
“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Matius 15:8)
Ada sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar mengganggu:
Mengapa Iblis tidak takut kepada orang-orang yang religius?
Bukankah mereka rajin beribadah? Bukankah mereka hafal ayat-ayat Alkitab? Bukankah mereka aktif dalam pelayanan gereja?
Ya, benar. Seharusnya Iblis takut kepada orang-orang Kristen yang seperti itu. Tetapi rupanya semua itu tidak membuat kerajaan kegelapan gemetar.
Iblis tidak takut pada orang yang beragama yang hanya berhenti di kepala. Ia tidak takut pada kesalehan yang hanya terlihat secara lahiriah.
Ia tidak takut pada orang yang pandai berbicara tentang Tuhan tetapi tidak hidup bersama Tuhan.
Ia tidak kuatir kepada orang Kristen yang rajin ke gereja dan rajin pelayanan.
Faktanya, Iblis sendiri sangat religius. Dia juga rajin mengunjungi gereja. Dia ada ditempat-tempat dimana orang Kristen berkumpul.
Ia tahu isi Alkitab.Masih ingat, ketika Iblis mencobai Yesus di padang gurun, ia mengutip ayat Kitab Suci.
Ia percaya bahwa Allah itu ada. Karena Iblis awalnya ada di Sorga bersama Allah. Ia mengenal doktrin Alkitab jauh lebih lama daripada siapa pun di bumi.
Tetapi semua pengetahuan itu tidak membuatnya bertobat. Pengetahuan Alkitab yang dia tahu digunakan untuk menipu manusia dengan memutarbalikkan kebenaran.
Di taman Eden dia memplintir Firman Allah yang disampakan kepada Adam dan Hawa. Allah katakan, “…janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2:17
Iblis tahu ajaran Allah tersebut. itu sebabnya dia memutar balik ajaran itu. Dia katakan, “Sekali-kali kamu tidak akan mati..” Kej 3:4.
Karena itu, pengetahuan agama saja tidak pernah menjadi ancaman bagi kerajaan Iblis. Sebab dia jauh lebih mengetahui dari pada kita.
Iblis Tidak Takut pada Kehadiran di Gereja
Ada orang yang tidak pernah absen ibadah. Rajinnya bukan main. Patut diapresiasi. Dan sebagai orang Kristen tentu saja kita harus raji ke gereja.
Setiap acara gereja diikuti.
Namanya tercatat di berbagai kepanitiaan kegiatan jemaat.
Tetapi setelah pulang dari gereja, cara bicaranya masih melukai orang lain, amarahnya masih tidak terkendali, kesombongannya masih dipelihara, dan dosanya masih disembunyikan rapat-rapat.
Dan itu yang disukai Iblis. Ketekunan menghadiri ibadah tidak membuat dia kuatir, karena ibadah tidak mengubahkan mereka.
Sebab selama ibadah, hati mereka tidak fokus kepada Firman dan pujian. Badan mereka digereja, hati berada ditempat lain.
Saat firman disampaikan, mereka sibuk main hape. Main game, scroll media sosial. Bahkan nonton dracin (drama cina) dalam jam kebaktian.
Iblis melihat semua itu. Dia puas dan bangga. Lalu berkata,
“Tenang saja. Dia memang datang ke gereja, tapi tidak datang kepada Kristus.”
Kehadiran fisik di gereja tidak otomatis berarti kehadiran hati di hadapan Tuhan.
Iblis Tidak Takut pada Jabatan Gereja
Kita sering mengira bahwa semakin tinggi jabatan seseorang dalam gereja, semakin besar ancamannya bagi kerajaan kegelapan.
Belum tentu.
Iblis tidak takut pada gelar penatua, diaken, pemimpin pelayanan, atau bahkan pendeta jika semua itu hanya menjadi posisi tanpa pertobatan.
Yang ditakuti Iblis bukan jabatan.
Yang ditakuti Iblis adalah pelayanan Tuhan yang hidupnya dipenuhi Roh Kudus. Karena mereka tidak kompromi dengan dosa. Teguh dalam prinsip. Tidak dapat diperjual belikan.
Karena jabatan bisa diberikan manusia, bahkan jabatan gerejani pun dapat diperoleh dengan nmanipulasi. Tetapi karakter hanya dapat dibentuk oleh Tuhan.
Itu sebabnya Iblis tidak senang dengan hamba Tuhan yang berintegritas dan berkarakter.
Banyak pelayan Tuhan, sebenarnya tidak melayani Tuhan. Melayani manusia dan perut mereka sendiri.
Karena itu, Iblis bangga kepada para pelayanan gereja yang seperti itu.
Iblis Tidak Takut pada Perdebatan Doktrin
Sebagian orang sangat bersemangat membela kebenaran. Mereka pikir telah berbuat banyak kepada Tuhan.
Mereka bisa memenangkan setiap perdebatan teologis. Mereka dapat menunjukkan kesalahan orang lain dengan sangat cepat.
Tetapi mereka gagal menunjukkan kasih Kristus. Mereka menang dalam argumentasi tetapi kalah dalam penginjilan.
Mereka mampu membuktikan orang lain salah, tetapi tidak mampu membawa orang itu lebih dekat kepada Yesus.
Iblis senang melihat hal seperti itu.
Selama orang percaya sibuk berdebat dan lupa bersaksi, kerajaan kegelapan tidak kehilangan satu jiwa pun. Karena perdebatan teologis tidak pernah memangkan jiwa kepada Yesus. iblis tahu itu.
Apa Yang Ditakuti Iblis Adalah Pertobatan Sejati
Apa yang sebenarnya membuat Iblis takut? Bukan banyaknya aktivitas gereja seperti KKR, seminar, perkemahan, kebaktian, dll..
Dia juga tidak taku dengan panjangnya doa di depan umum. Dia juga tidak taku dengan banyaknya ayat yang dihafal.
Yang ditakutinya adalah ketika seorang pria atau wanita sungguh-sungguh menyerahkan hidup kepada Kristus.
Iblis takut: Ketika dosa diakui. Ketika hati yang keras dilembutkan.
Ketika ego disalibkan. Ketika seseorang mulai mengasihi orang yang sulit dikasihi.
Ketika seorang Kristen tidak hanya mengetahui kebenaran, tetapi juga menghidupi kebenaran.
Ketika seseorang berkomitmen untuk hidup bagi Yesus dan mempraktekkan imannya.
Saat itulah kerajaan kegelapan mulai kehilangan wilayahnya.
Bahaya Terbesar: Merasa Selamat Karena Religius
Mungkin senjata paling berbahaya yang digunakan Iblis bukanlah membuat orang menjadi ateis.
Justru sering kali ia lebih berhasil membuat orang merasa aman dalam agamanya.
Ia tidak keberatan seseorang memiliki Alkitab selama Alkitab itu tidak dibaca. Dia ingin Alkitab hanya pajangan dirumah.
Dia tidak kuatir Alkitab menjadi buku yang paling banyak dicetak, diterjemahkan dan paling laris.
Ia tidak keberatan seseorang berdoa selama doa itu hanya rutinitas atau formalitas.
Ia tidak keberatan seseorang pergi ke gereja selama hidupnya tidak berubah.
Ia tidak keberatan seseorang menyebut nama Yesus selama orang itu tidak mengikuti Yesus.
Karena agama tanpa pertobatan hanyalah kosmetik rohani.
Tampak indah dari luar, tetapi tidak menyentuh hati.
Penutup
Pada akhirnya, pertanyaan yang penting bukanlah:
“Apakah saya orang religius?”
Melainkan:
“Apakah saya sudah bertobat?”
Sebab pada hari penghakiman nanti, Tuhan tidak akan bertanya berapa banyak jabatan yang kita pegang, berapa banyak rapat yang kita hadiri, atau berapa banyak perdebatan yang kita menangkan.
Tuhan juga tidak bertanya berapa jiwa yang sudah kita baptiskan?
Yesus akan membuang mereka yang hanya sekedar beragama. Hal itu dia katakan dalam Matius 7:21-23,
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Jadi yang akan diperiksa adalah apakah Kristus benar-benar hidup di dalam kita.
Iblis tidak takut pada orang yang sekadar religius.
Tetapi ia sangat takut pada orang berdosa yang sungguh-sungguh bertobat, hidup dalam ketaatan, dan setiap hari semakin serupa dengan Kristus.
Karena orang beragama dapat memenuhi bangku gereja, tetapi hanya petobat yang sejati yang dapat mengosongkan kerajaan kegelapan.













