Mengajar Jalan Keselamatan, Tetapi Tidak Berjalan di Dalamnya (Matius 23:3)

“Sebab mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” (Matius 23:3)

Ada sebuah ironi yang sering terjadi dalam dunia pelayanan. Yaitu situasi atau kejadian yang bertentangan dengan yang sebenarnya.

Misalnya, seseorang bisa menjelaskan dengan rinci bagaimana jalan menuju surga. Namun dia sendiri tidak sungguh-sungguh berjalan di jalan itu.

Ia tahu bahkan hafal ayat-ayat Alkitab tentang doa, tetapi kehidupan doanya sendiri kering.

Ia fasih dan berapi-api berkhotbah tentang kasih. Tetapi ia sendiri sulit mengampuni dan berdamai.

Ia dengan baik dan jelas mengajar tentang kerendahan hati dan mengajak untuk rendah hati. Tetapi ia sendiri mudah tersinggung ketika merasa tidak dihormati.

Ia berbicara tentang pengorbanan dan menyuruh orang untuk berkorban. Tetapi ia sendiri tidak berkorban, bahkan menghindar dan selalu mencari kenyamanan.

Ia tahu peta menuju Kerajaan Allah, tetapi ia sendiri jarang bahkan tidak melangkahkan kakinya ke arah yang ditunjukkan peta itu.

Ada banyak ironi lainnya, silahkan tambahkan..

Jadi, Inilah bahaya terbesar dalam kehidupan rohani: menjadi ahli tentang kebenaran tanpa hidup dalam kebenaran tersebut.

Bahaya Menjadi calo yang Tidak Pernah Sampai

Bayangkan seorang calo yang sangat hebat dan berpengalaman.

Ia hafal setiap jalan, arah tujuan setiap kendaraan. Ia mampu menjelaskan semuanya dengan detail rute perjalanan kepada penumpang.

Tetapi ada satu masalah yang dia tidak sadari, yaitu Ia sendiri tidak pernah tiba ditempat yang ia ceritakan.

Tentu kita akan menganggap itu aneh. Namun ini terjadi dalam dunia nyata. Dalam konteks kehidupan rohani, hal seperti ini sering terjadi.

Misalnya, kita bisa menjelaskan tentang sukacita dalam Kristus sekali pun kita belum pernah mengalaminya.

Kita bisa menjelaskan tentang penyerahan diri, padahal kita sendiri tidak menyerahkan diri.

Kita bisa mengajar tentang iman tanpa hidup oleh iman.

Kita bisa mengajar tentang kesetiaan tanpa hidup setia.

Kita bisa menjadi pemandu yang sibuk menunjukkan jalan kepada orang lain sambil diam di tempat.

Fakta yang Mengganggu Pikiran

Seseorang dapat:

• Mengajar pendalaman Alkitab setiap minggu tetapi kita sendiri tidak memiliki mezbah keluarga yang hidup.

• Berkhotbah tentang doa nanum menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial daripada dalam doa.

• Menegur dosa orang lain tetapi mengabaikan dosa pribadinya.

• Menginjili banyak orang tetapi kehilangan kehidupan rohaninya sendiri.

• Mengetahui banyak ayat Alkitab tetapi sedikit mencerminkan karakter Kristus.

Pengetahuan rohani tidak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan rohani.

Karena seringkali kita berhenti pada tataran teori kebenaran tanpa benar-benar mempraktekkan kebenaran itu sendiri.

Yang membuat seseorang serupa Kristus bukanlah seberapa banyak ia tahu, tetapi seberapa banyak ia menaati apa yang ia tahu.

Sekedar pengetahuan dikepala saja tidak cukup sampai kita melakukan apa yang kita ketahui itu.

Poinnya, pengetahuan dan parktek harus berjalan bersama-sama.

Ilustrasi: Guru Renang yang Tidak Bisa Berenang

Diceritakan tentang seorang instruktur renang yang sangat pandai menjelaskan teori berenang.

Ia tahu semua gaya renang. Mulai dari gaya bebas, dada, punggung, dan kupu-kupu.

Ia memahami cara bernapas yang baik.

Ia mampu menjelaskan posisi tangan dan kaki dengan sempurna.

Tetapi suatu hari seseorang bertanya:

“Apakah Anda bisa berenang?”

Dengan malu-malu ia menjawab:

“Tidak.”

Tentu kita akan tertawa mendengarnya. Bagaimana seorang pelatih, yang fasih teori berenang, namun dia sendiri tidak bisa berenang!

Seperti pelatih renang tersebut, terkadang dalam konteks rohani, hal yang sama terjadi dalam kehidupan rohani kita..

Kita mengajar tentang kemenangan atas dosa tetapi tidak berjuang melawannya. Kita masih tinggal dan menikmati dosa kesayangan kita. Kita tidak mengalahkannnya.

Kita berbicara tentang iman tetapi hidup dalam ketakutan. Kita selalu kuatir. Banyak mengeluh tentang hidup dan selalu merasa tidak cukup.

Kita menjelaskan tentang hubungan dengan Tuhan tetapi kita kurang memiliki hubungan dengan Tuhan. Kita tidak jarang berdoa. Kurang membaca Alkitab.

Kita hanya bisa mengajar tapi tidak bisa melakukannya.

Orang jawa katakan: Jarkoni. Iso ngajar, ra iso lakoni. Bisa mengajar tapi tidak bisa melakukan.

Yesus Mengecam Kemunafikan Semacam Ini

Yesus paling keras berbicara kepada orang-orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak melakukannya.

Dengan tegas Yesus menegur para pemuka agama pada jaman Yesus. seperti orang Farisi.

Masalah orang Farisi bukan kurangnya pengetahuan. Mereka ahli-ahli surga.

Mereka adalah pakar Kitab Suci. Mereka dapat menerangkan apa saja tentang Tuhan.

Mereka hafal hukum Taurat.

Mereka menguasai detail-detail agama.

Namun Yesus berkata:

“Mereka mengikat beban-beban berat lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.” (Matius 23:4)

Kata mengikat dan meletakkan adalah gambaran aturan-aturan keagamaan yang menindas, tuntutan legalistik, dan tradisi lisan yang ditambahkan oleh para Ahli Taurat dan Farisi ke dalam Hukum Allah..

Beban-beban ini bukan dari Allah, tetapi peraturan buatan manusia yang dimaksudkan untuk mengendalikan orang-orang dengan kedok kesalehan.

Mereka menjadi ahli teori tentang kekudusan, tetapi gagal hidup kudus.

Mereka menjadi profesor agama, tetapi bukan murid Kristus.

Ilustrasi: Rambu Jalan yang Tidak Pernah Bergerak

Pernahkah Anda melihat rambu jalan? Tentu saja kita pernah. Rambu itu dibuat ada tujuannya.

Rambu itu menunjukkan arah ke kota tujuan. Atau menunjukkan tanda tertentu.

Rambu itu sangat berguna. Agar pengguna jalan tahu ada apa didepan mereka.

Tetapi ada satu hal yang menarik.

Rambu itu sendiri tidak pernah bergerak menuju tujuan yang ditunjukkannya. Rambu itu dia ditempat.

Seperti rambu tersebut, sebagian hamba Tuhan berisiko menjadi seperti itu. Tidak bergerak. Mampu menunjukkan arah kepada orang banyak tetapi tidak kemana-mana.

Mereka mengarahkan banyak jiwa kepada Kristus. Tetapi mereka sendiri berhenti bertumbuh.

Mereka sibuk mempersiapkan makanan rohani untuk orang lain, tetapi dia sendiri perlahan-lahan kelaparan secara rohani.

Karena dia tidak menyantap lebih dahulu makanan yang dia sediakan. Terlalu fokus kasih makan orang lain. Dirinya sendiri tidak dikasih makan.

Mengapa Ini Bisa Terjadi?

Karena pelayanan sering kali dapat menggantikan hubungan dengan Tuhan. Ada kekeliruan dalam pemikiran banyak para hamba Tuhan.

Kita mengira bahwa:

• Mempersiapkan khotbah sama dengan bersekutu dengan Tuhan.

• Mengajar Alkitab sama dengan menaati Alkitab.

• Memimpin doa sama dengan memiliki kehidupan doa.

• Melayani Tuhan sama dengan berjalan bersama Tuhan.

Padahal semuanya berbeda.

Kita bisa sama seperti Marta. Dia sibuk melayani. Namun pada akhirnya dia marah dan menggerutu. Yesus menegur dia, karena cara Marta salah.

Seseorang dapat sibuk bekerja untuk Tuhan tanpa sungguh-sungguh hidup bersama Tuhan.

Fakta yang Menyedihkan

Banyak pemimpin rohani jatuh bukan karena mereka tidak tahu kebenaran.

Mereka jatuh justru karena gagal menerapkan kebenaran yang mereka ketahui.

Banyak pemimpin rohani jatuh karena nafsu seks yang tidak terkendali. Jatuh dalam perzinahan dan hubungan seks diluar pernikahan. Perselingkuhan. Pelecehan.

Banyak pemimpin rohani jatuh karena keinginan diluar batas. Loba akan uang. Ingin bergaya. Tidak puas dengan apa yang didapatkan dari gereja.

Sehingga mereka jatuh dalam berbagai masalah keuangan

Banyak pemimpin yang jatuh karena keinginan akan jabatan. Tidak puas sebagai gembala jemaat. Mereka ingin posisi yang tinggi.

Pemimpin yang diposisi yang tinggi merasa bukan levelnya jika harus turun menjadi gembala jemaat.

Apakah mereka tidak mengetahu kebenaran? Masalahnya bukan kebenaran yang kurang terang. Mereka tahu kebenaran terang benderang.

Masalahnya adalah kurang ketaatan terhadap terang yang sudah ada.

Kepala mereka penuh firman. Ayat-ayat Alkitab diluar kepala. Mereka pintar menerangkan.

Tetapi hati mereka mulai jauh dari Firman itu. Firman itu untuk orang lain.bukan untuk mereka.

Pertanyaan untuk Diri Sendiri

Jangan mengoreksi orang lain, kita perlu bertanya pada diri sendiri:

• Apakah saya hidup sesuai dengan khotbah yang saya sampaikan?

• Apakah keluarga saya melihat Kristus yang sama seperti yang saya khotbahkan?

• Apakah kehidupan pribadi saya mendukung apa yang saya ajarkan?

• Apakah saya lebih sibuk mempersiapkan khotbah daripada mempersiapkan hati?

• Apakah yang saya ajarkan sudah saya praktekkan lebih dahulu?

Karena suatu hari nanti Tuhan tidak akan bertanya berapa banyak khotbah yang telah kita sampaikan.

Ia tidak akan bertanya berapa banyak kelas Alkitab yang telah kita ajarkan.

Ia tidak akan bertanya berapa banyak seminar yang telah kita pimpin.

Ia tidak akan bertanya berapa banyak jiwa yang sudah dibaptisakan.

Ia tidak akan bertanya berapa banyak gereja yang telah didirikan.

Yang akan menjadi pertanyaan adalah:

“Apakah engkau melakukan apa yang engkau ajarkan?”

Penutup

Dunia saat ini tidak kekurangan pengajar.

Dunia tidak kekurangan pendeta, penatua, guru Alkitab, atau pembicara.

Yang langka adalah orang-orang yang hidup sesuai dengan apa yang mereka ajarkan.

Orang yang paling efektif dalam membawa orang lain ke surga bukanlah yang paling banyak berbicara tentang jalan itu.

Melainkan orang yang setiap hari berjalan di jalan itu.

Karena pada akhirnya, lebih baik menjadi seorang peziarah sederhana yang berjalan menuju surga daripada menjadi seorang ahli peta yang tidak pernah meninggalkan tempatnya.

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Yakobus 1:22

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *