Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: “Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia.”
Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: “Salam Rabi,” lalu mencium Dia.
Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya. Matius 26:48-50
Geram rasanya melihat Yudas berada diantara rombongan orang-orang yang akan menangkap Yesus. bahkan dia menjadi orang terdepan.
Teapi dia punya alasan pribadi untuk membelot kepada musuh musuh Yesus. Selain berspekulai bahwa Yesus akan meloloskan diri dan dia mendapat uang, dia juga sementara kecewa.
Kecewa karena Yesus tidak menjadi Mesias yang diharapkannya. Yesus yang kuasa dan tindakannya begitu hebat, disertai dengan banyaknya pengikut, harusnya dapat menggulingkan Romawi..
Yesus juga harusnya dapat menggulingkan kekuasaan para pemimpin agama Yahudi.
Tetapi Yesus tidak berbuat apa-apa terhadap mereka. Hanya sekedar mengecam dan mengutuk. Bagi Yudas itu tidak cukup. Harus ada kudeta.
Sebab dia berharap dapat posisi yang prestisius dan mendapat uang yang banyak. Sebab dia merasa setelah ikut Yesus dia menjadi lebih miskin.
Dia Cuma bisa mencuri uang kas mereka. Itu pun hanya sedikit. Yudas sudah dirasuki setan (Lukas 22:3), karena itu apa yang dilakukannya tidak lagi berada di bawah kendali Roh Tuhan.
Ketidakpercayaan, keserakahan, dan ambisinya sendiri, telah membuat dia membuka diri terhadap kehadiran Setan.
Sekarang rombongan pembenci Yesus telah tiba. Berhadap-hadapan dengan Yesus.
Karena saat itu gelap dan mungkin banyak dari antara mereka tidak mengenal Yesus secara langsung, Yudas, orang yang mengkhianati Dia, telah menyiapkan sebuah tanda..
“Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia.”
Kata cium berasal dari Yunani phile, sebuah kata kerja yang mengacu pada tindakan penghormatan dan kasih sayang khusus..
Saat ini di banyak budaya Arab dan bahkan di antara beberapa orang Eropa, berciuman sebagai salam penghormatan.
Di Timur Dekat kuno, ciuman seperti itu merupakan tanda penghormatan.
Karena statusnya yang rendah, seorang budak akan mencium kaki majikannya. Seorang musuh juga akan mencium kaki raja meminta belas kasihan..
Para pelayan akan mencium punggung tangan orang yang mereka sapa, dan mereka yang berada di posisi paling tinggi terkadang akan mencium telapak tangan.
Mencium ujung pakaian seseorang merupakan tanda penghormatan dan pengabdian.
Tetapi dari semua bentuk salam ciuman, pelukan dan ciuman di pipi adalah tanda kasih sayang dan cinta yang erat, hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki hubungan dekat dan intim.
Ciuman dan pelukan adalah tanda kasih sayang dari seorang murid kepada gurunya, tetapi hanya jika gurunya menawarkannya terlebih dahulu.
Dari semua bentuk ciuman tersebut, ia memilih salah satu tanda yang ternyata paling tercela. Karena ciuman Yudas tidak tulus. Tetapi ciuman kemunafikan yang licik.
Bisa saja dia membuat tanda lainnya tanpa harus mencium Yesus. Yudas memilih untuk berpura-pura tidak bersalah dan pura-pura menyayangi Yesus dengan cium palsu.
Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: “Salam Rabi,” lalu mencium Dia.
Oh ya, dari kata kerja mencium, mengandung ide kasih sayang yang kuat dan terus-menerus. Kata itu digunakan Lukas menceritakan perempuan yang mencium kaki Yesus.
Kata itu juga digunakan untuk anak yang hilang, yang disambut ayahnya dengan ciuman..
Nah, saat Yudas mencium Yesus dia tidak memiliki cinta yang kuat kepada Yesus. Dia hanya pura-pura saja. Ciuman seperti itu sangat menjijikkan.
Tidak sedikit orang memiliki sifat ciuman Yudas. Memeluk dan mencium, membungkuk kepada orang, tetapi hatinya ingin mencelakai..
Saat dicium oleh Yudas, Yesus berkata kepadanya: “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” Lukas mencatat respon Yesus, “Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?”
Merespon ciuman palsu Yudas, Yesus menyebut hai teman..disini Yesus tidak menggunakan kata Philos, tetapi hetairos, lebih tepat diterjemahkan sebagai “sesama”, “kawan”, atau “kawan”.
Kata itu menunjukkan Yudas bukan sahabat Yesus. Yesus telah menawarkan diri-Nya untuk menjadi sahabat Yudas, dan lebih dari itu, untuk menjadi Juruselamatnya.
Namun dia memilih jalan lain. Pengkhianatan.
Poinnya, Ketika Yudas tidak menyelaraskan pikirannya dengan pikiran Yesus, maka pikiran setan yang menguasainya. Keserakahan. Ambisi pribadi. Uang. Jabatan.
Dia tidak menyukai jalan pikiran Yesus yang misi-Nya adalah untuk mati. Jalan pikirannya yang menghendaki Yesus jadi raja menggantikan Romawi, sangat dangkal..
Dia tidak bisa membaca bahwa Yesus adalah raja alam semesta, yang mengatasi kerajaan dunia ini.
Maka bila kita tidak dapat menyelaraskan pikiran kita dengan pikiran Yesus, maka pikiran Yudas lah yang menguasai kita. Keserakahan. Ambisi. Uang dan kepalsuan hidup.
Kita akan menjadi orang Kristen palsu. Motivasi kita adalah kepentingan pribadi. Ditandai dengan tipu daya dan kemunafikan.
Menyamar dalam kedok pengabdian kepada Kristus, Firman-Nya, dan gereja-Nya. Seperti lalang yang ditanam di antara gandum..
Seperti Yudas, kita memberi penghormatan kepada Kristus secara lahiriah tetapi membenci Dia di dalam.
Orang Kristen palsu akan terlihat pada saat dia harus membayar harga persekutuan dengan Kristus. ia akan terungkap sebagai penipu, yang berkedok jubah kekristenan..
Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.” 1 Korintus 2:16.
