“Bersyukur atas Kehidupan yang Sedang Dibentuk Tuhan”

Teks::

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.” (Mazmur 139:13)

Pendahuluan

Di berbagai daerah di Indonesia terdapat tradisi yang berkaitan dengan usia kehamilan tujuh bulan.

Dalam budaya Jawa dikenal dengan Mitoni atau Tingkeban, yaitu ungkapan syukur dan harapan agar ibu dan bayi memperoleh keselamatan hingga persalinan.

Di kalangan masyarakat Batak, meskipun tidak ada ritual tujuh bulanan yang sama persis, keluarga besar biasanya memberikan perhatian, doa, nasihat, dan dukungan kepada ibu yang sedang mengandung.

Demikian pula di berbagai suku lain di Indonesia, terdapat tradisi yang mengekspresikan sukacita atas hadirnya kehidupan baru.

Dalam berbagai suku, tujuh bulanan kehamilan dimaknai secara berbeda-beda.

Orang Banjar di Kalimantan Selatan memiliki tradisi bernama Mandi-mandi Manujuh Bulanan (mandi tujuh bulan)

Mereka percaya bahwa orang yang hamil banyak diganggu oleh mahluk halus yang jahat, sehingga prosesi ini dilakukan untuk menolak bala dan mendapatkan keselamatan bagi si ibu dan bayi yang dikandung. Ibu yang hamil akan memakai pakaian yang indah dan perhiasan sambil memangku sebuah tunas kelapa yang diselimuti kain kuning berisi 41 macam sajian kue.

Orang Bugis juga memiliki upacara adat yang satu ini, namanya Mappassili. Upacara ini dilakukan untuk mengusir malapetaka

Mappasili juga dilakukan untuk mengusir bencana serta mengusir roh-roh jahat. Acara akan dimulai dengan iring-iringan lalu ibu hamil harus naik tangga sebanyak 7 anak tangga.

Tradisi batak karo disebut Mambosuri merupakan tujuh bulanan. Orang tua akan datang ke rumah anaknya tanpa pemberitahuan sebelumnya, dengan membawa makanan kesukaan dan ikan mas agar anaknya bahagia.

Sebagai orang Kristen, kita menghargai nilai-nilai baik dari budaya, seperti rasa syukur, kebersamaan keluarga, dan perhatian kepada ibu hamil.

Namun pusat pengharapan kita bukanlah pada ritual atau adat tertentu, melainkan kepada Tuhan Sang Pencipta kehidupan.

Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Tradisi 7 Bulanan?

  1. Kehidupan adalah Anugerah Tuhan

Tradisi tujuh bulanan mengingatkan kita bahwa kehamilan bukanlah sesuatu yang boleh dianggap biasa. Di dalam kandungan sedang bertumbuh seorang manusia yang dikasihi Tuhan.

Alkitab mengajarkan bahwa bahkan sebelum seorang anak lahir, Tuhan sudah mengenalnya.

“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau.” (Yeremia 1:5)

Karena itu, masa kehamilan adalah masa untuk bersyukur atas karya ajaib Tuhan.

  1. Keluarga Memiliki Peran Penting

Dalam budaya Jawa, Batak, maupun suku-suku lainnya, kehamilan sering menjadi urusan seluruh keluarga, bukan hanya pasangan suami istri.

Prinsip ini sejalan dengan Alkitab. Keluarga dipanggil untuk saling menopang, mendoakan, dan menguatkan satu sama lain.

Masa kehamilan akan lebih ringan ketika suami, orang tua, dan keluarga besar hadir memberikan dukungan emosional dan rohani.

  1. Masa Menanti Adalah Masa Percaya kepada Tuhan

Tujuh bulan berarti perjalanan kehamilan sudah cukup jauh, tetapi kelahiran masih menanti di depan.

Sering kali masa penantian ini disertai kekhawatiran:

• Apakah bayi sehat?

• Apakah persalinan akan berjalan lancar?

• Bagaimana masa depan anak nanti?

Firman Tuhan mengingatkan:

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7)

Mengapa Tradisi Memilih Usia 7 Bulan?

  1. Dalam Tradisi Jawa: Janin Dianggap Sudah Lebih Sempurna

Pada tradisi Mitoni atau Tingkeban, usia tujuh bulan dipilih karena pada masa itu bayi dianggap telah berkembang dengan baik dan mendekati masa kelahiran.

Oleh karena itu keluarga mengadakan syukuran dan doa untuk keselamatan ibu dan bayi.

  1. Angka Tujuh Memiliki Makna Simbolis

Dalam banyak budaya, termasuk budaya Jawa yang dipengaruhi berbagai tradisi kuno, angka tujuh sering dikaitkan dengan:

• Kesempurnaan

• Kepenuhan

• Harapan akan berkat

Karena itu dipilihlah bulan ketujuh sebagai momen penting untuk bersyukur.

  1. Masa yang Relatif Aman dalam Kehamilan

Secara praktis, pada usia tujuh bulan risiko keguguran umumnya sudah jauh berkurang dibandingkan trimester awal. Keluarga merasa lebih tenang untuk merayakan dan mengucap syukur atas perkembangan kehamilan.

Bagaimana Pandangan Alkitab?

Alkitab tidak pernah memerintahkan syukuran pada usia tujuh bulan kehamilan. Tidak ada ayat yang mengatakan bahwa bayi harus didoakan tepat pada bulan ketujuh.

Walau demikian tentu tidak salah bila tradisi tujuh bulanan dilakukan selama tidak menyimpang dari Firman Allah.

Nah, Alkitab mengajarkan beberapa prinsip penting:

  1. Bersyukur kepada Tuhan

“Mengucap syukurlah dalam segala hal.” (1 Tesalonika 5:18)

Jika keluarga ingin mengadakan syukuran tujuh bulanan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan, hal itu dapat menjadi sesuatu yang baik.

  1. Mendoakan Anak Sejak Dalam Kandungan

Kita melihat bahwa Tuhan telah mengenal manusia bahkan sebelum lahir.

“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau.” (Yeremia 1:5)

Karena itu doa bagi bayi dapat dilakukan kapan saja, bukan hanya pada usia tujuh bulan.

  1. Jangan Mengandalkan Ritual

Sebagai orang Kristen, keselamatan ibu dan bayi tidak bergantung pada upacara tertentu, angka tertentu, atau simbol tertentu.

Keselamatan dan perlindungan datang dari Tuhan.

“Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mazmur 121:2)

Nasihat Alkitab bagi Orang Tua yang Menantikan Kelahiran

Bagi Ibu

Jagalah kesehatan tubuh dan kesehatan rohani. Luangkan waktu untuk berdoa, membaca firman Tuhan, dan memelihara hati yang tenang.

Kendalikan diri dan selera. Mengontrol emosi negative. Banyak berbuat baik. Hati gembira.

Bagi Suami

Jadilah pendamping yang penuh kasih dan perhatian. Kehamilan bukan hanya urusan ibu, tetapi peran suami sangat besar disana. Ini adalah perjalanan hidup bersama.

Bagi Keluarga

Berikan dukungan, bukan tekanan. Berikan doa, bukan kecemasan. Jadilah sumber penghiburan dan semangat.

Bagi Calon Orang Tua

Mulailah mempersiapkan bukan hanya kebutuhan fisik bayi, tetapi juga kehidupan rohani keluarga. Anak-anak membutuhkan teladan iman lebih daripada sekadar fasilitas.

Menghargai Budaya dengan Bijaksana

Sebagai orang Kristen, kita dapat menghargai tradisi seperti Mitoni, doa keluarga Batak, atau adat lainnya sebagai ungkapan syukur dan kebersamaan. Namun kita perlu mengingat bahwa perlindungan, keselamatan, dan masa depan anak tidak berasal dari benda-benda, ritual, atau simbol-simbol tertentu.

Pengharapan kita hanya kepada Tuhan yang menciptakan dan memelihara kehidupan.

Tradisi boleh menjadi sarana kebersamaan keluarga, tetapi iman kita harus tetap berpusat kepada Kristus.

Kesimpulan

Syukuran tujuh bulanan adalah kesempatan untuk berhenti sejenak dan mengakui bahwa Tuhan sedang melakukan pekerjaan yang ajaib di dalam kandungan seorang ibu.

Mari gunakan momen ini untuk:

• Bersyukur atas anugerah kehidupan.

• Mempererat hubungan keluarga.

• Menyerahkan masa depan bayi kepada Tuhan.

• Memohon hikmat bagi orang tua yang akan membesarkannya.

Karena setiap anak yang lahir bukan hanya hadiah bagi keluarga, tetapi juga titipan Tuhan yang berharga.

Doa

“Bapa di Surga, kami bersyukur atas kehidupan yang sedang Engkau bentuk dalam kandungan ini. Kami menyerahkan ibu dan bayi ke dalam pemeliharaan-Mu. Berikan kesehatan, kekuatan, dan damai sejahtera selama masa kehamilan hingga persalinan nanti. Persiapkan juga orang tua untuk menjadi pendidik dan teladan iman bagi anak yang akan lahir. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.”

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *