Yesus menderita total

“Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: “Inilah Yesus Raja orang Yahudi.” Matius 27:37

DERITA itu tak tertahankan. Tetapi harus ditahan. Dijalani hingga tuntas. Sampai misi sempurna. Yesus dapat saja melepaskan diri dari penyaliban. Tapi misi tidak boleh gagal.

Dia telah tiba disalib. Simon membantunya. Salib ditelakkan ditanah. Pakaian Yesus yang penuh darah dan robek ditanggalkan. Dia setengah telanjang. Dipermalukan..

Prajurit menelentangkan Yesus diatas salib. Kedua tangan-Nya direntangkan dibalok kayu horizontal. Seorang prajurit mengambil palu dan paku besar..

Tepat diatas telapak tangan-Nya, paku itu dipegang prajurit. Palu diangkat tinggi keatas. Dengan kuat diarahkan keatas paku itu. Paku menghujam telapak tangan Yesus. Darah muncrat..

Saat yang sama Yesus berteriak menahan sakit yang luar biasa..

Tangan yang satu selesai. Tangan kedua. Kemudian kakinya. Anda dapat bayangkan sendiri, betapa sakitnya.

Namun bagian yang paling sakit adalah Ketika salib itu diberdirikan dan ditancapkan kedalam lubang tanah. Tangan dan kaki Yesus robek menahan beban tubuhnya. Darah mengucur begitu deras..

Cara orang Roma menciptakan hukum begitu kejam dengan cara membuat korbannya menderita cukup lama.

Penyaliban berasal dari Persia, di mana dewa bernama Ormazd diyakini menganggap tanah/bumi itu suci. Karena itu kalau ada seorang penjahat yang dihukum, tidak boleh ditanah.

Ia harus diangkat ke atas tanah agar tidak menajiskannya. Ia harus digantung pada sebuah tiang besar dan dibiarkan mati di sana.

Praktek ini diambil alih oleh orang-orang Kartago dan kemudian oleh orang-orang Yunani dan selanjutnya orang-orang Romawi..

Orang-orang Romawi menggunakan hukuman ini secara luas. Sehingga hukuman salib menjadi identik dengan mereka..

Diperkirakan pada zaman Kristus, bangsa Romawi telah menyalib sekitar 30.000 orang. Itu baru orang di Israel saja.

Belum ditempat lain. Biasanya digunakan untuk kejahatan besar, seperti pemberontakan..

Seorang bernama Frederick Farrar, dalam bukunya The Life of Christ, dia menggambarkan penyaliban sebagai berikut:

Kematian karena penyaliban tampaknya mencakup semua rasa sakit dan kematian yang bisa diakibatkan oleh hal-hal yang mengerikan dan menakutkan..

Pusing, kejang, haus, lapar, tidak bisa tidur, trauma, demam, dipermalukan, penyiksaan yang terus-menerus, semua akan ditanggung hingga titik dimana hilang kesadaran..

Posisi yang tidak wajar membuat setiap gerakan terasa nyeri; pembuluh darah yang terkoyak dan tendon yang remuk berdenyut-denyut karena penderitaan yang tak henti-hentinya..

Luka-luka mengalami peradangan. Bahkan dapat mengalami infeksi karena luka terbuka. Arteri-arteri—terutama di bagian kepala dan perut—menjadi bengkak dan tertekan oleh darah yang meluap-luap..

Rasa sakit akan terus meningkat secara bertahap. Ditambah lagi dengan rasa haus yang membara dan tak tertahankan. Semua komplikasi fisik ini menyebabkan kegelisahan batin..

Eksekusi mati pada jaman dulu tidak seperti sekarang. Era modern hukuman mati dibuat secepat mungkin..

Namun jaman dulu dibuat selama mungkin. Mereka mencari jenis penyiksaan yang sangat menyiksa dan mempermalukannya.

Penting bagi kita memahani hukuman mati jaman Yesus, untuk membantu kita menyadari penderitaan kematian Kristus.

Laporan Matius memang tidak fokus kepada pada hal-hal fisik dari penyaliban yang menyebabkan Kristus mati, namun lebih pada karakter dari orang-orang yang menyalibkan Dia.

Setelah semua siksaan itu, para prajurit yang tidak berperasaan itu duduk tanpa ekspresi.

Mereka tidak tahu siapa Yesus, kecuali apa yang tertulis pada tanda di atas kepala-Nya sebagai ejekan sarkastik dari Pilatus.

Karena ketidaktahuan mereka yang jahat, mereka pun akhirnya ikut mengejek Yesus, dengan mengatakan..

“Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” Lukas 23:36-37.

Matius juga melaporkan, “Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi..”

Jubah itu tidak berjahit, ditenun menjadi satu kesatuan. Setelah melakukan itu, mereka duduk di dekat salib dan mulai mengawasi Dia di sana..

Para prajurit diharuskan tetap menjaga korban sampai dia mati.

Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: “Inilah Yesus Raja orang Yahudi.”

Tulisan itu sebagai olok-olok terakhir terhadap Yesus dan penghinaan terhadap para pemimpin Yahudi., ditulis dalam bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani” (Yohanes 19:19b-20).

Mengapa ditulis dalam tiga bahasa? Bahasa Yunani adalah bahasa universal di kekaisaran pada saat itu..

bahasa Aram (berkerabat dekat dengan bahasa Ibrani) adalah bahasa Palestina, dan bahasa Latin adalah bahasa resmi Roma.

Melalui ketiga bahasa tersebut gubernur memastikan bahwa hampir setiap orang yang lewat dapat membaca prasasti tersebut.

Imam-imam kepala mendesak agar kata-kata pada prasasti itu diubah menjadi, “Aku adalah Raja orang Yahudi.” Yoh 19:21.

Namun Pilatus menolak. “Apa yang kutulis, tetap tertulis.” Yoh 19:22.

Poinnya, penderitaan Yesus secara keseluruhan menunjukkan kejamnya dosa itu. Dosa menimbulkan rasa sakit. Penderitaan. Tetapi Yesus akan mengakhiri semua penderitaan suatu saat nanti..

Mari kita pahami bahwa kematian Yesus untuk menyelamatkan dan memulihkan kita..

“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” 1 Petrus 2:24.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *