
Di era media sosial, banyak orang hidup dari notifikasi. Satu “like” bisa membuat hati senang. Satu komentar negatif bisa merusak suasana hati sepanjang hari. Kita hidup dalam budaya yang mengajarkan bahwa nilai diri ditentukan oleh seberapa banyak orang memperhatikan kita.
Namun, ada sebuah pertanyaan yang jarang kita renungkan:
Bagaimana jika seluruh dunia melupakan kita, tetapi Tuhan tetap mengenal kita?
Banyak orang hari ini merasa kesepian meskipun memiliki ribuan teman di media sosial. Mereka terlihat bahagia di luar, tetapi kosong di dalam. Mereka terus mencari pengakuan dari manusia, padahal hati manusia tidak pernah benar-benar puas oleh pujian manusia.
Yesus pernah mengajarkan sesuatu yang bertolak belakang dengan budaya populer saat ini. Dalam Matius 6:6, Ia berkata:
“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.”
Menariknya, Tuhan tidak mengundang kita ke panggung yang ramai, melainkan ke ruang yang sepi.
Di ruang yang sepi itu tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada pengikut.
Tidak ada penonton.
Hanya ada kita dan Tuhan.
Ironisnya, banyak orang ingin dipakai Tuhan secara besar-besaran, tetapi tidak mau menyediakan waktu untuk bersama Tuhan secara pribadi. Kita ingin hasil yang spektakuler tanpa proses yang tersembunyi.
Padahal dalam Alkitab, sebelum Daud menjadi raja, ia terlebih dahulu menjadi gembala yang tidak dikenal. Sebelum Yusuf menjadi penguasa Mesir, ia melewati penjara yang sunyi. Sebelum Yesus memulai pelayanan-Nya, Ia menghabiskan waktu empat puluh hari di padang gurun.
Tuhan sering kali bekerja dalam kesunyian sebelum Ia bekerja dalam sorotan.
Mungkin saat ini Anda merasa tidak dihargai.
Usaha Anda tidak diperhatikan.
Pelayanan Anda tidak dipuji.
Pengorbanan Anda tidak diakui.
Tetapi ingatlah: Tuhan melihat apa yang tidak dilihat manusia.
Manusia menilai penampilan luar.
Tuhan melihat hati.
Manusia menghitung jumlah pengikut.
Tuhan menghitung kesetiaan.
Manusia mencari yang viral.
Tuhan mencari yang setia.
Pada akhirnya, bukan berapa banyak orang yang mengenal nama kita yang akan menentukan kekekalan kita. Yang terpenting adalah apakah nama kita dikenal oleh Tuhan.
Karena di surga nanti, yang paling berharga bukanlah mendengar dunia berkata, “Kamu hebat.”
Melainkan mendengar Tuhan berkata:
“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.”
Mungkin artikel ini tidak akan mengubah seluruh dunia.
Tetapi jika mengingatkan satu orang untuk kembali mencari Tuhan lebih daripada mencari pengakuan manusia, maka itu sudah cukup.
Sebab tidak semua yang viral bernilai kekal, tetapi semua yang dilakukan bagi Tuhan memiliki nilai kekal.




