
“Ia hidup mengikuti jejak Asa, ayahnya; ia tidak menyimpang dari padanya, dan melakukan apa yang benar di mata TUHAN.” 2 Tawarik 20:32
Seorang bernama Dave McGillivray, dia berasal dari Boston. Hal yang spesial yang dapat diceritakan tentang hidupnya adalah kesukaannya berlari.
Menjelang ulang tahunnya yang kelima puluh, tercatat dia telah mengikuti 116 lari maraton dan delapan triathlon Iron Man.
Pada hari ulang tahunnya yang ke 50, dia berlari satu km untuk setiap tahun dalam hidupnya. Berarti di hari ulang tahunya, dia berlari sejauh 50 km.
Dia juga sering berlari untuk tujuan amal, bahkan dia berlari melintasi Amerika, sejauh 5,600 km selama 80 hari.
Pada waktu dia memulai usaha Yayasan nirlaba, dia lari 24 jam, berenang 24 jam, bersepeda 24 jam.
Dia menghitung bahwa dalam hidupnya dia telah berlari total sekitar 130.000 mil atau 208.000 km.
Dave seorang pria yang bisa mengatakan satu atau dua hal tentang bagaimana menyelesaikan balapan dengan baik!
Seperti halnya Dave, Untuk “berlari dalam perlombaan” dalam konteks rohani, kehidupan rohani membutuhkan semangat dan dedikasi yang sama.
Dalam Alkitab, Yosafat adalah salah satu dari sedikit raja Yehuda yang “menyelesaikan perlombaannya” dengan baik.
Pelajaran yang diajarkan Tuhan kepadanya melalui persekutuannya dengan Ahab pastilah membekas dan mengirimnya kembali ke arah yang benar.
Dia mungkin juga belajar apa yang tidak boleh dilakukan dengan merenungkan bagaimana ayahnya, Asa, gagal bertobat setelah teguran Hanani dia abaikan dan dihukum oleh Tuhan.
Tuhan lebih jauh menarik perhatian Yosafat dengan menenggelamkan beberapa kapal yang dikirimnya dalam suatu usaha perdagangan dalam kemitraan dengan raja Israel yang jahat lainnya, Ahazia (20:35-37).
Yosafat merespon peringatan ini dengan rendah hati, dan Tuhan sekali lagi memberkatinya dengan masa damai dan kemenangan militer.
Sayangnya, masih banyak orang yang menyembah berhala (20:33).
Meskipun demikian, salah satu reformasi terpenting raja Yosafat adalah mendirikan sistem pengadilan untuk kasus-kasus sipil dan agama (19:4-11).
Para hakim harus mencari keadilan secara independen, tidak menunjukkan pilih kasih kepada orang kaya atau berkuasa.
Dan tentu saja tidak menerima suap atau hadiah untuk “memutar timbangan” keadilan.
Landasan dari keadilan seperti itu adalah rasa takut akan Tuhan: mengingat bahwa semua pemimpin bertanggung jawab kepada Allah yang Maha Suci dan mahatahu.
“Sebab itu, kiranya kamu diliputi oleh rasa takut kepada TUHAN. Bertindaklah dengan seksama, karena berlaku curang, memihak ataupun menerima suap tidak ada pada TUHAN, Allah kita.” (7)
“Ia memerintahkan mereka: “Kamu harus bertindak dengan takut akan TUHAN, dengan setia dan dengan tulus hati, demikian” (9)
Yosafat mengakhiri pertandingan hidupnya dengan baik karena beberapa hal:
Pertama, ketika dia melakukan kesalahan, dia mau mendengar dan menerima teguran Hanani. Dia bertobat dan Kembali menuruti perintah Tuhan.
Kedua, dia mengadakan reformasi hukum, dengan menegakkan keadilan dan kesetaraan.
Ketiga, musibah yang menimpanya dia terima dengan rendah hati sebagai peringatan dari Tuhan.
“Ia hidup mengikuti jejak Asa, ayahnya; ia tidak menyimpang dari padanya, dan melakukan apa yang benar di mata TUHAN.” 2 Taw 20:32.
Poinya, untuk menyelesaikan pertandingan yang baik: Dengarkan dan terima teguran. Takut akan Tuhan dengan menegakkan keadilan dan kebenaran. Terima dengan rendah hati setiap musibah sebagai peringatan dari Tuhan.




