Teks: 1 Korintus 9:24-25

“Tiadakah kamu tahu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.”

Pendahuluan

Inilah pertandingan olahraga yang ditunggu-tunggu diseluruh dunia. Piala Dunia. Saat ini sedang berlangsung dan dunia seakan berhenti sejenak untuk menyaksikannya.

Dibagian dunia lain, orang-orang rela begadang hingga dini hari. Tidak peduli besok akan mengantuk saat jam kerja. Bahkan ada yang mengatur jadwal kerjanya.

Percakapan di kantor, media sosial, dan warung kopi dipenuhi pembahasan tentang pertandingan, pemain bintang, dan peluang juara.

Masing-masing orang membicarakan negara dan pemain yang menjadi jagoannya.

Stadion dipenuhi lautan manusia yang bernyanyi, berteriak, dan bersorak tanpa lelah. Para suporter rela mengeluarkan banyak biaya demi mendukung tim kesayangannya.

Namun di tengah euforia itu, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan:

Mengapa manusia bisa begitu bersemangat untuk pertandingan yang berlangsung hanya beberapa minggu, tetapi sering kehilangan semangat untuk perkara-perkara yang kekal?

Ketika Antusiasme Dunia Mengalahkan Antusiasme Rohani

Tidak ada yang salah dengan menikmati olahraga. Sepak bola adalah salah satu bentuk hiburan yang dapat dinikmati dengan sehat dan wajar.

Namun masalah muncul ketika semangat kita untuk hal-hal duniawi jauh lebih besar daripada semangat kita untuk Tuhan.

Perbandingan ini penting untuk menyadarkan kita bahwa kita perlu keseimbangan.

Banyak orang rela:

• Begadang untuk menonton pertandingan sampai kehilangan waktu istirahat

• Menempuh perjalanan jauh ke stadion dengan biaya besar.

• Menghafal nama pemain dan statistik pertandingan.

• Mengikuti berita olahraga setiap hari.

Tetapi pada saat yang sama:

• Sulit meluangkan waktu membaca Alkitab.

• Cepat bosan saat mendengarkan khotbah.

• Jarang berdoa dengan sungguh-sungguh.

• Menganggap ibadah sebagai beban. Bahkan ibadah dikorbankan karena olahraga.

Euforia Piala Dunia dapat menjadi cermin yang memperlihatkan bagaimana kondisi kerohanian kita.

Apa yang Kita Kejar?

Para pemain sepak bola berlatih bertahun-tahun demi mengejar cita-cita: mengangkat trofi juara dunia.

Mereka mengorbankan kenyamanan, waktu, tenaga, bahkan kehidupan pribadi demi sebuah penghargaan yang suatu hari akan menjadi bagian dari sejarah.

Paulus menggunakan gambaran pertandingan olahraga. Ia berkata bahwa atlet berjuang memperoleh mahkota yang fana, tetapi orang percaya dipanggil mengejar mahkota yang kekal.

“Tiadakah kamu tahu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

Pertanyaannya:

Apakah kita masih memiliki kerinduan yang besar untuk bertumbuh dalam iman?

Ataukah semangat rohani kita mulai digantikan oleh berbagai kesibukan dan hiburan dunia?

Bahaya minat Rohani yang Mulai Hilang

Minat rohani tidak hilang sekaligus. Biasanya dimulai dari hal-hal kecil yang tidak disadari:

• Ketika doa mulai berkurang.

• Ketika Alkitab semakin jarang dibaca.

• Ketika Ibadah menjadi sekadar rutinitas.

• Ketika Hati semakin jarang disentuh oleh Firman Tuhan.

• Ketika Dosa tidak lagi mengusik hati nurani.

Pada awalnya kita mungkin tidak menyadarinya. Namun seiring waktu berjalan, perlahan-lahan api rohani yang dahulu menyala mulai meredup.

Yang berbahaya bukanlah ketika seseorang kehilangan semangat sesaat. Yang berbahaya adalah ketika ia mulai merasa nyaman dengan kondisi rohaninya yang dingin.

Tuhan Mencari Hati yang Bergairah

Tuhan tidak pernah menghendaki umat-Nya hidup dalam kerohanian yang suam-suam kuku.

Kepada jemaat di Laodikia, Kristus berkata:

“Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” (Wahyu 3:15-16)

Tuhan mencari orang-orang yang mengasihi-Nya dengan segenap hati.

Bukan hanya saat keadaan baik.

Bukan hanya saat ada mujizat.

Bukan hanya saat emosi sedang tinggi.

Tetapi setiap hari.

Saatnya Mengevaluasi Diri

Euforia Piala Dunia akan berakhir. Stadion akan kembali sepi.

Sorak-sorai akan berhenti.

Juara baru akan lahir dan beberapa tahun kemudian dunia akan mencari juara berikutnya. Begitu seterusnya tanpa henti.

Namun ada satu pertandingan yang jauh lebih penting daripada semua itu: pertandingan iman. Pertandingan ini kita ikuti setiap hari.

Suatu hari kita akan berdiri di hadapan Tuhan dan mempertanggungjawabkan kehidupan kita.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan:

“Siapa yang akan menjadi juara dunia?”

Melainkan:

“Apakah kasihku kepada Tuhan masih menyala seperti dahulu?”

Penutup

Tidak salah menikmati Piala Dunia. Tetapi jangan sampai kita memiliki semangat besar untuk pertandingan dunia, sementara gairah kita kepada Tuhan terus menurun.

Jika hari ini Anda merasa api rohani mulai redup, jangan menunggu sampai padam.

Kembalilah kepada Tuhan.

Bukalah kembali Alkitab Anda.

Bangun kembali kehidupan doa Anda.

Hadirilah ibadah dengan kerinduan untuk bertemu Tuhan.

Karena trofi dunia hanya bertahan sementara, tetapi hubungan dengan Tuhan menentukan kekekalan.

Mari kita memiliki semangat yang lebih besar untuk mengejar Kristus daripada mengejar segala hiburan dunia. Sebab pada akhirnya, bukan piala dunia yang akan menyelamatkan kita, melainkan Kristus yang telah mati dan bangkit bagi kita.

“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *