
Teks: Matius 27:27-31, Lukas 23:27-31
“Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! Lukas 23:28
HEBOH. Berita-berita berseliweran sejak pagi hingga siang hari. Yesus yang dikenal banyak orang sebagai orang yang baik, sekarang dihukum Romawi. Salib.
Mereka bertanya-tanya, mengapa bisa demikian. Tapi mereka tidak berani bersuara. Tokoh yang simpati kepada Yesus pun tidak berani.
Kemungkinan mereka takut kepada Pilatus yang dikenal kejam..
Orang-orang mulai turun kejalan-jalan. Mereka ingin melihat langsung perjalanan Yesus dari pengadilan menuju tempat eksekusi..
Mereka yang tidak mengenal Yesus dan belum pernah merasakan kebaikannya, mungkin mencibir. Orang-orang yang mengenal dan merasakan kebaikan Yesus bersimpati. Menangis.
Tidak habis pikir mengapa Yesus sampai dihukum begitu kejam..
Yesus berjalan tertatih-tatih, memikul salibnya yang berat. Tubuhnya penuh dengan luka-luka. Wajahnya hampir tidak dapat dikenali.
Disini kiri dan kanan jalan, orang-orang berbaris melihat perjalanan Yesus menuju tempat eksekusinya. Banyak yang merasa kasihan. Sebagian mencibir..
Lukas melaporkan, “Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia..”
Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!
Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui.
Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami!
Sebab jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?” Lukas 23:27-31.
Banyaknya orang yang bersimpati kepada Yesus terlihat dari banyaknya orang yang menangis disepanjang jala. Khususnya para perempuan.
Mereka meratap seperti saat kedukaan. Mereka adalah perempuan setempat.
Mereka tidak terima, dan tidak tega melihat Yesus diperlakukan seperti itu. Kemungkinan mereka tahu, Yesus korban konspirasi jahat para pemuka agama..
Disini kita melihat bahwa masih banyak orang yang memberi dukungan kepada Yesus. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain menangis. Yesus tahu kesedihan hati mereka.
Dalam kondisi yang sangat lemah, Dia masih dapat memberikan penghiburan kepada mereka untuk jangan menangisi diri-Nya..
Yesus tidak perlu ditangisi. Dia menderita karena dosa manusia. Yesus memberi pelajaran kepada mereka bahwa mereka harus berduka kepada diri mereka sendiri, atas dosa-dosa mereka..
Mereka harus menerima Mesias supaya mereka selamat. Jika tidak mereka akan binasa.
Para wanita itu harus menangisi bangsa dan anak-anaknya, karena penghakiman pasti akan menimpa bangsa tersebut (lihat 13:34 35).
Yesus kemudian meramalkan masa depan mereka dan mengatakan bahwa akan tiba masanya, perempuan mandul akan lebih berbahagia dari perempuan yang melahirkan..
Bagi orang Yahudi, perempuan mandul dianggap sebagai aib. Tetapi waktiunya tiba mereka akan Bahagia.
Hal ini karena penghakiman yang akan menimpa bangsa ini akan sangat berat. Pria, wanita, dan anak-anak akan menghadapi risiko..
Dalam dunia kuno, musuh yang menang perang akan menghancurkan segala sesuatu. Termasuk anak-anak dan perempuan..
Dalam hal ini Yesus mengacu pada kehancuran Yerusalem tahun 70 M. Ketika itu Bait Suci dihancurkan sepenuhnya dan sebagian besar penduduknya dibantai oleh jenderal Titus..
Yesus membawa pikiran mereka kepada Hosea 10:8. Hari-hari penghakiman akan sangat menyakitkan sehingga manusia akan rindu untuk mati..
Mereka bahkan berharap tertimbun oleh longsoran gunung-gunung dan bukit-bukit..
Apa yang disampaikan Hosea, 8:10, dikutip oleh wahyu 6:16. Ayat Hosea ini menggambarkan teror penghakiman di akhir zaman..
Orang-orang jahat akan menjadi sasaran penghakiman Allah. Betapa menyakitkannya menjadi sasaran murka Tuhan..
Poinnya, Yesus Menderita karena dosa. Kita boleh bersimpati dan berempati akan penderitaan Yesus. Namun seperti kata Yesus, “ Tangisilah dirimu dan anak-anakmu..”
Kita tidak perlu menangisi Yesus. Diri kitalah yang perlu kita tangisi. Meratapi dosa-dosa kita.
Mari kita menangis..





