
Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.
Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu
dan berkata: “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Matius 28:11-15
BERAPA lama para tentara penjaga pingsan kita tidak tahu. Mungkin cukup lama. Sehingga mereka tidak mengetahui adegan yang terjadi dalam kubur. Ada malaikat. Ada Yesus dan murid-murid.
Kemungkinan setelah semua mereka pergi: Malaikat, Yesus, para Murid, maka para tentara itu siuman. Sadar.
Posisi badan tertelungkup. Mata perlahan mulai terbuka. Dalam keadaan terhuyung-huyung mereka mencoba berdiri. Sekujur badan mereka masih lemas.
Kemungkinan itu sudah pagi. Matahari sudah bersinar diufuk timur..
Mereka melihat keadaan sekitar. Sepi. Tidak ada apa-apa. Mereka mendekat kekubur. Batu sudah terguling. Mereka masuk kedalam kubur, mayat Yesus sudah tidak ada.
Mereka mulai gelisah. Bagaimana mereka akan mempertanggungjawabkan pekerjaan mereka kepada gubernur dan para pemuka Israel?
Apa yang terjadi selanjutnya kita bisa baca di ayat 11-15.
Ayat 11, Ketika mereka ditengah jalan. Mereka yang dimaksud adalah perempuan-perempuan yang baru saja berbicara dengan Yesus..
Mereka sementara dalam perjalana pulang untuk menyampaikan pesan Yesus kepada para murid supaya bertemu dengan-Nya di Galilea (ay. 5-10).
Nah, pada saat yang sama para tentara penjaga kubur itu juga sudah pulang dan tiba dikota. Mereka melaporkan kepada imam-imam kepala tentang apa yang telah terjadi dikubur.
Hanya beberapa pengawal yang masuk ke kota Yerusalem dan melapor kepada imam-imam kepala, mungkin sebagai perwakilan dari seluruh pasukan, yang mungkin berjumlah belasan orang.
Sebab kalau semua mereka pulang, akan menarik perhatian dan akan terdengar kepada Pilatus. Mereka akan dianggap tidak kompeten menjaga kubur dan mereka bisa saja dihukum..
Karena mereka sementara melayani para pemimpin agama Yahudi, para prajurit dengan bijaksana melaporkan kepada imam-imam kepala tentang apa yang terjadi di kubur.
Mereka tidak terlalu takut kepada imam-imam kepala daripada kepada Pilatus, dan mereka mungkin berharap para pemimpin itu dapat melindungi mereka dari gubernur.
Mereka menceritakan kepada imam-ima kepala apa yang terjadi dikubur. Mulai dari gempa bumi, penggulingan batu, malaikat yang bernyala-nyala duduk di atas batu, dan kubur yang kosong.
Para prajurit tahu bahwa kejadian-kejadian itu berasal dari alam supernatural, dan itulah yang membuat mereka gemetar dan kemudian membeku dalam ketakutan yang luar biasa.
Reaksi pertama yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan Sanhedrin, dan setelah mereka berkumpul dengan para tua-tua, mereka berunding bersama.
Agenda mereka adalah bagaimana cara terbaik untuk menghalangi penyebaran berita yang dibawa oleh para prajurit.
Berunding bersama adalah kaliamt formal yang digunakan untuk keputusan resmi (lihat juga Matius 12:14; 22:15; 27:1, 7), dan dalam pertemuan ini Sanhedrin memutuskan tiga hal:
Pertama, menyuap para prajurit, kedua, menyebarkan berita hoax tentang mayat Yesus dan ketiga, melindungi para prajurit dari kemungkinan sanksi Pilatus.
Berapa jumlah uang suap tidak disebutkan, tetapi karena mungkin ada selusin prajurit yang harus disuap, maka jumlah uang itu mungkin sangat besar.
Argurion (uang) secara harfiah berarti perak, dan merupakan kata yang sama yang digunakan dalam Matius 26:15 untuk uang suap yang diberikan kepada Yudas untuk mengkhianati Yesus.
Karena mereka mempertaruhkan banyak hal, Sanhedrin tidak ragu-ragu untuk membayar mahal agar kebohongan itu dapat disebarkan.
Bagian kedua dari keputusan mereka adalah untuk menyebarkan hoax seluas mungkin. Karena para prajurit berada di kubur, maka dirasa mereka yang tepat untuk menyebarkan kebohongan itu..
Oleh karena itu, para prajurit diperintahkan untuk mengatakan, “Murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.”
Baik para penjaga maupun Mahkamah Agama tahu betul bahwa hal itu tidak benar. Tujuan dari kebohongan itu adalah untuk menyembunyikan kebenaran.
Para pemuka agama membuat berita hoax namun disisi lain hanya membuat posisi prajurit menjadi sangat rentan disalahkan. Karena dengan demikian mereka bisa dianggap prajurit yang lemah. Tidak kompeten. Dan ini sangat beresiko untuk posisi mereka.
Namun para pemuka agama tidak peduli dengan itu. Mereka hanya peduli pada diri dan kepentingan mereka sendiri.
Kembali kita melihat kebobrokan moral para pemuka agama. Menyuap dan membuat hoax.
Sekuat tenaga mereka menutupi kebangkitan Yesus, namun usaha mereka tidak akan berhasil. Sampai berapa lama prajurit itu dapat mendiamkan informasi yang mereka ketahui?
Kebohongan, dibungkus serapi apa pun pasti akan terkuak. Karena kebenaran akan mencari jalannya sendiri.
Dalam hal ini, para prajurit itu menjadi orang-orang pertama yang mengkhotbahkan Injil Palsu.
Mereka kafir, materialistis, memanjakan diri sendiri, dan mengeraskan hati terhadap segala macam kejahatan. Seharusnya peristiwa yang mereka lihat dikubur mengubahkan mereka..
Bagian ketiga dari keputusan Sanhedrin adalah perlindungan kepada para prajurit.
“Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.”
Mereka melapor kepada Pilatus. Dia tidak perduli dengan urusan orang Yahudi, jadi dia cuek saja. jadi para prajurit itu aman.
Namun berita hoax tentang mayat Yesus dicuri para murid akhirnya tersiar luas. “Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.”
Matius menulis Injilnya sekitar tiga puluh tahun kemudian, sekitar tahun 63 M, waktu yang dirujuk pada hari ini.
Jadi kata ‘sekarang’ bukan jaman kita sekarang ini abad 21.
Tidak ada kebohongan yang sempurna. Para pemuka agama dan prajurit tidak tahu bahwa ada saksi mata lain yang hadir disana, yaitu Maria Magdalena dan murid-murid lainnya..
Saksi kunci adalah Maria. Dia sendiri melihat Yesus bangkit dan dia sendiri melihat kubur telah kosong. Jadi ada kontra Hoax.
Ketika berita bohong tersiar, maka berita benar juga tersiar. Ketika injil palsu para imam diberitakan, injil benar juga diberitakan.
Para prajurit memberitakan mayat Yesus dicuri. Dia tidak bangkit. Dia mati. Para murid memberitakan Yesus telah bangkit. Kuburnya kosong.
Kedua injil ini tersiar hinggga saat ini, sampai kepada kesudahan jaman.
Poinnya, tidak ada yang dapat membendung Yesus tetap dalam kubur. Dia Allah. Dia sumber hidup. Hidup tidak diberikan atau dipinjamkan kepada-Nya. Dia hidup itu sendiri..
Dia membangkitkan diri-Nya sendiri. Kubur kosong bukti Dia hidup.
Kebenaran akan bercahaya sekali pun ditutup dengan kebohongan. Kebenaran tidak dapat dikubur selamanya. Ia akan muncul sebagai terang.
Segala tipu muslihat akan terkuat tepat pada waktunya.
Bila Anda korban hoax, sabar saja. selama Anda hidup benar, maka kebenaran akan mencari jalannya sendiri. Tuhan tidak tidur. Dia hidup. karena itu, tetaplah hidup dalam kebenaran.






