“Apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Tanya Kayafas. “Engkau telah mengatakannya..’ Jawan Yesus..(Matius 26:63)

Jawaban Yesus menurut Markus lebih eksplisit lagi, “Akulah Dia..” Yesus langsung membuat pengakuan tegas Dia adalah Mesias..

Jawaban ini untuk membantu mereka menemukan kesalahan Yesus versi mereka. Karena hanya dengan itu mereka mempunyai alasan kuat untuk menyusun dakwaan.

Selanjutnya Yesus mengatakan,

“Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” (Matius 26:64)

Kalimat tersebut Dia dasarkan pada Mazmur 110:1 dan Daniel 7:13.

Anak manusia adalah gelar Mesias yang diakui secara umum, gelar yang paling sering digunakan Yesus untuk diri-Nya sendiri..

Selain menegaskan kemesiasan-Nya kepada mereka, Yesus membawa pikiran mereka kepada waktu kedatangan-Nya yang kedua kali..

Dia akan datang sebagai Raja abadi yang akan memerintah selamanya. Dia adalah Mesias, Anak Allah, namun mereka tidak mungkin dapat memahaminya.

Karena Kayafas tidak percaya kepada Yesus sebagai Mesias, maka keterangan Yesus dia abaikan begitu saja. Bahkan digunakan sebagai bukti dakwaan..

Lihat saja tindakan Kayafas. “Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.” (Matius 26:65)

Kayafas membuat aksi teatrikal. Merobek bajunya. Umumnya orang merobek pakaiannya sebagai tanda kesedihan dan kemarahan.

Aksi Kayafas bukan karena dia sedih dan marah karena nama Allah tidak dihormati, melainkan karena sukacita dan kelegaan sekarang mereka punya bukti mendakwa Yesus..

Kayafas secara dramatis memberikan kesan membela nama Allah, namun di dalam hati ia sombong karena berhasil menaklukan Yesus. Dia merasa memenangkan permainan..

Dia tidak sadar, bahwa Yesuslah yang memberinya jalan memenangkan rencana jahatnya.

Lalu sambil mengangkat kedua tangannya, Kayafas berkata dengan suara yang lantang kepada forum, “Bagaimana pendapat kamu?” (Matius 26:66)

Dia meminta respon dari semua orang yang ikut dalam persidangan. Dalam persidangan resmi, prosedur pengambilan keputusaan melalui pemungutan suara secara tertutup..

Kemudian panitera akan menghitung suara terbanyak. Berdasarkaan itu keputusan diambil. Tetapi pada persidangan ini, prosedur itu tidak dilakukan..

Kayafas hanya menyerukan dukungan verbal. Semua sepakat dengan Kayafas. Dengan satu suara mereka semua menjawab dan berkata, “Ia harus dihukum mati!”

Keputusan tersebut diambil dengan suara bulat, “bahwa Dia harus dihukum mati” (Markus 14:64). Tidak ada yang dissenting opinion atau yang berbeda pendapat.

Tidak ada juga dibacakan hal yang meringankan Yesus. Mereka semua tanpa ampun memutuskan Yesus dihukum mati. Peradilan yang menyesatkan. Keadilan dan kebenaran dikebiri.

Sebenarnya ada segelintir orang anggota dewan yang tidak menyetujui penangkapan Yesus. Mereka tidak sepakat dengan tuduhan dan cara mereka membuat persidangan..

Salah satunya adalah Yusuf Arimatea. Dia seorang yang yang baik lagi benar.

Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. (Lukas 23:50-51).

Kemungkinan dia telah meninggalkan persidangan sebelum sandiwara peradilan terakhir ini terjadi. Dia tidak tahan melihat bobroknya persidangan.

Boleh jadi dia diintimidasi atau ditekan oleh semua rekan-rekannya di dewan. Mungkin juga pendapatnya diabaikan dan tidak direspon oleh mereka semua..

Karena merasa sia-sia berada disana, dia keluar. Meninggalkan ruang persidangan.

Yusuf adalah Mutiara ditengah lumpur kotor. Dia anggota dewan yang masih memegang prinsip keadilan dan kebenaran.

Dia salah seorang yang percaya kepada Yesus sebagai Mesias dan sementara menantikan kerajaan Allah. Apa yang terjadi diruang sidang diluar kemampuannya..

Putusan bersalah dan hukuman mati Yesus, tidak didasarkan pada bukti dan kesaksian dan pertimbangan yang matang..Semua didasarkan pada kebencian..

Poinnya, putusan mati Yesus tidak punya dalil hukum yang jelas. Walau begitu, Dia tidak melakukan pembelaan terhadap putusan. Dia menerima. Membiarkan semua terjadi.

Karena memang itu harus terjadi. Bahkan Dia ikut berperan supaya hukuman mati itu terjadi kepada diri-Nya..

Tujuan jahat manusia akan digunakan oleh Tuhan untuk menggenapi rencanannya. Jika saat ini Anda sedang diperlakukan tidak adil, berdoa saja. Ijinkan Tuhan menggenapi rencana jahat manusia menjadi berkat bagi Anda.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *