Pastordepan Media Ministry
Beranda Seri Kitab Matius Percaya diri yang menjatuhkan (Matius 26:31-35)

Percaya diri yang menjatuhkan (Matius 26:31-35)

“Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.

Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.”

Petrus menjawab-Nya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.”

Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Kata Petrus kepada-Nya: “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Semua murid yang lain pun berkata demikian juga.” Matius 26:31-35

Dari rumah si Anu, Yesus dan murid-murid-Nya pergi ke bukit Zaitun. Kemungkinan mereka sedang dalam perjalan ke Betania

Perjalanan dua mil ke Betania dari Yerusalem membawa mereka melintasi Bukit Zaitun, yang di atasnya terdapat Taman Getsemani.

Taman ini merupakan tempat favorit berdoa bagi Yesus, sekaligus menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang berkemah selama ziarah Paskah.

Sementara mereka dalam perjalanan Yesus kembali membuat mereka terkejut..

“Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.”

Kata tergoncang dari kata Skandalizo (murtad). Istilah skandal berasal dari kata ini. Arti literal kata ini yaitu memasang jebakan, jerat, atau batu sandungan.

Pada zaman Yesus, kata ini paling sering digunakan secara metaforis, seperti yang selalu terjadi dalam Perjanjian Baru.

Yesus meramalkan bahwa para murid akan segera menghadapi rintangan yang akan membuat mereka tersandung dan murtad dari kesetiaan mereka kepada-Nya.

Dia tahu bahwa semua murid akan meninggalkan-Nya dan bahwa mereka akan murtad karena ketakutan mereka untuk berhubungan dengan-Nya.

Dan bahwa mereka akan melarikan diri pada malam itu juga, seperti yang mereka lakukan (ayat 56).

Komentar Yesus mengenai hal ini merujuk pada Zakharia 13:7, yang meramalkan pembelotan yang baru saja Ia sebutkan.

Ia kemudian mengutip sebagian dari ayat tersebut: “Bunuhlah gembala, sehingga domba-domba tercerai-berai!”

Dengan mengutip nubuatan Perjanjian Lama, Yesus meyakinkan para murid bahwa Ketika mereka melarikan diri terhadap Dia, sama seperti pengkhianatan Yudas, adalah bagian dari rencana kekal Allah.

Namun Yesus segera memberi dorongan kepada murid-muridnya dengan kata-kata yang meyakinkan..“Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.”

Yesus akan menghadapi kematian, tetapi Dia berkuasas atas kematian. Dia akan bangkit kembali.

Sementara para murid takut menghadapi kematian atau dipenjara dan dihina. Mereka tidak melihat kepada keberanian Yesus menghadapi resiko..

Iman mereka kendor. Melemah. Mereka seharusnya mengingat orang-orang yang dibangkitkan Yesus sendiri dari kematian, sepeti Lazarus dan yang lainnya..

Mereka segera melupakan kata-kata Kristus dan kuasa-Nya atas kematian.. “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia mati” (Yohanes 11:25).

Jadi, rasa takut telah mengaburkan ingatan mereka dan menundukkan keyakinan mereka. Akhirnya semua kata-kata Yesus tidak lagi diperhatikan..

Misalnya, Yesus telah katakan, Dia akan mati..selanjutnya Dia katakan, “..sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.”

Dan pada akhirnya semua kata-kata Yesus itu benar. Misalnya dalam Mat. 28:7, malaikat berkata kepada perempuan-perempuan,

“Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea..” Ayat 16-17 mencatat, kesebelas murid itu berangkat ke Galilea. Mereja bertemu Yesus disana..

Catatan Matius menegaskan kemahatahuan Tuhan Yesus.

Tetapi Petrus dengan membara tidak terima kata-kata Yesus tentang kegoncangan iman mereka.

Dengan percaya diri dan sombong dan berapi-api dia berkata, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.”

Dia tidak berpikir sebelum bicara. Dengan lancang menyatakan dirinya sebagai orang yang paling benar di antara yang benar.

Dia telah menganggap rendah iman orang lain dan merasa imannya kuat.

Dia hanya mendengar apa yang ingin dia dengar dan hanya mempercayai apa yang ingin dia percayai.

Lalu Yesus menegur kesombongan rohani Petrus. Dia katakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Bukannya dia tersadarkan, justru semakin naik tingkat kesombongan rohaninya. Dia telah mendegradasi Kemahatahuan Yesus.

Kali ini Petrus tidak mempercayai Gurunya. Dia semakin jauh tersesat dengan cara pikir sendiri.

Dia berpikir bahwa, meskipun Yesus bijaksana, Dia telah salah menilai kehandalan dan keberanian murid utamanya.

Dalam bahasa yang sehari-hari, dia katakan, “ Jangan ragukan keberanian dan imanku..” Yesus katakan, “sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali..”

Orang Yahudi membagi malam menjadi empat bagian: Pertama, petang, dari pukul enam sampai Sembilan. Kedua, tengah malam, jam sembilan sampai dua belas..

Ketiga, jam dua belas ke jam tiga. Keempat, pagi hari, pukul tiga sampai enam pagi

Ayam berkokok pada akhir jam ketiga yaitu pukul tiga pagi. Pada jam ini ayam akan terus berkokok hingga fajar..

Saat Yesus dan para murid tiba di Bukit Zaitun, kemungkinan sudah hampir tengah malam.

Petrus akan menyangkal Tuhan sebanyak tiga kali yaitu sebelum jam tiga pagi, ketika ayam biasanya mulai berkokok.

Peringatan Yesus bahwa imannya akan jatuh, tidak membuat dia tersadar dan insyaf. Dia semakin membara dalam kesombongan rohani..

Dia katakan, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.”

Jadi, Petrus Siap mati bagi Yesus. Dia tidak akan menyangkal Yesus.

Tekadnya begitu hebat pada saat semua dalam keadaan baik-baik saja. Sebagaimana yang kita ketahui, pada saat keadaan tidak baik, iman dan nyalinya ciut. Melempem seperti kerupuk masuk angin..

Rupanya, semangat Petrus yang buta ini, turut memprovokasi murid lainnya, untuk menjadi sombong rohani seperti Petrus..

“Semua murid yang lain pun berkata demikian juga.”

Kesebelas murid itu membuat ikrar untuk siap mati bagi Yesus. Mereka tidak akan menyangkal Yesus. Tetapi semua baru teori. Prakteknya, mereka murtad semua..

Poinnya, pernyataan iman harus diuji dengan praktek. Praktek iman adalah pada saat kita masuk kedalam berbagai kesukaran yang mengancam keselamatan hidup kita karena iman kita..

Ketika kita dihadapkan pada dua pilihan untuk setia kepada Tuhan atau menyangkal Tuhan demi kenyamanan hidup duniawi kita..

Iman kita akan teruji pada saat api kesukaran, penderitaan, penganiayaan menimpa kita dan kita tetap setia. Kita akan keluar sebagai Mutiara yang berkilau..

Mari kita belajar dari pengalaman para murid. Percayai kata-kata Yesus bahwa kita lemah. Jangan sombong rohani. Jangan merasa kuat. Bergantunglah sepenuhnya pada kuasa Tuhan..

Sehingga bila kita menghadapi masa kesukaran, kita tidak jatuh..

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan