
“Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.” Matius 26:75b
TATAPAN Yesus yang penuh kasih dan ingatan akan komitmen yang gagal dilakukan, menusuk hati Petrus. Menyayat. Mencabik-cabik perasaannya..
Tangisannya pun pecah. Dia berlari keluar dari halaman istana imam besar. Entah kemana dia perginya..
Kemungkinan dia kembali ke taman Getsemane, tempat Yesus berdoa. Tempat dimana dia tertidur. Dimanapun dia berada, itu menjadi tempat pribadi untuk mengaku dosa dan mencari pengampunan.
Disana dia kembali belajar bahwa percaya kepada kekuatan sendiri akan membawa kepada ketidak siapan menghadapi tantangan iman..
Disana dia juga belajar tentang pengampunan dan pemulihan Tuhan terhadap orang benar yang berdosa.
Disana dia belajar mengenai pentingnya mempercayai kata-kata Yesus, karena apa yang Yesus katakan akan terjadi. Kata-kata-Nya adalah kebenaran..
Sekarang Petrus mengakui ketidakdayaannya. Ternyata bukan oleh karena kekuatan manusia, tetapi oleh Roh Allah..
Sambil menangis dengan sedihnya. Tersedu-sedu. Dia terus membayangkan wajah Yesus. Dia menyesali ketidaksiapannya.
Mungkin sambil memukul-mukul dirinya, ia menyesali telah menyangkal Yesus tiga kali, dengan kutuk dan sumpah..
Oh, dia merasa dosanya sangat besar kepada Gurunya.
Tangisan Petrus dipagi subuh yang masih gelap dan sepi itu, menyayat hati siapa pun yang mendengar tangisannya. Bukan tangisan biasa. Tangisan penyesalam yang amat dalam..
Dia terus mengelap matanya dengan tangannya, sesekali dia merasakan asinnya air matanya..
Cukup lama dia menangis. Air mata yang disebabkan luapan emosinya keluar dalam jumlah yang banyak. Terus menerus. Hingga mata Petrus terlihat bengkak..
Petrus mengakui dosanya dan siap menerima konsekuensinya. Dia rindu Yesus mengampuni dosa-dosanya dan memulai komitmen baru kembali. Meninggikan Yesus.
Pengampunan dan pemulihan hanya bisa diperoleh dengan berbalik dari dosa kepada Tuhan.
Itulah sebabnya pemberitaan dan pengajaran Injil yang benar bukan sekadar mengajak orang untuk berpaling dari dosa mereka.
Tetapi juga meninggikan Yesus Kristus sehingga, dalam kebenaran dan kasih karunia-Nya, manusia berdosa tidak hanya akan menemukan kejinya dosa mereka..
Mereka juga menemukan satu-satunya harapan untuk penghapusan dosa mereka.
Setelah beberapa saat, Petrus tersungkur dalam penyesalan dosa. Dia bangkit, dan berjalan keluar dari tempat dia bergumul..
Dia memenangkan pergumulan dosanya. Dia melangkah bukan lagi dengan kepercayaan pada diri, tetapi pada kata-kata Yesus..
Tidak ada informasi, apakah dia kembali ketempat persidangan Yesus atau tidak. Kemana pun dia pergi, dia mempersiapkan dirinya untuk memulai komitmen baru..
Sepanjang narasi penyaliban Yesus, Petrus tidak muncul lagi. Dia akan kembali terlihat dalam cerita setelah Yesus bangkit..Imannya tidak gagal.
Yesus menampakkan diri kepada para murid beberapa kali setelah kebangkitan-Nya..
Kemudian, Yesus tiga kali bertanya kepada Petrus tentang kasihnya kepada-Nya, sama seperti Petrus yang tiga kali menyangkal kasihnya.
Dan sama seperti dia telah tiga kali menyangkal kasihnya kepada Kristus, Petrus kemudian menegaskan kasihnya sebanyak tiga kali (Yohanes 21:15-17).
Bertahun-tahun kemudian, menjelang akhir hidupnya, Petrus masih mengingat dengan jelas pengalaman di halaman istana Imam.
Peristiwa tragis itu mungkin terlintas dalam benaknya ketika ia menasihati rekan-rekan seimannya,
” Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan …dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh.
Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” (2 Ptr. 3:17-18).
Kegagalan Petrus dan komitmen barunya kepada Yesus, telah membawa dia menjadi tokoh penting gereja mula-mula..
Dia menjadi pemberani. Dia ditangkap. Dipenjara dia berani hadapi. Bahkan saat dia akan menghadapi hukuman mati, dia tidak takut.
Seperti Yesus tersalib, dia juga mati dengan cara yang sama. Tetapi dengan salib yang terbalik.
Petrus adalah contoh orang yang gagal dalam iman, tetapi dia berhasil membuat komitmen baru.
Bila kita gagal seperti Petrus, langkah pertama adalah menangisi diri kita..
Menyesali perbuatan dosa dan menyadari kejinya dosa itu. Lalu meminta ampun kepada Tuhan. Meninggikan tuhan. Selanjutnya membuat komitmen baru .
Tidak ada orang benar yang tidak gagal dalam perjalanan imannya…



