
“Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.” Matius 27:45
HARI sudah siang. Tengah hari. Matahari mulai terik. Panas. Orang-orang masih berkumpul disekitar salib. Banyak juga yang masih lalu Lalang sekedar menonton orang-orang yang disalibkan..
Secara tiba-tiba suatu peristiwa alam yang tidak biasa terjadi selama tiga jam. “Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.”
Apa yang terjadi ini adalah mujizat yang akan menyertai kematian Yesus. Dan akan ada beberapa mujizat yang dahsyat, yang berkaitan dengan alam menyertai kematian Yesus..
Mukjizat pertama adalah kegelapan yang menakutkan. Dimulai pada jam keenam atau siang hari, Ketika matahari berada di puncaknya..
Kegelapan ini menyelimuti seluruh negeri sampai jam kesembilan atau pukul 15.00. Penyaliban Yesus dimulai pada jam ketiga, atau pukul 09.00 (Markus 15:25).
Jadi pada saat terjadi kegelapan, Yesus telah berada disalib selama 3 jam. Selama itu terjadi keheningan diseluruh negeri..
Mungkin Sebagian orang takut melihat kegelapan ini sebagai pertanda buruk. Karena kejadian ini tidak lazim. Mungkin para musuh Yesus melihat ini berkaitan dengan Yesus..
Banyak muncul penafsiran tentang peristiwa ini. Sebagian berpikir, alam tidak memihak kepada Yesus. Sebagian lagi melihat sebagai murka Allah kepada mereka..
Para ahli astronomi tidak mendapat jawaban atas peristiwa yang langka ini.
Selama tiga jam kegelapan ini, Yesus memecahkan keheningan dengan berseru sebanyak tiga kali.
Lukas 23:34 melaporkan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Dan tak lama kemudian Dia berkata kepada penyamun yang menyesal di samping-Nya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Lukas 23:43
Tak lama setelah itu Dia berkata kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah, anakmu!” kepada Yohanes, “Lihatlah ibumu!” (Yohanes 19:26-27)
Jadi kegelapan yang terjadi didaerah itu dalam bahasa Yunani digunakan kata ge artinya bumi.
Walau Matius melaporkan kegelapan menyelimuti seluiruh daerah itu, kemungkinan memang yang dia lihat hanya wilayah dimana dia berada..
Kegelapan seperti ini juga pernah terjadi di Mesir (Kel. 10:14-15), dan sekitar empat puluh tahun kemudian Dia membuat matahari “berhenti”, mungkin dengan menghentikan sementara rotasi bumi. (Yos. 10:12-13; lih. 2 Raja-raja 20:9-11).
Apakah kegelapan ini universal atau lokal? Secara eksplisit Alkitab tidak menerangkan.
Beberapa literatur melaporkan, bahwa kegelapan yang terjadi pada saat penyaliban Yesus terjadi di seluruh dunia.
Bapa gereja mula-mula, Origen (Against Celsus, 2.33) melaporkan pernyataan seorang sejarawan Romawi yang menyebutkan kegelapan seperti itu.
Bapa gereja bernama Tertulian menulis kepada beberapa kenalannya yang kafir tentang kegelapan yang tidak biasa pada hari itu..
“keajaiban yang diceritakan dalam catatan sejarah Anda sendiri dan disimpan dalam arsip Anda sendiri hingga hari ini.”
Ketika Lukas menggambarkan kegelapan ini, dia menggunakan kata ekleipo, secara harafiah berarti gagal, atau lenyap, dan merupakan istilah dan asal mula kata gerhana.
Dari segi ilmu astronomi tidak mungkin terjadi gerhana matahari pada saat itu, karena jarak matahari dan bulan berjauhan pada hari itu.
Jadi apa yang terjadi saat itu adalah campur tangan Ilahi . Selama periode tiga jam itu, Lukas menjelaskan, matahari tidak bersinar (23:45).
Tidak ada penjelasan dalam Alkitab apa tujuan Tuhan membuat kegelapan saat itu.
Namun Menurut Talmud, para rabi mengajarkan bahwa kegelapan itu merupakan penghakiman Allah atas dunia atas dosa yang sangat keji.
Kalau memang itu benar, maka Allah sedang mengajarkan kepada dunia mengenai dosa terbesar yang pernah dilakukan oleh umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa.
Tentang kegelapan yang terjadi, beberapa penafsir Alkitab mengatakan, bahwa kegelapan adalah cara Allah menyingkapkan tabir besar atas penderitaan Kristus..
Penafsir lain mengatakan, bahwa kegelapan adalah tindakan simpati kebapakan ilahi yang diberikan untuk menutupi ketelanjangan dan penghinaan terhadap Putra-Nya.
Buku Kerinduan Segala Zaman 2, 405 menuliskan,
“Alam yang tidak bernyawa menyatakan simpati terhadap Penciptanya yang dihinakan dan menghadapi maut.
Matahari enggan melihat pemandangan yang menakutkan itu. Sinarnya yang terik dan cerah sedang menerangi bumi pada tengah hari, ketika secara tiba-tiba tampaknya matahari dilenyapkan.”
“Kegelapan yang hitam pekat, laksana kain penutup peti jenazah, menudungi salib itu. “Gelaplah seluruh tanah itu hingga pukul tiga petang.”
“Tidak ada gerhana atau penyebab alamiah lainnya untuk kegelapan ini, yang sama gelapnya dengan tengah malam tanpa bulan atau bintang-bintang.
Itulah suatu kesaksian yang ajaib yang diberikan Allah agar iman generasi mendatang dapat dikuatkan.”
“Dalam keadaan gelap gulita itu, Allah menudungi kesengsaraan manusia yang terakhir yang diderita Anak-Nya. Semua orang yang telah melihat Kristus dalam penderitaan-Nya telah diyakinkan tentang Keilahian-Nya.”
Jadi apa pun alasan dibalik terjadinya kegelapan pada saat itu, yang pasti peristiwa alam yang tidak normal itu membawa pikiran manusia kepada Yesus..
Jika hidup kita tampaknya diselimuti kegelapan, Allah tetap bersama kita. Kegelapan sebagai tanda simpati Tuhan terhadap penderitaan kita, dan bahwa disaat tergelap hidup kita hadirat-Nya nyata..







