“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12)

Ketika hidup hampir berakhir, apa yang benar-benar penting?

Bayangkan Anda diberi tahu bahwa hidup Anda tinggal lima menit lagi.

Tidak ada lagi rapat yang harus dihadiri.
Tidak ada lagi target yang harus dicapai.
Tidak ada lagi uang yang harus dikumpulkan.
Tidak ada lagi pengikut media sosial yang perlu ditambah.

Hanya lima menit.

Pertanyaannya, apa yang akan Anda sesali?

Mungkin Anda tidak akan berkata, “Seandainya saya membeli mobil yang lebih mahal.”

Mungkin Anda tidak akan berkata, “Seandainya saya bekerja lebih lama di kantor.”

Mungkin Anda tidak akan berkata, “Seandainya postingan saya mendapat lebih banyak like.”

Sebaliknya, yang mungkin muncul justru hal-hal yang selama ini kita abaikan.

“Seandainya saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga.”

“Seandainya saya lebih sering mengatakan ‘aku mengasihimu’ kepada orang tua saya.”

“Seandainya saya lebih cepat memaafkan.”

“Seandainya saya lebih sungguh-sungguh mencari Tuhan.”

Hidup yang Terbalik

Masalah terbesar manusia bukanlah bahwa hidup terlalu singkat.

Masalah terbesar adalah kita sering hidup seolah-olah hidup ini tidak akan pernah berakhir.

Kita menunda meminta maaf.
Menunda beribadah.
Menunda melayani.
Menunda mengunjungi orang tua.
Menunda menghubungi sahabat lama.
Menunda bertobat.

Kita selalu berpikir masih ada waktu.

Namun kenyataannya, tidak seorang pun memiliki jaminan tentang hari esok.

Doa Musa dalam Mazmur:

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12)

Orang bijaksana bukanlah orang yang tahu berapa lama ia hidup.

Orang bijaksana adalah orang yang tahu bahwa hidupnya terbatas.

Kuburan Penuh dengan Rencana yang Tidak Pernah Dikerjakan

Pernahkah Anda berpikir bahwa banyak impian terkubur bersama pemiliknya?

Ada yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya.

Ada yang ingin lebih dekat dengan Tuhan.

Ada yang ingin melayani.

Ada yang ingin meminta maaf.

Tetapi semua itu tertunda sampai akhirnya waktu habis.

Kita sering hidup untuk masa depan sambil melupakan hari ini.

Padahal kehidupan hanya diberikan satu hari pada satu waktu.

Yang Akan Paling Dirindukan

Ketika hidup mendekati akhir, banyak penelitian dan kesaksian menunjukkan bahwa orang lebih sering merindukan hubungan daripada pencapaian.

Mereka merindukan keluarga.

Mereka merindukan sahabat.

Mereka merindukan momen sederhana yang dulu dianggap biasa.

Makan bersama.

Berdoa bersama.

Tertawa bersama.

Berjalan bersama.

Hal-hal kecil yang ternyata menjadi hal-hal besar.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang siapa yang kita kasihi dan siapa yang mengasihi kita.

Satu Pertanyaan yang Mengubah Segalanya

Namun ada pertanyaan yang lebih dalam daripada semua itu.

Bagaimana hubungan Anda dengan Tuhan?

Lima menit sebelum meninggal, rekening bank tidak bisa menolong kita.

Jabatan tidak bisa menyelamatkan kita.

Popularitas tidak bisa memberi pengharapan kekal.

Yang tersisa hanyalah hubungan kita dengan Sang Pencipta.

Yesus berkata:

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah:

“Berapa banyak yang telah saya kumpulkan?”

Melainkan:

“Apakah saya telah mengenal Kristus?”

Jika Lima Menit Itu Belum Tiba

Kabar baiknya, bagi Anda yang sedang membaca artikel ini, lima menit itu mungkin belum tiba.

Anda masih memiliki kesempatan.

Masih ada waktu untuk menelepon orang tua.

Masih ada waktu untuk memeluk pasangan.

Masih ada waktu untuk meminta maaf.

Masih ada waktu untuk memperbaiki hubungan.

Masih ada waktu untuk kembali kepada Tuhan.

Jangan menunggu sampai ranjang rumah sakit untuk mulai memikirkan hal-hal yang paling penting.

Jangan menunggu sampai air mata penyesalan mengalir untuk menyadari apa yang sebenarnya berharga.

Hiduplah hari ini dengan cara yang tidak akan Anda sesali nanti.

Karena suatu hari nanti, setiap orang akan menghadapi lima menit terakhirnya.

Dan ketika saat itu tiba, yang paling berharga bukanlah apa yang ada di tangan kita.

Melainkan siapa yang ada di hati kita.

Keluarga. Kasih. Pengampunan. Dan yang terutama, Yesus Kristus.

Sebab hidup yang paling berhasil bukanlah hidup yang paling panjang atau paling kaya, melainkan hidup yang siap secara rohani ketika kematian tiba..

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *