pensiun. Setelah pensiun, dia bilang nanti setelah anak saya menikah, setelah itu dia katakana lagi, nantilah setelah saya bangun rumah..

    Setelah rumahnya selesai, dia meninggal dan tidak pernah menerima Yesus..menunda untuk menerima Yesus bisa berakibat fatal. Kita tidak akan pernah menerima. Menunda memberi atau kita tidak akan pernah memberi..

    Waktu adalah komoditas yang aneh—kita tidak dapat menyimpannya, mengambilnya kembali, menghidupkannya kembali, memperpanjangnya, meminjamnya..

    Kita hanya dapat menggunakannya atau kita kehilangannya..

    Ayub, di tengah cobaan hidupnya, Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, .. hidupku hanya hembusan nafas..(Ayub 7:6-7).


    Aplikasi

    Sebagai penatalayan waktu, marilah kita bertanya:

    Apakah waktu saya lebih banyak dipakai untuk mengenal Tuhan atau sekadar mengejar kesibukan? Memang perlu ada keseimbangan antara waktu bekerja dengan waktu untuk Tuhan..

    Apakah keluarga saya menerima sisa waktu saya atau bagian terbaiknya? Karena kesibukan, waktu untuk keluarga sering tidak memadai..

    Apakah saya menunda ketaatan yang seharusnya dilakukan hari ini?

    Jika saya mati hari ini, adakah hal yang belum saya selesaikan dengan-Nya atau dengan sesama?


    Penutup

    Ilustrasi: Kalender yang Tidak Pernah Kembali

    Seorang ayah memiliki kebiasaan yang sederhana. Setiap malam sebelum tidur, ia merobek satu lembar kalender dinding. Suatu hari anaknya bertanya,

    “Ayah, mengapa setiap hari Ayah membuang kalender itu?” Ayahnya tersenyum dan berkata,

    “Nak, Ayah tidak sedang membuang kalender. Ayah sedang diingatkan bahwa satu hari hidup Ayah sudah selesai. Lembar itu tidak akan pernah kembali.”

    Lalu sang ayah mengambil lembar kalender yang sudah dirobek dari tempat sampah. Ia mencoba menempelkannya kembali. Tetapi tidak bisa seperti semula..

    Ia berkata, “Begitulah waktu. Setelah berlalu, kita tidak bisa mengulanginya. Yang bisa kita lakukan hanyalah belajar mengisi hari esok dengan lebih bijaksana.”

    Saudara, setiap pagi Allah memberi kita satu lembar kalender baru. Bukan untuk disia-siakan. Bukan untuk ditunda. Tetapi untuk dipakai melakukan kehendak-Nya.

    Karena suatu hari kita akan merobek lembar kalender yang terakhir. Pada hari itu, kiranya kita dapat berkata seperti Yesus,

    “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku.” (Yohanes 17:4)

    Dan mendengar suara Sang Raja berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia.” (Matius 25:21)

    Ada sebuah ilustrasi tentang pembagian waktu hidup.

    “Ke Mana Perginya Tujuh Puluh Tahun Itu?”

    Bayangkan Tuhan mengaruniakan seseorang umur 70 tahun. Tujuh puluh tahun terdengar sangat panjang. tapi bagi orang yang telah tiba disana itu terasa pendek..

    Namun orang yang masih muda berpikir, “Masih lama.”

    Tetapi mari kita putar film kehidupan itu dengan cepat. Layar mulai bergerak… Hari berganti minggu.

    Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Tiba-tiba tujuh puluh tahun telah berlalu.

    Lalu seseorang mencoba menghitung ke mana waktu itu sebenarnya pergi.

    Ternyata…

    Sekitar 23 tahun kita habiskan untuk tidur. Tidak salah. Kita memang membutuhkan istirahat.

    Lalu sekitar 19 tahun kita gunakan untuk bekerja mencari nafkah. Sekitar 9 tahun dihabiskan untuk hiburan.

    Sekitar 6 tahun berada di jalan—berpergian, menunggu kendaraan, atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

    Sekitar 6 tahun dipakai untuk makan dan minum. Sekitar 4 tahun digunakan karena sakit dan menjalani pengobatan.

    Sekitar 2 tahun dipakai untuk berdandan, berpakaian, dan merawat penampilan.

    Lalu… tahukah Saudara berapa banyak waktu yang sering dipakai untuk beribadah, berdoa, membaca firman, dan melayani Tuhan?

    Hanya sekitar… 1 tahun. Bayangkan. Dari tujuh puluh tahun kehidupan… Hanya satu tahun yang secara khusus dipersembahkan untuk Tuhan.

    Padahal… Dialah yang memberi seluruh tujuh puluh tahun itu. Bukankah ini ironis?

    Kita berkata kita mengasihi Tuhan. tetapi cara kita menggunakan waktu menunjukkan siapa yang menjadi prioritas hidup kita.

    Mungkin inilah sebabnya Musa tidak berdoa seperti ini, “Tuhan, tambahkan umur kami.”

    Ia justru berdoa, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12)

    Karena persoalannya bukan berapa lama kita hidup, tetapi untuk siapa kita menggunakan hidup yang Tuhan berikan.

    “Saudara, kalau hari ini Tuhan meminta laporan tentang penggunaan waktu kita, bukan berapa tahun kita hidup, melainkan ke mana tahun-tahun itu kita habiskan, apakah kita siap menjawabnya? Itulah pertanyaan yang hendak dijawab oleh Mazmur 90.”

    Karena itu perhatikan nasehat ini..


    Lima Cara Menggunakan Waktu dengan Bijaksana

    1. Hiduplah dengan sungguh-sungguh hari ini

    Jangan terus hidup di masa lalu atau hanya bermimpi tentang masa depan. Hari ini adalah satu-satunya waktu yang benar-benar ada di tangan kita. Karena itu, lakukan yang terbaik untuk Tuhan hari ini.

    Hari ini adalah kesempatan untuk mengasihi, melayani, mengampuni, dan menaati Tuhan.

    1. Jangan berkata, “Kalau saja saya punya waktu.

    Sering kita berkata, “Saya ingin membaca Alkitab, tetapi tidak punya waktu.” “Saya ingin melayani, tetapi tidak punya waktu.” “saya ingin memberi, tapi nantilah..”

    Tuhan memberi setiap orang jumlah waktu yang sama, yaitu 24 jam setiap hari. Persoalannya bukan apakah kita punya waktu, tetapi apa yang menjadi prioritas kita.

    1. Jangan terlalu khawatir tentang hari esok

    Banyak orang kehilangan sukacita hari ini karena sibuk memikirkan apa yang belum tentu terjadi besok. Yesus mengajarkan kita untuk menyerahkan hari esok kepada Bapa.

    Kalau kita setia menjalani hari ini bersama Tuhan, Dia juga akan memimpin hari-hari berikutnya.

    1. Jangan biarkan masa lalu mencuri hari ini

    Kegagalan, penyesalan, atau dosa masa lalu sering membuat kita sulit melangkah. Tetapi Tuhan adalah Allah yang mengampuni.

    Dia menghapus dosa dan memberi kita kesempatan untuk memulai hidup yang baru (Mikha 7:18-19; Yesaya 43:25). Jangan habiskan hari ini dengan terus memikul beban kemarin.

    1. Serahkan hidupmu hari ini kepada Yesus..

    Alkitab tidak berkata, “Besok adalah hari keselamatan.”

    Firman Tuhan berkata, “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.” (2 Korintus 6:2)

    Kita tidak tahu apakah masih memiliki hari esok. Karena itu, jangan menunda untuk percaya kepada Kristus, bertobat, atau memperbarui hubungan dengan-Nya.

    Hari ini adalah waktu yang Tuhan berikan.

    Ilustrasi Penutup

    Seorang jutawan di New York sampai pada akhir perjalanannya dan meninggal dunia. Di ranjang, ia terus-menerus mengungkapkan penyesalannya sebagai kehidupan yang dijalani dengan sia-sia.

    “Oh,” serunya, “seandainya aku diberi kesempatan hidup beberapa tahun lagi, aku akan memberikan semua kekayaan yang telah kukumpulkan seumur hidupku! Kehidupan yang kusesali adalah kehidupan yang didedikasikan untuk mencari uang. Inilah yang membebani dan membuatku putus asa akan kehidupan..

    Waktu adalah pemberian Tuhan yang tidak bisa disimpan dan tidak bisa diulang. Setiap pagi kita menerima hari yang baru sebagai kesempatan untuk hidup lebih dekat dengan Kristus.

    Karena itu, jangan menunda melakukan apa yang benar. Gunakan hari ini untuk mengasihi Tuhan, melayani sesama, dan hidup sesuai kehendak-Nya, sebab hari ini adalah hadiah dari Sang Raja.

    Bagikan:

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *