
Matius 27:38, 44 dan Lukas 23:39-43.
Disalibkan bersama dua orang bandit. Penyamun. Perampok. Di kiri dan kanan. Yeus ditengah.
“Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya.”
Kata penyamun dari kata lestes, yang berarti seorang perampok yang menjarah sambil mencuri.
Mereka bukanlah pencuri kecil atau perampok biasa, melainkan bandit kejam yang senang menyiksa, menganiaya, dan sering kali membunuh korbannya.
Kemungkian mereka sering membegal orang ditempat yang sepi. Para pelintas, pedagang atau para bankir manjadi sasaran mereka.
Bahkan mungkin ditempat ramai pun mereka bisa beraksi. Sehingga keberadaan mereka sangat meresahkan masyarakat..
Mungkin saja mereka adalah rekan Barabas yang sudah dibebaskan karena permintaan orang banyak.
Mereka bukanlah patriot yang menjarah bangsa Romawi untuk membantu menjamin kebebasan negara mereka..
Mereka penjahat kelas kakap yang menjarah, merampok, membegal orang-orang, baik orang Yahudi, Romawi, dll untuk kepentingan mereka sendiri.
Sehingga keberadaan mereka menjadi ancaman bagi semua orang. Akibatnya banyak orang menjadi takut dan terganggu keamanannya..
Kemungkinan besar kedua perampok itu adalah orang Yahudi atau setidaknya tinggal di masyarakat Yahudi di Palestina.
Oleh karena itu, mereka mempunyai pengetahuan tentang Yudaisme dan Mesias Yahudi.
Kemungkinan besar mereka mengetahui sesuatu tentang Yesus dari Nazaret dan fakta bahwa Dia dan para pengikut-Nya menyatakan bahwa Dia adalah Mesias yang dinubuatkan.
Seperti para prajurit, mereka pasti tahu tentang tuduhan tidak berdasar yang diajukan para pemimpin agama Yahudi.
Kemungkinan mereka mendengar bagaimana para pemimpin agama menyerang dia dan bagaimana Pilatus ingin membebaskan Dia..
Laporan Matius, awalnya mereka berdua ikut mencela Yesus, “Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga.” (Ay.44)
Celaan mereka berkaitan dengan pengakuan Yesus tentang diri-Nya sebagai Mesias. Anak Allah. Menurut hemat mereka, seharusnya Yesus dapat menyelamatkan diri-Nya sendiri..
Cerita tentang mereka berlanjut. Dalam kesakitan mereka bercerita satu sama lain. Mungkin salah seorang dari penyamun mulai mengamati Yesus. wajahnya begitu tulus dan damai..
Dia mulai merenung dalam hati. Apa yang dia dengar tentang Yesus mulai dia resapi.
Sementara penyamun yang lain terus saja menggerutu, mengeluh, komplain. Dia tidak menyesali perbuatannya. Dia tidak terima dihukum salib..
Dia ingin lepas dari hukuman ini. Tetapi bukan untuk betobat tetapi untuk terus dalam kejahatan. Kesal dengan Yesus, dia berkata tidak patut kepada Yesus..
“Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Lukas 23:39..
Dia tidak sedang mengakui Keilahian Kristus. Dia mengejek. Dia tidak tahu bahwa Yesus sedang menyelamatkan dia dari akibat dan upat dosa..
Sebagai penjahat dia harus menerima konsekuensi dari perbuatannya. Tidak bisa serta merta bebas. Dan Yesus disalibkan bukan karena dosa-Nya, tetapi karena dosa semua manusia..
Yesus siap menanggung dan tidak ingin turun dari salib walau pun Dia bisa melakukannya. Dia harus menjalani penebusan ini hingga selesai, yaitu hingga mati..
Hening sejenak. Tiba-tiba penyamun sebelah kanan berbicara. Menjawab rekannya dengan teguran,
“Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?
Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Lukas 23:40-41.
Sekarang penyamun ini sadar. Mereka pantas dihukum mati. Kejahatan mereka terlalu besar. Dia menerima hukuman mati ini dan akan menjalaninnya.
Namun yang hal yang hebat adalah dia bersaksi bahwa Yesus dihukum bukan karena Dia telah berbuat salah. Dia paham latar belakang mengapa Yesus disalibkan..
Sekarang. Dikayu salib. Dia menyatakan imannya kepada Yesus. Walau tidak terlalu jelas, kata-katanya mencerminkan keyakinannya bahwa Yesus adalah Mesias..
Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”
Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Lukas 23:42-43.
Yesus merespon iman penyamun ini dengan sebuah janji. Dia akan menerima upah yang benar pada kedatangan Yesus kedua kali..
Poinnya, Seperti banyak orang saat ini, kehidupan kedua perampok ini berkisar pada harta benda dan kepuasan daging.
Perhatian mereka terhadap agama, moralitas, dan keadilan sama kecilnya dengan perhatian para prajurit Romawi yang kafir..
Ketika mereka masih bebas, mereka lebih mencintai hal-hal duniawi daripada hal-hal tentang Allah.
Mereka menggunakan nafas terakhir mereka untuk melampiaskan kemarahan mereka yang terpendam kepada satu-satunya yang dapat memberi mereka harapan.
Namun, salah seorang penjahat itu bertobat. Dia menyadari dosa-dosanya dan meminta Yesus menyelamatkan Dia..
Yesus menerima pertobatan seseorang diakhir hidupnya. Sekali pun perbuatan jahatnya lebih banyak dari perbuatan baiknya atau sama sekali tidak ada yang baik..
Yesus menerima pertobatan setiap orang..
Namun jangan tunggu untuk bertobat dipenghujung kehidupan. Sekaranglah saat yang tepat. Mari melakukan perbuatan kebajikan selagi nafas dikandung badan..







