
Berkaca dari kasus penganiayaan sadis yang sedang viral saat ini, yang dilakukan seorang pria bernama Taufik Hidayat terhadap kekasihnya..
Akibatnya, YTR mengalami cacat permanen dibagian wajah. Mata. hidung. Bibir. Rusak.
Kasus penganiayaan seperti itu, yang datang dari orang terdekat banyak terjadi. Orang yang awalnya saling mencintai dan hidup bersama, namun akhirnya menyakiti orang yang dikasihinya.
Itu bisa terjadi pada suami istri. Orang tua dengan anak dan sebaliknya, orang muda yang masih pacaran, kakak beradik dll..
Poinnya, rasa sakit terdalam dikehidupan sering kali bukan datang dari orang asing. Tapi dari orang terdekat.
Luka terdalam itu justru datang dari orang yang pernah berkata, “Aku mencintaimu dan akan menjagamu seumur hidup ku..” Namun itu tidak bertahan lama..
Sering kita heran ketika mendengar berita tentang seorang suami yang menganiaya istrinya, seorang pacar yang menyiksa kekasihnya, atau seorang anak yang menganiaya orang tuanya.
Kita bertanya: “Bagaimana bisa seorang istri babak belur dihajar suaminya?”
“Jika dia mencintainya, mengapa dia tega melakukan itu?”
Disinilah terungkap sebuah kenyataan pahit tentang hati manusia yang dapat berubah seiring waktu berjalan.
Kasih dapat berubah menjadi dingin ketika menemukan sesuatu yang tidak cocok dengan keinginannya.
Dari sini kita dapat melihat bahwa kedekatan tidak selalu menghasilkan kasih yang abadi. Hubungan yang dekat tidak selalu menjamin adanya cinta yang sehat dan produktif.
Bahkan dalam banyak kasus, orang yang paling dekatlah yang memiliki kemampuan terbesar untuk melukai.
Dan Anda dapat menemukan kasus seperti itu diberbagai media yang ada.
Ketika Cinta Berubah Menjadi Kepemilikan
Salah satu akar kekejaman dalam hubungan adalah ketika seseorang berhenti mencintai dan mulai merasa memiliki.
Sifat merasa memiliki yang berlebihan (over-possessive) sering menjadi pemicu utama hubungan abusif dengan orang terdekat.
Hal ini berakar dari keinginan untuk mendominasi, rasa tidak aman (insecurity), hingga kecemburuan yang tidak rasional, yang pada akhirnya mendorong pelaku melakukan kekerasan untuk mengontrol pasangannya. (Alodokter.com)
Orang yang mencintai berkata:
“Aku ingin yang terbaik untukmu.” “Tetapi terserah kamu saja untuk membuat pilihan..”
Tetapi kepemilikan berkata:
“Kamu milikku. Semua harus persetujuanku..” Karena merasa miliknya, maka dia mulai mengontrol dan memperlakukan sesuka hatinya.
Perbedaan antara cinta dan kepemilikan adalah cinta menghormati kebebasan. Dia menghormati kuasa memilih dari pasangannya.
Kepemilikan tidak demikian, ia ingin mengendalikan dan mengarahkan sesuai keinginan hatinya. Dia tidak boleh bertindak diluar perintahnya.
Cinta memberi ruang, baik untuk negosiasi dan berargumentasi.
Kepemilikan menuntut ketaatan. Tidak ada argumentasi. Harus menurut apa yang dimaui.
Ketika seseorang mulai melihat pasangannya sebagai milik pribadi, maka segala bentuk penolakan dianggap sebagai ancaman.
Rasa curiganya sangat tinggi. Kemana dengan siapa dia pergi akan diperiksa. Dan akan sering menuduh pasangannya selingkuh..
Pada titik itu, kemarahan menjadi mudah muncul. Akal sehat mulai mati. Gelap mata terhadap bukti dan penjelasan.
Maka kekerasan mulai dianggap sebagai alat untuk mempertahankan kontrol dan dominasi. Pada akhirnya, pemukulan, bentakan, ancaman akan menjadi sarana menekan agar pasanganya tunduk.
Kemarahan yang Dipelihara Bertahun-tahun
Seorang bijak mengatakan, Tidak ada ledakan besar tanpa bara yang terlebih dahulu disimpan dimasa lalu..
Artinya, banyak tindakan kejam lahir dari kemarahan yang telah lama dipelihara dan tidak diselesaikan.
Seperti kekecewaan yang dibiarkan berlarut-larut.
Dendam yang tidak dibereskan.
Ego yang terluka.
Rasa sakit yang terus dikumpulkan hingga menumpuk dan terakumulasi.
Sedikit demi sedikit hati menjadi keras. Tekad untuk berbuat kekerasan semakin kuat.
Maka seseorang yang dahulu mudah merasa iba mulai kehilangan empati dan simpati. Digantikan dengan hati yang kejam.
Ia tidak lagi melihat orang lain sebagai manusia yang harus dikasihi. Tetapi sebagai musuh yang harus dikalahkan agar takluk.
Pada tahap ini, benih-benih kekejaman mulai matang dan siap untuk dilepaskan tanpa kendali. Karena otak frontal lobenya sudah rusak..
Ketika Ego Menjadi Raja
Di balik banyak kasus kekerasan terdapat satu masalah yang sama, yaitu:
Ego yang tidak terkendali.
Ego selalu ingin menang.
Ego selalu ingin dihormati.
Ego tidak suka ditolak.
Ego tidak suka dikoreksi.
Ketika keinginan ego terhalang, sebagian orang memilih jalan kekerasan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Mereka tidak lagi berpikir tentang penderitaan orang lain. Konsekuensi hukum dan dampak yang ditimbulkan, baik pada dirinya dan orang lain. Bahkan lingkungan yang lebih luas.
Mereka hanya memikirkan diri sendiri.
Maka sering kita lihat sebuah rumah tangga semakin sulit karena ego tersebut. Bayangkan, ketika suami menghabisi nyawa istrinya karena ego, selain dia akan masuk penjara, maka nasbi anak-anaknya semakin tidak jelas.
Ibu mereka mati. Ayah mereka masuk penjara. Seumur hidup mereka hidup dalam bayang-bayang yang kelam.
Matinya Hati Nurani Terjadi Perlahan
Perilaku seperti itu tidak terjadi dalam semalam. Tidak ada orang yang bangun pagi lalu tiba-tiba menjadi pelaku kekerasan berat.
Biasanya prosesnya jauh lebih panjang. Awalnya mungkin hanya kata-kata kasar sesekali. Berlanjut dua, tiga kali dan akhirnya keterusan dan menjadi kebiasaan..
Dari kata-kata kasar, kemudian berlanjut kepada hinaan.
Lalu ancaman.
Kemudian tamparan tangan. Tendangan kaki. Bantingan.
Lalu tindakan yang lebih parah, menggunakan senjata tajam untuk melukai.
Hal perlu diperhatikan adalah setiap kali kita melakukan kesalahan tanpa pertobatan, suara hati nurani menjadi semakin lemah.
Apa yang dahulu terasa salah mulai terasa biasa dan tidak dianggap sebagai dosa besar.
Apa yang dahulu membuatnya bersalah mulai sekarang terasa biasa atau normal.
Sedikit demi sedikit hati nurani mulai mati.
Dan ketika hati nurani mati, maka kekejaman menjadi hal biasa. Kontrol diri sudah hilang.
Pelajaran dari Kisah Kain
Kisah Kain dan Habel memberikan gambaran yang jelas tentang topik ini.
Sebelum pembunuhan terjadi, Tuhan memperingatkan Kain bahwa dosa sedang mengintip di depan pintu.
Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?
Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Kejadian 4:6-7
Kita melihat akar masalah tidak dimulai dari pembunuhan.
Masalahnya dimulai dari hati yang menolak untuk mengendalikan kemarahan. Kain tidak menjadi pembunuh dalam satu malam.
Ada tahapan sampai ia menjadi pembunuh, yaitu saat dia membiarkan iri hati, amarah, dan kesombongan tumbuh tanpa dikendalikan.
Hal itu mengakibatkan menurunnya kedasaran dan matinya nuraninya.
Seperti Kain, banyak tindakan kekerasan yang terjadi saat ini karena amarah, kesombongan yang tidak terkendali..
Peristiwa besar sering kali merupakan puncak dari masalah hati yang telah lama dibiarkan.
Dunia Membutuhkan Lebih Banyak Kasih yang Sejati
Kasih yang sejati tidak menyakiti tapi memberkati.
Kasih yang sejati tidak mengendalikan tapi memberi kebebasan.
Kasih yang sejati tidak memperbudak tapi memberdayakan.
Kasih yang sejati menghormati hidup dan martabat orang lain.
Seseorang mungkin berkata bahwa ia mencintai pasangannya. Tapi perkataan itu harus terlihat dari perbuatan sebagai bukti kasih..
Tetapi jika ia terus menerus menyakiti, mengancam, dan menghancurkan orang yang dikasihinya, maka yang sedang bekerja bukanlah kasih, melainkan egoisme yang menyamar sebagai cinta.
Penutup
Setiap kali kita membaca berita tentang kekerasan terhadap orang yang dicintai, jangan hanya bertanya:
“Mengapa dia bisa melakukan itu?”
Tetapi tanyakan juga:
“Apakah ada benih-benih yang sama di dalam hati saya?”
Karena kekejaman besar sering kali berawal dari dosa-dosa kecil yang dianggap sepele.
Kemarahan yang dipelihara.
Kebencian yang tidak dibereskan.
Keinginan mengendalikan orang lain.
Penolakan untuk mengampuni.
Jika hal-hal itu tidak diserahkan kepada Tuhan, suatu hari nanti mereka dapat menghasilkan buah yang jauh lebih mengerikan daripada yang pernah kita bayangkan.
Kasih yang sejati tidak lahir dari perasaan semata.
Kasih yang sejati lahir dari hati yang setiap hari dibentuk oleh Tuhan.

















