
Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.”
Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Matius 26:46-47
Belum puas tidur. Mereka dibangunkan. Mata masih berat. Sedikit linglung. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk menikmati tidur panjang..
Mereka bangun. Yesus memberitahukan, mereka yang akan menyerahkannya sudah dekat..
Saat Dia masih berbicara, Dia melihat rombongan orang banyak pembenci diri-Nya datang.
Kedatangan mereka bukan untuk mendengar ajaran Yesus, tetapi hendak menangkap-Nya.
Yesus mereka tersangkakan sebagai penjahat kelas berat, itu nampak dari cara mereka mengepung Yesus..
Siapa saja mereka? Mereka imam-imam kepada, kepala-kepala pengawal atau polisi Bait Allah. Mereka diberi wewenang terbatas oleh Romawi dalam hal agama dan masyarat.
Mereka dipersenjatai dengan pedang dan pentungan. (Lukas 22:52)
Sebagian dari rombongan itu ada juga para prajurit Romawi (Yoh 18:3), yang dengan kekuatan penuh, berjumlah 600 orang.
Karena mereka harus mendapat izin Romawi untuk melaksanakan hukuman mati, para pemimpin Yahudi meminta tentara Romawi untuk ikut serta dalam penangkapan tersebut.
Dan yang sangat menonjol dalam rombongan tersebut adalah Yudas. Nampaknya, Dia yang memimpin rombongan besar tersebut ketempat Yesus berdoa.
Dan malam itu Dia harus ditangkap dan dibawa kepengadilan yang mereka sudah desain sendiri..
Yesus bisa saja melarikan diri seperti yang Dia lakukan selama ini. Yudas juga punya spekulasi Yesus akan melarikan diri saat hendak ditangkap.
Tetapi daripada melarikan diri, Yesus menghadapi mereka secara langsung. Dia mengingatkan para murid untuk siap..
Kedatangan rombongan pembenci Yesus ini sudah didesain sedemikian rupa dan dakwaan sudah lama mereka susun untuk mendapat legitimasi Romawi..
Dakwaan yang mereka susun adalah tuduhan bahwa Yesus akan memberontak melawan Romawi. Tuduhan semacam ini sangat serius dan hukumannya mati.
Melalui tuduhan itu maka hukuman mati bagi Yesus dapat disetujui oleh Romawi, dan mereka sendiri akan aman dari pembalasan banyak orang Yahudi yang masih mengagumi Yesus.
Untuk memanfaatkan kesempatan ini, para imam kepala dan tua-tua harus segera menemui Pilatus meminta penggunaan segera pasukannya.
Atau mungkin mereka sebelumnya telah membuat perjanjian dengan gubernur agar tentara tersedia dalam waktu singkat.
Untuk memuluskan rencana mereka, para pemimpin agama Yahudi ini sedikit menekan Gubernur Romawi agar mengabulkan permintaan mereka. (lihat Markus 15:6-7)
Peran Yudas sangat penting dalam penangkapan ini.
Masih ingat, Ketika Yudas meninggalkan ruang perjamuan, dia pergi menemui para pemimpin Yahudi dan memberi tahu mereka kapan waktu yang tepat menangkap Yesus..
Sebelum perjamuan juga, Yudas secara sadar dan aktif terlibat dalam konspirasi, bersama para imam kepala dan pejabat Bait Suci, orang Farisi, Saduki, Sanhedrin, dll..
Intinya, semua kelompok yang sebelumnya bermusuhan kompak untuk membunuh Yesus sebagai musuh bersama..
Maka rombongan besar yang datang hendak menangkap Yesus, bila membandingkan dengan keempat Injil, mereka bisa mencapai seribuan orang..
Gabungan orang banyak tersebut merupakan gambaran nubuatan mengenai perlakuan dunia terhadap Kristus, sebuah ilustrasi yang jelas mengenai kejahatan, kesembronoan, dan kepengecutan dunia.
Bukannya dengan rendah hati menyambut Anak Allah, memeluk Mesias yang sudah lama dinantikan, dan bersujud di kaki-Nya dalam pemujaan dan penyembahan, mereka malah dengan angkuh datang untuk membunuh Dia.
Mereka mendakwakan banyak tuduhan yang tidak masuk akal, yang tidak ada kaitanya dengan kebenaran dan keadilan..
Yesus tidak melanggar hukum Musa maupun hukum Romawi. Dia tidak melakukan tindakan tidak bermoral atau ilegal.
Satu-satunya pelanggaran yang dilakukannya adalah tidak mengakui atau menaati tradisi kerabian yang bersifat legalistik dan buatan manusia.
Orang-orang yang ikut dalam rombongan besar itu, sebetulnya banyak yang tidak mengerti permasalahan yang terjadi.
Mayoritas dari mereka mungkin tidak tahu apa yang mereka lakukan atau alasan mereka melakukan hal tersebut.
Para prajurit Romawi misalnya, mereka hanya mematuhi perintah tanpa mempertanyakan tujuan.
Sebagian besar orang banyak tidak mempunyai dendam pribadi terhadap Yesus, dan beberapa di antara mereka mungkin belum pernah mendengar tentang Dia sebelumnya.
Namun mereka tidak menyesal ikut serta dalam penangkapan-Nya. Bagi mereka itu sebuah kebanggaan pribadi..
Seperti halnya dalam sebuah demonstrasi yang berujung kericuhan. Banyak orang yang terlibat tidak tahu akar permasalahan. Mengapa mereka ikut demo, dan mereka tidak mengerti apa tujuan demo..
Tetapi euforia demo tersebut membwa mereka ikut kesana dan sebuah kebanggaan bagi mereka yang tidak memiliki akal sehat..
Mata rohani mereka gelap. Tidak mampu mengenali Yesus sebagai sumber kebenaran dan keselamatan.
Memang mereka orang-orang yang tidak peduli kepada kebenaran dan hal-hal rohani.
Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang bayaran yang tidak peduli terhadap keadilan. Selama mereka dibayar tidak masalah untuk melakukan anarkisme..
Poinnya, Ketika mata rohani kita gelap, maka tindakan kita juga akan gelap. Kita tidak akan mampu melihat kebenaran.
Kebencian hati menutupi terang Tuhan dan tujuan satu-satunya adalah menghancurkan..
Mari jaga hati dan pikiran. Sirami pikiran kita setiap hari dengan Firman Allah. Jika Allah menegur kita dengan keras, dengarkan dan bertobat.




